Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 103


__ADS_3

Bab 103


"Kenapa aku berpakaian seperti ini! lalu ini kamar siapa?"ucap bu hani seraya bangkit dari pembaringan nya.


Bu hani yang merasa kebingungan, sambil ia menelisik ke seluruh penjuru ruangan tersebut. saat itu kedua ekor netranya menangkap sebuah lukisan bergambar seseorang yang sangat ia kenali. tapi sayangnya ia sedikit lupa, siapa sosok pria di gambar lukisan tersebut.


Sambil berdiri memandang ke arah lukisan tersebut, bu hani memegangi kepalanya yang saat itu masih terasa sakit dan pusing, bu hani


mencoba untuk mengingatnya perlahan-lahan.


"Mas Yanto! iya itu memang gambar mas yanto, berarti sekarang aku ada di rumahnya."gumam bu hani saat berhasil mengingat nya.


Bu hani juga mengingat kejadian lalu, sebelum ia tersadar sudah berada di dalam ruangan ini. soalnya waktu itu kan bu hani menolak ajakan pak handoko, makanya ia langsung di sirep jadi Bu hani gak sadarkan diri sama sekali.


"Aku harus segera keluar dari sini, sebelum mas yanto datang. karena aku yakin mas yanto punya rencana jahat kepadaku. lagi pula pasti keluargaku sedang kebingungan mencari aku." kata bu hani mencoba mencari jalan keluar.


Bu hani pun berusaha membuka jendela kamar tersebut, namun anehnya sulit sekali dibuka padahal kan selot kuncinya berada di dalam. karena tak berhasil membuka jendela kamar, bu hani langsung berlari masuk ke kamar mandi. bu hani pun menaiki bak mandi untuk mencoba membuka ventilasi kamar mandi tersebut, tapi sayangnya tetap gak berhasil. karena kayu yang menghalangi lubang ventilasi nya, sangat keras dan susah sekali ditarik dengan tangan kosong.


Karena semua yang dilakukan sebelumnya tak berhasil, bu hani pun mencoba membuka pintu kamar tersebut. tapi ternyata dugaannya benar, pintunya terkunci. baru saja bu hani berusaha mau merusak kunci pintu tersebut, eh pak handoko malah keburu datang dan masuk.


"Ow, permaisuri ku sudah bangun toh. jadi bisa kita langsung mulai dong acaranya." kata pak handoko seraya mengusap rambut bu hani tapi segera di tepis tangannya oleh bu hani.


"Sudah sering ku katakan padamu mas, jangan pernah sentuh aku!" tegas bu hani.


"Acara! maksud mas yanto, acara apa? terus kenapa mas kurung aku disini? aku mau pulang mas, kasihan keluargaku pasti mencari dan menghawatirkan aku." imbuh bu hani.


"Keluarga mu sekarang itu hanya aku hani, hanya mas yanto seorang. hari ini aku juga mau menikahi mu dan sebentar lagi kamu akan menjadi istriku, jadi lupakanlah keluargamu itu." tegas handoko sedikit nada membentak.


"Itu tidak mungkin terjadi mas! aku ini masih istri sah nya ka anung. jadi aku tidak mungkin bisa menikah dengan laki-laki lain."sahut bu hani dengan lantang.


"Ya bisalah hani ku sayang! soalnya kan kamu itu sudah bercerai dengan si anung. kalau kau tak percaya, nih aku punya buktinya." seloroh pak handoko seraya menunjukan selembar kertas bertuliskan surat cerai yang sudah di tandatangani oleh bu hani di atas materai.


"Tidak mungkin! aku tidak pernah membuat atau pun menandatangani surat seperti itu. karena aku sangat mencintai suamiku, sampai aku mati sekalipun. jadi surat ini palsu, pasti ini semua ulahmu kan mas?"hardik bu hani seraya menarik surat tersebut lalu merobek-robeknya.

__ADS_1


"Hahahaha.... robeklah hani sampai kau puas. karena surat itu hanya duplikatnya saja, yang aslinya masih ada padaku." sahut pak handoko sambil tertawa puas.


"Kau jahat mas! kau memang jahat...." tangis bu hani pecah sambil memukuli pak handoko.


Karena dirasa bu hani terus saja mengamuk dan tak bisa di atur, pak handoko pun kembali memantrai bu hani. seketika bu hani langsung terdiam dan kembali menuruti apapun yang di perintahkan oleh pak handoko.


"Lihat saja anung! kali ini hidup mu benar-benar akan hancur lebur. hahaha." kata pak handoko.


****


Pagi itu setelah acara pemakaman jana selesai, beberapa warga yang sudah membantu mulai kembali ke rumah mereka masing-masing.


"Pak anung yang sabar ya, dalam menghadapi semuanya ini. kami semua akan berusaha membantu sebisa mungkin ko, untuk mencari bu hani dan berusaha mencari cara menyelamatkan devin dan seno." kata pak RT sudin seraya mengusap punggung pak anung.


"Iya pak RT dan semuanya terimakasih telah membantu memakamkan anak saya."balas pak anung menampilkan senyum kepalsuan.


Sebenarnya di lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa sangat sedih dan sakit sekali. soalnya anak laki-lakinya telah meninggal, lalu istrinya menghilang gak tau kemana. menantunya juga ikut menghilang, sedangkan anak perempuan nya juga sampai sekarang belum kembali


"Ya sudah, saya pulang duluan ya pak. soalnya mau rundingan sama warga buat cari cara nyelamatin devin dan seno." pamit RT sudin.


"Bapak mau pulang apa masih ingin disini? soalnya saya mau pamit pulang juga, mau bantu siti beres-beres rumah. soalnya rumah berantakan."kata mang nano berhati-hati.


"Ya sudah mamang pulang saja, saya masih ingin disini dulu." balas pak anung.


"Ya sudah kalau begitu, saya pamit ya pak." kata mang nano melangkah pergi.


Setelah semua orang pergi, pak anung hanya bisa terduduk sedih di atas pusara anaknya. sambil ia mengingat-ingat kembali kenangan indah, bersama keluarga kecilnya yang utuh, sebelum hancur seperti saat ini. tanpa terasa lelehan butiran-butiran bening pun, perlahan mulai menetes deras di kedua belah pipinya.


"Kamu kemana sih Bu! kenapa menghilang, jana anak kita udah gak ada." kata pak anung sambil mengusap kayu nisan jana.


"Devin menghilang, jani sampai saat ini belum juga kembali. bapak sendirian, benar-benar kali ini terasa sendirian bu."ratap pak anung yang air matanya terus meluruh ke atas pusara jana.


Di saat pak anung sedang meratapi kesedihan nya seorang diri, tiba-tiba saja ada seorang pria bertubuh pendek berteriak-teriak dan berlari menghampiri pak anung yang lagi sendirian.

__ADS_1


"Pak anung.... Pak anung! itu pak... bu... bu... hani pak! "ucap pria itu terputus-putus dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Sini duduk dulu pak, bicaranya pelan-pelan. memangnya ada apa dengan istri saya? memang bapak melihatnya, dimana?" tanya pak anung saat pak bargo sudah tenang.


Ya, sosok pria bertubuh pendek tadi adalah pak bargo. yang sehari-harinya bekerja sebagai pencari rumput dan pengangon kerbau.


"Iya tadi saya lihat bu hani pak anung! bu hani lagi ada di rumah juragan kota yang jahat itu." jawab pak bargo.


"Juragan kota! maksud pak bargo, pak handoko." kata pak anung memastikan.


"Iya itu bener, namanya pak handoko! tadi saya lihat sepertinya bu hani mau menikah dengan juragan dari kota itu. memangnya pak anung sudah berpisah gitu dengan bu hani?"jelas dan tanya pak bargo sedikit berhati-hati.


"Apa MENIKAH! gak mungkin itu pak, saya dan istri saya juga belum bercerai. mana mungkin hani bisa menikah dengan laki-laki lain. lagi pula hani sangat menyayangi saya, mana mungkin dia langsung berpaling secepat itu ke pada lelaki lain."kata pak anung tanpa sadar malah mengangkat tubuh bargo yang pendek.


"Sa...saya juga kaget pak anung, dan saya juga gak percaya. makanya saya mau memastikan saja tanya langsung ke pak anung."sahut pak bargo sedikit ketakutan karena tubuhnya masih di angkat ke atas oleh tangan pak anung.


"Soalnya tadi pas saya lagi cari rumput, saya liat ada ramai-ramai di rumah juragan kota itu. eh pas saya pastiin, dengan bertanya. ternyata lagi ada acara ijab kabul. yang saya bikin kaget dan heran, pengantin wanitanya adalah bu hani." imbuh pak bargo dengan tubuh bergetar.


"Gak bisa dibiarin, si Handoko harus di kasih perhitungan." ucap kesal pak anung yang masih tak sadar malah melempar tubuh bargo.


"Aduuuuhh! sakit....pak. kenapa saya di lempar begini, apa salah saya." pekik pak bargo.


"Astaghfirullah, maafkan saya pak bargo. saya gak sengaja." mohon pak anung dan membantu pak bargo untuk berdiri.


"Lain kali kalau pak anung lagi marah, gak mau deket-deket ah takut. iiihh... bisa mati saya."kata pak bargo dan langsung ngibrit lari.


"Sekali lagi saya minta maaf ya pak dan terima kasih atas informasinya." teriak pak anung.


Namun tak di perdulikan pak bargo, ia terus saja berlari tanpa menoleh sedikit pun.


****


Mentari pagi yang kini sudah semakin terlihat meninggi dan bersinar sangat terang, panasnya juga sudah terasa menyengat permukaan kulit. di saat itu nampak kedua orang lelaki yang baru saja tersadar dari tidur nyenyak ya semalam, perlahan-lahan mulai mengerjap-ngerjapkan netra mereka untuk memantapkan penglihatan.

__ADS_1


Tapi sayang salah satu dari lelaki itu, kondisi fisik dan tubuhnya terlihat sangat lemah.


__ADS_2