Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 118 _ Kisah Rinjani


__ADS_3

Bab 118_Kisah Rinjani


Hay readers semuanya para pembaca setia DENDAM ARWAH ANJANI, kini cerita anjani kembali lagi. tapi kali ini mengisahkan tentang kehidupan anaknya anjani yaitu Rinjani.


Banyak hal-hal aneh dan menyedihkan terjadi, serta banyak orang jahat kembali bermunculan setelah anjani pergi. kalian penasaran gak sih? siapa orang jahat itu, adakah yang bisa nebak? kalau penasaran dan hanya bisa nebak nebak sendiri, mendingan yuk ikutin kisahnya. 😊😊


💓


💓


💓


Setelah kepergian anjani pada malam itu, sifat devin mendadak berubah menjadi pendiam. ia sudah tidak mau menjalankan aktivitas nya lagi seperti biasa, perkebunan dan pabrik tehnya pun menjadi tidak terurus. bahkan ia kini selalu saja mengurung dirinya di dalam kamar, Rinjani kecil nya pun sudah tak diperdulikannya lagi.


Sudah hampir kurang lebih dua bulan lamanya devin menjadi seperti itu, dia hanya diam membisu tak mau bicara kepada siapa pun. beberapa pekerjanya pun mulai mengeluhkan perkembangan pabrik serta perkebunan teh miliknya, karena industrinya mulai macet serta perkebunan sudah habis dan tak ditanami lagi. seandainya pak anung tidak menjadi lurah, mungkin perkebunan dan pabrik tehnya devin akan ia ambil alih. soalnya pak anung juga sekarang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai pak lurah, jadi dia tidak bisa mengurus seutuhnya perkebunan dan pabrik teh devin.


"Gimana pak, apakah devin mau memakannya?" tanya bu hani setelah pak anung keluar dari dalam kamar devin.


"Makanan yang kemarin saja masih utuh bu, apalagi yang baru tadi ibu kasih. jangankan ia mau memakannya, menyentuhnya saja devin tidak mau."jawab lemas pak anung sembari memberikan nampan plastik sisa kemarin yang berisi makanan dan minuman kepada bu hani.


"Kalau devin tetap gak mau makan dan minum dia bisa jatuh sakit pak. apalagi dia jadi seperti itu sudah selama dua bulan, kondisinya akan semakin memburuk."oceh bu hani khawatir.

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi bu. bapak juga sudah berusaha membujuknya agar dia mau makan dan minum, tapi nyatanya dia tidak mau malahan dia marah-marah." ujar pak anung.


Sekarang selain menjadi orang yang pendiam devin juga menjadi orang yang pemarah. sempat bu hani juga terkena amarahnya devin, saat bu hani mengantarkan makanan ke kamar devin serta menyuruhnya untuk makan. pelipis bu hani pun sampai terluka terkena lemparan nampan berisikan makanan yang devin lempar ke arahnya. makanya semenjak kejadian itu bu hani menjadi sangat ketakutan dan tak berani mengantarkan makanan lagi ke kamar devin. jadi pak anung lah yang sekarang suka masuk ke dalam kamar devin, untuk mengantarkan makanan sekaligus mengecek keadaan devin.


****


"Ene... ene cemayam mama datang tau ke kamay yiyin, teyus mama kasih yiyin boneka. udah gitu yiyin main deh cama mama cama boneka chibi uga. tapi mama langcung peygi pas dengey ayam jago bunyi" Kuyuk.. kuyuk..!! "oceh Ririn sambil menirukan suara ayam jago, Ririn juga menunjukan sebuah boneka yang terbuat dari bahan kain berisikan kapas lembut. boneka itu berbentuk seperti anak perempuan berambut panjang yang di kepang dua.


Boneka pemberian dari anjani itu Ririn beri nama boneka chibi.


"Cemayam mama juga macuk ke kamay ene cama ake juga yoh. teyus mama macuk ke kamay ayah juga."oceh Ririn lagi.


Bu hani yang mendengar ocehan Ririn tadi pun langsung terkejut dan terdiam. malahan bu hani sampai melamun, karena ia masih tak percaya dengan semua ucapan Ririn yang tak mungkin bisa dipercaya dengan akal logika. soalnya mana mungkin kan kalau orang yang sudah meninggal bisa datang menemui orang yang masih hidup, apalagi sampai bermain bersama dan memberikan sebuah boneka.


Tapi setelah bu hani teringat tentang kejadian beberapa tahun yang lalu, saat anjani masih menjadi sosok arwah berwujud manusia. ia mulai mempercayai semua omongan Ririn.


"Hmm, memangnya mama datang nemuin Ririn mau apa?" tanya bu hani berhati-hati.


"Mama dateng mau tenokin yiyin, mau tenokin ene cama ake cama tenokin ayah uga. kata mama yiyin gak boyeh benci cama ayah, biyaypun ayah cekayang udah beyubah gak cayang cama yiyin yagi. teyus kata mama cuyuh biyangin ene cama ake, katana hayus lebih hati hati agi, coaynya ada oyang jahat yang mau celakain keyuayga kita."papar Ririn.


Begitulah Rinjani anaknya anjani atau lebih sering akrab di panggil dengan sebutan Ririn. walaupun usianya baru juga dua tahun, tapi gaya bicaranya udah ceriwis banget kaya orang udah gede aja. tapi masih terdengar agak ribet juga sih, karena bahasa yang Ririn gunakan kaya bahasa dari planet. itu sih kata teman bermainnya Ririn yang usianya jauh diatas nya. karena bahasa Ririn masih cadel belum lancar.

__ADS_1


Soalnya kan Ririn sendiri lebih nyaman dan asik kalau bermain bersama temanya yang usianya lebih jauh di atasnya. Ririn tidak mau bermain bersama teman yang seusianya. kata Ririn sih "gak asik bermain dengan anak kecil, bisanya cuma nangis aja. padahal nyatanya kan dia masih anak kecil juga, dasar ya emang si Ririn.


Setelah mendengar cerita dari Ririn dan Ririn juga kembali lagi ke dalam kamarnya, bermain bersama chibi boneka yang semalam diberikan oleh ibunya yaitu anjani. bu hani pun langsung kembali juga ke dalam kamarnya. ia menangis tersedu-sedu sambil memandangi foto anjani.


"Jani anak ku, ibu kangen sekali sama kamu nak. kenapa semalam kamu tidak membangunkan ibu saat kamu datang ke sini, terus apa yang di katakan Ririn itu benar? siapa lagi orang yang akan menghancurkan keluarga kita nak." oceh bu hani dengan lelehan butiran bening membasahi kedua belah pipinya.


"Apa! jadi anjani semalam datang kesini? ko ibu gak cerita sama bapak sih bu, bapak juga kan kangen sama jani bu, bapak juga ingin bertemu sama jani." timpal pak anung langsung duduk di tepi ranjang di samping bu hani.


Kebetulan pagi itu pak anung yang sudah pergi bekerja di kantor balai desa, dia kembali lagi ke rumahnya karena ada berkas penting untuk pembangunan desa yang tertinggal di rumah.


"Ibu juga kangen pak sama anak kita, tapi dia datang disaat kita semua sudah terlelap. jadi kita semua tidak tahu kalau jani datang kesini. jani hanya berbicara dan bermain bersama Ririn saja, sampai ayam jantan mulai berkokok. tapi sekarang ibu ko jadi kepikiran kaya begini ya pak, saat dengar cerita Ririn yang terakhir. kata Ririn semalam jani berpesan buat kita, katanya kita harus lebih berhati-hati lagi. soalnya kata jani ada orang jahat yang mau menghancurkan keluarga kita lagi pak." ujar bu hani lalu menangis dipelukan pak anung.


"Mungkin Ririn salah bicara kali bu, karena Ririn kan masih anak kecil. lagian semua orang yang menaruh dendam kepada keluarga kita sudah tidak ada bu. Karto sudah meninggal, yanto pun sama. apalagi selama ini hidup kita aman-aman saja kan, gak ada tanda-tanda orang yang tidak suka sama kita."balas pak anung.


"Sudahlah bu tidak usah difikirkan lagi cerita Ririn tadi, nanti ibu bisa sakit juga kaya devin. bapak pamit dulu ya, mau berangkat kerja lagi ke balai desa." kata pak anung lagi sembari mengusap kepala bu hani dengan lembut.


Setelah berpamitan kepada bu hani, pak anung pun segera kembali lagi ke kantor balai desa dengan mengendarai motor bebeknya.


"Lihat saja kau anung! sebentar lagi kamu akan merasakan yang namanya sebuah penderitaan. kehidupanmu sekarang yang penuh dengan kemewahan dan kebahagian itu akan segera berubah menjadi sebuah petaka. Hahahaha!" ujar sepasang mata yang tengah bersembunyi di balik pohon besar.


Jangan lupa dukungannya ya gaes, biar othor makin semangat nulis kelanjutannya. jangan lupa Vote nya, Like nya, komentar serunya jangan ketinggalan juga. satu lagi masukan novel ini di list favorite kalian ya....😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2