Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 107


__ADS_3

Bab 107


"Ya tuhan kenapa keluargaku kau buat menjadi hancur berantakan seperti ini! apa salah dan dosa diriku ya tuhan, hingga kau menghukum diriku seperti ini. aku tak sanggup ya tuhan, kalau harus memikul semua ini hanya seorang diri." racau pak anung sambil ia berteriak-teriak di hamparan luas perkebunan teh miliknya.


"Pak anung, anda tidak papa? apa ada yang bisa saya bantu?" tegur pak basri salah satu pekerja pak anung dengan sangat berhati-hati, sambil pak basri menepuk pelan pundak pak anung dari belakang pak anung berdiri.


Kebetulan saat itu pak basri masih bekerja di perkebunan teh milik devin, walaupun tanpa di gaji sepeserpun. soalnya semenjak kejadian devin menghilang dan kejadian yang menimpa keluarga pak anung, perkebunan teh dan pabrik milik devin nyaris tak beroperasi lagi. karena pak anung terlalu sibuk memikirkan nasib dirinya yang kini hancur berantakan. sehingga perkebunan dan pabrik teh milik devin menjadi terbengkalai. banyak para pekerja yang memilih untuk pindah bekerja ke juragan handoko dan ada yang memilih hanya berkebun saja.


"Eh pak basri, saya gak papa ko pak. terimakasih banyak atas tawaran bantuannya." jawab pak anung dengan senyum kepalsuan.


"Hmm, tapi kenapa bapak masih bekerja disini? bukannya semua orang yang bekerja disini sudah pada pindah ya?"tanya pak anung.


"Ya, memang semuanya sudah pada pindah ke tempat juragan kota itu. tapi sayangnya saya masih betah bekerja disini pak, bukan saya aja ko yang masih bertahan disini. tuh, masih ada si Niko, azril dan ozi."jawab pak basri sambil menunjuk ketiga orang pemuda yang sedang bersemangat memetik dedaunan teh.


"Tapi saya jadi merasa gak enak hati begini pak, karena saya tidak mampu menggaji bapak dan mereka bertiga nantinya. bapak pasti tau kan musibah yang telah menimpa keluarga saya? semenjak anak saya jana meninggal dunia dan istri saya hani menghilang entah kemana. serta devin juga ikutan menghilang dan anjani anak saya juga belum kembali lagi. perkebunan dan pabrik ini sudah berhenti beroperasi pak, jadi tidak ada lagi pemasukan keuangan."jelas pak anung sambil menitikkan air mata.


"Tenang pak anung, kami semua yang masih bekerja disini ikhlas ko walaupun tidak digaji. lagian kan perkebunan ini sayang kalau gak diurus, teh-teh ini juga harus segera di panen kalau tidak nanti bisa kering dan layu sia-sia. jadi usaha pak anung membangun perkebunan teh ini lagi, percuma dong. saya berharap pak anung segera bangkit dan menerusi usaha ini lagi, saya yakin usaha ini akan berkembang lagi ko pak. maka dari itu semangat ya pak! jangan sedih lagi." kata pak basri dengan senyuman merekahnya dan mengangkat tangan kanannya seperti seorang pejuang kemerdekaan saja.


Disaat mereka sedang asik berbincang-bincang mang nano tiba-tiba muncul sambil ia berlarian gak tentu arah, seperti sedang di kejar-kejar setan atau binatang buas saja. sampai-sampai ia tejatuh berkali-kali ke tanah.


"Pak anung! pak anung... gawat ini pak."panggil mang nano dengan nafas yang memburu.

__ADS_1


"Kenapa mang, ada apa? apanya yang gawat? sini istirahat dulu, tarik nafas keluarkan pelan." titah pak anung dan mang nano mengikutinya.


"Udah tenang belom mang? kalau udah ceritain dong ada apa, sampe lari-lari begitu udah kaya lagi dikejar-kejar setan aja."ujar pak basri.


"Emang saya tadi dikejar-kejar setan ko, tapi ini setan nya belom mati masih menjadi manusia ko."balas mang nano.


"Ah dasar blakasadut! ada-ada aja, mana ada setan masih manusia."sahut pak basri.


"Adalah, itu anak buahnya pak handoko yang buadannya gede-gede juga tatoan itu, udah persis kaya setan hidup kan."balas mang nano.


"Emang kenapa mang dengan anak buahnya pak Handoko?"timpal pak anung.


"Memangnya ada apa handoko mencari ku?"tanya pak anung.


"Saya juga tidak tau pak, saya hanya di suruh agar secepatnya mencari pak anung."jawab mang nano yang semakin panik.


"Ya sudah, hayo kita pulang mang." ajak pak anung."


" hmm, pak basri saya pulang dulu ya. soalnya sudah seminggu ini saya memang tidak pulang ke rumah."pamit pak anung sambil pak anung melangkah pergi dan diikuti mang nano.


****

__ADS_1


Pak anung dan mang nano berjalan bersama menuju ke arah rumah. sesampainya di sana ternyata pak handoko beserta tiga orang anak buahnya yang berbadan besar dan bertato itu, sudah menanti mereka berdua di depan teras rumah pak anung.


"Akhirnya kau datang juga anung setelah lama sekali aku menunggu mu, tapi tak apalah aku menunggu terlalu lama pun tak masalah. karena hari ini aku sedang merasa sangat bahagia sekali." Ujar pak handoko.


"Aku sama sekali tak perduli itu! katakan ada perlu apa kau datang ke rumahku? kalau tak begitu penting lebih baik kau dan anak buah mu itu lekas pergi dari rumahku. soalnya aku tidak ada waktu banyak untuk meladeni orang macam dirimu." kata pak anung ketus.


"Santai saja dong Canung Carestyoso! kau tak perlu mengusirku secara halus seperti itu, tanpa diusir pun aku juga akan segera pergi ko. tujuan ku datang kesini cuma ingin memberi tahumu kabar yang sangat gembira. mau tau apa kabar itu?"balas pak handoko seraya mendekatkan bibirnya di telinga pak anung.


"Cepatlah kau katakan handoko apa maksud tujuan mu, jangan kau bertele-tele seperti itu. setelah itu lekaslah kau pergi dari rumah ku, karena aku sudah gak sudi melihat wajah mu. ucap pak anung secara kasar dan menunjuk ke arah halaman rumahnya.


"Lancang sekali kau mengusirku! memangnya kau ini siapa? yang harusnya pergi dari rumah ini, itu hanya kau anung! karena rumah ini dan perkebunan serta pabrik milik si sobri sudah menjadi hak milik ku." ujar pak handoko sambil menunjuk dada pak anung.


"Jadi kau tak perlu berurat begitu kalau berbicara kepada ku, apalagi sampai mengusirku." imbuh pak handoko.


"Kau jangan mengada-ada handoko, mana mungkin semua aset milik devin ini menjadi milik mu begitu saja. lagian devin tidak pernah menceritakan itu kepadaku." bantah pak anung.


"Anak ingusan itu mana tau tentang semua ini, karena aku hanya berurusan dengan bapaknya. kalau kau tak percaya coba kau lihat saja ini, disitu sudah jelas tertulis kalau rumah beserta perkebunan teh dan pabrik milik sobri sudah beralih kuasa menjadi hak milik ku. yaitu juragan HANDOKO WIDJAYANTO. orang no 1 di desa ini."kata pak handoko dengan bangga.


"Ini tidak mungkin!"gumam pak anung sambil membaca sebuah surat di dalam map biru yang diberikan pak handoko tadi.


****

__ADS_1


__ADS_2