Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 44


__ADS_3

Bab 44


"Lepaskan tanganku!" ucap anjani mengibaskan tangannya dari cengkraman Karto dan ia pun langsung berlari.


"Anjani mau kemana kamu!" teriak Karto namun tak di gubrisnya.


Anjani pun terus saja berlari untuk menghampiri Bu Hani, yang kala itu sedang menangis di tanah akibat terjatuh di pukuli warga. disana juga ada pak anung dan Jana, yang sedang mencoba membantunya dari anarki warga.


"BERHENTI!! kalian jangan pernah menyakiti ibu ini, dia memang tidak gila ko! ini semua hanya salah faham saja." ucap anjani membela.


Akhirnya setelah mendengar penjelasan dari anjani, warga pun langsung membubarkan diri.


"Ibu gak papa! ada yang luka?" tanya anjani sambil memeriksa tubuh Bu Hani.


"Gak ko, nak! ibu gak papa."sahut Bu Hani dengan mata yang berkaca-kaca.


Bu Hani pun langsung mendekap erat tubuh anjani, seolah ia tidak ingin lagi berpisah dan melepaskannya. sungguh bahagia sekali hati Bu Hani kala itu, anak yang paling ia cintai dan sayangi. yang saat itu sudah meninggalkan nya untuk selamanya (meninggal dunia), kini hadir kembali tepat di hadapannya.


"Lepas! Lepaskan! tadi kan aku sudah bilang. jangan menyentuh nya!" hardik Karto memisahkan pelukan Bu Hani dari anjani.


"Bang! jangan kasar dong sama ibu ini."dia gak salah apa-apa, dia hanya kangen sama anaknya. tolong izinkan aku untuk menghibur nya sebentar."pinta anjani kepada Karto.


"Gak! kamu gak boleh dekat-dekat sama mereka! atau kamu mau, abang habisi mereka! hayo kita pulang."tegas Karto mengancam.


"Iya bang! aku mau pulang, tapi tolong jangan sakiti mereka, ya." pinta anjani.


"Iya! Abang gak akan menyakiti mereka, asalkan kamu nurut." ujar Karto dan Anjani pun hanya menjawabnya dengan mengangguk.


"Hey anung! jaga istri kau baik-baik dan ingat, Jangan kau pernah dekati anjani ku. kalau tidak, aku akan buat jelmaan arwah anakmu ini tersiksa." bisik Karto lalu melangkah pergi.


"Apa maksud mu KARTO!" teriak pak anung namun tak di gubrisnya.

__ADS_1


"Jani! Jan...."ucap Bu Hani sambil mengejar anjani yang di bawa Karto.


Namun pak anung langsung memegang tangan Bu Hani, agar tak mengejarnya.


"Sudah buk! tidak usah di kejar." ucap pak anung sambil memeluk Bu Hani yang terus saja menangis di tinggalkan anjani.


Pak anung pun membawa Bu Hani untuk pulang ke rumahnya, agar Bu Hani beristirahat. sesampainya di rumah pak anung bertanya kepada Jana, kenapa tiba-tiba ia bisa bersama orang yang mirip sekali dengan anjani.


Saat itu pak anung juga bingung atas ucapan Karto tadi, maksudnya Karto apa? dia bilang jelmaan arwah anak ku! ia lantas berfikir dan mengingat-ingat akan sesuatu.


"Jan! " panggil pak anung.


"Iya Pak! " sahut Jana menghampiri bapaknya yang sedang duduk di bale-bale depan rumah.


"Kamu tadi ketemu sama kaka mu dimana?"tanya pak anung.


"Oh, maksud bapak orang yang mirip Ka anjani tadi! "sahut Jana.


"Gini pak Ceritanya....


*****


#Flashback#


Saat Jana sedang membantu ibu-ibu membawakan barang belanjaan nya, dia terkejut sampai membuat belanjaan yang berisikan telur terjatuh dan pecah semua.


Jana selain anak yang baik dia juga anak yang berbakti kepada ibu dan bapaknya, karena ia tak tega kepada kedua orangtuanya. ia pun membantu ibu dan bapaknya bekerja, dengan cara membantu orang-orang yang keberatan membawa belanjaan nya di pasar.


"Kamu ini gimana sih! jadi pecah semua tuh telur saya! pokonya ganti rugi! hayo ganti." bentak ibu itu sambil memukuli Jana.


"Maafkan saya buk, saya gak sengaja! "ratap Jana meminta maaf sambil menangis karena ketakutan.

__ADS_1


Namun ibu itu terus saja mengoceh sambil memukuli Jana, saat itu diseberang Jana yang sedang di marahi. seorang gadis cantik tengah memperhatikan nya, gadis itu pun langsung menghampiri Jana karena ia tak tega.


"Sudah buk hentikan! anak ini masih kecil, jangan di perlakuan seperti itu." biar aku yang menggantinya. " nih ambil!" ucap gadis itu sambil memberikan dua lembar uang berwarna merah bergambar Soekarno.


"Ya sudah! terimakasih." ucap ibu itu lalu pergi.


"Kamu gak papa kan dek?"tanya anjani.


Namun bukan menjawab pertanyaan gadis itu, Jana malah terpaku bahkan bengong. ia merasa bingung dan aneh, saat melihat gadis itu yang kini sudah di hadapannya.


"Ka..Ka..Ka anjani! " ucapnya terbata.


"Iya, dek. saya anjani!" balas gadis itu dan di balas pelukan oleh Jana di sertai tangisnya.


"Kaka! Jana kangen sama Kaka. ternyata Allah mengabulkan doa Jana semalam, kalau Jana ingin bertemu dengan Kaka lagi." ucap lirih Jana di dalam dekapan gadis itu yang ternyata Anjani yang sudah jadi manusia.


"Aku bukan Kaka mu! lagian aku juga baru mengenalmu!" cetus anjani sambil melepaskan pelukan Jana dan menatapnya.


"Jadi, kau bukan Kaka ku? tapi, wajah mu dan nama mu sama seperti Kaka ku." balas Jana.


"Iya! mungkin kita hanya mirip saja dek! emang segitu miripnya ya, Kaka dan kaka mu? emang Kaka mu kemana? kayanya kamu kangen sekali padanya." ucap panjang anjani.


Akhirnya mereka berdua pun mengobrol banyak, sambil duduk di sebuah bangku panjang di pinggiran taman dekat pasar. Jana pun menceritakan semuanya yang terjadi kepada kakanya, lalu ia menceritakan juga tentang ibunya, yang selalu saja bersedih semenjak kakanya meninggal dunia.


Jana pun meminta anjani agar mau menemui ibu dan bapaknya, agar kedua orangtuanya itu terhibur dan bahagia atas kehadiran anjani.


"Begitu pak ceritanya!" ucap Jana.


Bersambung......


Seperti biasa setelah membaca, jangan lupa Vote and like nya ya.😊😊 serta bubuhkan komentar positif nya, dan masukan novelku ini di list favorit kalian.

__ADS_1


Salam Penasaran Selalu....


__ADS_2