Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 85


__ADS_3

Bab 85


Happy reading again....😇😇😇


****


Pagi nan indah dengan pemandangan sunrise yang terbit di ufuk timur, yang perlahan-lahan mulai memunculkan sinar hangatnya. serta kabut putih tebal yang sedari tadi menyelimuti jalan desa dan hamparan luas perkebunan teh, perlahan-lahan juga mulai menghilang di terpa sang mentari pagi. serta udara sejuk yang menyegarkan paru-paru masih terasa sangat menyejukan jiwa, perlahan-lahan langsung devin hirup sedalam-dalamnya.


Hari ini devin beserta pak anung dan juga mang nano, orang kepercayaan ayahnya yang menjaga dan merawat rumahnya selama Devin dan ayahnya tinggal di kota. mereka bertiga akan mencoba membuka kembali pabrik dan lahan perkebunan teh, yang sudah lama sekali kosong dan tak terawat.


Karena semenjak ditinggalkan ayahnya begitu saja beberapa tahun yang lalu, alhasil pabrik dan lahan perkebunan teh jadi terbengkalai. walaupun saat ini devin tak mempunyai pekerja sama sekali, tapi devin sangat yakin kalau para pekerja setia lama ayahnya dahulu, akan datang dan kembali lagi bekerja kepadanya.


Kebetulan juga sedari subuh tadi devin sudah bangun dari tidurnya, setelah menunaikan kewajibannya kepada sang maha pencipta (shalat). dia langsung sarapan pagi bersama keluarga kecilnya, setelah itu sambil menunggu bapak mertuanya dan mang nano selesai di dalam. devin pun menyempatkan diri untuk berolahraga sebentar di teras rumahnya.


"Gimana pak, mang. sudah siapkah? kalau sudah, yuk kita let's go."ajak devin saat mendapati keduanya sudah berada di teras rumahnya.


"Sudah dong den, mamang sudah siap banget nih."balas mang nano senyum simpul dengan membawa beberapa peralatan pertanian.


Sedangkan devin, sedari tadi ia sudah sangat siap dengan mengenakan setelan kemeja bergaris biru pendek. celana jeans dan sepatu boots berwarna hitam. tak lupa topi breton hat warna cream ala-ala petani dari Perancis, melekat di atas kepalanya sebagai pelindung dari terik sang mentari nantinya. penampilan dan gayanya pagi ini terlihat gagah sekali.


"Bapak juga sudah siap ko. hayo kita berangkat, mumpung masih pagi dan masih bersemangat juga."ajak pak anung yang tak kalah jauh gagah penampilan nya dengan menantunya itu.


"Mas tunggu....!! aku mau ikut ke pabrik, ya."seru anjani sambil berlarian kecil.


"Kamu di rumah aja ya sayang, soalnya disana kan berantakan kotor dan pengap. nanti saja kalau sudah bersih dan beroperasi, baru kamu bisa kesana."ujar devin melarang istrinya.


"Iya bener Jan, apa kata suamimu. lebih baik kamu di rumah saja dulu."timpal pak anung membenarkan ucapan devin tadi.


"Ya sudah deh aku di rumah saja."balas anjani lesu dengan wajah yang di tekuk dan mulut yang dimonyongkan.


"Jangan ngambek gitu dong, cantik.!! Liat tuh jadi jelek kan sayangnya akoh."rayu devin seraya memeluk istrinya, namun anjani malah nambah menekuk wajahnya saja.


"Ok.. ok...!! sayangnya akoh boleh ko ikut ke pabrik, tapi nanti saat jam makan siang aja ya datangnya. sambil bawain mas dan bapak makanan untuk makan siang."ujar devin mengiyakan permintaan istrinya tadi yang katanya pengen ikut ke pabrik.

__ADS_1


"Eh...!! ko den devin sama pak anung saja yang dibawain makan siang. nah aku gimana..?"timpal mang nano.


"Ye... mang nano kan ada teh siti, minta bawakan lah sama bebeb mu itu."pungkas devin sambil terkekeh.


"Tenang saja aa. nanti neng anterin juga ko makan siang untuk aa, nanti bareng non anjani kesananya." balas siti tersenyum malu.


"Dedeuh teuing, meni perhatian ayang mbeb aa. jadi makin sayang..."puji mang nano langsung menghampiri siti ingin memeluknya seperti yang dilakukan devin ke anjani.


Namun devin langsung mencegahnya dengan menarik tangannya."Eit...!! nanti malam saja mesra-mesraan nya. sekarang kita ke pabrik dulu, nanti ke buru siang."cegah devin.


"Iiihh... den evin mah mengganggu saja."gerutu mang nano sambil memonyongkan bibirnya.


"Buk, bapak pergi ke pabrik dulu ya."pamit pak anung kepada istrinya.


"Iya pak, hati-hati ya disana. soalnya pabrik itu kan sudah lama tak beroperasi, ibu khawatir saja takut ada apa-apa."ucap bu hani sambil menyalim punggung tangan suaminya.


Lalu diikuti juga oleh teh siti dan anjani yang menyalim punggung tangan suaminya masing-masing.


"Jangan khawatir Bu, insya Allah gak akan ada apa-apa disana."balas pak anung sambil mengusap lembut kepala istrinya.


*****


Sesampainya mereka bertiga, di sebuah bangunan besar yang cukup lumayan tua. letaknya juga tak jauh dari hamparan luas tanah, yang berisikan tanaman rumput ilalang yang tumbuh sangat subur disana.


Meraka bertiga sempat mematung sesaat, memperhatikan keadaan bangunan tua di hadapannya sekarang. terlihat bangunan tua itu banyak sekali ditumbuhi semak belukar, lalu atapnya yang terbuat dari kayu dan genting merah, sudah pada kropos dan berjatuhan.


"Parah banget ya pak kondisi pabrik ayah ku sekarang, kayanya kita membutuhkan banyak tenaga nih, untuk membersihkan pabrik ini agar kembali seperti dulu lagi."kata devin sembari menerawang jauh ke arah pabrik.


"Iya Vin, tenaga kita bertiga kayanya kurang cukup juga."timpal pak anung.


"Den devin, ini pabrik dan perkebunan teh milik pak sobri. Ko bisa jadi seperti ini ya, kaya tak terawat gitu."kata mang nano.


"Ya maklum sajalah mang, kan sudah hampir 3 tahun ditinggalkan dan tak pernah dirawat. makanya modelnya jadi kaya begini."jelas devin menunjuk ke arah pabrik.

__ADS_1


"Ya sudah, hayo kita mulai babatin dulu aja semak belukarnya, supaya kita bisa masuk ke dalam pabriknya."ujar mang nano dan langsung menyambarkan parang yang dibawanya ke semak-semak yang tumbuh tinggi.


Pak anung dan juga devin pun, akhirnya mengikuti apa yang mang nano kerjakan tadi. mereka bertiga langsung membabat habis rumput liar dan semak-semak belukar yang menghalangi jalan masuk menuju pabrik.


"Pak anung...!!"panggil seorang bapak berkumis tebal, sehingga mengagetkan pak anung dari keseriusan nya membabat habis rumput liar dan semak belukar yang lebat.


"Eh, pak RT Sudin. gimana kabarnya?"balas pak anung seraya menghampiri bapak tadi yang ternyata ketua RT di desa Mekarsari.


"Alhamdulillah kabar saya baik. kalau pak anung sendiri beserta seluruh keluarga gimana kabarnya?"tanya pak sudin balik.


"Alhamdulillah, baik juga ko pak." oh ya, maaf sebelumnya nih pak. soalnya saya belom ke rumah pak RT untuk laporan, kalau saya dan keluarga sudah datang ke desa ini lagi."ujar pak anung sambil menjabat tangan pak sudin.


"Iya gak papa ko pak anung. oh ya, pak anung sendiri sedang apa disini? Hmm, kalau lelaki itu siapa ya? perasaan saya pernah liat. tapi, dimana ya? saya agak lupa-lupa ingat."seloroh pak sudin sambil menerawang dengan menempelkan telunjuknya di kening kirinya.


"Itu devin pak RT. anaknya pak sobri yang punya pabrik dan perkebunan teh ini. sekaligus jadi menantu saya sekarang, pak."kata pak anung sambil tersenyum simpul.


"Oh iya, saya baru ingat. wah sekarang pak anung besanan sama juragan sobri toh, terus juragan sobri sekarang ada dimana?"tanya pak sudin menelisik.


"Pak sobri dan istrinya tinggal di kota pak. sebenarnya saya dan devin, berencana ingin membuka kembali perkebunan dan pabrik teh ini pak. tujuannya agar warga disini semuanya tidak kesulitan lagi dalam mencari kerja, serta bisa sedikit membantu perekonomian para warga disini."papar pak anung menjelaskan.


"Wah, pak anung mau membuka pabrik dan perkebunan ini lagi ya. saya nanti ikutlah kerja disini, soalnya saya sudah gak betah kerja di tempat juragan Handoko. sudah kerjanya gak kenal waktu, udah gitu gajinya kecil lagi. terus pengawasnya serem-serem mana tatoan lagi, kalau salah kerja maen hukum aja langsung dihajar."timpal seorang bapak mengenakan topi caping yang tiba-tiba saja muncul.


"Bener pak apa yang dibilang si kuncung barusan. kami tersiksa sekali kerja disana, kalau bukan karena kebutuhan, saya mah ogah kerja sama si juragan Handoko."papar pria gendut mengenakan topi caping juga.


Ternyata saat pak anung dan pak sudin sedang mengobrol, tentang akan dibukanya kembali lahan pabrik dan perkebunan teh. kedua bapak yang mengenakan topi caping itu, kebetulan sedang lewat saat mau berangkat ke pabrik milik pak handoko. pabrik teh yang dulunya milik keluarganya pak anung, tapi anehnya pabrik dan perkebunan itu langsung berpindah tangan kepada orang yang bernama Handoko.


Atas pertemuan pak anung dengan pak RT sudin dan kedua bapak tadi, yang ternyata bernama pak kuncung dan pak cepol. akhirnya pabrik milik devin dan perkebunan teh pun langsung bersih dalam satu hari, soalnya pak RT sudin dan kedua bapak tadi. memanggil bala bantuan sekitar 100 orang warga dan teman mereka untuk membantu membersihkan pabrik dan perkebunan teh milik devin itu.


Jadi pekerjaan devin hari ini tidak memakan waktu cukup lama, untuk membabat habis semua rumput dan semak belukar yang tumbuh dengan subur di sekitaran pabrik dan hamparan luas lahan perkebunan teh.


Kini tinggalah menunggu hari esok, untuk memulai menanam kembali bibit teh. karena kalau teh teh itu sudah besar dan bisa dipanen, barulah pabriknya itu bisa beroperasi kembali seperti dulu. jadi untuk sementara waktu ini, para pekerja yang tadi sudah membantu devin membabat habis seluruh rumput liar dan semak belukar. mereka akan dipekerjakan di lahan perkebunan saja, untuk menggarap dan menanami kembali bibit tanaman teh.


****

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2