Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 94


__ADS_3

Bab 94


"Si ibu mah suka kebiasaan deh, kalau bapak mau pergi keluar rumah pasti selalu begitu. bilang aja, ibu takut kan kalau bapak tinggalin sendirian di rumah, takut gak ada yang nemenin bobo."goda pak anung sambil nyengir kuda dan mencubit pelan pinggang istrinya.


"Apaan sih pak, mulai belajar genit deh, pasti ngikutin si nano."balas bu hani mencubit balik suaminya dengan wajah yang mulai bersemu.


"Berarti benerkan ucapan bapak tadi, kalau ibu takut bapak tinggalin."goda pak anung lagi.


"Bapak itu kalau dikasih tau suka ngeyel deh, persis kaya jana. orang ibu beneran gak enak hati ko malam ini, kaya akan terjadi sesuatu yang buruk gitu pak."kata bu hani bangkit dari duduknya dan berdiri di depan jendela kamar.


"Ya udah deh iya, maafin bapak yah."kata pak anung sambil memeluk istrinya dari belakang lalu mengecup lembut pundak bu hani.


"Emangnya, nanti bapak mau berangkat jam berapa rondanya?"tanya bu hani membalikan badan tepat menghadap pak anung.


"Bentar lagi ko bu! sekitar jam sebelasan ajalah berangkatnya, lagian devin juga belum keluar tuh dari kamarnya. kayanya devin lagi menenangkan anjani dulu sebelum pergi."Nah, sekarang giliran bapak yang menenangkan ibu. agar hati ibu tenang saat bapak tinggalin ronda nanti."ujar pak anung seraya menarik pinggang ramping bu hani ke dalam pelukannya.


Sehingga membuat pasangan pasutri paruh baya itu pun, kini saling berhadapan dan tatapan mata mereka saling beradu pandang. detak jantung keduanya pun saling berpacu dan terdengar berdegup sangat kencang. kini bu hani pun makin mendekatkan wajahnya ke arah wajah suaminya, perlahan bibir keduanya menempel dan saling berpangutan mesra. sehingga menimbulkan ******* kenikmatan.


Walaupun mereka berdua sudah berumur dan tidak muda lagi, tapi soal kemesraan dan percintaan pasangan paruh baya itu jagonya.


****


"Devin anak ku! ayah cuma mau mengingatkan dirimu, kalau saat ini kamu harus berhati-hati. jaga dirimu baik-baik ya nak."ucap lirih ayahnya.


Saat itu pak sobri sedang berdiri tepat di depan sebuah pohon tua, lalu di hadapannya terdapat gundukan tanah yang mengering dan keras. raut wajah ayahnya pucat pasi, menampakan sebuah aura kesedihan yang amat mendalam.


"Ayah! ayah kenapa? ko seluruh tubuh ayah pada gosong dan di penuhi luka-luka begitu. apa yang sudah terjadi sama ayah?"tanya devin khawatir sambil memegang tubuh ayahnya, namun anehnya devin sama sekali tidak bisa menyentuh atau memegang tubuh ayahnya itu.


"Kenapa ayah tidak bisa ku sentuh?"batin devin.

__ADS_1


"Devin, tolong ayah nak! ayah ingin segera kembali pulang dengan tenang. tolong bantu sempurnakan kepulangan ayah dan ibu ningsih nak."ucap lirih pak sobri lalu menghilang.


"Apa maksud ucapan ayah! tunggu dulu yah, jangan pergi. Ayaaahh...!! "Hufh... Hufh... Hufh..."jerit devin dengan menghembuskan nafas besar yang tersengal-sengal.


"Astaghfirullah! ternyata semua yang kulihat tadi cuma mimpi."kata devin sambil mengusap peluh yang menetes di keningnya.


"Tapi apa maksud dari ucapan ayah di mimpiku tadi ya? coba deh aku telfon ayah dulu. soalnya kan semenjak aku pindah ke desa, ayah tidak pernah ada kabarnya sama sekali. bahkan aku juga sudah tega tidak pernah mengabarinya, walau hanya sedetik pun." gumam devin sambil mencari-cari kontak ayahnya di ponselnya.


"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif, atau sedang berada di luar jangkauan. mohon hubungi beberapa saat lagi."beberapa kali devin menghubungi nomer ayahnya hanya suara sang operatorlah yang menjawabnya terus.


"Ada apa dengan ayah ya, ko nomernya gak aktif dan diluar jangkauan terus. perasaan ku juga makin gak enak begini ya, coba deh aku hubungi lagi besok siapa tau aja aktif. mungkin saat ini ponselnya lagi di matiin, karena sudah malam dan ayah mau istirahat."gumam devin menghalau semua rasa kekhawatiran nya.


TOK... TOK... TOK...!!


"Dev... devin! udah bangun belum? hayo kita berangkat ronda, udah jam sebelas lewat nih."panggil pak anung dari luar kamar.


"Iya pak, tunggu sebentar lagi ya nanti devin keluar nih." sahut devin dari dalam kamarnya.


"Iya pak!" balas devin.


"Jani ku sayang..! mas mau berangkat ronda dulu ya."pamit devin seraya mengecup kening anjani yang masih tertidur.


"Emm, iya mas! hati-hati ya. jangan lupa pakai jacket dan kupluk merah yang tadi baru ku buat. awas loh ya kalau gak di pake."ancam anjani masih dengan mata yang masih terpejam.


Devin pun langsung memakai jacket berwarna ungu dongker andalannya yang bergambar slankers, tak lupa kupluk merah motiv bunga mawar, hasil dari rajutan anjani yang berbahan dasar dari benang woll, langsung ia kenakan.


"Pak anung sama den devin mau pada kemana sudah pada rapih begini?" tanya mang nano saat mendapati keduanya berada di teras.


"Kita berdua mau ikut ronda keliling sama para warga, mang."jawab devin santai.

__ADS_1


"Oh, kalau begitu mamang juga mau ikut ah ronda keliling bareng aden dan pak anung."kata mang nano langsung bersiap-siap.


"Lebih baik mang nano di rumah aja, soalnya di rumah kan gak ada laki-lakinya. ada laki-laki cuma jana, tapi diakan masih kecil. takutnya ada apa-apa aja, kalau kita semuanya pergi gak ada yang berjaga di rumah."tegas pak anung.


"Iya bener apa kata bapak mang! lebih baik mamang jagain para perempuan-perempuan di rumah ini. jangan tidur dulu ya, sebelum kami kembali ke rumah."timpal devin.


"Ok deh siap!"kata mang nano bersemangat.


Pak anung dan devin pun langsung berjalan kaki untuk menuju pos ronda, karena mereka berdua ingin ikut serta mengamankan desa.


****


"Eh pak anung dan den devin! kalian berdua mau ikut ronda keliling desa juga?"kata seno sambil membungkuk seolah memberi hormat.


"Iyalah sen! sebagai warga yang baik, aku juga harus ikut berpartisipasi juga dong."kata devin sambil menepuk pelan pundak seno.


"Sebentar lagi jam menunjukkan pukul dua belas teng. jadi ronda keliling desa akan segera di mulai, lakukan tugas kalian masing-masing yang tadi kita sudah atur dan rencanakan."ujar pak RT sudin memberikan aba-aba.


"Maaf pak RT! saya harus ikut ke kelompok mana ya?"tanya pak anung antusias.


"Hmm, kalau pak anung, ikut kelompok dua saja bersama dengan saya. kalau devin....


"Kalau den devin, lebih baik ikut ronda keliling desa bersama kami saja pak RT."serobot seno saat pak RT akan berbicara.


"Kamu ini bagaimana sih sen.. sen! saya kan tadi belom selesai bicara, kamu malah langsung nyerobot aja. ya sudah kalau begitu, devin ikut dengan seno dan kawan-kawan." kata pak sudin membenarkan ucapan seno.


Jam pun kini sudah menunjukan pukul 00:00 tengah malam, semua kelompok yang sudah di bagi tadi, mulai berangkat untuk berkeliling dan mengecek keadaan desa mekarsari.


****

__ADS_1


Bersambung.....


Salam penasaran dari anjani....,😊😊😊


__ADS_2