
Bab 56
"Maaf pak Karto, kayanya saya gak bisa melakukan itu."tolak RT sudin berpaling.
RT Sudin menolak mentah-mentah tawaran yang diberikan oleh Karto, dikarenakan ia tak sanggup karena ini soal kekuasaan. soalnya Karto menyuruh RT Sudin untuk memfitnah dan mengusir keluarganya anjani, yang sekarang bertempat tinggal di desa pasir kupa.
Kalau di kampung nya sendiri ia masih bisa melakukan itu, ini kan di kampung tetangga dia bingung gimana cara melakukan nya. RT Sudin mulai kebingungan lalu berfikir, kalau ia menerima kerjaan dari Karto ia akan mendapatkan uang untuk pengobatan istrinya.
Pasti istrinya akan sembuh dan kembali sehat sediakala, tapi kalau dia menolak ia bingung harus mendapatkan uang dari mana untuk mengobati istrinya. pasti penyakit istrinya akan tambah parah, keburukan yang terjadi istrinya tak akan tertolong dan meninggal.
Saat RT Sudin sedang kebingungan, tiba-tiba tetangga dekat rumahnya datang.
"Pak RT ternyata ada disini toh! saya dari tadi cari kemana-mana gak ketemu, itu loh buk Mariah pak RT tadi ditemukan pingsan. sudah gitu sekarang buk RT sesak nafas. "ucap pria berbadan kurus dengan nafas yang memburu.
"Apa! istri saya pingsan, sudah gitu sekarang sesak nafas."pekik Pak RT terkejut.
"Iya pak RT, kayanya buk RT harus segera dibawa ke rumah sakit."balas pria itu.
"Sudah terima saja tawaran ku tadi, aku yakin kau tidak punya uang kan untuk membawa istri mu ke rumah sakit."ucap lirih karto.
"Pak adin istri saya dirumah dengan siapa sekarang?"tanya pak RT pada tetangganya.
"Di rumah buk RT, lagi ditemani Bu Ira sama istri saya pak. soalnya yang tadi nemuin buk RT pingsan, buk Ira."tutur pak adin.
"Ya sudah pak adin pulang saja duluan! saya juga minta tolong ya pak adin, persiapkan pakaian ganti dan yang lainnya untuk istri saya. karena saya mau cari kendaraan dulu, untuk membawa istri saya ke rumah sakit."ujar pak Rt Sudin mulai khawatir.
"Baik pak! ya sudah saya pulang duluan ya, permisi pak RT, pak Karto."ucap pamit pak adin sambil berlalu.
"Ya, tolong di bantu ya pak adin istrinya pak RT."ucap Karto sedikit berteriak kepada pak adin yang sudah berlalu.
"Gimana, mau kan terima tawaran ku! untuk memfitnah dan mengusir si anung, beserta istri dan anaknya."ucap Karto sambil menghembuskan asap rokok kreteknya.
"Tapi pak Karto, saya takut dan bingung."kata pak RT menunduk.
"Kau tak perlu takut atau bingung, tinggal bilang iya mau kerja sama denganku. uang ini langsung menjadi milikmu, apa kau mau istri tercinta mu mati dan kau menjadi duda lagi."ujar Karto membuang roko di tangannya dan memberikan segepok uang cepean ke tangan pak Sudin.
"Saya gak mau pak Karto, saya sangat menyayangi istri saya. gimana pun caranya saya akan berusaha menyembuhkan nya."sahut lirih pak Sudin sedikit terisak.
__ADS_1
"Nah, jadi kau terima uang ini! setelah istrimu sembuh, lakukan perintahku."ucap Karto memberikan uang itu dan langsung berlalu pergi meninggalkan RT Sudin.
"Oh ya Sudin! kau boleh pakai mobil pick up punya ku, mobil itu berada di pabrik kau ambil saja."ucap Karto berbalik.
"Udah cepat sana bawa Mariah ke rumah sakit, sebelum terlambat dan kau menyesal nantinya."imbuh Karto.
"I..iya pak Karto, makasih banyak! setelah istriku sembuh, aku akan menuruti permintaan mu."balas RT Sudin lalu berlari.
****
Di RSJ.SEHAT WARAS
"Maaf aku harus pergi."ucap anjani.
"Tunggu! kau mau kemana? kalau di ijinkan aku akan mengantarmu."pinta Devin.
"Aku mau kembali ke desa, untuk menemui kedua orang tua ku! tak usah mengantar terimakasih."balas anjani singkat.
Anjani pun langsung berlalu meninggalkan Devin, yang kala itu masih terpaku saja menatap kepergian anjani.
"Oon banget sih gue, ngapain jadi patung disini. gue harus ikutin dia."gumam devin lalu mengejar anjani.
"Hayo aku antar, lagian kamu gak tau kan jalan pulang."ucap Devin dari balik jendela mobil.
"Aku tau ko! lagian aku lagi nunggu ojeg buat nganterin ke desaku."ucap anjani membuang muka dari tatapan Devin.
"Hahahaha, lucu kamu itu! mana ada ojeg yang mau nganterin ke desa Sangiang tanjung, desa itu memakan waktu sekitar 5 jam dari sini."ujar Devin mentertawakan anjani.
"ada ko kamu lihat saja! Nah, Itu dia ojeg nya."tunjuk anjani kepada abang ojeg yang sedang melintas di depannya.
"Bang tunggu!saya mau ngojeg, bisa kan?"ucap anjani memberhentikan tukang ojeg yang lewat di depan RSJ.
"Bisa mbak! emang mau di antar kemana mbak nya?"tanya sang tukang ojeg.
"Tuh bisa kan, Wleekk! "ucap anjani sambil menjulurkan lidahnya meledek Devin.
"Anterin saya ke desa Sangiang tanjung ya bang!"ujar anjani langsung membonceng di belakang kang ojeg.
__ADS_1
"Apa! mbak minta anterin saya ke desa Sangiang tanjung?"pekik kang ojeg.
"Biasa aja kali bang, gak usah nge gas begitu ngomong nya. kuping saya bisa budeg nih!"balas anjani sambil menepuk punggung kang ojeg nya.
"Mbak mendingan turun deh, terus cari ojeg lain aja yang sanggup nganterin mbak kesana."ucap kang ojeg menyuruh anjani turun dari motornya.
"Saya akan bayar ko bang, berapa saya bayar. nih saya punya duit banyak ko."ucap anjani memperlihatkan uang di dalam tasnya.
"Bukan masalah bayarannya mbak, ini masalah keberanian. ke desa Sangiang tanjung itu cukup jauh, udah gitu jalannya sepi lagi apalagi kalau udah malem. suka banyak penampakan, iiih serem tau mbak."papar kang ojeg.
"Tapi bang."
"Sudah mbak cari ojeg yang lain saja, permisi."ucapnya langsung tancap gas.
"Iiihhh, ngeselin banget sih tukang ojegnya, dasar blagu banget sih!"racau anjani sambil menghentakkan kakinya kesal.
"Tuh kan! kang ojeg nya gak mau, ya sudah aku juga pamit ya. bye..."ujar Devin sambil melajukan mobilnya pelan.
"Tunggu! aku mau deh terima tawaran mu."ucap anjani masih membuang muka.
"tawaran apa ya? saya lupa tuh! lagian saya hari ini ternyata ada urusan, saya pergi dulu ya."ucap Devin berpura-pura.
"Dasar cowok ngeselin, tadi bilang mau nganterin. sekarang bilangnya lain, ngeselin tau gak."ucap kesal anjani sambil berlalu.
"gimana nih caranya aku bisa sampai desa, aku gak mau ibu, bapak dan Jana kenapa-napa."grutu anjani sambil berjalan.
TIN..TIN...TIN... TIN...
Terdengar suara klakson mobil yang dibunyikan beberapa kali, sehingga membuat anjani menjadi kesal.
"Hey! Dasar orang kaya rese, jalanan masih lega kali."maki anjani saat berbalik badan.
"Oh, ternyata kamu!" tunjuk anjani.
"Sudah jangan banyak tanya, hayu masuk ke mobilku. aku akan antar kamu, nanti keburu malam di jalan nantinya."ucap Devin lalu menarik tangan anjani menuju mobilnya.
Walaupun anjani awalnya menolak karena dia gengsi, karena Devin sudah membuanya kesal. akhirnya ia mengikuti juga, soalnya dia mempunyai perasaan yang tidak enak terhadap keluarganya. jadi ia harus segera mungkin sampai ke desa Sangiang tanjung, untuk menemui ibu bapak dan adiknya.
__ADS_1
Bersambung.....