
Bab 61
Semua warga yang datang malam itu mereka sudah sangat marah sekali, kepada pak anung dan juga buk hani. mereka semua pun langsung menyusun balok-balok kayu, yang mereka sengaja bawa dan persiapakan sebelumnya.
Setelah para warga selesai menyusun dan membereskan balok kayu, pak anung beserta bu Hani pun mereka ikat kedua tangannya kebelakang. lalu mereka berdua, digiring dan di taikan ke atas balok kayu yang sudah tersusun.
Walaupun saat itu suasana sudah mulai terasa mencekam, genting dan menakutkan, anehnya ekspresi pak anung terlihat biasa-biasa saja. pak anung menampakan wajah yang sangat tenang dan santai, tanpa ada rasa takut dan khawatir sedikit pun di dirinya.
Berbeda sekali dengan istrinya pak anung, Bu Hani langsung meronta-ronta agar terlepas dari cengkeraman tangan warga yang akan membawanya ke atas pembakaran.
Bu Hani juga menangis dan mencoba menghiba kepada pak RT dan para warga, agar mereka mau melepaskan dirinya dan juga suaminya yang tak bersalah itu.
"Tolong pak RT dan warga semuanya, lepaskan aku dan suamiku. ini semua hanya sebuah kesalah pahaman, atau hanya sebuah fitnah orang yang berusaha menjahati keluarga kami saja."Ucap Bu hani menghiba, lalu bersimpuh di hadapan pak RT dan para warga sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Fitnah apa Bu Hani! sudah jelas-jelas kalian berdua terpergok, sedang melakukan ritual sesat dan mengorbankan anak pak Jainudin!"hardik pak komar menunjuk Bu Hani.
"Itu semua tidak benar! aku dan suamiku juga bingung, kenap tiba-tiba ada jenazah anak pak Jainudin dan alat ritual berada di gubug kami."bela Bu Hani terisak.
"Halah, kami semua tidak akan percaya padamu bu hani, karena kami melihat bukti yang ada bukan omongan belaka."sahut pak Jainudin yang kala itu muncul sehabis mengantarkan jenazah anaknya ke rumahnya.
"Sudah cepat! bawa Bu Hani ke atas pembakaran lalu ikat di samping pak anung! setelah itu langsung bakar saja mereka, biar tidak ada lagi orang penganut iblis di dunia ini! "ucap pak Jainudin ketus menyuruh warga.
__ADS_1
"Pak Ramon, ini anaknya pak anung dan buk Hani gimana?"tanya Boyan yang baru saja datang membawa Jana.
"Bakar saja sekalian anaknya bersama kedua orangtuanya, biar tidak ada lagi penerus ilmu sesatnya."sahut Karto memperkeruh suasana.
"Jangan! saya mohon tolong jangan bakar anak saya juga, lepaskan saja anak ku ia masih kecil dan tidak tahu apa-apa. kalau kalian mau menghukum dan membakar kami, bakar saja kami berdua sudah ikhlas dan pasrah. tapi saya mohon kepada kalian semua, tolong biarkan anak saya untuk hidup."ratap buk Hani.
"Ia pak Ramon, lepaskan saja anak ini! dia tidak tahu apa-apa atas perbuatan orangtuanya, jadi lepaskan saja."seru seorang ibu berbadan gendut yang sedari tadi merasa ganjil atas kejadian di depan matanya ini.
Akhirnya Para warga pun mulai berembuk dan berdiskusi, lalu akhirnya mereka putuskan, kalau Jana akan mereka lepaskan dan tak ikut dibakar bersama orangtuanya.
"Ok! anak mu kami lepaskan, tapi setelah ini anak mu harus pergi jauh-jauh dari desa ini, lebih tepatnya akan kami taruh di panti asuhan."ujar pak Ramon menjelaskan.
"Iya pak Ramon tak apa ditaruh di panti juga, asalkan Jana tetap hidup. terimakasih pak RT dan warga semuanya, tapi saya mohon ijinkan saya sebentar saja untuk memeluk anak ku untuk terakhir kalinya."ratap Bu Hani dengan mata yang berlinangan.
"Jaga dirimu baik-baik ya Jan, serta Ingatlah selalu pesan ibu dan bapak!" hiduplah kamu sebagai manusia yang mempunyai hati dan perasaan, bukalah matamu untuk melihat kebenaran dan juga kebaikan, langkahkan tujuan hidupmu untuk kebajikan."ucap buk Hani lalu melepaskan pelukannya.
"Ibu! Jana gak bisa hidup tanpa ibu dan bapak, Jana takut buk, apalagi kalau harus tinggal di panti asuhan!"rengek Jana memegangi tangan ibunya yang perlahan mulai di bawa pergi warga menuju ke atas pembakaran.
Buk Hani pun di sejajarkan dan diikat disamping pak anung, yang sudah terlebih dulu diikat diatas sana. Saat itu bu Hani masih terus saja menangis beruraian air mata, tak bisa lagi dipungkiri saat ini ia sangat ketakutan. ia juga masih merasa gak percaya dan menyangka, cara kematiannya harus dengan seperti ini.
"Jangan menangis dan menyesali semuanya ini buk, mungkin ini sudah takdir dan suratan hidup. kalau kita harus berakhir dengan cara seperti ini, ikhlas dan bertawakal saja buk insya Allah kita akan mendapatkan yang terbaik."ucap pak anung lirih mencoba menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Iya pak! ibu sudah ikhlas dan pasrah saja, apa yang Tuhan sudah rencanakan untuk kita."balas Bu Hani masih meneteskan bulir-bulir bening.
"Sudahlah Hani, nikmati saja akhir hayat mu yang indah bersama suami tercinta yang kau pilih itu. kalau saja dulu kau memilih ku, nasib mu tak akan pernah semenderita dan sesadis ini Hani."ucap lirih Karto sambil tersenyum jahat disamping Bu Hani.
"Kau jahat Karto, kenapa kau lakukan itu kepada keluarga ku."ucap Bu Hani sambil menangis.
"Suami dan Mertuamu Hani yang sudah jahat kepadaku! jadi anggap saja ini hukuman buat kalian, Selamat tinggal anung, selamat menuju ke alam baka dan menyusul ayahmu yang sudah berada di neraka!"bisik Karto saat ia membantu warga mengikat Bu Hani diatas pembakaran.
Api pun mulai disulut dari bawah membakar perlahan balok kayu, yang di atasnya sudah ada pak anung dan bu Hani. dari bawah sana Jana yang melihat orangtuanya yang akan terbakar, ia berteriak-teriak dan menangis sekencangnya.
Jana juga berusaha melepaskan cengkeraman tangannya dari warga yang memeganginya, maksudnya ia ingin segera menolong kedua orangtuanya dari api yang akan membakar.
"Lepaskan kedua orangtuaku! ibu dan bapak ku tidak bersalah."huhuhuhuhu."KA ANJANI! bantu ibu dan bapak ka, selamat kan kedua orangtua kita Ka."ucap Jana berteriak-teriak.
Namun sesaat kemudian tiba-tiba saja entah dari mana datangnya, angin yang sangat kencang disertai hujan yang lebat langsung turun dan mematikan api yang berkobar-kobar. yang sedang menyulut dan membakar pak anung dan bu Hani, setelah api padam angin disertai hujan itu pun langsung reda.
Warga yang saat itu tidak sempat berlindung, dari angin dan hujan lebat yang tiba-tiba datang. mereka semua pada terkapar di tanah, karena hempasan angin dan hujan lebat tadi. pakaian mereka semua pun basah kuyup dan juga terlihat kotor, pak RT Ramon, RT Sudin dan Karto juga warga lainnya langsung bangkit.
Mereka kebingungan dan juga bertanya-tanya atas semua yang terjadi, saat mereka sedang dilanda kebingungan munculah anjani beserta Ki Romo dihadapan mereka. sehingga membuat Karto terkejut dan merasa heran, kenapa anjani masih berwujud manusia? lalu Ki Romo juga kenapa bisa bersama anjani?
Bersambung......
__ADS_1
Setelah membaca, jangan lupa di vote, like, koment and kalau yang belum masukin novel ku ini di list favorit masukin dulu ya.😊😊
apalagi kalau riders memberi author hadiah, atau koin makin semangat bangets deh ngelanjutin ceritanya..😊👍👍