Destiny In My Life

Destiny In My Life
Berangkat ke Jakarta


__ADS_3

Pukul 20.00 saat Misha dan semua keluarganya menunggu di depan rumah. Tiba lah travel alat transportasi mereka menuju Jakarta.


Laura yang sudah berada di dalam mobil pun turun untuk ikut berpamitan dengan keluarga Misha yang memang pernah main ke rumah Misha saat ada di kampung.


"Malam". Sapa Laura mencium semua orang yang ada di sana.


"Malam juga. . Kalian hati hati ya disana. Saling cerita kalau ada apa apa". Pesan ibu Nita pada 2 gadis yang akan berangkat ke Jakarta malam itu.


Misha dan Laura berpamitan kepada semua orang. Lalu masuk ke mobil duduk di bagian belakang supir.


Saat mobilnya berjalan Misha melambaikan tangan kepada semuanya dan tidak lupa tersenyum.


Di dalam mobil Misha memainkan ponselnya yang kebetulan banyak pesan yang masuk. Satu persatu ia balas chat dari mereka dan tiba tiba Misha melihat satu chat yang membuat dirinya kaget.


Melihat itu Misha langsung mematikan data seluler nya jika chat itu masuk pagi ia tidak mengetahuinya.


Sedikit berbincang di dalam mobil sebelum tidur lelap karena perjalanan dari desa Misha ke kota memerlukan waktu 6 atau 7 jam.


Orang yang ada di dalam mobil tidak terlalu banyak bahkan di tempat Misha duduk hanya ada dirinya dan Laura saja.


Sampai akhirnya Misha tertidur karena sedikit merasakan pusing. Sebab ini pertama kali Misha berpergian jauh.


........................


Beda halnya dengan pemuda yang sudah lama tidak pulang ke tempat kelahiran orang tuanya. Riyan, pemuda itu baru pulang ke rumah setalah mendatangi pesta temannya yang ada di Indonesia bersama Angga sang sahabat serta asistennya.


Keluar dari mobil dengan wajah yang tidak bersahabat. Lalu masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Angga terlebih dahulu.


"Sayang. . Kamu sudah pulang??". Tanya sang mami yang sedang menuruni anak tangga.


"Loh. . Mami kok belum tidur??". Tanya balik Riyan yang sudah mengubah raut wajah dari sebelumnya.


"Mami mau ambil minum ke dapur". Ujar sang mami memegang tangan Riyan.


"Oh. . Ya udah Ian ke kamar dulu mau bersih bersih". Pamit Riyan dengan sopan.


"Em bau alkohol??". Seru sang mami menutup hidung.


Riyan tersenyum dan menggaruk tekuk lehernya yang tidak gatal sambil menatap kepada sang mami.


"Good night mi". Salam Riyan dan Tak lupa mencium kedua pipi sang mami tercinta sebelum pergi ke lantai atas.


"Good night sayang". Balas sang mami.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama lagi, Riyan menaiki setiap anak tangga menuju ke kamar pribadinya.


Di dalam kamar Riyan langsung melepas jas yang ia kenakan. Lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang sedikit bau alkohol.


"Ah sial. . ". Gumam Riyan langsung berdiri di bawah shower dan mandi masih dengan pakaian lengkap.


Dia sangat dengan kelakuan seseorang di pesta itu yang membuat moodnya hancur.


Riyan memang besar di luar negeri yang terbilang bebas. Tetapi Riyan adalah cowok yang sangat tidak menyukai alkohol. Bahkan ia juga tidak pernah menyentuh rokok sama sekali.


Itu memang sudah keturunan dari orang tuanya yang memang tidak ada yang merokok dan menyentuh alkohol. Tetapi dari kecil Riyan diajarkan untuk mengenal semua jenis alkohol dan obat obatan untuk berjaga jaga. Jadi dari mencium baunya saja ia sudah mengetahui jenis apa alkohol dan obat obatan itu.


Walaupun dia dari kalangan bisnis yang notabennya diluaran sana menggemari alkohol. Tapi tidak dengan keluarga Riyan, walaupun begitu mereka tidak menghambat pekerjaan malahan semua orang menghargai setiap privasi masing masing.


Tidak lama dibawah shower barulah Riyan melepas pakaiannya dan berendam di air hangat yang sudah diberikan sabun yang sangat wangi.


Tidak lama karena takut masuk angin, Riyan keluar dengan memakai handuk kimono menuju walk in closed untuk berpakaian.


Rapih dengan piyama tidur. Lalu ia pergi ke tempat tidur langsung istirahat.


.......................


Beberapa jam tertidur di dalam mobil. Misha terbangun karena kepalanya terbentur ke mobil yang sedang melaju sedikit cepat.


Memandang kota Jakarta dari dalam mobil sampai tanpa terasa ia tersenyum manis melihat pemandangan yang sangat indah.


"Seneng banget kayanya??". Ucap Laura yang sedikit ada ledekan di kata kata itu.


Misha hanya tersenyum tanpa mau menjawab pertanyaan dari Laura. Karena sedikit lapar Misha mengambil cemilan yang sengaja ia bawa di paper bag untuk di jalan.


Sedikit berbincang soal pekerjaan sambil memakan cemilan bersama Laura.


"Oh ya beneran nih gue gak harus nyerahin dokumen lamaran ke caffe tempat Lo kerja??". Tanya Misha.


"Beneran percaya sama gue Lo cuma akan di wawancara sama pemilik caffe itu doang". Ujar Laura meyakinkan.


"Nanti gue udah datang kesana malah dimintain dokumen lagi". Misha sedikit ragu dengan ucapan Laura yang memang tidak mengharuskan dirinya membawa beberapa dokumen.


"Lo tenang aja. . Lagian gue udah ngomong sama pemilik caffe itu". Lanjut Laura.


Mendengar ucapan yang begitu meyakinkan membuat Misha berpikir yang aneh aneh tentang Laura. "Jangan jangan pemilik caffe itu cowok lo ya". Tunjuk Misha tepat di wajah Laura.


Plak. . Pukulan Laura mendarat di tangan Misha yang ada di depan matanya. "jangan Ngadi Ngadi Lo kalau ngomong". Pekik Laura dengan tegas.

__ADS_1


"Siapa tau aja". Gumam Misha mengelus tangannya yang sedikit panas akibat pukulan Laura.


Gak lama kemudian Laura mengatakan bahwa mereka sebentar lagi sampai di kontrakannya di Jakarta.


"Di depan ya mas seperti biasa". Ujar Laura kepada sang supir.


"Ia neng". Jawab supir itu.


Sampai di tempat yang Laura tunjukan mereka berdua turun dari mobil dengan dibantu sang supir mengeluarkan barang barang mereka.


Setelah memberi ongkos mobil barulah mereka berdua masuk membawa tas besar masing masing.


"Malam pak". Sapa Laura dan Misha bersamaan kepada satpam di sana.


"Malam neng. . Bawa anak baru??". Tanya si satpam saat melihat wanita di samping Laura.


"Ia pak. . Kami permisi dulu". Pamit Laura pada satpam sedangkan Misha hanya tersenyum dan mengangguk.


Laura mengajak Misha naik tangga yang memang kebetulan kontrakannya berada di lantai 2. Kontrakan disana memiliki 3 lantai yang memang khusus kos yang ada di daerah sana.


Kontrakan itu berisi 1 ruang tempat tidur dan dapur kecil serta kamar mandi di belakang. Ruangan itu memang langsung ke tempat tidur tidak ada ruang tamu atau apapun itu.


Tiap tempat kontrakan memang memiliki perbedaan ruangan di tempat itu. Seperti kontrakan yang ada di depan mereka, disana memiliki ruangan yang cukup besar dan memiliki banyak ruang.


"Lo istirahat aja dulu beresin barang nya besok aja dan kebetulan gue masih cuti ke caffe nya lusa aja gue udah hubungin manajer caffe". Ucap Laura berbaring di tempat tidur.


Misha yang tadinya sedang mainan ponsel langsung bangkit ingin ke kamar mandi." Gue beres beres sekarang aja lagian gue udah banyak tidur di mobil tadi". Ujar Misha, lalu membereskan semua barang barangnya ke lemari pakaian.


Tidak banyak barang yang Misha bawa karena ia pikir bisa membelinya nanti setelah berkerja. Memang ia tidak muluk muluk orangnya dan bisa cepat menyesuaikan diri di manapun walaupun kurang dalam berkomunikasi.


Beberapa jam kemudian semuanya rapih berpindah pada tempatnya. Setelah shalat subuh barulah Misha tidur karena sedikit mengantuk. Sedangkan Laura sedari tadi sudah memasuki alam mimpinya.


...-----------------...


Hai reader. . .


Maaf kalau banyak typo dalam setiap tulisan author hanya memakai handphone untuk mengaturnya . . .


Dukung terus author. .


Ingat ini hanya cerita fiksi tidak ada kaitan dengan siapapun. . .


Dilarang copas dan menjiplak hak cipta orang. . .

__ADS_1


Happy reading semua. . . . .


__ADS_2