
Pukul 13.00 siang pesawat yang Misha tumpangi mendarat di bandara Soekarno Hatta.
Kali ini Misha tidak memakai pesawat komersial pulang ke Indonesia melainkan pesawat pribadi milik keluarga Mahendra.
Hal itu membuat misha menghabiskan perjalanannya hanya berbaring di kamar yang ada didalam pesawat sambil nonton film.
Apalagi tidak ada Riyan yang akan menenangkan nya saat diperjalanan tidak seperti waktu berangkat kemarin.
Turun dari pesawat, misha langsung disambut dengan pelukan hangat dari Riyan. Dia jemput sendiri ke bandara karena sangat amat merindukan sang pujaan hati yang tidak bertemu selama 3 hari.
"Akhhhhh ,, riyan pusing turunin aku". Keluh Misha saat tubuhnya dipeluk lalu diputar.
Riyan menghentikannya tapi masih memeluk Misha dengan erat enggan untuk dilepaskan.
"Aku kangen sama kamu".
"Iya iya tapi lepasin dong gak malu diliatin orang". Bisik misha kepada Riyan.
Riyan menatap sekeliling yang hanya ada orang dari kejauhan dan beberapa anak buahnya yang sedang berjaga di sekitar sana menyambut kedatangan nyonya Mahendra.
"Gak ada siapa siapa.. mereka mah abaikan aja,,,, adududuh sakit sayang". Keluh Riyan yang tangannya dicubit sangat kencang oleh Misha.
"Em udah nanti kangen kangen nya dirumah. Sekarang kita pulang emang kalian gak kepanasan disini terus". Ucap mami Vita yang sudah duduk di mobil jemputan yang akan membawanya ke parkiran.
"Ck mami ganggu aja".
Riyan menggandeng tangan Misha berjalan menaiki mobil yang ditumpangi sang mami.
Mereka akan langsung pulang untuk beristirahat. Setelah naik pesawat tentu saja Misha harus istirahat karena keadaannya yang sangat drop. Kepalanya pusing dan tubuhnya sangat lelah.
Mobil melaju menuju kediaman Mahendra. Tentu saja Misha akan menginap disana beberapa hari sebelum pindah ke apartemen.
Itu semua keinginan mami Vita pribadi agar Misha ada yang menjaganya saat konsisi sepeti ini. Untuk Riyan kemungkinan tidak akan bisa karena pekerjaannya di kantor sangat padat Minggu Minggu ini.
Sampai dirumah, Misha diajak Riyan untuk langsung istirahat dikamar.
.
.
.
Setelah sang kekasih tidur barulah Riyan pamit untuk kembali ke perusahaan. Nyokapnya juga sama dia harus istirahat apalagi saat di Korea hanya istirahat beberapa jam saja dalam sehari.
"Ughhh, , , ". Lenguh Misha yang baru bangun dalam mimpi yang indah.
Di melihat sekeliling dan ternyata berada di kamar Riyan. Perlahan Misha bangun lalu berjalan menuju kamar mandi. Dia melihat jam sudah menunjukan pukul 5 sore dan kalau Riyan gak lembur dia sudah pulang ke rumah.
Ceklek
Misha keluar dari kamar mandi sudah menggunakan pakaian lengkap dan tangan menggosok rambut yang sedikit kering.
"Ow Kapan pulang??". Tanya Misha melihat Riyan duduk di atas tempat tidur.
"Barusan".
Misha menganggukkan kepala lalu duduk di depan meja rias. Sedangkan Riyan masuk ke dalam kamar mandi membawa pakaian ganti.
Tidak ingin menunggu riyan selesai, misha turun ke bawah karena perutnya sangat lapar. Rumah itu sangat sepi, tentu saja sudah biasa bagi Misha saat ada disana karena kemungkinan orang tua Riyan ada di ruang kerja/didalam kamar.
"Nona ada yang nona inginkan??". Tanya maid yang ada di dapur.
"Nggak ada bi Misha ingin buat sendiri aja".
"Lagi buat apa??". Tanya Riyan yang tiba tiba muncul di hadapan Misha.
"Astaghfirullah Riyan, , ". Pekik Misha kaget karena ada Riyan disana secara tiba tiba.
"...". Riyan hanya tertawa melihat reaksi misha yang seperti itu.
__ADS_1
"Kamu mandi apa mandi, cepet banget".
"Mandi lah emang kaya kamu".
"Tch, , ". Misha kembali fokus memasak daripada meladeni Riyan yang seperti itu.
Setelah selesai misha membawa piringnya ke meja makan diikuti Riyan. Dia hanya memasak satu porsi tapi lumayan banyak.
"Apa??". Tanya Misha dengan tegas saat melihat Riyan yang terus menatap ke arah makanan itu.
"Hehe". Cengirnya tanpa dosa menatap ke arah Misha dengan tangan mengambil sendok di atas piring.
"Kalau mau,, ambil sendok sana".
"Satu juga cukup".
Riyan segera memakan nasi goreng yang Misha masak. Lalu sesekali menyuapkannya kepada Misha sampai habis.
"Emmm satu piring berdua, romantis nya". Goda mami Vita yang baru datang ke meja makan.
"Bukan romantis mi tapi ngirit". Sarkas Misha membuat semua orang yang ada disana tertawa.
Misha pergi ke dapur membawa piring kotor lalu mencucinya dengan bekas yang tadi. Maid yang ada disana ingin mengambil alih pekerjaan itu tapi Misha menolak.
"Malam ini kita makan diluar aja ya mami malas masak". Seru mami Vita.
"Riyan ikut Misha aja". Ucap Riyan.
"Gimana sha??". Teriak mami Vita karena jaraknya lumayan jauh.
"Misha ikut mami aja".
Ucapan Misha membuat mami Vita diam menatap ke arah Riyan dan Misha bergantian. Wanita paruh baya yang masih cantik ini heran dengan jawaban yang keluar dari mereka yang sama padahal mami Vita yakin, Misha tidak mendengar ucapan Riyan sebelumnya karena suaranya sangat pelan.
"Mami heran sama kalian, lama lama kaya anak kembar". Ujar mami Vita meninggalkan ruangan itu menuju suaminya yang sedang duduk di ruang keluarga.
Riyan hanya tersenyum. Memang setelah kian lama dekat dia dan misha banyak kesamaannya. Bahkan Angga yang tahu dari pertamakali bertemu dengan Misha pun keheranan.
"ANGGA JANGAN TERIAK, , ". Teriak mami Vita.
"Mami juga teriak". Celetuk Angga duduk di samping mami Vita sambil bermanja-manja.
"Ekhm".
"Cie papi Rendra cemburu". Goda Angga kepada papi Rendra yang duduk di sopa lain.
"....". Papi Rendra hanya memutar bola matanya malas. Ini sudah terbiasa dikalangan mereka. Tapi jika istrinya didekati pemuda lain kepastian dia akan sangat sangat marah besar.
Angga ingin bangun dari posisinya saat Misha berjalan ke arah mereka. Riyan sudah bisa menebak apa yang akan Angga lakukan.
"Duduk Lo disana". Ucap Riyan dengan tegas menunjuk ke arah Angga.
Misha yang ingin duduk di sopa single tangannya ditarik oleh Riyan sampai duduk di pangkuannya.
"Riyan, , ". Seru Misha langsung turun dari pangkuan Riyan dengan mencubit tangan nya.
Tapi Riyan malah memeluk Misha dari samping dengan erat. Hal itu membuat semua orang di dalam sana jengah melihat kelakuan Riyan.
Bisa dibayangkan jika Misha meninggalkan Riyan kepastian akan lebih parah dari kemarin. Misha pun sama mulai kesini dia sudah mulai ketergantungan dengan keberadaan Riyan yang selalu ada disampingnya saat keadaan apapun.
Apalagi dulu saat ada masalah dengan teman temannya waktu kerja di caffe.
Malam harinya seperti yang tadi diucapkan oleh mami Vita. Mereka pergi untuk dinner di luar berlima.
Angga yang tidak memiliki pasangan hanya bisa mengacaukan dan bahkan sering membuat Riyan kesal. Gimana tidak kesal juga Misha selalu dia goda atau dideketin.
"Ck cari gandengan Napa sih jangan gangguin punya orang Mulu". Seru Riyan yang sudah kesal dengan kelakuan Angga.
Sedangkan Angga hanya acuh duduk di samping Misha.
__ADS_1
Saat ini mereka sedang ada di dalam ruangan privat yang ada di salah satu restoran terkenal di Jakarta.
Mami Vita sengaja dinner di dalam ruangan agar privasi nya terjaga dan tidak diganggu oleh orang lain.
"....". Angga hanya menjulurkan lidahnya meledek Riyan. Dia tidak pernah mendengar kan apa yang Riyan ucapkan diluar pekerjaan.
Sampai tiba tiba perhatian mereka teralihkan dengan suara panggilan masuk ke dalam ponsel mami Vita.
"Ya kenapa la".
".......".
"Sakit apa?? Apa udah dibawa kerumah sakit??".
".......".
"Kita tunda beberapa hari saja".
".......".
Mami Vita terdiam cukup lama dengan wajah kebingungan mendengarkan ucapan pegawainya. Lalu matanya menatap ke arah Misha sedangkan yang ditatap merasa heran.
"Oke besok lakukan apa yang seharusnya dilakukan kita hanya bisa mengganti model saja, tak masalah".
".....".
"Oke".
Mami Vita terus menatap ke arah misha dengan penuh keyakinan. Ponselnya dia letakan di atas meja lalu bangun berjalan menuju ke samping Misha.
Angga yang duduk di samping Misha pun disingkirkan dengan kasar.
"Ck mami ada apa sih". Keluh Angga menjauh.
"Sha,, mami minta tolong boleh" seru mami Vita memegang tangan Misha dengan erat.
"Mami ada apa??". Bukan misha yang menjawab melainkan Riyan yang sama halnya kebingungan.
"Mami bukan tanya sama kamu". Celetuk mami Vita. "Ya plis mami minta tolong sama kamu".
Misha masih kebingungan dengan ucapan mami Vita. "Mami minta tolong apa??".
"Minta tolong buat kamu jadi model buat besok".
"Hah?? Model??".
"Ya plis, , model yang sebelumnya sakit dan gak ada lagi yang bisa gantiin. Plis mami minta tolong. Pemotretan besok gak bisa diganti hari soalnya kalau nunggu model itu".
"Tapi-".
"Ambil aja sayang tidak apa". Potong Riyan.
"Aku banyak kerjaan di kantor". Alasan misha padahal dia gak percaya diri.
"Kalau kerjaan gampang. Ya sayang plis". Ucap mami Vita terus memohon.
"Ya udah Misha mau tapi Misha gak tahu bisa apa nggak".
"Kamu tenang aja nanti ada yang mandu kamu,, untuk tawarannya mami yang akan transfer langsung".
"Sesuai pekerjaan ya mi jangan lebih". Seru misha yang tahu akan kelakuan mami Vita.
"Iya".
Setelah selesai makan malam mereka langsung pulang ke kediaman Mahendra. Awalnya Misha akan pulang ke apartemen tapi diurungkannya karena dia akan berangkat bersama nyokapnya Riyan menuju tempat pemotretan besok.
.
.
__ADS_1
.
To be continued, , , ,