Destiny In My Life

Destiny In My Life
Kesialan Misha


__ADS_3

Tinggallah Misha, Azis dan Yuda di meja itu. Membuat Misha sedikit di perhatikan orang orang yang baru datang ke restoran itu.


Hal itu membuat Misha sedikit risih tetapi ia cuekin saja.


Selang beberapa menit mereka ditinggalkan ke toilet, makanan yang mereka pesan akhirnya datang juga.


Misha yang memang sangat kelaparan pun makan terlebih dahulu tanpa menunggu yang lain.


"Udah abis aja tu makanan". Ucap Laura yang baru datang melihat makanan di piring Misha sudah sedikit.


"Daripada gue mati kelaparan nungguin Lo pada". Ujar Misha yang masih asik dengan makanannya.


Mereka memang sedikit lama di restoran hanya sekedar nongkrong saja. Restoran itu memang cocok untuk anak muda seumuran mereka semua.


"Gue ke toilet dulu ya". Ujar Misha kepada semua orang. "Titip tas gue". Lanjut Misha kepada Yuda yang ada di samping ia duduk.


Saat misha berdiri tiba tiba ada orang yang berbicara membuat ia kaget. " Gue temenin ya". Canda Yuda membuat semua orang melongo.


Plak. . Pukulan mendarat di kepala Yuda. "Em temenin mata Lo Soak". Celetuk Azis setelah mendaratkan pukulan itu.


"Hajar terus". Ledek Laura memakan makanan miliknya.


Mereka heran kenapa tidak berhentinya menggoda Misha setelah dulu sempat ditolaknya dan Misha hanya menganggap mereka sahabat.


Tanpa mau mendengar hal lain lagi. Misha langsung pergi ke toilet sendiri.


Saat di jalan menuju toilet tiba tiba ia dikagetkan dengan seseorang yang menabrak dirinya membuat Misha hilang keseimbangan.


Bug. .


"Akh. . .".


Misha berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai dan berhasil tetapi keberhasilan itu tidak membuahkan hasil.


"Aw. . . ". Pekik Misha menatap tubuhnya yang terkena tumpahan jus buah yang dibawa pelayan.


Saat jatuh kesamping, Misha tidak sengaja menyenggol juga pelayan yang sedang mengantarkan pesanan.


"Maaf kak saya tidak sengaja". Ucap pelayan itu panik. Sedangkan orang yang menabrak Misha sudah tidak ada lagi di sana.


Misha menatap ke seluruh restoran dan melihat orang yang menabraknya sedang keluar restoran bersama temannya.


Diam mematung menatap ke arah punggung pemuda itu yang membuat Misha sangat bad mood.


"Ah gak papa mba maafkan saya juga yang gak hati hati". Ucap Misha dengan suara lembut sambil tersenyum.


"Sekali lagi maaf ya mba". Seru pelayan itu lagi.


Tidak menjawab hanya dengan senyuman saja membuat Misha pergi cepat ke dalam toilet yang ada di restoran.


Ia berusaha mencuci dan menghilangkan noda itu tetapi gak kunjung hilang karena itu adalah jus buah naga.


Celana yang misha pakai warna putih dan kepastian akan susah untuk menyamarkan setiap noda.


"Aduh gimana ini masa ia gue keluar dengan keadaan seperti ini sih". Gumam Misha yang berusaha menggosoknya dengan tangan.

__ADS_1


"Dasar cowok sialan". Ucap Misha yang sangat bad mood.


Untung Misha membawa ponsel nya ke kamar mandi dan ia langsung menghubungi salah satu temannya.


"Hello Ra. .". Ucap Misha setelah panggilan itu dijawab.


"Ada apa sha??". Tanya Laura bingung kenapa Misha telp dia padahal cuma ke kamar doang.


"Gue mau minta tolong. . Lo beliin gue celana dan baju". Pinta Misha.


"Emang Lo kenapa?? Lo gak papa kan. . Kenapa Lo suruh gue beli baju". Tanya Laura tambah keheranan dan membuat semua orang bingung juga mendengar ucapan Laura.


"Nanti gue jelasin sekarang Lo beliin aja dan bawa ke toilet. . Uangnya Lo ambil di dompet dalam tas gue". Lanjut Misha.


"Baiklah tunggu sebentar". Laura langsung mematikan telpon dan mengambil tas yang ada di samping Yuda.


"Ra. . Misha kenapa??". Tanya Yuda khawatir.


"Gue gak tau. . Kalian susul Misha di toilet aja sana". Ucap Laura kepada Nana dan Tasya.


Mendengar ucapan Laura membuat 2 cewek itu pergi ke toilet dengan segera. Sedangkan 2 cowok menunggu di meja mereka dengan pikiran yang aneh aneh karena takut terjadi apa apa dengan Misha.


"Misha..". Seru Tasya saat sampai di toilet restoran.


Mendengar namanya dipanggil, Misha yang ada di dalam toilet langsung keluar dan melihat sahabatnya disana.


"Pakaian Lo kenapa??". Tanya Tasya kaget melihat pakaian Misha yang kotor oleh jus buah naga.


"Tadi gue disenggol orang dan nabrak pelayan yang bawa jus". Balas Misha sedikit cemberut.


Dengan cepat Misha masuk ke toilet untuk berganti pakaian.


"Kenapa Laura beliin gue kemeja putih sih sama celana hitam lagi. . Berasa mau interview gue". Gumam Misha melihat pakaian yang dibeliin Laura tadi.


Untuk Misha memakai tank top hitam di dalamnya membuat kemeja yang ia pakai sengaja tidak Misha kancing kan.


Keluar dengan style berbeda membuat semua orang takjub. Walaupun bukan hal pertama kali mereka lihat tapi Misha selalu dibuat kagum karena apapun yang ia pakai akan langsung cocok di tubuhnya.


Dengan cepat para cewek kembali ke tempat duduk untuk nyamperin Yuda dan Azis yang menunggu lama.


Sampai di meja semua makanan sudah hilang dan ternyata mereka sudah bayar.


"Yuk jalan. . Gue udah bosen disini nunggu kalian lama banget". Ajak Azis yang berdiri duluan.


Misha sudah menceritakan sedikit kejadian yang ia alami tadi dan membuat gadis itu jadi bad mood untuk shopping.


Bukan Misha namanya yang selalu berubah pikiran di setiap apa yang ia lakukan.


3 paper bag yang ia penggang membuat semuanya geleng geleng kepala karena Misha sendiri yang bilang tidak mau belanja tetapi sekarang dia sendiri yang belanja paling banyak.


Pukul 16.00 sore mereka berenam pulang ke kontrakan masing masing dengan paper bag yang berisi barang belanjaan.


Tidak hanya pergi ke mall malam ini mereka akan pergi ke Monas hanya sekedar menikmati malam yang sedang ada acara disana.


Ntah acara apa, saat Tasya melihat sosial media mereka langsung setuju untuk pergi ke sana.

__ADS_1


"Emang kita mau berangkat sebelum magrib, nanti sholatnya dimana??". Tanya Misha yang sedang duduk memainkan ponselnya.


"Gak tau gue juga, si Tasya yang ingin pergi ke sana Mulu". Balas Laura.


"Nanti aja lah abis magrib gimana??"usul Misha.


"Boleh juga sih, , ya udah Lo kasih tau mereka aja sana, Lo yang ek kontrakan Yuda gue yang ke kontrakan tasya". Pinta Laura.


"Kenapa gak sama sama aja sih". Ujar Misha.


"Gue malas ketemu Azis, gue sebel sama dia". Ucap Laura sebal.


"Awas loh nanti suka". Goda Misha sambil tertawa meninggalkan Laura menuju kamar Yuda.


Misha sudah tau dan sudah menilai kelakuan semua teman kerjanya itu. Sekarang ia juga tidak secuek dulu saat pertama ketemu.


Tok. . Tok. . Tok. .


Misha mengetuk pintu kontrakan Yuda yang tidak terlalu jauh dari kontrakannya.


Cklek... Pintu terbuka, berdirilah Azis disana. "Hai baby,, ada apa?? Masih kangen ya sama aku". Ucap Azis dengan percaya diri. . Ucap Azis dengan percaya diri.


Pltak,,,,, pukulan mendarat di kepala Azis yang memang sudah terbiasa dengan itu.


"Gue mau bilangin,, kita berangkat habis magrib aja,, bye". Misha langsung pergi setelah memberi tau apa yang ingin ia sampaikan kepada kedua cowok itu.


Saat melewati kontrakan tasya, ia melihat Laura masih berbaring di tempat tidur mereka tanpa mau balik ke kontrakannya.


"Woy mandi,, malah nyangkut Lo disini". Ujar Misha yang berdiri di pintu masuk.


Laura cuek tanpa mau menjawab, sedangkan Misha langsung kembali ke kamarnya untuk mandi.


Setelah shalat magrib semuanya kumpul di kontrakan Laura untuk membenarkan make up para cewek yang tentunya akan menguji kesabaran kedua cowok itu.


"Okhhhhhh,,,,,". Keluh Azis yang sudah tidak tau lagi harus menunggu para cewek dandan dengan cara gimana.


Ia sudah sangat bosan dan ingin segera pergi tapi mereka belum juga selesai.


"Lo kenapa sih,, kebelet berak". Ledek Laura yang keluar kamar duluan.


Azis tidak menjawab ia hanya menatap semua orang dengan tatapan sebal. Tentunya Yuda tidak akan pernah jauh dari Misha dan terus aja nempel seperti perangko.


...--------------...


Hai reader. . .


Maaf kalau banyak typo dalam setiap tulisan author hanya memakai handphone untuk mengaturnya . . .


Dukung terus author. .


Ingat ini hanya cerita fiksi tidak ada kaitan dengan siapapun. . .


Dilarang copas dan menjiplak hak cipta orang. . .


Happy reading semua. . . . .

__ADS_1


__ADS_2