Destiny In My Life

Destiny In My Life
Siapa Stella??


__ADS_3

Meninggalkan meja makan terlebih dahulu, Misha berjalan menuju kamar yang ia tempati dengan langkah cepat.


Dan saat memasuki kamar misha langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang baru saja ia makan.


Uwek,,,,, uwek,,,, uwek.


Suara muntah bergema dikamar mandi dan gak lama kemudian misha merasakan tangan kekar memijat tengkuk leher nya dengan lembut yang membuat dia sedikit tersentak. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa apa karena perutnya yang sangat mual.


Setelah lumayan membaik dan membersihkan mulutnya, ia duduk dengan lemas di atas kloset kamar mandi. Bahkan saat ini misha tidak berani untuk menatap wajah Riyan yang ada dihadapannya.


"Kamu gak papa??". Tanya Riyan lembut sambil mengusap kepala misha.


Misha hanya bisa menggelengkan kepala pertanda ia baik baik saja.


"Kenapa??bukannya kamu gak makan nasi". Tanya Riyan lagi tetapi dengan nada lembut.


Tidak mendapat jawaban sama sekali dari Misha membuat Riyan jongkok dihadapan Misha dan memandangnya dengan tatapan lembut.


"Cerita sama aku kalau kamu kaya gini aku makin merasa bersalah sama kamu".


"Sha,, jawab pertanyaan aku!! Apa penyebab kamu muntah??".


"Susu". Jawab misha pelan.


"Kamu gak suka susu putih". Tebak Riyan, lalu dijawab dengan anggukan kepala. "Kenapa kamu gak bilang,, ternyata kamu pemilih makanan juga ya". Lanjut Riyan dengan sedikit candaan. Akan tetapi membuat misha malah menangis.


Melihat Misha yang menangis, Riyan dengan cepat memeluknya untuk menenangkan Misha. "Udah jangan nangis.. gak papa, kalau gak suka jangan dipaksain dan bilang sama aku". Pekik Riyan mengelus kepala Misha yang ada di pelukan nya.


Riyan membawa tubuh Misha yang lemas untuk dibaringkan di tempat tidur dan membiarkannya untuk istirahat.


"Udah jangan nangis,, seperti anak kecil aja". Canda Riyan malah membuat tangisan Misha tambah kencang.


Dengan cepat Riyan mengelus pipinya yang sudah merah dan basah dengan air mata dengan lembut sambil menenangkannya.


Sampai akhirnya Misha tenang dan Riyan menghapus sisa air mata yang ada di wajahnya dengan lembut.


"Kamu tunggu disini aku ambilkan sarapan lagi buat kamu". Ucap Riyan bangkit dari duduk." Dan jangan nolak". Lanjut Riyan dengan cepat.


Saat Riyan kembali dia membawa nampan berisi roti selai dan air mineral untuk ia sarapan lagi. Tetapi dia tidak datang sendiri melainkan dengan Angga yang mengikutinya.


"Kenapa lagi sha??". Tanya Angga saat melihat Misha berbaring kembali di tempat tidur.


"Cuma masih lemas aja".


"Makanya banyak istirahat aja dulu jangan kebanyakan gerak".


Misha hanya tersenyum dengan perhatian yang Angga berikan. Dia bersyukur banyak orang yang baik sama dia tapi disisi lain ia juga takut akan kebaikan yang ada maunya. Misha memang susah percaya sama orang baru dan membuat ia selalu berpikiran negatif tentang orang itu.


"Oh ya Lo ngapain pagi pagi datang kesini??". Tanya Riyan.


"Gue anterin ayah kan mereka hari ini mau ke Korea masa Lo lupa".

__ADS_1


"Korea,, (melihat ke jam tangan melihat tanggal yang tertera disana) oi,, kenapa gue sampai lupa kaya begini". Seru Riyan memegang kepalanya.


"Gue udah bisa tebak . Gue mau anterin ke bandara dulu dan nanti gue balik lagi karena ada yang harus gue bicarakan sama Lo penting". Kata Angga dengan wajah serius.


"Ok gue tunggu".


Seperti apa yang Angga katakan tadi orang tua Riyan dan ayah Angga pergi ke Korea karena ada pekerjaan disana. Misha yang masih sedikit lemas ikut turun kebawah untuk berpamitan.


"Sayang kamu jaga kesehatan ya jangan sakit lagi nanti mami khawatir sama kamu". Ucap mami Vita berhadapan dengan Misha.


"Iya Tante Misha sudah sehat kok,, Tante hati hati ya dan apa Misha bisa titip sesuatu??".


Ucapan Misha membuat semua orang bingung dan mengerutkan kening.


"Kamu mau apa sayang??".


"Misha mau minta bawain park Jimin kalau nggak min Yoongi". Canda Misha sambil tersenyum.


"Kenapa harus mereka,, anak mami juga ganteng gak kalah jauh sama mereka". Jawab mami Vita sedikit kode.


"Kalau Riyan Misha gak mau". Jawab Misha dengan candaan yang membuat semua orang tertawa.


"Hahaha anak mami ternyata ditolak". Ledek mami Vita


Bukan hanya itu Angga pun mentertawakan Riyan saat mendengar ucapan dari Misha yang membuat orangnya menahan kesal. Sedangkan Misha malah menjadi bingung akan reaksi mereka semua. Padahal ia hanya bercanda saja.


"Nanti mami bawain.. tapi gak janji". Ucap mami Vita masih dengan tawanya yang ditahan.


Semua orang pergi dan hanya tersisa Misha sama Riyan yang ada di depan rumah. Awalnya Misha ingin ikut mengantarkan tapi mami Vita menolak dan meminta Misha untuk istirahat.


.


Beberapa jam kemudian Angga balik lagi ke rumah setelah mengantar orang tua mereka ke bandara.


Misha yang berada di tepi kolam dikagetkan dengan suara Angga yang teriak memanggil riyan.


"Riyan,,,,!!!".


"Riyan,,,!!".


"Ada apa ga kok kamu teriak kaya gitu??". Tanya Misha memasuki rumah.


"Riyan kemana sha??".


"Aku gak liat,, setelah kamu pergi aku gak tau dia kemana emang dikamar nya gak ada??".


"Maaf den Angga, den Riyan ada di perpustakaan saya habis nganterin minuman dari sana". Ucap pelayan yang mendekati mereka berdua.


Angga dengan cepat pergi ke tempat yang ditunjukan pelayan itu dengan diikuti Misha. Ia juga ingin menanyakan perubahan sikapnya yang tiba tiba terhadap dirinya.


"Ngapain Lo disini??". Tanya Angga memasuki perpustakaan dengan diikuti Misha.

__ADS_1


Saat Riyan melihat Misha berjalan mendekatinya wajahnya kembali murung dan membuat Misha kebingungan.


"Dah lah jangan dipikirin,, yang penting sekarang gue mau kasih info sama Lo tentang Misha". Ucap Angga membuat Misha menatap dirinya.


"Aku,,!!!". Seru Misha menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa aku??".


Angga menatap ke arah Riyan untuk menanyakan persetujuannya. Riyan yang melihat hanya bisa menganggukkan kepala karena sudah terlanjur juga.


Tanpa persetujuan Misha duduk di samping Riyan dan menatap ke 2 pemuda itu bergantian. Angga yang ada disana mengambil laptop dan mengotak Atik sebentar.


Setelah dapat laptop itu diletakan dan dihadapkan kehadapan Riyan yang tentunya Misha akan melihatnya.


Layar laptop menampilkan pengirim paket yang ada di daerah kontrakan Misha. Orang itu sama tetapi dengan kotak yang berbeda, kemarin juga dia mengirimkannya ke kontrakan Misha tapi tertangkap oleh Angga.


Angga langsung menyeret orang itu karena ingin kabur. Setalah ketangkap orang itu di interogasi dengan tegas oleh Angga dan diancam untuk dimasukan ke dalam penjara.


"Terus siapa pelakunya??". Tanya Riyan menyandarkan tubuhnya.


"Stela,,!!!".


Saat mendengar itu Misha mengerutkan kening karena bingung, selama datang ke Jakarta ia tidak mempunyai musuh sama sekali.


"Siapa stela??". Tanya misha heran.


Riyan dan Angga saling pandang dengan kebingungan. Mereka tidak tahu orang itu siapa dan dalam motif apa mengerjai Misha dengan itu.


"Kenapa kamu tanya aku,, aku pun gak tau". Jawab Riyan membuat misha tambah bingung.


"Kamu gak tau siapa stela??". Tanya Angga.


Misha menggelengkan kepala dan kedua pemuda itu juga tidak mengerti semuanya.


Mereka tau siapa pelakunya tapi tidak kenal dengan orang itu. Setalah mendengar penjelasan Misha, Riyan takut bahwa orang itu adalah musuh keluarganya untuk menjatuhkan perusahaan. Dia takut Misha akan ikut keseret dalam masalah dirinya karena itu akan bahaya untuk keselamatannya.


Riyan gak mau Misha dimasukan target mereka untuk menjatuhkan Riyan karena mereka tahu kedekatannya saat ini.


Riyan dan Angga saling pandang untuk memberi sinyal.


"Sha sebaiknya kamu istirahat dulu biar cepat sembuh". Kata Riyan menatap Misha yang masih memikirkan pelaku itu.


"Aku gak akan bisa tidur.. sebenernya apa salah aku kenapa orang yang bernama stela melakukan itu kepada aku".


"Mungkin dia hanya iseng sha". Sahut Angga.


"Kalau cuma iseng itu keterlaluan kenapa harus dengan itu". Seru Misha. "Dan itu adalah hal yang paling aku takutkan". Lanjutnya.


"Tunggu,,,!! Kamu takut ulat". Tanya Angga yang membuat Misha langsung menatap Angga.


"Jangan disebutkan". Ucap Riyan melempar buku yang ada dihadapannya ke tubuh Angga.


Mendengar itu Misha menghela nafas dan merilekskan tubuhnya. "Hufhh,,,,".

__ADS_1


...-----------------...


...Happy Reading,....


__ADS_2