Destiny In My Life

Destiny In My Life
Jeoules


__ADS_3

Keesokan harinya dimana mereka sudah siap untuk berpindah tempat penginapan.


Mereka melakukan itu untuk menjaga privasi karena banyak orang yang tahu hotel yang Misha tempati sekarang.


Ini liburan kedua kali mereka bersama setelah kemarin berlibur di Korea. Walaupun hanya beberapa hari tapi mereka bahagia.


Dan sekarang, di Osaka pun mereka hanya berlibur 3 hari saja. Itu juga sudah dirancang semaksimal mungkin oleh misha agar tidak berdiam diri terus di dalam kamar.


Mereka akan jalan jalan bersama menjajal negara sakura tanpa ada orang yang mengganggu.


Misha yang hobi traveling merasa senang. Dia selalu mengabadikan momen di manapun gadis itu berada.


"Mau makan apa??". Tanya Riyan menggenggam tangan Misha.


Saat ini mereka berdua sudah ada di dalam mobil.


"Apa aja, apa kita langsung jalan jalan??".


"Kita istirahat dulu, nanti siang kita baru jalan jalan". Ucap Riyan karena takut kekasihnya kecapekan setelah 3 hari bekerja non stop.


"Ya udah kita sarapan di hotel aja kalau gitu".


Riyan mengangguk sambil tersenyum. Gadis itu selalu paham dengan apa yang dia ucapkan tanpa berdebat.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Ponsel Misha berdering dengan nama Tina. "Hello". Sapa Misha.


"Misha, , Lo dimana??". Tanya Tina dengan antusias.


Kening Misha terangkat bingung. "Ada apa??".


"Lo dimana?? ". Tanya dia lagi.


"Lo harus datang pokonya. Gw mau tunangan lusa". Ucapnya lagi.


"Tunangan?? Sama siapa?? Bukannya selama ini lo jomblo".


"Aish sialan lo,, pokonya ada deh. Lo datang ya please, Lo gak sibuk kan??".


"Gw gak sibuk tapi-".


"Yes berarti lo datang". Potong Tina dengan kesenangan.


"Tapi sekarang gw di Japan".


"......". Tidak ada respon apapun dari sebrang telpon. Hanya ada keheningan.


"Sinta gak kasih tahu lo emangnya, sorry ya". Ucap misha merasa bersalah.


"......".


"Hello tin, Tina ".


"Ya udah gak papa padahal kita semua lagi pulang kampung loh, cuma lo doang yang nggak".


"Sorry ya".


"Gak papa, kalau gitu gw tutup dulu. Bye happen disana".


"Oke,, bye".


Pip


Misha terdiam menatap ke arah ponselnya yang panggilannya terputus. Dia merasa tidak enak hati dengan Tina yang mengharapkan dia datang ke acara lamarannya.

__ADS_1


"Tak apa jangan sedih". Ucap Riyan mengelus tangan Misha dengan lembut.


"Hm, aku titip hadiahnya aja sama Sintia".


Misha mencari cari sesuatu agar cepat sampai dan bisa dikasih pas acara dilaksanakan. Hanya Sinta dia percaya karena Elma sudah berumah tangga takut buat dia repot.


.....


"By ini sarapannya??". Pekik Riyan masuk ke dalam kamar yang akan Misha tempati.


Di apartemen itu terdapat dua kamar, ruang tamu, ruang makan dan dapur.


Setelah sampai di apartemen, Riyan pergi untuk belanja kebutuhan mereka selama tiga hari disana. Sedangkan Misha istirahat di apartemen.


Saat masuk ke dalam kamar, terlihat Misha yang sedang tertidur pulas. Pasti wanita itu sangat kecapekan.


Karena sang kekasih belum makan apapun dari pagi, mau tidak mau ia membangunkannya untuk sarapan.


Terlihat jam sudah menunjukan pukul 8AM waktu setempat.


"Sayang bangun, sarapan dulu. Sayang". Ucap Riyan dengan lembut.


"Emm".


"Bangun yuk, sarapan dulu".


Mata Misha perlahan terbuka, dia mendudukkan dirinya dengan mata yang masih tertutup.


"Bangun". Pekik Riyan lagi sambil tertawa kecil.


Bukannya bangun, gadis itu malah merentangkan kedua tangannya meminta digendong dengan mata yang menolak ia buka.


Tanpa pikir panjang Riyan menggendong sang kekasih ala koala menuju meja makan. Lalu mendudukkannya di salah satu kursi.


Di atas meja sudah ada beberapa makanan untuk sarapan. Tak lupa juga susu coklat hangat.


Misha menggeleng kepala. "Aku makan sendiri".


Mereka makan dengan tenang bersama sambil berbincang bincang santai.


Setelah makan Misha memutuskan untuk nonton drama ditemani riyan setelah mencuci piring tadi.


.


.


1PM waktu Osaka.


Sekarang kedua pasangan itu sudah rapih dengan pakaian yang cukup tebal untuk launch di luar.


Udara diluar lumayan dingin karena sebentar lagi akan masuk musim dingin.


Tidak ingin sang kekasih jatuh sakit. Riyan memakaikan syal untuk dipakai dileher padahal Misha dengan keras terus menolak.


Mereka makan di salah satu restoran tanpa memesan ruang privat. Awalnya mereka sama-sama menolak agar tertutup dari publik tapi lama kelamaan mereka teringat akan rencana awal agar saling mengenalkan pasangannya ke mereka.


Ditambah mereka saling membagikan foto di halaman Instagram saat acara lamaran kemarin.


Seperti biasa, banyak pro dan kontra yang masuk. Apalagi karena acara lamaran itu terlihat sangat sederhana dari kalangan pengusaha dan artis.


Dari awal Misha memang tidak menganggap dirinya sebagai artis karena dia hanya bekerja sebagai model saja. Bagi Misha artis mencakup segalanya dan itu tidak ada di diri Misha.


Gadis itu belum berani menjajal kemampuan nya lebih lanjut karena Riyan juga menolak dengan keras.


Riyan mau setelah menikah nanti. Misha hanya akan fokus mengurus rumah tangganya tanpa bekerja. Jika iya pun dia ingin Misha bekerja hanya dirumah tanpa pergi ke jauh.

__ADS_1


Bahkan sebelum menandatangani kontrak apapun untuk misha, mami Vita sudah mengaturnya dengan ketat. Jika misha dan sang putra menikah nanti.


Dari pihak orang tua Riyan juga tidak ingin Misha keluar masuk negara hanya untuk bekerja tanpa didampingi Riyan nanti. Karena kepastiannya Riyan yang akan sibuk bekerja di perusahaan sendiri. Dimana setelah menikah nanti pemuda itu akan mengurus perusahaan utama dalam bidang tertentu.


Setelah selesai makan siang, mereka pergi untuk jalan jalan mengelilingi kota Osaka sambil berbelanja.


Misha yang tidak hobi berbelanja malah disibukan dengan kameranya untuk mengabadikan momen. Berbeda dengan Riyan yang malah asik memilih barang keluaran terbaru.


Tapi yang membuat Misha heran adalah pemuda itu memilih barang perempuan.


"Sayang bagus yang mana??". Tanya Riyan memegang 2 tas selempang keluaran terbaru.


Misha yang ditanya seperti itu tentu saja tidak boleh gegabah. "Beli yang kamu butuhkan saja. Jangan buang buang uang".


Begitulah misha, dia gak akan pernah jawab karena sekali jawab tas itu akan dibeli dan diberikan langsung kepada Misha tanpa bisa dicegah.


Dari dulu sampai sekarang misha belum bisa mengendalikan Riyan yang doyan belanja yang bukan untuk dirinya melainkan untuk Misha.


Gadis itu tidak pernah minta. Bahkan banyak sekali barang barang yang belum pernah dipakai menumpuk di walk in closed. Ditambah dengan beberapa brand yang dikirim untuk Misha promosikan dan beberapa barang pemberian fans yang dikirim ke perusahaan.


Misha bahkan pusing sendiri dengan semua barang milik dia.


"Sayang, pilih dulu". Ucap Riyan lagi.


Misha hanya menatap Riyan dengan tatapan tajam. Dia sungguh malas dengan sifat Riyan yang seperti itu. Ini sudah kesekian kalinya pemuda itu bertanya saat masuk dari toko satu ke toko lain.


"Terserah kamu lah, mau beli semuanya aku gak peduli". Misha langsung pergi keluar dari toko tanpa memperdulikan beberapa pengunjung yang menatap mereka.


Dia tidak perduli sama sekali.


Moodnya benar benar hancur dan ingin kembali ke apartemen sesegera mungkin.


Tapi sayang. Misha tidak tahu tempatnya. Jika dia nekad bukannya sampai ke apartemen malah dia nyasar sendiri.


Alhasil Misha masuk ke dalam mobil dengan wajah ditekuk.


Setelah Riyan masuk, Misha terus mendiaminya tanpa merespon apapun yang kekasihnya lakukan sampai ke apartemen.


Bahakan misha mengunci dirinya di kamar.


Dia mengacuhkan Riyan yang terus mengetuk pintu dari luar.


........


Sampai malam hari, Misha yang merasa lapar berniat untuk keluar kamar.


Tapi saat sampai di meja makan. Keningnya mengkerut melihat banyaknya makanan yang susah tersaji disana.


Lalu, saat kepalanya menatap sekeliling ruangan untuk mencari seseorang. Tiba tiba ada tangan kekar yang memeluk dirinya dengan sangat erat dan meletakan kepalanya di leher misha.


"Jangan marah lagi, aku minta maaf". Ucap Riyan dengan sendu.


Sudah bisa ditebak siapa pelakunya karena disana mereka hanya berdua.


Misha yang merasa kasihan kepada Riyan yang sudah berusaha membujuknya sedari tadi akhirnya tersenyum lebar. Sebenarnya dia tidak marah hanya saja Misha kesal karena sifat Riyan yang selalu berbelanja untuk Misha tanpa diminta.


Tangan Misha terangkat mengelus kepala Riyan dengan lembut. Dia membalikan tubuhnya dengan menghadap ke arah Riyan yang tangannya masih melingkar di pinggang.


"Janji gak boleh beli barang yang tidak dibutuhkan lagi". Ucap Misha menatap mata Riyan sambil mengacungkan jari kelingking ke hadapan sang kekasih.


"Janji". Riyan menautkan jari kelingking nya lalu memeluk Misha dengan erat.


Misha harap janji kali ini bisa Riyan tepati tanpa ada acara bertengkar saat liburan dengan kasus yang sama.


Setelah berbaikan, mereka berdua makan dengan tenang. Banyak menu yang Riyan siapkan di meja makan.

__ADS_1


Pemuda itu tahu jika menyangkut makanan, Misha tidak akan bisa nolak sama sekali.


To be continued, , ,


__ADS_2