
Tidak tahu jam berapa, Misha terbangun akan suara orang yang kesana kemari melewati dirinya yang tidur di ruang tengah.
Tapi saat melihat jam masih menunjukan pukul 04.45 pagi.
"Eeghhh, , ". Lenguh gadis cantik meregangkan seluruh otot nya yang kaku.
Matanya perlahan dibuka untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu.
Misha melipat selimut lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi. Tanpa lupa mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah shalat subuh.
Setelah shalat barulah Misha membangunkan Riyan yang masih tertidur lelap dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh.
Pertama tama dia mematikan AC yang ada di kamar itu. Memang setelah Misha lama tinggal di kota dan saat kembali ke kampung halamannya dia memasang AC di kamar. Awalnya dia ingin memasangnya di ruang tamu juga tapi ibunya menolak dengan alasan tidak ada gunanya. Hanya membutuhkan kipas angin sudah sangat berguna.
Satu lagi, Misha juga ingin merenovasi rumah orang tuanya tapi tidak sekarang dia hanya merenovasi kamarnya saja dibuat sedikit luas dan menambah barang barang di dalam rumah.
Uangnya mungkin sudah cukup tapi dia belum mendiskusikan nya dengan orang tuanya. Bahkan Misha juga belum yakin orang tuanya tahu apa pekerjaan dia sekarang.
Yang mereka tahu anaknya berkerja dan akan pulang beberapa bulan sekali itu pun hanya sebentar. Apalagi sekarang saat dirinya sudah menjadi model, Misha jarang ada sekali biasa pulang dan hanya bertukar kabar lewat telpon.
Tapi yang Misha tidak tahu sebenarnya orang tua serta saudara dekatnya tahu pekerjaan Misha.
Ibunya tahu dari tetangga yang menanyakan tentang anaknya yang sangat populer di internet. Jadi ibu Misha sekarang paham kenapa anak bungsu nya jarang pulang kerumah dan sebagai orang tua hanya bisa mendoakan anaknya yang terbaik.
Skip, ,
"By bangun, , shalat subuh dulu". Misha membangunkan Riyan dengan terus menggoyangkan tubuh nya dengan keras tapi tidak ada respon sama sekali.
Sampai jurus terakhir harus dia coba.
Misha menutup hidung nya agar Riyan susah nafas dan membuat Riyan terbangun menatap kekasihnya yang jahil.
"Aaahhh sayang, , ". Rengek Riyan dengan wajah kantuk.
Sekarang Riyan sudah terduduk dengan selimut yang melorot kebawah. Seperti biasa dia tidak mengunakan atasan saat tidur sendiri.
"Shalat subuh dulu".
"Iya". Riyan menggosok matanya sambil menguap.
Brukk
Misha melempar kaos pas ke kepala Riyan yang sedang menguap. Hal itu tentu saja membuat misha tertawa ngakak.
Melihat kekasihnya ingin membalas dengan mencubit pipi Misha yang menggemaskan, gadis itu berlari menjauh.
Alhasil jadilah kejar kejaran di dalam rumah di pagi buta membuat orang tua Misha kaget yang ada di dapur.
"Ibu, , ". Pekik misha bersembunyi di belakang sang ibu.
"Eh ada apa?? Kenapa lari larian".
__ADS_1
"Riyan nakal Bu mau cubit Misha". Adu Misha.
Riyan sudah memakai kaosnya saat berlari mengejar gadis kecilnya. Dia sungguh gemas kepada Misha sedari dulu dan pipi Misha akan selalu jadi korbannya.
"Dia duluan Bu yang jahil, tutup hidung Riyan kan Riyan gak bisa nafas". Adu Riyan juga kepada ibu Misha.
"Udah jangan berantem ibu mau tanya kalian mau makan apa??". Ibu Misha tidak membela siapapun, dia malah menanyakan sarapan pagi buat mereka berdua.
"Apa aja, tapi Riyan gak pernah makan berat bu kalau sarapan". Ucap misha keluar dari persembunyian.
"Terus makan apa??". Sang ibu langsung kebingungan.
"Biar misha ajak jalan jalan keluar aja bu sekalian beli jajan". Usul Misha.
"Ya udah terserah kamu".
Misha langsung mengangguk dan menatap ke arah Riyan. "Shalat subuh". Tatapan Misha sangat tajam menatap ke arah riyan.
Tapi bukannya takut malah terlihat gemas di mata Riyan. Dengan cepat Riyan mendekat dan menyembunyikan kepala Misha di keteknya.
"Aakkhh, , Riyan bau,, riyaaannnn". Teriak Misha sambil memukul-mukul tubuh Riyan.
Sudah puas menghukum gadis nakalnya, Riyan berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk wudhu. Tak lupa juga menguncinya agar Misha tidak bisa masuk.
Bughh
Satu pukulan mendarat di pintu kamar mandi saking kesalnya sama Riyan.
Mendengar kekasihnya dimarahi membuat Riyan yang ada di kamar mandi tertawa ngakak. Tentu saja Misha mendengar itu.
"Ck awas kamu". Gerutu misha pergi menuju ruang tengah.
Misha menyalakan telivisi untuk melihat kartun. Begitulah misha. Walaupun sudah besar dia sangat suka nonton kartun di telivisi daripada nonton sinetron.
Tapi jika nonton di tv yang ada di apartemen nya dia lebih suka nonton drakor dan film film luar negeri tentang percintaan romantis.
Bukan tidak menyukai sinetron tapi Misha lebih menyukai series yang endingnya susah ditebak dan membuat dirinya penasaran.
Melihat Riyan yang akan masuk ke dalam kamar, misha bermacam ingin mengerjai lagi tapi sudah diberi ultimatum terlebih dahulu membuat dirinya menciut. "Jangan nakal loh kamu dosa gangguin orang yang mau shalat". Kata Riyan.
Dengan wajah cemberut misha kembali menatap ke arah telivisi untuk menunggu Riyan selesai shalat subuh.
15 menit kemudian Riyan keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah diganti.
"Lama banget sih". Keluh Misha masuk ke dalam kamar untuk berganti baju.
Setelah Misha siap mereka pergi untuk jalan jalan pagi. Tapi saat ada di depan rumah, Misha melihat sepeda milik adik ibunya yang terpalkir disana.
"By jalan jalannya naik sepeda ya??". Ajak Misha.
"Sepedanya ada satu".
__ADS_1
"Gak papa".
Misha berlari masuk ke dalam rumah neneknya berniat meminjam sepeda tapi orangnya masih tidur jadi dia hanya bilang sama neneknya dan langsung setuju.
Mereka pergi mengendarai sepeda untuk berkeliling desa. Misha yang membonceng di depan memegang pundak Riyan agar tidak jatuh.
Di setiap jalan mereka berpapasan dengan orang yang terus menyapa dirinya. Begitulah warga kampung nya saat ada orang yang baru pulang dari kota. Satu pertanyaan yang tidak pernah terlewatkan adalah 'pulang kapan??', 'datang jam berapa??'.
"Misha". Panggil seseorang membuat misha meminta Riyan untuk menghentikan laju sepeda.
"Pagi paman". Sapa Misha mendekati saudara dekat ibunya. Langsung mencium tangan bergantian dengan Riyan.
"Datang ira?? Nyaho nyaho aya diimah bae??". Tanya paman Misha menggunakan bahasa Sunda.
"Tadi malam". Balas Misha sambil tersenyum.
"Kabogohna". Tunjuknya ke arah Riyan.
Misha tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Riyan namina".
"Kasep". Ucapnya sambil memukul lengan Riyan secara pelan.
"Moal ngarti ua, ,". Ucap misha yang diangguki oleh pamannya. "Misha pergi dulu ua mau lanjut jalan jalan". Pamit Misha.
"Iya sok".
Setelah berpamitan mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju tempat penjual makanan yang ada di pagi hari.
Seperti biasa banyak orang yang bertanya siapa yang Misha bawa alhasil Misha lama karena harus berbincang-bincang dulu dengan mereka.
Misha membeli banyak jajanan dan tak lupa juga membeli bubur ayam buat sarapan.
Tapi bukan rumah tujuan mereka pulang. Misha mengajak riyan ke area sawah untuk sarapan disana.
Pemandangan pagi sangat indah dan Riyan juga mengambil photo untuk ia posting di Instagram.
Mereka duduk lesehan ditepi jalan sambil sarapan berdua sambil Riyan terus menerus berbicara mengagumi keindahan yang ada disana.
Bukan Misha namanya jika tidak berselfi riya di tempat yang bagus. Banyak gaya yang dia lakukan dengan Riyan yang sabar memphoto Misha. Setelah puas barulah mereka pulang ke rumah.
Dia ingat hari ini banyak banget hal yang harus dia lakukan.
Sampai dirumah Misha tidak mendapatkan ibunya yang ternyata sedang berbelanja ke pasar.
Misha meminta Riyan cepat mandi dan bersiap siap untuk pergi. Dia ingin mencetak undangan pertunangannya dan juga memesan dekorasi untuk nanti siang.
Kepastian hari ini dia sungguh sangat amat sibuk karena melakukan acara yang sangat mendadak.
Beberapa saudara ibunya juga sudah dihubungi dan memaklumi jika tidak bisa datang.
To be continued, , , ,
__ADS_1