
...**Happy Reading...
...❤️**...
.
Mereka berdua pergi meninggalkan taman itu masuk ke mobil untuk mencari tempat makan untuk majikannya itu. Saat Misha melihat ke luar jendela ia melihat caffe yang terpampang jelas. Awalnya misha tidak ingin makan disana tapi karena malas untuk pergi lagi misha setuju tanpa menolak.
Misha hanya masuk sendiri tanpa Tomi yang kekeh menunggu di luar. Dia duduk di kursi pojok caffe agar tidak terlalu terlihat oleh pengunjung lain.
"Silahkan nona mau pesan apa??". Tanya pegawai caffe.
"Saya pesan spaghetti dan ayam rica rica. Untuk minumnya ice cappucino".
"Baik nona apa ada yang lain??".
"Tidak itu saja". Ucap misha membuat pegawai itu pergi untuk menyiapkan pesanan Misha.
Saat menunggu pesanan datang, Misha melihat ke arah ujung caffe yang terdapat seseorang yang sedang menyiapkan alat peralatan karaoke.
Misha bangun dan berjalan menuju panggung kecil itu untuk bertanya. "Permisi apa saya boleh menyumbang lagu". Ucap Misha dengan sopan.
"Bisa nona kebetulan semuanya sudah siap".
Misha naik dan langsung membisikan judul lagu yang akan dia nyanyikan. Para pengunjung yang cukup ramai menatap ke arah misha yang duduk di kursi memegang mic saat terdengar suara musik.
Wajah misha memang tertutup oleh topi yang dikenakan mungkin akan terlihat wajah bawah yang juga akan tertutup saat dia mulai bernyanyi nanti.
*Kerispatih - Bila rasaku ini rasamu
♪Singing ♪
,,,,
Prok, , prok, ,.prok
Terdengar suara tepuk tangan yang semua orang berikan kepada Misha saat selesai bernyanyi. Dia juga menghapus pipinya yang merasa basah gak menyangka bahwa dirinya sampai menangis.
Dia kembali ke meja tempatnya berada sambil melihat pegawai membawakan nampan berisi pesanannya tadi.
"Wah suara nona sangat bagus". Puji pegawai itu.
"Terimakasih".
Tidak ada lagi yang harus diurus membuat pegawai itu pergi meninggalkan meja Misha seorang diri.
Saat Misha selesai minum dan mengambil garpu untuk memakan spaghetti yang ada dihadapannya. Tiba tiba ada seseorang yang duduk dihadapannya tanpa permisi.
Karena risih ingin menegur orang itu, seketika matanya membulat dan garpu di tangannya jatuh ke bawah saking kagetnya melihat pemuda dihadapan dia.
"Ngapain tuan disini??". Tanya Misha dengan berusaha tenang.
Orang yang ada dihadapan Misha saat ini adalah arthur, pemuda yang sedang heboh di media sosial bersama dirinya digadang gadang sebagai kekasihnya padahal dekat pun tidak.
"Aku gak sengaja lihat kamu di caffe ini makanya mampir untuk menemui kamu". Ucap arthur enteng membuat Misha acuh tak peduli.
Setelah pegawai mengantarkan garpu baru. Misha hanya diam memakan makanan di hadapannya dengan tenang walaupun sedikit risih karena Arthur sedari tadi terus menatap dirinya.
"Apa yang tuan lakukan??". Ucap Misha menjauhkan tangan Arthur yang tiba tiba terukur ke depan.
"Di bibir kanan kamu ada noda". Ucap Arthur menunjuk ke arah bibir misha.
__ADS_1
Dengan cepat Misha mengambil tisu baru dan mengelapnya sendiri. Lalu melanjutkan makannya agar cepat selesai.
Tanpa ingin lama lama setelah makanan habis misha langsung pergi tanpa izin terlebih dahulu. Dia bayar ke kasih lalu pergi meninggalkan caffe tersebut.
Tomi yang ada di luar langsung menjalankan mobil nya tanpa bertanya dulu. Tapi dia merasa heran dengan sikap Misha saat ini, gadis itu kembali diam padahal setelah pergi dari taman misha tidak sediam ini lagi.
"Apa nona baik baik saja??". Tanya Tomi memberanikan diri.
"Saya baik kak".
Tomi kembali melanjutkan perjalanan itu menuju kediaman Mahendra tapi di hati Misha merasa tidak ingin pulang.
"Kak kita putar balik menuju menuju mall ada yang ingin Misha beli". Ucap misha.
"Tapi nona- ".
"Plis kak, Misha tidak ingin pulang dulu".
"Tapi nona kata kepala maid, banyak wartawan di luar rumah yang mencari keberadaan nona jadi kita pulang aja nona".
"Kakak plis sekali ini aja setelah dari mall kita pulang". Ucap Misha penuh permohonan.
"Baiklah tapi setelah ini nona pulang ke rumah jangan pergi ke tempat lain lagi".
"Siap kak".
Misha tersenyum sambil memberi hormat ke arah depan. Dia bahagia ada Tomi yang ternyata bisa pas dengan dirinya yang sangat cerewet. Misha memang akan cerewet jika di depan orang yang menurutnya nyaman dan Tomi juga tidak ada masalah sama sekali.
Dia baik, pengertian dan cowok idaman. Wajahnya juga lumayan tampan apalagi bisa dilihat bahwa Tomi itu sangat pintar dan rajin.
Sampai di palkiran mall, Misha memakai kembali masker serta topi. Dia juga meminta Tomi untuk menemaninya untuk berjalan jalan di mall.
Misha berjalan memasuki toko pakaian mencari untuk dirinya dan dia juga meminta Tomi untuk mencoba pakaian itu. Mau tidak mau Tomi hanya pasrah daripada Misha tidak pulang ke rumah. Jika itu terjadi mungkin dia dan pamannya yang akan kena masalah.
Satu set untuk dirinya dan Tomi Misha beli. Ia menggunakan kartu kredit milik Riyan. Bodo amat lah mau dimarahin atau gimana toh dia sendiri yang memberikan itu kepada Misha.
Setelah berbelanja barulah Misha pergi ke caffe untuk sekedar nongkrong dan makan cemilan.
Akan tetapi saat Misha ingin pergi ke kamar mandi. Dia tidak sengaja melihat Arthur lagi di meja lain sendirian masih menggunakan pakaian yang sama. Tidak mungkin jika Misha salah lihat.
"Dia maunya apa sih, kalau gini gue jadi tambah risih". Batinnya kesal.
Keluar dari toilet Misha masih melihat Arthur disana. Apa dia gak ada kerjaan hanya bisa mengikuti nya sepanjang hari, Pikirnya.
Tanpa pikir panjang Misha duduk di depan Arthur membuat pemuda itu tersenyum.
"Apa mau kamu sebenarnya??". Tanya misha dengan tegas.
"Loh kamu disini juga, kita ketemu lagi. Berarti juga jodoh". Dalih Arthur membuat Misha memutar bola mata malas.
"Jangan pura pura kita gak sengaja bertemu, apa mau kamu terus mengikuti saya?? Dan satu lagi kenapa kamu bikin berita seperti itu di media sosial". Tanya Misha sangat beruntun.
Arthur malah tersenyum menatap ke arah Misha. Dia tidak henti hentinya mengalihkan pandangannya dalam sekejap pun. Hal itu membuat misha sangat risih dan ingin segera pergi dari sana secepat mungkin tapi disisi lain ada banyak hal yang harus dia bahas.
"Kenapa tuan Arthur membuat berita yang membuat semua orang heboh??". Misha bertanya lagi karena dia tidak mendapatkan jawaban.
"Aku tidak melakukan apapun, mereka sendiri yang menganggap bahwa kamu kekasih saya".
"Kalau bukan tuan yang memulai mereka tidak akan berpikiran seperti itu".
"Aku gak melakukan apapun". Ucap Arthur tidak mau jujur.
__ADS_1
"Karena postingan tuan mengacu pada saya dan itu membuat semua orang heboh akan saya. saya gak buta, bahkan semua orang bisa melihat bahwa orang yang tuan Poto dan posting di Instagram itu photo saya saat ada di Korea. Tuan mengambil nya secara diam diam kan". Ucap Misha panjang lebar.
Perlahan Arthur memegang tangan Misha yang dia letakan di atas meja. Awalnya Misha ingin menariknya dengan cepat tapi tangan itu ditahan dengan erat agar tidak terlepas.
"Sha tolong dengarkan aku. Aku minta maaf untuk semuanya. Aku melakukan ini karena aku suka sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu sha. . . .
. . . Dari pertama kali kita bertemu, aku sudah menaruh hati sama kamu. Kamu wanita pertama yang menggerakkan hati aku sampai seperti ini". Ucap Arthur terdengar tulus.
"....". Misha hanya diam mendengarkan tanpa berniat menjawab.
"Oke semua yang aku lakukan memang salah sudah membuat kamu risih. Tapi aku mohon jangan berpaling dari aku. Jika kita tidak bisa bersama aku mau kita dekat sebagai teman". Ucap Arthur penuh harap.
Misha hanya diam memikirkan sesuatu agar dia tidak salah memilih. "baiklah, asalkan tuan bisa memenuhi syarat syarat dari saya".
"Saya akan penuhi semuanya, apa syaratnya??". Tanya Arthur penuh antusias.
Pertama tama misha melepaskan tangan yang pemuda itu dengan sekuat tenaga sampai terlepas lalu memikirkan apa aja syarat yang akan dia ajukan.
"Pertama, tuan-".
"Jangan panggil aku tuan". Ucap Arthur dengan suara yang sangat tegas.
"Ah oke. Kamu harus menghilangkan semua berita yang beredar sampai tuntas, sampai tidak ada lagi berita hoax yang beredar. Itu yang pertama".
"Dan untuk yang kedua. Jangan bertingkah diluar batas yang bakal membuat saya risih dan mengganggu kenyamanan saya". Lanjutnya membuat Arthur menganggukkan kepala.
"Ketiga -".
"Stop, ada berapa syarat??". Potong Arthur membuat misha terdiam.
"Ntahlah, suka suka saya. Untuk yang lain nanti nyusul". Celetuk misha tanpa rasa bersalah.
"Baiklah terserah kamu. Tapi aku minta nomor kamu buat hubungi kamu untuk menyelesaikan syarat yang pertama". Pinta Arthur membuat misha mengerutkan kening. "Jangan seperti itu nanti kulit kamu cepat keriput". Ucap Arthur ingin memegang kening Misha jika gadis itu tidak menghindar ke belakang.
"Oke maaf kalau aku lancang. Sekarang kamu tulis nomer kamu nanti aku hubungi kalau semuanya sudah siap". Arthur memberikan ponsel dirinya ke hadapan Misha.
Dengan ragu misha mengambilnya dan menekan nomer telpon pribadi miliknya sendiri. Lalu memberikan nya kembali ke pada si pemilik.
"Nomer kamu gak aktif, kalau pengen aku selesaikan masalah itu gimana cara hubungi kam??". Ucap Arthur dengan menatap ke arah misha.
"Nomor itu aktif hanya saja sekarang ponsel aku mati".
Arthur menatap Misha dengan penuh selidik. Melihat pemuda itu yang tidak percaya. Misha mengambil ponsel di dalam tas dan menunjukannya ke arah Arthur yang langsung dimengerti oleh pemuda itu.
"Kamu butuh power bank??".
"Tidak usah, saya permisi".
Ucap Misha langsung pergi meninggalkan Arthur saat tidak ada lagi yang ingin di bicarakan. Dia kembali ke meja sebelumnya dimana ada Tomi yang menunggu.
"Apa nona baik baik saja. Kenapa nona lama??". Tanya Tomi khawatir.
"Maaf kak tadi saya bertemu temen dulu tapi malah asik ngobrol sampai lupa waktu". Ucap misha sambil tersenyum kecil.
"Baiklah nona, sebaiknya nona pulang sekarang ini sudah sangat sore sebentar lagi malam takut orang rumah nyariin nona".
"Em, kita pulang sekarang".
Setelah selesai membayar mereka pulang menuju kediaman Mahendra. Misha tidak tahu harus pergi kemana lagi kalau bukan ke rumah itu. Mau pergi ke apartemen dia masih trauma takut masih banyak wartawan disana.
To be continued, , , ,
__ADS_1