Destiny In My Life

Destiny In My Life
Kejujuran Riyan


__ADS_3

"gue bakal jelasin terserah Lo mau denger apa nggak tapi gue harap Lo gak seperti ini". Kata Misha tanpa mendapat jawaban.


"Gue gak bilang dia cowok gue sedari awal itu hanya pikiran Lo aja.. wallpaper itu idola gue.. mungkin karena photonya yang seperti itu membuat orang salah paham".


"Idola??".


Riyan kaget dengan apa yang di ucapkan Misha. Ia menatap Misha yang hanya menatap ke arah depan.


Misha mengambil ponselnya yang ada didalam tas. Ia menunjukan semua Poto yang ada di galeri ponselnya penuh dengan photo boyband BTS.


Riyan hanya diam melihat satu persatu photo itu sampai ia melihat photo yang sama dengan wallpaper yang Misha pakai. Tapi wajah itu sangat kelas tidak tertutup selimut atau kain apapun.


Tiba tiba Misha tersentak saat Riyan memeluknya dengan erat. Ia kaget dengan apa yang Riyan lakukan dan hanya diam tanpa membalas pelukan itu.


"Maafkan aku". Seru Riyan.


"Kenapa minta maaf". Bingung misha.


"Aku sayang sama kamu".


Ucapan Riyan membuat Misha tambah kaget. Ia tidak menyangka bahwa Riyan akan mengucapkan kata kata itu.


Bukannya Misha tidak memiliki perasaan sama Riyan tapi ia merasa tidak pantas bersama Riyan yang memiliki segalanya sedangkan dia hanya wanita biasa yang banyak kekurangan.


Tidak dapat respon apapun membuat Riyan melepaskan pelukan itu, lalu menangkap pipi Misha dengan lembut untuk saling memandang.


Misha menundukkan kepalanya membuat Riyan bingung. "Kamu kenapa??".


"Kamu belum tahu aku lebih dalam, kamu hanya tahu aku yang sekarang". Ucap Misha pelan.


"Bawa aku untuk mengenal kamu lebih dalam".


"Sebaliknya kamu cari wanita yang pantas buat kamu. Aku sama sekali gak pantas".


"No jangan bilang gitu,, aku sangat menyayangi kamu aku gak bisa hidup sama kamu jangan pergi.. apa kamu tega melihat aku dikirim sama mami keluar negeri". Kata Riyan mengangkat wajah Misha untuk menatap dirinya.


Misha hanya diam tidak berani membuka suara. Saat ini ia sangat bingung, ia memang nyaman dekat sama Riyan tapi untuk menjadi pasangannya ia sangat ragu. Menurut Misha Riyan dan dirinya sangat lah jauh berbeda.


Keheningan dipecahkan dengan ponsel Misha yang berdering. Ia langsung mengangkat panggilan yang masuk dari mami Vita.


["Sha apa kamu sudah ketemu sama anak itu??". Pertanyaan itu membuat Misha menatap ke arah Riyan. Ia tahu arti dari anak itu yang tertuju pada Riyan anaknya. ]


"Iya mi,, Misha sama Riyan".


Misha melospeker panggilan itu agar didengar oleh Riyan.


["Bilangin sama dia kalau saat jam makan malam dia gak datang mami yang akan sered sendiri dari apartemen". ]


Panggilan itu dimatikan tanpa menunggu mereka jawab membuat Misha memandang Riyan yang hanya diam.


"Sebaiknya kita pulang kalau tidak mami akan marah". Ajak Misha.


Riyan mengikuti apa kemauan Misha. Ntah apa yang ada dipikiran mereka berdua setelah kata kata itu.


Akhirnya keheningan melanda mereka. Misha juga dipaksa Riyan untuk duduk di kursi belakang. Angga yang mengemudi pun tidak berani menanyakan apapun. Apalagi saat melihat Riyan hanya diam menutup matanya dengan kepala bersandar pada pundak Misha.


Sampai dikediaman Mahendra, mami Vita hanya diam melihat anaknya yang berantakan.


"Kalian bersih bersih dulu. Nanti turun lagi untuk makan malam". Seru mami Vita.

__ADS_1


Riyan pergi ke kamarnya terlebih dahulu dengan diikuti Misha dibelakang. Sedangkan Angga juga masuki ke kamarnya yang ada disana. Kamar mereka sedikit berjauhan.


Awalnya Misha bingung dengan dirinya untuk masuk ke kamar Riyan apa nggak. Tapi semua barang barangnya berada disana.


Melihat Riyan yang hanya mengambil pakaian ganti membuat Misha diam mematung. Riyan tidak mengucapkan sepatah katapun sampai ruangan itu hanya ada Misha.


Tanpa berpikir panjang Misha pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Pikirannya pusing dan harus melakukan apa.


Sampai misha berpikir an untuk pulang ke kampung halamannya karena saat ini dia hampir setahun berada di Jakarta dan jarang menghubungi keluarganya yang ada dikampung halaman.


Misha berbicara terlebih dahulu sama Raffa untuk mengizinkan nya mengambil cuti kerja.


Raffa yang tahu akan kejadian kemarin membuatnya menyetujui libur hanya 2 Minggu. Tapi misha meminta libur hanya 1 Minggu karena tidak enak. Akhir akhir ini juga misha jarang masuk walaupun Riyan mencari orang untuk menggantikan Misha sementara tapi ia juga gak enak hati.


Setelah beres, Misha turun kebawah untuk makan malam bersama. Awalnya Misha turun lebih awal untuk membantu mami Vita masak tapi saat disana makanan itu sudah tersaji di meja makan.


Misha juga melihat 3 pelayan yang menyiapkan itu semua.


"Yuk sayang duduk dulu sebentar lagi semua orang pasti kumpul". Seru mami Vita.


Misha duduk dengan diam menunggu semua orang. Setelah kumpul barulah mereka makan bersama dengan tenang, walaupun pikiran mereka berbeda beda. Apalagi dengan sikap Riyan yang berbeda.


Setelah makan malam mereka duduk di ruang keluarga. Kecuali Riyan yang pergi ke kamar yang ia tempati saat Misha ada disana. Riyan pergi dengan alasan banyak pekerjaan yang harus diurus.


"Mi ada yang ingin Misha sampaikan". Kata misha.


"Apa sayang bicara aja".


"Besok malam misha ingin pulang kampung dan Misha udah mengurus semuanya". Seru Misha membuat semua orang kaget.


"Kenapa?? Kamu ada niatan untuk pergi dari mami".


Mami Vita paham akan apa yang Misha ambil. Mereka juga tahu bahwa misha datang ke Jakarta hanya merantau dan belum pulang hampir mau 1 tahun.


"Apa ini alasan Riyan diam aja dari tadi??". Tanya Angga.


"Aku belum bicara soal ini sama dia". Jawab misha.


"Sebaiknya kamu bicara sama Riyan kalau mau pulang". Usul mami Vita.


"Iya sha kalau nggak gue harus tinggal di kantor dalam seminggu itu". Sambung Angga dramatis.


Misha memikirkan perkataan semua orang sampai akhirnya ia pamit untuk menemui Riyan di kamar.


Tok,, tok,, tok.


Beberapa kali Misha mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Membuat misha perlahan membuka pintu dan melihat balkon kamar terbuka.


Misha berjalan menuju balkon kamar dan terlihat Riyan hanya duduk diam memandang ke depan.


"Boleh aku duduk". Seru Misha dalam keheningan.


Riyan menganggukkan kepala pertanda iya. Dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun dari pulang tadi sampai sekarang.


"Aku hanya mau bilang besok aku mau pulang kampung".


Ucapan misha membuat Riyan kaget dan mengalihkan pandangan menatap Misha.


"Hanya 1 Minggu". Lanjut Misha.

__ADS_1


"Aku ikut".


"Hah~ mau ngapain??". Ucap Misha kaget.


"Aku hanya ingin ikut". Kekeh Riyan.


"Aku cuma sebentar nanti aku balik lagi ke Jakarta".


"Tidak ada penolakan,, pokonya aku ikut".


Misha tidak tahu lagi harus bilang apa karena keras kepala Riyan muncul disaat yang tidak tepat. Sampai akhirnya Misha mengizinkan Riyan untuk ikut tapi sebelumnya ia menghubungi orang tuanya terlebih dahulu.


Setalah setuju dan menghubungi travel untuk membatalkan kepulangannya. Misha duduk diam bersama Riyan tanpa ada pembicaraan lain.


Sebenarnya Misha ingin kembali ke kamar tapi dicegah oleh Riyan. Mau tidak mau misha tetap disana.


Sampai misha tertidur di balkon kamar karena ngantuk membuat riyan menggendong Misha dipindahkan ke kamar.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Pagi seperti biasa Misha terbangun sudah ada di dalam kamar Riyan padahal ia ingat semalam mereka ada di balkon kamar yang ditempati Riyan.


Misha membereskan barang yang akan dibawa pulang. Setelah makan nanti mereka berdua akan pergi dengan Riyan yang mengemudi sampai kampung halaman Misha.


Awalnya Misha ingin pulang ke kontrakan terlebih dahulu tapi Riyan menolak dengan alasan takut kemalaman karena dalam perjalanan ini mereka akan menempuh waktu yang sangat lama apalagi misha juga kurang tahu jalan ke kampung nya.


Mereka akan pulang dengan mengandalkan GPS. Yang membuat misha ragu tapi Riyan terus meyakinkan.


"Kalian yakin bakal pergi berdua??". Tanya mami Vita.


Sedari tadi Angga terus bicara ingin ikut tapi terus ditolak. Misha juga bingung karena jika Angga ikut mereka akan tinggal dimana. Sedangkan kalau hanya Riyan yang ikut, dia akan tidur besama pamannya Misha.


"Kita bisa sewa villa atau hotel disana".


"Hotel pala Lo". Celetuk Misha yang sudah geram.


Saat ini hanya ada mereka berempat yang duduk di ruang keluarga. Sedangkan papi Rendra sudah berangkat ke kantor.


"Kenapa??". Heran angga.


"Daerah sana gak ada hotel".


"Udah jangan dengerin dia sebaiknya kita berangkat takut nanti kemalaman". Sahut Riyan berjalan memeluk sang mami untuk berpamitan.


"Misha sih pulang mendadak jadi mami gak bisa kasih sesuatu sama orang tua kamu". Kata mami Vita memeluk misha.


"Gak usah mi.. Misha pulang aja mereka udah senang".


"Ya udah kalian hati hati dijalan".


Mereka berjalan menuju mobil Ferrari yang sudah disiapkan didepan rumah.


Pagi tadi Riyan kekeh ingin membawa mobil sport nya tapi misha menjelaskan bahwa tidak memungkinkan untuk membawa mobil seperti itu kesana.


Sampai akhirnya Riyan paham dan memilih mobil Ferrari yang membuat Misha pusing akan keras kepala Riyan.


Diperjalanan Riyan tidak seperti kemarin. Dia banyak bertanya seputar kampung halaman Misha dan kehidupan Misha.


...----------...

__ADS_1


......Happy Reading.,......


__ADS_2