
"Lo sengaja kan??". Kata Angga sinis.
Angga menatap wanita itu dengan tajam dan merasakan seperti dia pernah bertemu dengannya. Tetapi dia tidak ingat.
"Gue merasa pernah ketemu sama Lo,,!!tapi dimana??". Selidik Angga menatap wanita itu.
Tidak ada jawaban apapun dan wanita itu ingin meninggalkan caffe tapi dengan cepat Angga menahannya langsung duduk di kursi kembali.
Cling, , , ,
Pesan masuk kedalam ponsel Angga yang saat itu yang langsung ia buka. Saat pesan itu membuka pesan yang masuk dari anak buahnya tiba tiba ia menatap wanita itu sambil mengeringkan kening.
"Oh,,!! Lo stela??". Senyum sinis terlukis di bibir Angga setalah membaca semua pesan yang masuk.
Bersamaan dengan datangnya Misha yang sudah mengobati lengan itu datang bersama laura.
"Stela?? Wanita ini stela??". Tanya Misha bingung.
"Ia dia stela yang udah kirim kotak itu sama kamu".
Angga menyerahkan ponselnya pada Misha untuk menunjukan semua bukti yang di kirim oleh anak buah suruhannya.
"Kenapa kamu ngelakuin ini,,!! Bahkan kita gak saling kenal". Ucap Misha bingung menatap wanita yang bernama stela.
"Karena gue benci sama Lo". Jawab stela menatap Misha dengan penuh kebencian.
"Apa Lo kenal sama dia??". Tanya Laura heran dan dibalas dengan gelengan kepala oleh Misha.
"Gue suka sama Riyan dan gue benci Lo dekat dekat sama Riyan,, gue benci sama Lo". Teriak stela didepan wajah Misha.
"Aku dan Riyan gak ada hubungan apa apa".
Cuih, , , ,
Riyan menarik Misha agar tidak mengenai ludah itu yang membuat Angga kembali mendudukkan stela dengan keras tanpa mementingkan orang itu akan kesakitan apa tidak.
Bug,,!!
Saat Riyan ingin menampar wanita itu, Misha mencegahnya dengan memegang tangan Riyan.
"Jangan,,!!". Cegah misha dengan suara pelan.
"Lo jangan macam macam kalau gak mau hidup Lo sengsara,, Lo milih pergi jauh apa gue masukin Lo ke penjara". Bisik Angga dengan penuh ancaman.
Stela marah dan menatap semua orang yang ada disana. Lalu pergi meninggalkan caffe dengan tatapan kemarahan yang besar kepada Misha.
Sepeninggalnya wanita yang bernama stela, Riyan memapah Misha untuk duduk di kursi samping.
"Kamu gak papa kan,, apa kita perlu ke dokter". Ucap Riyan khawatir.
"Aku baik baik aja".
Saat ini Misha masih memikirkan wanita tadi yang terus memenuhi isi pikirannya. Gak lama kemudian Rafa datang dan memberitahukan bahwa mereka bisa pulang lebih cepat.
Rafa yang melihat kejadian tadi sengaja menutup caffe agar tidak diketahui orang lain karena ia tahu Riyan bukan orang sembarangan.
__ADS_1
"Ya udah kita pulang dan obati luka kamu di rumah". Ajak Riyan.
"Aku ingin pulang sama Yuda ke kontrakan". Jawab misha. "Kamu pulang aja sama Angga".
Mereka semua berjalan keluar dari caffe untuk pulang ek rumah masing masing. Setelah kejadian itu misha hanya diam tanpa bicara apapun.
"Nanti aku anterin barang barang kamu ke kontrakan".
Menatap ke arah Riyan yang menatap dirinya dengan tatapan sedih. "Gak usah itu bukan barang barang milik aku.. aku pergi dulu".
Melihat Yuda mengendari motor nya berhenti didepan dirinya misha langsung pamit dan naik ke atas motor. Tanpa menunggu balasan dari Riyan mereka meninggalkan mereka berdua pulang ke kontrakan.
"Sha Lo gak papa,, apa kita mau beli sesuatu dulu". Ucap Yuda.
Saat ingin membalas tiba tiba Laura yang duduk bersama Azis mengendari motor nya berjajar dengan motor Yuda. "Sha jalan jalan dulu yuk sebentar". Ajak Laura dengan sedikit berteriak.
"Gue mau langsung pulang dan istirahat". Jawab Misha.
"Tapi Lo baik baik aja kan".
"Gue baik gue cuma ingin istirahat".
Mendapatkan keputusan akhir, mereka semua pulang ke kontrakan bersama sama.
Sesampainya di kontrakan Misha langsung pergi ke kamar, lalu membaringkan tubuhnya yang sedikit lelah.
Beberapa chat masuk dari Riyan dan Angga, tapi Misha tidak membalas satu pun. Sampai mereka berdua terus menelpon berkali kali.
"Sha ponsel lo bergetar terus". Seru Laura menunjuk ponsel Misha yang berada di meja.
Laura pergi meninggalkan kamar untuk membeli makan bersama Tasya.
******
Prang. ..
Prang. . .
Semua ruangan yang tadinya rapih dan bersih seketika hancur dengan barang barang berserakan akibat ulah Riyan yang tersulut emosi.
Setelah kepulangan Misha bersama teman temannya, Riyan berencana untuk mengikutinya ke kontrakan akan tetapi Angga dengan cepat mencegah dengan alasan agar Misha tidak semakin marah pada mereka.
Akhirnya Riyan memutuskan untuk pergi ke perusahaan dan melanjutkan pekerjaannya. Tapi karena pikirannya yang kacau membuat emosinya kian bertambah.
Angga yang sebagai sahabat dan asisten pribadinya hanya bisa diam melihat bosnya menghancurkan semua barang yang ada di dalam ruangan. Dia tau apa yang sedang Riyan rasakan apalagi ditambah dengan Misha yang tidak mengangkat panggilan mereka sama sekali.
Berdiri memandang pemandangan kota Jakarta dari lantai 45 masih dengan emosi yang meluap membuat hatinya sakit. Perlahan air mata mengalir tanpa ada suara isakan sama sekali. Baru kali ini hatinya merasa kan sakit seperti ini.
Sampai akhirnya Riyan memutuskan untuk pergi ke kamar pribadinya yang ada di ruangan itu, melemparkan dirinya ke atas tempat tidur.
5 jam lamanya Riyan terbangun dengan mata bengkak akibat menangis. Perasaannya sedikit membaik walaupun tidak sepenuhnya baik. Ia berjalan ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badan, lalu memakai pakaian santai yang berada di dalam lemari.
Kondisi ruangan Riyan kini sudah rapih kembali. Disopa ruangan itu terdapat Angga yang sedang mengerjakan beberapa pekerjaan padahal ini sudah sore waktu nya jam pulang kerja.
"Lo gak pulang??". Tanya Riyan tiba tiba.
__ADS_1
"Gue nungguin lo". Angga meletakan laptop sembarang dan berdiri menatap Riyan yang sedang mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
Tidak berniat menjawab, Riyan berjalan menuju pintu meninggalkan Angga. Sedangkan Angga hanya bisa mengikuti Riyan dari belakang.
Saat di palkiran khusus petinggi hanya ada beberapa mobil miliknya yang disedakan untuk kebutuhannya di kantor. Perlahan Riyan berkalan mendekati mobil sport Lamborghini Aventador yang membuat Angga dengan cepat berjalan ke arah Riyan.
"Lo mau kemana??". Tanya Angga mencegah Riyan masuk.
"Gue mau pulang".
"Sebaiknya gue antar". Usul Angga.
"Gak usah gue mau pulang sendiri". Seru Riyan menyingkirkan tangan Angga yang menahan pintu mobil, lalu masuk.
Sebelum menjalankan mobilnya Riyan membuka kaca mobil untuk berbicara sebentar. "Lo bilang mami, gue pulang ke apartemen". Ucap Riyan menancap pedal gas dengan cepat tanpa menunggu jawaban dari Angga.
Di perjalanan menuju apartemen, Riyan hanya memasang wajah dingin menatap jalan raya yang sedikit padat membuatnya harus mengurangi kecepatan.
Sampai di apartemen Riyan hanya bisa diam menatap beberapa photo Misha yang ia ambil secara diam diam. Banyak pikiran negatif yang terlintas di pikirannya mengenai sikap Misha saat ini membuat dirinya down.
****
Gak kalah jauh sama Riyan, saat ini Misha hanya bisa berdiam diri di kontrakannya dengan banyak pertanyaan di otaknya yang membuatnya kalut. Beberapa temannya selalu mengajak Misha untuk jalan jalan tapi selalu ditolak dengan alasan ingin istirahat.
"Sha nih makan dulu gue beliin chicken banyak banget buat lo". Bujuk Laura.
"Gue gak lapar".
"Tapi sha Lo belum makan dari siang,, ayo makan dulu nanti Lo sakit loh". Seru Laura.
Perlahan Misha mengangkat kepalanya melihat teman temannya yang khawatir terhadapnya. Mereka bahkan terus membujuk dengan apapun agar Misha tidak sedih.
"Maafin gue". Seru Misha memeluk Laura dengan erat sambil menangis.
Semua temannya yang ada diluar mendengar misha menangis langsung masuk dengan wajah yang khawatir.
"Gue hanya takut Ra". Gumam Misha pelan masih dengan tubuh gemetar.
"Lo jangan takut ada kita semua disini Lo gak sendiri". Kata Laura terus mengelus punggung Misha dengan lembut untuk menenangkannya.
Sampai perasaanya mulai mendingan misha melepaskan pelukannya lalu menatap sekeliling sambil menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya. "Maafin gue bikin kalian susah". Seru Misha pelan dengan suara serak.
"Lo gak nyusahin kok kita kan teman,, teman harus saling menjaga". Ucap Tasya dengan tersenyum.
"Iya Lo gak nyusahin ko.. yang nyusahin itu dia,,!! Aw,~ sakit". Sambung Azis menujuk Tasya yang ada disampingnya yang membuat orangnya langsung memukul kepala Azis kesal.
"Rasain lo". Seru Tasya sinis.
Misha yang melihat perdebatan itu sedikit tersenyum. Semua temannya memang selalu ada disaat apapun. Mereka saling membuka tangan saat teman yang lain dalam kesusahan.
Sampai akhirnya Misha mau memakan makanan yang dibeli oleh Laura untuk mengganjal perut tapi dengan syarat mereka semua juga ikut makan.
Selesai makan mereka semua masih berkumpul di kontrakan Laura dan Misha hanya sekedar berbincang bincang. Tentunya dengan perdebatan Tasya dan Azis yang tidak pernah akur sama sekali.
...---------...
__ADS_1
...Happy Reading.,...