
...Happy Reading...
Tidak butuh waktu lama mereka berdua berangkat ke mall untuk berbelanja.
Riyan memerintahkan 3 pengawalnya untuk menjaga mereka dengan jarak dekat. Lebih tepatnya menjaga Misha yang notabene nya sebagai model yang cukup terkenal.
"Ada siapa tuh". Bisik Riyan di telinga Misha.
"Apa??". Ucap Misha bingung.
Riyan memberi isyarat ke arah yang dia lihat tadi membuat Misha melihat ke arah yang Riyan tunjukan.
Terlihat photo dirinya di poster yang terpajang disana. Itu terlihat photo baru yang mereka ambil beberapa Minggu yang lalu sebagai model kecantikan.
Misha merasa malu, ia memang belum terbiasa melihat Poto dirinya yang tersebar di beberapa tempat. Dengan jahilnya Riyan selalu menggoda dirinya tanpa henti.
"Tahu ah, jangan kaya gitu lah". Ucap Misha ngambek.
"Cie ngambek". Goda Riyan.
"Aku mau pulang". Ujar Misha melangkahkan kakinya dengan cepat.
Tapi saat melihat minuman yang dia suka, kakinya berbelok ke tempat itu membuat Riyan kebingungan. "Katanya mau pulang??".
"Berisik". Celetuk misha kesal. Lalu memesan minuman kesukaan dia. "Mba ice cappucino nya satu pakai Boba".
"Kok satu".
"Kalau mau pesan sendiri". Ujar Misha acuh dengan bermain ponsel.
"Mba tambah 1 yang sama". Ucap Riyan kepada pegawai toko.
Saat melihat ke arah Misha, gadis itu sudah tidak ada disamping dia. Padahal hanya beberapa detik pandangannya dialihkan untuk memesan.
Riyan melihat sekeliling dan misha sedang anteri untuk memesan makanan yang lain. Dia menggelengkan kepala dengan tingkah kekasihnya yang memang doyan makan.
"Mas ini pesanannya semuanya jadi 30 ribu". Ujar pegawai itu memberikan minuman yang mereka pesan.
Lalu pergi mendekati Misha yang masih mengantri. Banyak pasang mata menatap ke arah Riyan yang terlihat sangat tampan.
Banyak bisik bisik remaja yang tertuju kepada Riyan dibelakang dia. Mereka tidak tahu kekasihnya ada didepan mereka semua dengan memasang wajah acuh sedang menunggu pesanan.
Para gadis yang melihat Riyan berjalan mendekat ke arah mereka bertambah ramai. Hal itu membuat kuping misha pengang akibat teriakan dibelakang dia.
"Aish ada apa sih??". Gumam Misha pelan lalu menatap ke arah pandang mereka.
Ternyata Riyan masalah utama keramaian itu terjadi.
"Mba ini pesanannya semuanya jadi 87 ribu". Ujar pegawai toko memberikan beberapa pesanan ke hadapan Misha.
Misha menyerahkan uang berwarna merah dan pergi setelah mengambil kembalian. Dia mengacuhkan keberadaan Riyan dan pergi ke tempat duduk kosong yang ada dilantai mall.
Melihat kekasihnya yang terus saja diam membuat Riyan mulai merayunya agar tidak marah tapi bukan Misha namanya jika terus saja diam. Selalu gampang berbaikan jika itu masalah sepele. Tapi kalau masalahnya berat, Misha hanya akan diam dan menghilang.
__ADS_1
Berjam jam berada di mall mereka sudah banyak membeli barang untuk dibawa pulang ke rumah Misha.
Hanya Riyan yang memilih, Misha yang sedari tadi mengeluh tapi tetap diacuhkan tanpa ada respon apapun. Riyan memang seperti itu. Dia sangat suka berbelanja buat orang lain tanpa memikirkan apapun.
"Yan kenapa banyak banget sih yang kamu beli". Keluh Misha kesekian kali.
Saat ini mereka dijalan pulang untuk bersiap siap berangkat ke kampung halaman Misha. Setelah makan siang mereka berencana pulang karena dirumah gak bakal sempat makan dulu.
"Tak apa, keluarga kamu juga keluarga aku juga".
"Tapi-".
"Hustt,, gak boleh menolak rejeki". Potong Riyan.
Mau tidak mau Misha hanya diam pasrah. Riyan memang susah dibilangin kalau masalah seperti ini.
Sampai di rumah, semua belanjaan tidak di keluarkan karena Riyan akan memakai mobil itu menuju kampung halaman Misha di kaki gunung. Misha hanya membawa beberapa kantong belanja untuk dicocokkan dengan barang yang lain di dalam kamar.
Pakaian itu akan dipakai misha saat lamaran nanti.
Riyan juga memerintahkan maid yang ada disana untuk mengambil beberapa koper dikamar dengan mengikuti Misha yang akan memastikan barangnya tidak ada yang tertinggal.
Saat di mall tadi Misha memang sudah membeli pakaian couple untuk acara lamarannya nanti karena ini mendadak dan memastikan kebutuhan nya dibeli di Jakarta.
Misha meletakan pakaiannya di atas meja kaca yang ada di walk in closed. Untuk mencocokan sepatu dan tas, tak lupa Misha juga memasukkan beberapa aksesoris ke kotak siapa tahu nanti akan dipakai.
Gadis itu memang belum bisa memutuskan tentang tataan rambut yang akan dia gunakan nanti. Dia akan menyerahkannya langsung kepada MUA yang akan mendandaninya nanti.
"Belum, aku masih bingung mau pakai yang mana". Ucap Misha yang sedang memakai sandal high heels transparan.
"Sepatu baru??". Tanya Riyan melihat beberapa sepatu di atas meja.
"Aish, kamu sendiri yang beli masa lupa".
"Masa iya".
Riyan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia memang lupa dengan barang barang yang dia kasih saking banyak. Ditambah dengan Misha yang jarang sekali memakai barang barang mahal dan memang kebanyakan Misha selalu memakai pakaian simpel.
Ketika berpergian ke luar negeri pun, Misha selalu memakai pakaian dari brand ambassador karena dia jarang liburan. Paling dia pergi ke luar negeri hanya untuk bekerja lalu langsung pulang.
Untuk liburan sangat tidak memungkinkan. Dia juga harus memastikan dari jauh hari agar pekerjaannya tidak berantakan.
"Bagus ini apa ini??". Tanya Misha menunjuk ke arah dua sepatu. Yang satu pemberian Riyan dan yang satunya dari mami Vita.
"Sepetinya yang ini, sedikit cocok untuk kebaya yang kamu beli".
"Yakin?? Gak asal asalan kan??". Tanya Misha menyelidik.
"Bener sayang".
"Ya udah bawa keduanya". Ucap Misha memasukan sepatu itu ke kotak nya untuk dia bawa. Tentu saja hal itu membuat rahang Riyan mengeras. Buat apa bertanya kalau akan dibawa keduanya, pikir Riyan.
Begitulah wanita.
__ADS_1
Akhirnya setelah sekian lama berada di dalam kamar memastikan outfit yang akan dikenakan nanti. Mereka sudah ada di perjalanan menuju kampung halaman Misha.
Seperti biasa, sebelum mobil memasuki tol. Misha meminta Riyan berhenti di supermarket untuk berbelanja cemilan. Itulah rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan oleh Misha.
Hanya Misha yang keluar dari mobil untuk berbelanja.
"Pengen beli apa??". Tanya misha sebelum keluar.
"Kopi cappucino".
"Yang lainnya??". Tanya Misha lagi.
"Apa aja".
Misha mengangguk lalu keluar dari mobil masuk ke dalam supermarket.
Gak lama kemudian, Misha kembali dengan membawa dua kantong plastik. Riyan sedikit terkejut dengan cemilan yang kekasihnya itu beli.
"Sayang kamu yakin makan itu semua??". Tanya Riyan menatap ke arah Misha yang sedang memakai sabuk pengaman.
"Iya, kenapa!? Aku gak makan sekaligus".
Riyan langsung diam tanpa kata apapun lagi. Dia takut salah ucap dan berujung ngambek.
Riyan akan sangat susah merayu sang kekasih agar tidak ngambek lagi. Karena Misha yang ngambek hanya akan diam, hal itu membuat Riyan akan bingung sendiri.
Tanpa pikir panjang, Riyan melanjutkan perjalanan memasuki tol. Dia akan mengambil jalur timur lagi karena Misha selalu menolak kalau Riyan mengambil jalur barat padahal jalur itu cepat sampai.
Akan tetapi jalur barat sangat berbahaya buat orang yang baru datang ke desa itu karena tidak tahu jalur atau kondisi jalan yang memiliki tanjakan yang sangat panjang dan susah.
"By gimana cara nyalain speaker??". Tanya Misha karena itu bukan mobil yang bisa Riyan gunakan.
Riyan biasanya menggunakan Lamborghini Aventador tapi sekarang dia mengenakan mobil sport BMW yang lebih aman digunakan daripada Lamborghini menuju ke rumah misha.
Setelah terhubung dengan ponsel Misha, gadis itu menyetel lagu kesukaannya. Apa lagi kalau bukan lagu dari 7 suami halusnya.
Sekarang Riyan sudah hapal dengan lagu lagu yang Misha putar tak jarang pemuda itu ikut bernyanyi bersama sang kekasih.
Gimana tidak hapal, saat dia berdua dengan sang kekasih selaku saja diputarkan lagu boyband itu dimanapun mereka berada.
Bahkan Riyan selalu menemani sang kekasih nonton konser dan pergi ke tempat tempat berbau BTS.
Riyan sedikit tidak ada rasa cemburu saat Misha mengidolakan mereka. Awalnya riyan sangat posesif dan hampir melarang Misha untuk melakukan itu lagi. Tapi setelah mendengar ucapan Misha yang mengatakan
"mengagumi bukan berarti harus memiliki. mereka dengan dunianya mereka, aku dengan duniaku sendiri. Semua orang bisa bahagia dengan cara mereka sendiri dan ini salah satu alasan aku bahagia".
Kata-kata itu membuat Riyan paham. Dan tidak mungkin dia merenggut kebahagian kekasihnya.
Jujur bisa dikatakan Riyan, kebahagian Misha sangatlah sederhana. Saat dia melihat video/ konten boyband dia bisa ketawa lepas. Melupakan masalah yang ada disekitar dia padahal misha saat itu sedang dalam kondisi yang tidak baik baik saja dengan karirnya yang baru dimulai.
Pertama melihat Misha yang seperti itu mami Vita pun sempat heran. Di media sosial banyak yang menghujat dia tapi orangnya sedang tertawa melihat video. Tapi disisi lain mami Vita juga bahagia, misha tidak memikirkan masalah itu yang pasti akan mengganggu pikirannya bahkan mentalnya. Dimana misha yang baru masuk ke dalam dunia entertainment.
To be continued, , , ,
__ADS_1