Destiny In My Life

Destiny In My Life
Rindu yang terobati


__ADS_3

Misha menjelaskan apa yang dia tau kepada Yuda tentang barang yang akan dia beli. Sampai akhirnya Yuda meminta maaf karena sudah membuang waktu Misha dengan sia sia.


"Ya udah sekarang Lo temenin gue aja buat belanja mumpung kita masih disini". Ucap Misha yang langsung disetujui oleh Yuda.


"Lo yakin ingin berbelanja disini,, paket Lo masih belum datang semua kan??". Ledek Yuda membuat Misha mengerutkan bibirnya.


Semua temannya tau bahwa Misha sangat suka berbelanja online dan sekalinya datang akan sampai 2-3 barang sekaligus.


Misha hanya bisa menatap Yuda dengan tajam dan pergi meninggalkan dia menuju toko menjual makanan. Yuda yang melihat nya hanya bisa menggelengkan kepala dengan kelakuan Misha.


"Bukannya tadi ingin berbelanja,, ini mah belanja buat perut". Gumam Yuda mengikuti Misha memasuki toko itu.


Setelah mendapatkan beberapa makanan di kedua tangan Yuda, Misha mengajaknya untuk pulang karena waktu akan menunjukan pukul 9 malam. Ia tidak ingin kesiangan untuk bekerja besok pagi apalagi Laura tidak ada dikontrakkan.


"Gue heran sama Lo,, padahal jago makan tapi tubuhnya segitu gitu aja gak ada perubahan". Celetuk Yuda yang langsung mendapatkan pukulan keras di punggungnya. "Dih sakit Misha".


"Bodo amat,, cepetan ih gue mau pulang". Seru Misha dengan nada kesal.


Dengan cepat Yuda mengambil motor miliknya yang terpalkir di palkiran mall untuk segera pulang ke rumah.


Di kediaman Mahendra setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga dengan aktivitas masing masing. Mereka semua sibuk mengerjakan pekerjaan kantor dengan laptop dipangkuan mereka.


"Oh ya Pi Minggu depan mami harus pergi ke Korea untuk menemui klien disana". Kata mami Vita yang membuat sang suami mengalihkan perhatiannya dari laptop.


"Baiklah nanti papi siapkan waktu buat nemenin mami kesana".


"Riyan lagi yang akan sibuk". Sahut Riyan tanpa mengalihkan pandangan kepada kedua orang tuanya.


"Jangan iri sayang,, makanya cepat cari istri biar bisa kerja sambil liburan". Ucap sang mami mengandung ledekan didalamnya.


"Oi,,,!!!". Keluh Riyan bangkit dari duduknya pergi menuju kamar pribadinya yang ada dilantai 2. Jika ia tetap berada disana, sang mami akan membahas pembicaraan itu merembet kemana mana.


"Riyan mami tunggu ya jangan lama lama,,". Teriak mami Vita dari lantai 2 sedangkan anaknya sudah jauh diujung tangga.


"Mami berisik ". Balas Riyan dengan teriakan sebelum menghilang dari pandangan sang mami.


Memasuki kamar yang didekorasi dengan warna gelap dia langsung pergi ke balkon kamar untuk mencari udara segar. Laptop yang dia pegang diletakan di tempat tidur begitu saja.


Suasana malam ini tertuju kepada satu wanita yang selalu menguasai pikiran dan perasaannya. Akan tetapi dia menolak untuk mengungkapkan rasa itu kepada siapapun.


Mantap nalar pemandangan malam yang sunyi dari balkon kamar, melihat bangunan rumah megah yang berjarak jauh setiap rumah nya.


Komplek perumahan Riyan ini dipenuhi oleh para pengusaha/pejabat yang memiliki privasi sangat kuat. Maka dari itu penjagaan disana sangat sangat ketat.


Lamunan Riyan dibuyarkan dengan panggilan masuk pada ponselnya yang ada disaku celana. Nama Angga tertera dilayar yang membuat Riyan kesal.

__ADS_1


"Apa".


"Wait wait,, kenapa Lo marah sama gue??". Tanya Angga heran saat mendengar nada Riyan malam ini.


"Jangan banyak bacot brengsek,,," .


"Ok terserah lo aja,, yang penting sekarang lo cepat kirim dokumen yang gue pinta tadi udah 1 jam gue nunggu email dari Lo".


"Tunggu 15 menit". Ucap Riyan langsung mematikan telpon dari Angga yang membuat orang yang ada di sebrang telpon menggerutu dengan kesal.


Riyan masuk ke dalam kamar untuk mengecek semua dokumen yang Angga minta dengan teliti dan kurang dari 15 menit semua pekerjaan sudah beres langsung dikirim ke email Angga.


Karena kesal Angga terus mengirim chat makian kepada ponsel Riyan tanpa dilihat sedikitpun dan langsung tidur.


.......


Misha yang baru sampai di kontrakan langsung mengganti pakaian dengan piyama tidur dan memakan semua makanan yang tadi ia beli.


Apa yang diucapkan Yuda memang benar, misha yang doyan makan tidak pernah mempengaruhi berat badannya sama sekali yang membuat beberapa temannya iri.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Pagi ini Misha terbangun sendiri di kontrakan kaena hari ini Laura tidak pulang dari rumah Nana. Mereka berdua mengambil cuti kerja yang disetujui oleh pemilik caffe nya langsung.


"Sha udah bangun". Panggil seseorang dari depan kamar.


"Iya ada apa??".


Tasya berdiri di depan rumah dengan kantung plastik ditangannya. "Nih bubur buat lo sekalian gue minta Ilham beliin buat lo".


Seketika plastik yang berisi bubur itu berpindah tangan dan setelah mengucapkan terima kasih Tasya langsung pergi ke kamar nya untuk siap siap.


Seperti biasa Misha Berangkat bekerja dengan Yuda sebelum pukul 8. Sesampainya di caffe mereka lambung bersiap untuk membuka caffe tempat mereka bekerja pas pukul 9. Waktu dimana kebanyakan anak mahasiswa selesai dengan mata kuliah pagi mereka.


"Aish ,,, gue harap hari ini pelanggan tidak terlalu banyak". Ucap Azis mendekati Misha di maja kasir.


"Jangan bilang gitu kalau didengar bang Rafa gimana??". Seru Misha menatap Azis.


"Bang Rafa gak akan datang ke caffe dia lagi di luar kota". Jawab Azis duduk dengan lesu.


"Kalau gitu gue juga setuju dengan ucapan Azis tadi". Sambung Tasya mendekat membawa makanan dikedua tangannya.


"Makan Mulu Lo kesukaannya". Ucap Azis sinis.


"Yey,, terserah gue lah mulut mulut gue". Balas Tasya sambil menjulurkan lidah.

__ADS_1


Misha hanya asik itu makan cemilan yang diulurkan Tasya kehadapan nya. Jarak supermarket yang dekat membuat pada cewek sering bolak balik untuk membeli cemilan apalagi saat pengunjung tidak banyak.


Tetapi setelah ada yang menggodanya di supermarket itu membuat Misha malas untuk pergi ke sana. Alhasil ia hanya bisa membuat temannya untuk membelikan cemilan yang dia inginkan.


Beberapa saat kemudian saat mereka asik berbincang tiba tiba seseorang yang dari kemarin tidak ia lihat memasuki caffe dengan beberapa barang ditangan mereka.


Tanpa ada yang menyadari ternyata misha tiba tiba tersenyum dan hatinya merasa bahagia melihat di disana. Tetapi sekian detik kemudian Misha sadar akan pemikiran yang sedang ia alami saat mendengar suara seseorang.


"Pas juga nih caffe nya lagi sepi". Suara familiar sampai ke meja kasir yang jaraknya lumayan jauh.


"Sha lo temuin gih gue malas ngadepinnya jika yang dicari cuma Lo dong". Bisik Tasya ditelinga Misha yang senang berusaha menutup dirinya agar tidak terlihat.


"Udahlah Lo aja sana". Sambung Azis.


"Buat apa gue kesana kalau cuma disuruh manggil Misha.. males".


Mendengar ucapan Tasya, dia langsung pergi menuju meja yang berada di pojok caffe. Yang tentunya hanya akan disambut baik oleh Angga, sedangkan untuk orang satunya hanya memasang wajah dingin.


"Seperti biasa". Celetuk Misha membuat Angga tersenyum manis karena cewek didepannya sudah mengetahui menu favorit mereka.


Tanpa menunggu lama Misha kembali membawa pesanan mereka berdua dan meletakkannya di meja karena meja itu penuh dengan dokumen yang sedang mereka kerjakan.


"Jika ada pesanan yang lain bisa panggil saya*. Seru Misha ingin kembali ke belakang.


"Sha tunggu". Cegah Angga.


Misha mengentikan langkah kakinya dan menatap Angga dengan penasaran.


"Nih buat kamu dari mami". Angga memberikan paper bag kehadapan misha yang membuat Riyan kaget.


"Mami,,,,,,!!!!".


...-------------------...


Hai reader. . .


Maaf kalau banyak typo dalam setiap tulisan author hanya memakai handphone untuk mengaturnya . . .


Dukung terus author. .


Ingat ini hanya cerita fiksi tidak ada kaitan dengan siapapun. . .


Dilarang copas dan menjiplak hak cipta orang. . .


Happy reading semua. . . . .

__ADS_1


__ADS_2