Destiny In My Life

Destiny In My Life
Pindah rumah


__ADS_3

"Oh ya guys gue ada hal penting yang harus dibicarakan dengan kalian". Seru Yuda membuat semua orang diam menatap ke arahnya dengan penuh pertanyaan.


"Apa??Lo mau nikah??". Celetuk Tasya dengan heboh membuat Azis yang ada disampingnya memukul kepala nya dengan keras.


Pltak, ,


"Aw ~,,!! Brengsek Lo ya kenapa terus pukul kepala gue sih kalau gue amnesia gimana". Keluh Tasya terus memukul balik Azis dengan keras.


"Stop,, biarin Yuda bicara kalau kalian gak diam gue kurung satu kontrakan lo biar digrebek warga". Ancam Nana dengan kesal.


Sebenernya Nana sedari tadi pusing akan pertengkaran itu yang tidak pernah ada yang mau mengalah.


"Da lanjut". Pinta Laura.


"Beberapa hari yang lalu bang rafa bilang ke gue untuk usulin pindah kontrakan dan dia sudah mencari rumah buat kita tinggal bersama-".


"Tap-".


"Lanjut". Kata nana membungkam mulut Tasya yang ingin menyela ucapan Yuda yang belum selesai. Sedangkan Tasya terus meronta meminta dilepaskan.


"Sebenernya bang Angga sudah memikirkan ini sedari awal sebelum kejadian yang menimpa misha. . Dia menyiapkan rumah buat kita yang dekat dengan caffe,, gimana menurut kalian??". Ucap Yuda.


"Kalau ini akibat gue,, gue gak mau gue gak mau jadi alasan apapun,, gue gak papa tinggal disini daripada ngerepotin bang Raffa". Seru Misha sedih.


"Sha Lo gak dengerin apa kata gue,, bang Raffa punya rencana itu sebelum kejadian itu menimpa Lo jadi Lo gak usah sedih". Pekik Yuda dengan wajah tidak suka dengan ucapan Misha tadi. "Dan kalau menurut gue pribadi sih gue setuju dengan rencana bang raffa,, tempat itu memang dekat dengan caffe 5 menit rumahnya pun nyaman gue udah cek". Lanjut Yuda panjang lebar.


"Gue sih ok aja tapi gue gak enak jika bang Raffa yang bayar atau gimana kalau kita yang patungan yang bayar". Usul Laura.


"Tapi mahal gak rumahnya". Sahut Nana.


"5 juta/bulan".


"Buset mahal bener,,". Keluh Tasya yang sedari tadi diam dengan ancaman Nana.


"Karena rumah itu hanya disewakan untuk dijaga saja. Semua barang sudah lengkap asal jangan ada yang rusak sama sekali". Seru Yuda apa adanya.


"Emangnya pemiliknya kemana??".


"Mereka pindah ke Bandung dan rumah itu gak diperbolehkan dijual oleh anaknya. Karena suatu saat anaknya pasti akan kembali ke Jakarta".


"Kalau tiba tiba anaknya balik ke Jakarta kita diusir gitu aja gimana??".


"Nggak bakal".


"Kalau dipikir pikir boleh juga sih kan kita sama sama satu orang 1 juta, dan sisanya untuk belanja bahan makanan". Seru Laura.

__ADS_1


"Gimana menurut kalian??". Ucap Yuda.


"Ok/gue setuju/gue ikut aja". Seru mereka bergantian.


Hanya misha yang belum memutuskan untuk ikut apa nggak. Alhasil mereka menatap ke arah misha yang hanya diam dengan menatap ke arah ponsel yang mati.


"Sha". Seru Laura pelan memegang tangan Misha.


"Gue juga ikut,, gak mungkin lah gue pisah dari kalian". Kata misha dengan senyum manis menatap semua orang.


Hal itu membuat ketiga gadis memeluk Misha dengan erat. Sampai akhirnya,,,,


"Aaaaa,, gue ikut". Seru Azis merentangkan tangan untuk memeluk para gadis tapi Langung di tahan oleh Yuda yang membuat Azis mengerucutkan bibirnya sebal.


Sedangkan para gadis hanya bisa tertawa dengan kelakuan 2 pemuda dihadapan mereka.


..


Keesokan harinya mereka semua bersiap untuk pindah rumah dan semalam juga Yuda sudah menghubungi Raffa untuk memberikan keputusan mereka semua.


Raffa memberikan mereka libur 2 hari dan tidak membuat caffe untuk mengurus kepindahan mereka ke rumah baru.


Hari ini mereka berenam sangat sibuk membereskan semua barang milik masing masih sampai akhirnya Misha yang suka belanja harus membeli koper karena tidak muat.


"Harganya gak beda jauh makanya gue beli yang gede aja dari pada nanti gak kuat lagi gue yang susah". Jawab Misha santai.


Siang hari mereka semua sudah beres dan juga sudah pamitan ke ibu kos bersama sama. Untuk pada gadis akan pergi dengan mobil online yang dipesan Yuda kecuali Nana. Sisanya akan naik motor mereka masing masing dan akan berangkat bersama saling kawal.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di perumahan yang tidak jauh di dekat lokasi caffe tempat mereka kerja. Rumah itu lumayan besar dan memiliki 2 kamar. 2 kamar di lantai atas dan 1 kamar dilantai bawah. Akan tetapi kamar yang ada diatas salah satunya tidak terlalu besar tapi memiliki tempat tidur Queen size, berbeda dengan kamar utama yang didalamnya memiliki area yang sedikit luas. Bahkan didalamnya ada telivisi pribadi beberapa inci.


Laura dan Misha memilih kamar kedua yang ada dilantai atas karena mereka tidak terlalu menyukai area yang luas. Itu akan membuat semua orang betah berkumpul disana pastinya. Misha sudah memikirkannya sedari awal.


Semua orang membereskan barang masing masing dan untuk Raffa akan mampir keesokan harinya hanya untuk mengecek.


Sore hari misha turun ke lantai 2 hanya untuk melihat lihat situasi rumah. Rumah ini tidak seperti rumah kontrakan biasanya yang membuat Misha sedikit heran tapi pikiran aneh itu Misha hilangkan dengan cepat.


****


...1 Minggu kemudian ...


Tak tak tak


Cklek. . .


Pintu ruangan dibuka dengan cepat tanpa diketuk terlebih dahulu. Wanita paruh baya memasuki ruangan sang anak dengan aura dingin yang membuat semua orang yang melewatinya bergidik ngeri.

__ADS_1


"Ga dimana Riyan??".


"Astaghfirullah mami bikin kaget aja,". Ucap Angga mengusap dadanya yang kaget.


"Dimana anak itu kenapa mami gak bisa hubungin dia dan kata kepala pelayan dia gak pernah pulang ke rumah sama sekali". Mami Vita saat ini sangat lah kesal dengan kelakuan anak sulungnya itu.


Beberapa Minggu ini orang tua Riyan memang sedang menjalankan dinas yang berbeda negara membuat mereka sangat sibuk. Tetapi dengan kesibukan mereka, mereka selalu saling mengirim komunikasi keluarga bahkan mereka memiliki grup chat dengan diberi nama Mahendra family. Walaupun Angga bukan keluarga kandungnya tapi dia juga dimasukan pada grup itu kecuali sang ayah yang menolak.


"Riyan tunggal di apartemen mi". Ucap Angga santai.


Tapi mami Vita malah mengerutkan kening nya heran dengan anaknya yang tiba tiba memilih untuk tinggal di apartemen. Bahkan saat dicek cctv perusahaan pun dia tidak masuk dalam waktu seminggu ini setelah kejadian saat Riyan mengacaukan ruangannya sendiri.


Bukannya mami Vita mengintai anaknya sendiri akan tetapi dia hanya khawatir tentang anaknya yang selalu telah makan akibat kerjaan yang padat.


Angga yang tidak mendengar ucapan wanita yang sudah ia anggap mami sendiri langsung mengalihkan pandangannya dari laptop dan beberapa dokumen yang sedang ia kerjakan.


Mendapat tatapan tajam dari mami Vita membuat angga kaget sendiri.


Saat ini mami Vita penasaran dengan apa yang sedang terjadi pada anak nya. Karena Angga tidak pernah menceritakan apapun jika tidak ditanya olehnya bahkan mereka banyak rahasia yang disembunyikan.


"Mami.. kenapa..liat Angga.. kaya gitu..". Kata angga gugup karena mendapat tatapan itu.


"Sekarang jelasin apa yang terjadi??". Ucap mami Vita dengan tegas mengintimidasi.


Saat ini Angga bingung antara menjelaskan yang sejujurnya atau apa. Sebenarnya jika dipikirkan ini hanyalah pemikiran satu arah dimana Riyan dan Angga tidak mengonfirmasikan kepada Misha karena dia sangat sibuk sedangkan Riyan hanya bisa mengurung diri di apartemen tanpa keluar sama sekali.


Tapi saat melihat tatapan mami Vita membuat Angga mau tidak mau menceritakan semua kejadian yang telah terjadi antara Riyan dan Misha.


Mendengar penjelasan dari angga terlihat wajah mami Vita yang khawatir dan kesal. "Tapi Misha baik baik aja kan??". Tanya mami Vita kepada Angga.


"Angga harap Misha baik baik aja mi". Seru Angga pelan.


"Apa kalian tidak menjenguk Misha setelah kejadian itu". Teriak mami Vita membuat Angga menggelengkan kepala. "Bajingan,,!!!".


Mulut mami Vita terus menyumpah serapah anaknya yang begitu pengecut sambil meninggalkan ruangan. Angga yang ingin menyusul mami Vita diurungkan karena saat ini pekerjaannya tidak bisa ditinggal sama sekali.


"Selamat mendapatkan Omelan yang tida henti bos, , anggap ini hukuman buat bos yang membuatku banyak pekerjaan penuh". Gumam Angga kembali fokus pada semua pekerjaan yang menimpa dirinya selama seminggu ini.


Ntah apa yang harus Angga tunjukan dengan perasaan nya sekarang karena hari ini dia sangatlah bingung ada rasa senang, sedih, kesal dan banyak lagi yang ada di tubuhnya.


Bahkan mulutnya tidak berhenti bersiul sambil mengerjakan semua dokumen.


...-------------...


...Happy Reading.,...

__ADS_1


__ADS_2