
...Happy Reading...
...❤️...
.
Keesokan harinya pukul 7 kurang sudah banyak orang yang berada di bandara.
Beberapa artis juga pulang di hari yang sama tapi berbeda pesawat. Jadi para fans memilih datang agar bisa bertemu dengan idola mereka walau hanya sebentar.
Misha melirik ke belakang sebentar sebelum masuk ke kerumunan banyak orang. Pasti mereka akan melewatinya karena hanya jalan itu yang aman.
Mungkin hanya beberapa orang yang mengenal misha karena misha bukan artis yang sering masuk telivisi. Dia hanya dikenal penggemar dari projects bersama idola mereka dalam pemotretan.
Saat melirik kebelakang ia melihat Riyan yang sebenarnya saat ini pemuda satu itu sedang merajuk. Padahal mereka baru bertemu tapi sudah marah aja tu bocah gede. Pikirnya.
Flashback on
Malam hari mereka berempat makan malam bersama di restoran yang ada di rooftop hotel.
Ternyata Riyan juga nginap di hotel yang sama dengan Misha. Dia baru tahu saat pulang dari mall tadi.
"By tambah 3 hari lah disini sekalian kita liburan berdua". Ucap Riyan dengan nada memohon.
Misha mengerutkan kening mendengar ucapan Riyan yang tiba tiba.
"Mba Maya biar pulang sama Angga, yayayaya pilssss". Lanjutnya.
"Aku banyak kerjaan, lain kali aja". Tolak Misha.
"Ck, ayolah by mumpung sekarang kita sedang disini. 3 hari saja".
"No. Jadwal aku penuh untuk beberapa hari ini tanya sama mba Maya, iya kan mba??". Ucap Misha bertanya kepada Maya selaku manajernya.
"Iya nona, apa harus saya perlihatkan??". Sahut Maya.
"Kalau-".
"Gak usah". Potong Riyan dengan nada tegas wajahnya terlihat kesal.
Misha melihat perubahan Riyan tapi tidak ada niatan untuk membujuk, jika dibujuk dia sendiri yang pasti akan kalah dengan ujung ujungnya menuruti apa yang Riyan mau.
Jujur, beberapa hari ini misha memang memiliki schedule yang sangat padat. Tidak bisa di ubah sama sekali, bahkan mami Vita juga setiap bulan lagi mengecek schedule Misha sendiri dari file yang Maya kirimkan atas perintah mami.
Flashback end
Pesawat sebentar lagi akan berangkat. Mereka berempat duduk di business class dengan Misha duduk bersama Maya.
Riyan masih ngambek dan memilih untuk duduk bersama Angga. Tapi dia masih memperhatikan Misha sedari jauh apalagi saat Misha berada di bandara tadi. Hal itu membuat misha senyum senyum sendiri.
Bahkan Maya yang bisanya tidak berani membicarakan anak pemilik perusahaan, sekarang malah bergosip berdua bersama Misha membicarakan sikap Riyan yang seperti anak kecil.
"Biarkan mba, nanti udah capek nempel sendiri. Kalau gak digituin Misha yang bakal kalah". Seru Misha apa adanya.
........
5 j lebih perjalanan dari Thailand menuju Indonesia. Akhirnya mereka sampai di bandara Soekarno Hatta dengan selamat.
Setelah mengambil koper di bagasi. Mereka langsung pulang dengan sopir yang sudah menjemput.
Pulang dari Thailand, Misha memang sudah izin untuk kembali tinggal di apartemen kepada orang tua Riyan dan syukur nya diizinkan. Mereka mengizinkannya karena di apartemen itu juga Misha bisa dijamin aman.
Misha juga diberikan supir untuk mengantar jemput saat bekerja.
Di dalam mobil hanya ada Misha, Riyan dan supir yang mengemudi. Suasana sangat hening tidak ada yang memulai bicara. Sampai Misha sendiri mengalah.
__ADS_1
"Yan, your okay??".
"Em".
Hanya deheman yang keluar membuat Misha menghela nafas pasrah. Saat ini dia harus membujuk bayi besarnya yang sedang ngambek.
Tapi, Misha pending. Dia tidak mungkin membujuk Riyan di dalam mobil saat ini. Apalagi disana ada supir yang mendengarkan. Walaupun tidak masalah baginya Misha cukup malu melakukan itu.
Melihat jam sudah pukul 2 siang. Mereka juga sudah makan siang saat di dalam pesawat nanti. Tapi perut nya sudah lapar lagi.
Sampai di apartemen mereka masuk dengan diantar beberapa pegawai untuk mengantarkan koper mereka ke lantai dimana tempat kamar Misha berada.
Riyan masih menyimpan barang-barang nya di apartemen Misha. Tapi tidak terlalu banyak hanya beberapa setel jas kantor dan pakaian santai serta piyama tidur. Misha sendiri yang selalu membereskan semua nya dengan rapih. Di apartemen Misha maupun apartemen Riyan masih barang pribadi dia.
Saat Riyan masuk ke apartemen dia sendiri membuat misha mengerutkan kening. "Tumben". Batinnya.
"Makasih mas, ini tip buat masnya". Ucap misha memberikan uang sebagai tip kepada pegawai apartemen.
"Terimakasih nona".
Sepeninggal pegawai apartemen, misha masuk ke dalam kamar untuk bersih bersih. Lalu berencana membuat spaghetti untuk pengganjal lapar.
Dia membuat spaghetti bolognese dan ice cappucino. Tidak susah mendapatkan bahan bahan karena sebelum pulang mami Vita sudah menginformasikan bahwa apartemen nya siap untuk ditempati kembali.
Niatnya Misha akan belanja terlebih dahulu ke minimarket bawah tapi saat membuka kulkas sudah banyak bahan tersusun lengkap. Bahkan banyak cemilan berada di lemari penyimpanan. Tahu aja Misha memang doyan nyemil, pikirnya sambil senyum senyum sendiri.
Misha berjalan keluar apartemen membawa nampan berisi satu piring spaghetti dan 2 gelas ice cappucino menuju apartemen Riyan yang saling berhadapan.
Tidak usah mengetuk pintu, Misha langsung masuk hanya dengan menempelkan kartu akses.
Apartemen yang lebih kecil dari miliknya tercium aroma parfum yang riyan pakai di satu ruangan. Misha perlahan mendekati ke tempat tidur saat mendapati Riyan yang sedang tertidur dengan membelakangi pintu.
Misha tersenyum melihatnya. Dia bisa memastikan Riyan tidur setelah membersihkan badan dilihat dari pakaian bekas yang ada dimana mana. Bahkan handuk bekas nya juga ada di atas tempat tidur.
"Kebiasaan kalau ngambek selalu seperti ini". Batin misha.
Setelah selesai misha berjalan mendekati Riyan yang tertidur tapi bisa ditebak bahwa sebenarnya Riyan hanya pura pura tertidur saat Misha masuk apart.
Duduk di ujung tempat tidur lalu mengelus kepala Riyan dengan lembut penuh perasaan. "Aku tahu kamu gak tidur, aku udah buatin spaghetti bolognese buat kamu". Ucap misha masih terus mengelus kepala Riyan.
"....". Tidak ada jawaban ataupun gerakan sama sekali membuat misha lagi lagi tersenyum.
"Kalau gak bangun aku habiskan, aku juga bikin ice cappucino kesukaan kamu loh, ayo bangun".
".....".
"Ya udah aku habiskan aja sendiri". Ujar misha bangun ingin meninggalkan Riyan. Tapi sedetik kemudian terlihat Riyan bangun mendudukkan dirinya sambil bersandar di sandaran tempat tidur.
Misha berjalan kembali membawa nampan yang dia bawa tadi duduk di hadapan Riyan. Di piring itu terdapat 2 garpu yang artinya mereka makan sepiring berdua.
Saat misha makan tidak ada gerakan tangan dari Riyan, mau tidak mau misha harus menyuapi big baby nya baru dia membuka mulut.
Habis makanan selesai. Misha melihat Riyan akan kembali tidur tapi dengan cepat Misha mencegahnya agar duduk terlebih dahulu setelah makan.
"No, duduk dulu jangan langsung tidur. Atau ikut aku ke apartemen".
Misha keluar dari apart Riyan masuk ke apartemen dia sendiri dengan Riyan yang mengikuti dari belakang. Wajahnya masih terlihat ngambek tidak berbicara sepatah kata pun.
Sampai sampai misha hanya geleng geleng kepala dengan kelakuan kekasihnya itu. Bisa begitu kelakuannya padahal hanya menolak untuk liburan karena banyak kerjaan tapi ngambeknya sampai seperti itu.
Setelah cuci piring, misha tidak melihat keberadaan Riyan padahal dia tahu Riyan ikut masuk ke dalam apartemen nya tadi.
"Kemana tuh bayi gede". Gumam Misha mencari ke dalam kamar.
Saat di dalam Misha melihat pintu balkon terbuka. Kepastian big baby nya ada disana sedang ngambek tentu saja.
__ADS_1
Berjalan ke arah balkon, Misha melihat Riyan sedang duduk sambil memangku laptop. Ntah apa yang dia lihat. Tapi saat tahu misha mendekat dia langsung buru-buru menutupnya dengan cepat.
"Lagi apa??". Tanya misha duduk di sopa kosong samping Riyan.
".....".
Tidak mendengar jawaban dari Riyan membuat menatap ke arah Riyan yang sedang bersandar dengan menatap ke arah depan.
Tentu saja lama kelamaan Misha akan kesal jika didiamkan seperti itu sedari tadi bahkan sedari mereka masih ada di Thailand.
Mungkin tadi Misha masih sabar tapi sekarang jangan diragukan, Misha sudah sangat kesal.
"Oke kalau kamu gak mau bicara lagi sama aku, kita jangan bicara selamanya. Toh aku juga sibuk kerja jadi kita bakal jarang ketemu. Jangan harap aku bakal balas chat atau angkat telpon kamu". Ucap Misha kesal lalu masuk ke dalam kamar.
Gak lama kemudian setelah misha masuk kamar terdengar langkah kaki cepat masuk.
Tap, , tap, , tap,
Riyan masuk ke dalam kamar, melihat sekeliling tapi tidak terlihat wanita pujaan hati nya yang baru masuk. Padahal tidak terdengar suara pintu dibuka/ditutup.
"By, baby,,, kamu dimana??". Teriak Riyan menggema di dalam kamar.
"......".
"Sayang, , ". Teriknya lagi.
"Ngapain kamu teriak teriak". Ucap misha yang berdiri di belakang Riyan dengan tatapan tajam saat pemuda itu membalikan badannya setelah mendengar suara Misha.
Saat masuk ke dalam kamar misha berdiri di dekat jendela ingin tahu gimana reaksi Riyan. Dia ternyata pas dengan tebakannya semua.
Bug
Riyan memeluk Misha dengan erat membuat wanita itu ingin terhuyung ke belakang jika Riyan sendiri yang menahan.
"Maafin aku, aku salah diamin kamu aku hanya kesal karena tidak bisa liburan sama kamu. Aku kangen sama kamu by". Ucap Riyan dengan nada pelan. Suaranya terdengar sangat sedih membuat jadi Misha terenyuh.
"...".
"Hiks, , hiks,hiks".
Mendengar suara Isak tangis membuat misha melepaskan pelukannya lalu menatap ke arah Riyan yang ternyata sedang menangis.
"Loh kok nangis sih". Ucap Misha panik menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Riyan. Dia baru melihat Riyan menangis dihadapannya membuat Misha terharu."Cup, cup, cup jangan nangis.".
"Aku gak mau kamu ninggalin aku, kamu gak mau ngomong lagi sama aku". Ucapnya terbata bata.
"Oke sorry aku bilang gitu karena kamu juga diamin aku". Misha kembali memeluk riyan yang sudah dia dudukan di ujung tempat tidur.
Mereka berpelukan tanpa berbicara apapun lagi sampai merasa Riyan tenang.
"Istirahat dulu, besok kamu harus kerja kan??". Ujar misha merapihkan rambut Riyan yang sedikit berantakan.
"Weekend by".
"Masa iya". Ucap misha sedikit kaget. Lalu melihat Riyan mengangguk seperti anak kecil membuat misha gemas. "Weekend ataupun bukan kerja ya tetap kerja". Gumam misha pelan.
"Kamu besok kerja by??".
"Iya, besok aku kerja. Ada pemotretan majalah". Ujar misha membuat Riyan cemberut kembali. "Mau ikut??". Tawar Misha.
"Mau". Ucap Riyan secepat kilat.
"Sekarang istirahat pasti capek kan."
Riyan mengangguk lalu mereka berdua naik ke tempat tidur untuk tidur bersama hanya saling berpelukan tanpa melakukan hal lebih.
__ADS_1
Misha sudah percaya kepada kekasihnya tidak akan merusak wanita sebelum dirinya diputus dengan ijab kabul.
To be continued, , ,