
Jam makan siang terlewat begitu panjang, tidak ada tanda tanda maureen yang lapar. Dia hanya fokus pada semua pekerjaan yang elma berikan tadi pagi.
Cklek, , ,
Pintu terbuka tanpa izin membuat misha kaget karena dia mengira bahwa ada orang yang mengetuk pintu tapi tidak kedengaran.
Tapi saat melihat siapa yang datang membuat misha paham dengan apa yang sedang dilakukan kekasihnya sesuka hati.
"Sayang kenapa kamu gak ke ruangan aku saat jam makan siang?". Seru riyan cemberut.
Misha yang kembali ke layar komputer mengacuhkan riyan yang sudah membuat mood nya hancur di hari pertama kerja. Gimana tidak hancur jika semua karyawan selalu menganggap Misha atasannya karena dia kekasih pemilik perusahaan tempat mereka kerja.
Jarang ada karyawan yang ingin berdekatan dengan Misha jika tidak berkaitan dengan pekerjaan.
"Sayang kamu belum makan??".
" Nanti". Jawab Misha acuh.
"Tapi-".
Tatapan tajam yang Misha berikan membuat Riyan diam duduk dihadapan Misha. Banyak dokumen yang sedang Misha kerjakan untuk saat ini.
Keheningan menyelimuti ruangan, hanya ada suara ketukan keyboard dari komputer yang sedang Misha gunakan sampai, , ,
Tok, , tok, , tok,
"Masuk".
Pintu terbuka perlahan dan memperlihatkan Elma yang membawa beberapa dokumen.
Elma ingin mendekat tapi tidak enak karena ada Riyan disana.
"Anggap saja hanya ada kita berdua". Seru Misha yang tahu apa yang Elma pikirkan.
Dia menjelaskan apa yang harus misha kerjakan lalu kembali meninggalkan ruangan dengan menundukkan kepala sedikit kepada Riyan.
Sampai jam menunjukan hampir pukul 5 sore, Riyan masih ada disana. Misha membereskan semua barang miliknya ke dalam tas lalu bangkit untuk pulang tanpa berbicara apapun.
"Sayang mau pulang??". Tanya Riyan mendekat.
"Mau nginep". Celetuk Misha masih sebal.
"Sayang jangan ngambek terus dong sama aku.. aku minta maaf kalau udah buat kamu gak nyaman". Kata Riyan dengan suara melas.
"Telat. Mereka udah gak mau berteman sama aku mereka takut sama kamu". Seru Misha apa adanya.
"Aku bakal berusaha buat mereka mau dekat sama kamu, ya tapi jangan marah".
"Aku gak mau mereka berteman dengan terpaksa. Udah ah aku mau pulang aku lapar". Seru Misha meninggalkan Riyan.
Riyan memegang tangan Misha untuk berjalan bersama. Setiap perjalanan menuju mobil Riyan mereka dipandang semua karyawan yang mereka lewati tentu saja dengan diam diam tidak ingin kena amukan bos mereka.
Duduk di samping kemudi dengan wajah ditekuk. Saat ini sungguh mood Misha sangat kacau. Banyak omongan tidak enak di belakang dia saat ada di perusahaan. Tapi saat Misha lewat di antara mereka, mereka semua diam dengan wajah sok suci.
"Sayang". Panggilan Riyan memegang tangan misha dengan lembut.
"Aku baik baik aja. Aku ingin pulang aku capek". Kata Misha tersenyum kecil.
"Baiklah.. kamu ingin makan apa kita beli dan makan di apartemen kamu".
"KFC".
"Siap princess". Ucap Riyan semangat membuat Misha tertawa.
Melihat tawa kekasihnya membuat Riyan senang. Dia tidak ingin kekasihnya sedih apalagi dia sendiri yang membuatnya seperti ini.
Perlahan mobil yang Riyan kemudikan meninggalkan perusahaan untuk membeli apa yang diinginkan Misha sebelum pulang.
Setelah makanan itu dibeli mereka pergi ke apartemen bersama dan akan makan bersama disana.
__ADS_1
Akhir-akhir ini Riyan sering tinggal di apartemen karena ingin dekat dengan Misha. Dia hanya akan pulang seminggu sekali. Jika tidak sang mami akan marah dan tidak mengizinkan ketemu Misha lagi.
Bisa saja mami Vita melakukan hal diluar nalar Riyan untuk memisahkan mereka. Bukan suka dengan hubungan mereka tapi mami Vita sangat menyayangi Misha dan malah akan membuat Riyan jika Misha terjadi hal buruk.
"Aku ingin mandi dulu, kamu gak papa makan duluan". Kata Misha setelah menyiapkan makanan yang tadi dibeli di meja makan.
"Aku tunggu kamu".
Misha meninggalkan Riyan masuk ke dalam kamar. Hanya membutuhkan 15 menit dia kembali dengan pakaian santai dan wajah yang segar mendekati Riyan yang duduk di sopa.
"Ayok makan". Ajak Misha.
Riyan mengikuti Misha ke meja makan untuk makan bersama padahal ini belum jam makan malam karena Misha melewatkan makan siang jadi saat ini dia makan digabung. Untuk makan malam nanti dia akan lewatkan juga paling hanya makan cemilan saja.
Banyak cemilan yang Misha beli dari supermarket bawah. Dia sangat hobi ngemil, ketika moodnya hancur dia akan banyak ngemil sambil nonton drama.
Selesai makan Riyan mandi di kamar mandi Misha padahal kamarnya hanua bersebelahan tapi barang barang mereka sudah bercampur di apartemen Misha.
Tapi berbeda dengan apartemen Riyan yang tidak ada barang Misha satupun. Karena mereka selalu menghabiskan waktu di apartemen itu saja.
"Sayang, , ". Teriak Riyan dari arah kamar mandi. Saat ini misha ada di rumah tv menonton film tapi teriakan yang keras tentunya terdengar oleh telinga Misha.
Dengan cepat Misha berjalan masuk ke kamar untuk mengetahui apa yang membuat Riyan berteriak. " Ada apa??". Tanya Misha.
Hanya terlihat kepala Riyan yang menyembul di pintu kamar mandi dengan rambut basah.
"Ambilkan aku pakaian ganti". Ucap Riyan dengan tersenyum canggung.
"Kenapa gak keluar,, gak ada siapapun". Gerutu misha mencari pakaian untuk Riyan di lemari.
"Handuknya jatuh dan basah makanya aku gak bisa keluar". Kata Riyan menjelaskan.
"Alasan".
Misha menyerahkan pakaian ganti ke Riyan dengan lengkap. Tidak ada kecanggungan apapun karena Misha sudah terbiasa. Riyan selalu meninggalkan pakaian kotor di keranjang yang sama membuat Misha harus mencucinya bersama pakaian dia.
"Makasih sayang". Ucap Riyan tersenyum lebar.
"Hm~".
Misha langsung meninggalkan Riyan kembali menonton film di ruang tamu. Tapi sebelum menutup pintu dia kembali menatap ke belakang.
"Jangan lupa cuci sendiri". Teriak Misha.
"Iya".
Setelah mendengar jawaban Riyan dia menutup pintu. Lalu duduk di sopa menatap layar telivisi yang besar.
Beberapa saat kemudian tercium parfum yang sangat familiar duduk di samping Misha.
"Udah dicuci??".
"Udah di mesin cuci". Misha menganggukkan kepala tanpa menjawab apapun.
Mereka nonton bersama, walaupun Riyan tidak menyukai drama yang Misha tonton tapi dia tetap menemaninya dengan main game di ponsel.
Kadang Riyan merebahkan kepalanya di pangkuan Misha dengan nyaman dengan sesekali misha mengelusnya dengan lembut.
********
"Angga, Riyan mana??". Tanya mami Vita kepada Angga yang baru masuk rumah.
"Ah emang dia gak ada dirumah mi".
"Kalau ada mami gak bakal nanya".
"Tch,, pasti di apartemen misha mau kemana lagi kalau gak nempel terus sama kekasihnya itu". Kata Angga sebal.
"...". Orang tua Riyan hanya acuh tanpa berbicara lagi. Kalau menyangkut Misha mereka akan angkat tangan.
__ADS_1
"Ya udah Angga pulang dulu". Pamit Angga mencium tangan orang tua angkatnya.
"Ao~ map itu??". Tunjuk mami Vita kearah map yang Angga bawa.
"Ini berkas yang harus ditandatangani Riyan karena kalau besok gak bakal sempat. Makanya Angga datang kesini". Jelas Angga.
"Oh~ terus kamu mau ke apartemen misha??".
"Iya, kalau gak penting Angga malas datang kesana". Keluh Angga membuat mami Vita tertawa.
"Mami titip sesuatu buat Misha". Seru mami Vita pergi ke dapur.
Beberapa saat kemudian kembali dengan 2 paper bag tidak tahu berisi apa. Saat Angga membuat ada berbagai jenis brownies yang bisa ditebak maminya itu yang buat.
"Buat Angga??".
"Itu paper bag coklat buat kamu".
"Asik, , makasih mami".
Dengan semangat Angga mencium pipi mami Vita yang membuat seseorang yang ada disana berdehen keras.
Tidak merasa bersalah Angga pergi meninggalkan kediaman Mahendra dengan tawa melihat kecemburuan di wajah papi Rendra.
Mobil Lamborghini yang dikendarai Angga berhenti di palkiran apartemen yang sudah biasa dia datangi.
Membawa papar bag dan beberapa map masuk ke dalam tanpa izin terlebih dulu karena semua karyawan tahu Angga itu siapa. Malah semua karyawan yang ada disana menunduk hormat tanpa ada balasan dari Angga.
Ting, , , !!!
Pintu lift terbuka dilantai dimana tempat apartemen Misha dan Riyan berada.
Tidak membuang buang waktu, kaki Angga melangkah ke depan apartemen misha lalu menekan bel.
Cklek , ,
Pintu dibuka oleh Misha dengan pakaian santai membawa cemilan ditangan.
"Aow~ Angga ayo masuk,, tumben datang ke sini". Ajak misha mempersilahkan Angga masuk.
"Cari to orang". Celetuk Angga menunjuk Riyan yang sedang duduk santai.
"Ada apa cari gue??".
"Sha ini ada titipan dari mami buat kamu". Bukannya menjawab pertanyaan Riyan. Dia malah mengerjakan titipan kepada misha mengacuhkan Riyan disana.
"Brownies, , makasih ya nanti aku telpon mami". Ucap Misha senang.
"Gak ada minuman gitu aus benget belum makan lagi". Seru Angga mengambil cemilan di atas meja.
"Ambil sendiri emangnya cewek gue pembantu lo ". Pekik Riyan melemparkan bantal pas mendarat di wajah Angga.
"Tch, , tamu adalah raja". Keluh Angga.
"Udah jangan ribut, , kamu mau minum apa??". Tanya Misha dengan melerai pertengkaran mereka.
"Apa aja yang penting dingin".
"Riyan". Tunjuk Misha saat melihat Riyan ingin berbicara.
Angga yang melihat Riyan menurut apa kata misha tertawa terbahak bahak. Ini pertama kalinya Riyan menurut pada seseorang. Padahal maminya yang begitu galak kurang nurut. Tapi jika Misha yang ngomong, hanya dengan tatapan nya saja Riyan langsung ciut.
Mereka bertiga duduk dengan bercanda bersama di apartemen Misha. Tentu saja dihebohkan dengan pertengkaran antara Riyan dan angga.
Misha yang ada disana hanya diam menyaksikan drama yang diputar di layar televisi tanpa ingin melerai. Dia sangat pusing mendengar perdebatan mereka yang tidak kunjung berhenti setiap kali bertemu.
... -------...
...Happy Reading., ...
__ADS_1