
"Gimana keadaannya?". Tanya Vita kepada sang anak.
"Misha--, , ".
Ceklek
Pintu terbuka dengan menampilkan seorang dokter yang memeriksa Misha tadi.
"Gimana dok keadaan kekasih saya?".
Dokter tersebut diam tanpa menjawab apapun. Hal itu membuat Riyan tak sabar dan ingin bertindak lebih namun ditahan oleh Angga yang ada disana.
"Nona Misha tersadar beberapa saat namun gak lama jatuh pingsan lagi dan mengalami koma". Jeda dokter. "Benturan yang dialami akibat kecelakaan kemungkinan sangat keras dan waktu itu nona Misha memaksakan untuk terus tersadar". Lanjutnya membuat tubuh Riyan terjatuh duduk di atas lantai dengan air mata yang terus mengalir.
"Kapan Misha bisa sadar dok?".
"Kami belum tahu nyonya--, , ".
"KENAPA KALIAN GAK TAHU? BUAT MISHA SADAR SECEPATNYA". Teriak Riyan.
"Kam--, , ".
Ucapan dokter itu terhenti saat mendapatkan tatapan yang sangat tajam dari Mahendra, pemilik hospital.
"Kami boleh menjenguknya?". Ucap Mahendra.
"Boleh tuan". Ujar dokter lalu menunduk sedikit.
Angga membantu Riyan untuk berdiri memasuki ruangan yang ditempati oleh Misha.
Mata Riyan menatap ke arah brangkar yang berisi seorang gadis cantik terbaring dengan banyak alat yang tertempel.
"Sayang". Seru Riyan memegang tangan Misha dan menciumnya lama. Air matanya terus mengalir tanpa bisa berhenti sama sekali. Dunianya terasa hancur melihat gadis kesayangannya dalam keadaan tidak baik baik saja.
Mami Vita berjalan mendekati sang anak lalu mengelus pundaknya lembut. "Riyan!".
Kepala Riyan terangkat menatap sang mami. "Mam Misha mam". Ucap Riyan terbata bata.
Tidak sanggup melihat anaknya seperti itu membuat Vita memeluknya dengan erat. "Sabar ya sayang, Misha akan baik baik saja. Kamu percaya sama mami". Ucap Vita menenangkan.
Sedangkan dua pemuda yang ada di belakang saling memberi kode lalu keluar dari ruangan untuk mendiskusikan sesuatu.
Mereka merasa ada kejanggalan dalam Kecelakaan Itu.
.
.
.
.
Satu bulan kemudian.
Ceklek
Riyan masuk ke dalam ruangan rawat Misha dengan membawa paper bag hitam.
Selama sebulan ini ia selalu berada di rumah sakit menamai kekasihnya tanpa ingin ditinggalkan sedikitpun.
"Sayang aku kembali". Ujar Riyan duduk di kursi samping brangkar.
__ADS_1
Cup
Kecupan mendarat di tangan atas Misha. Sedangkan gadis itu tidak merespon apapun dan masih asik menutup mata.
Di alam sadar misha.
Seorang gadis cantik sedang duduk menatap pemandangan danau di taman yang sangat indah. Tidak tahu berapa lama dia berada disana tapi tidak ada tanda-tanda untuk beranjak pergi.
"Kakak cantik".
Mendengar suara seseorang membuat gadis itu menatap ke samping. Terlihat seorang anak laki-laki yang sangat tampan berdiri dengan senyum yang sangat manis.
"Kakak cantik ngapain disini?".
Kepala Misha menggeleng tidak tahu.
"Kakak cantik kembali ya, ada yang sedang menunggu kakak".
Misha kembali menggelengkan kepala.
"Ini bukan tempat kakak".
Sedari tadi Misha diam memandang wajah anak lelaki itu menatap ke arah mata biru yang sangat indah. Lalu tangannya terulur menyentuh pipinya dengan lembut.
"Boleh kakak peluk?".
Anak lelaki itu mengangguk membuat mereka saling berpelukan. Sangat nyaman, itu yang Misha rasakan.
Lalu lama kelamaan kepala Misha bertambah berat dan merasakan sakit yang sangat tidak bisa ditahan.
Perlahan kedua matanya terbuka dengan tangan terulur memegang kepala yang sangat sakit. Pertama yang Misha lihat ruangan berwarna putih, di dalam ruangan itu tidak ada siapapun kecuali dirinya yang sedang berbaring di atas brangkar.
Kepalanya menatap ke arah samping dimana ada satu gelas air putih di atas nakas. Tubuhnya berlahan dibedakan dan tangannya mengulur mengambil gelas tersebut.
Namun.
Prang
Gelas itu terjatuh ke lantai karena lengannya yang tidak mampu menahan gelas.
Ceklek
Mendengar suara benda jatuh, terdengar suara pintu terbuka dengan keras.
Misha yang ada di atas tempat tidur menatap ke arah suara, terlihat seorang pemuda yang sedang berdiri mematung menatap ke arah brangkar. Pandangan mereka terkunci sampai Misha merasakan tubuhnya dipeluk dengan erat.
"Sayang, akhirnya kamu bangun. Aku kangen sama kamu". Ucap pemuda itu tapi tidak ada pergerakan apapun dari Misha.
"Akhh,.,". Misha memegang kepalanya yang sangat sakit membuat pemuda itu panik dan memanggil dokter secepat mungkin.
Sepeninggalan pemuda itu Misha memejamkan matanya merasakan kepalanya yang sakit. Suara pemuda itu terus terdengar di telinganya dan memutar di otaknya tanpa ia ketahui.
Pintu kembali terbuka menampilkan pemuda lain dengan jas putih.
Dokter itu memeriksa keadaan Misha. Namun Misha asik memejamkan mata tanpa merespon apapun.
"Nona, apa yang nona rasakan?". Tanya dokter selesai memeriksa.
Mata Misha terbuka. "Kepala saya pusing dok". Ucap Misha lirih.
"Mungkin karena benturan yang sangat keras membuat kepala nona sakit. Saya akan memberikan obat pereda rasa sakit nanti".
__ADS_1
Misha mengangguk lalu menatap pemuda lain yang agak jauh yang terus menatapnya dengan intens.
Lalu kembali menatap sang dokter.
"Dok bisa minta tolong?". Ucap Misha ragu.
"Silahkan".
"Saya minta untuk tidak diganggu sama siapapun sampai keluarga saya datang". Ucap Misha memberi kode kepada pemuda itu.
Riyan, pemuda yang dimaksud menatap kekasihnya sendu. Ia tidak berani membuka suara karena merasakan ada yang aneh kepada gadisnya.
Dokter tersebut merasa heran lalu menatap Misha dengan selidik. "Kalau boleh tahu, nama nona siapa?".
"Misha, Misha Laurensia".
Dokter itu mengangguk lalu menatap ke arah Riyan. "Nona Misha kenal dia?". Menunjuk.
Misha terdiam memikirkan sesuatu, tapi tiba-tiba kepalanya merasa sakit.
"Awww~". Rintih Misha memegang kepalanya yang sakit.
Hal itu membuat Riyan panik.
"Sebaiknya nona jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat". Dokter itu merebahkan tubuh Misha perlahan. "Tuan bisa ikut saya ke ruangan?".
Riyan berjalan mengikuti dokter itu menuju ruangannya yang ada di lantai yang sama meninggalkan Misha yang sedang beristirahat.
Ruangan dokter.
"Silahkan duduk tuan muda".
"Kenapa dia lupa saya saya?". Tanya Riyan cepat.
"Nona Misha mengalami amnesia ringan, akibat benturan yang keras membuat nona Misha membuat memori beberapa tahun kebelakang menghilang". Jelas dokter itu sambil menyerahkan hasil ronsen.
"Apa yang harus saya lakukan agar ingatan itu kembali?".
"Dengan berjalannya waktu nona Misha akan kembali mengingat semuanya asal jangan terlalu dipaksakan karena malah akan membuat ingatan yang lain hilang, atau bahkan amnesia permanen". Jawab dokter membuat Riyan bersandar di kursi menatap ke atas.
"Sampai kapan dok?". Ucap Riyan lirih.
"Saya tidak bisa memastikan semuanya tuan, tapi saya akan memberikan obat untuk membantu nona Misha meredakan rasa sakitnya saat ingatan itu mulai kembali". Ucap dokter itu lalu mengulurkan tangannya memberikan secarik kertas.
Dengan langkah pelan Riyan keluar dari ruangan dan duduk di kursi yang ada di koridor rumah sakit.
Kepalanya menunduk sampai gak lama terdengar isakkan tangis dari mulut Riyan, air matanya terus berjatuhan tanpa terhalang apapun.
Hatinya sudah sakit ditambah dengan kekasihnya tidak mengingat dirinya membuat Riyan bertambah hancur. Tapi Riyan berjanji akan selalu ada di samping Misha agar ingatannya kembali dengan cepat.
"Emm, gue bisa". Ucap Riyan menghapus air matanya lalu menghela nafas panjang agar lebih tenang.
Kakinya melangkah menuju ruangan Misha. Ia membuka pintu secara perlahan agar istirahat Misha tidak terganggu.
Riyan mendudukkan dirinya di samping brangkar lalu menatap wajah Misha yang sedang tertidur pulas dengan tatapan lembut. Ia sangat merindukan kekasihnya sekarang.
Dengan perlahan Riyan menggenggam tangan Misha dan meletakan kepalanya di atas tempat tidur ikut menuju alam mimpi dengan berharap Misha masuk ke dalam mimpinya tanpa melupakan dirinya seperti dunia nyata.
"Sweet dreams, dear".
To be continued. . . .
__ADS_1