Destiny In My Life

Destiny In My Life
Malas malasan


__ADS_3

Pagi hari yang cerah. Hari ini hari Sabtu. Misha yang masih mengambil cuti berencana untuk berada di apartemen seharian.


Masa liburannya kacau akibat ketahuan oleh Riyan dimana keberadaannya saat itu.


Apalagi setelah pengakuan Riyan kepada 2 pemuda yang membuat hubungan mereka renggang membuat misha malas keluar.


"Morning baby". Sapa Riyan masuk ke dalam kamar masih dengan piyama tidur sambil membawa nampan.


"Hm".


Hanya deheman yang keluar. Misha masih berbaring di tempat tidur dengan iPad ditangan. Dia memang sudah bangun tapi masih malas malasan di tempat tidur gak ada niatan bangun.


"Oi ini udah jam 8 kamu gak kekantor??". Tanya misha kaget saat melihat jam yang menempel di dinding kamar.


"Semua schedule dihandle sama Angga semua, jadi hari ini dan besok aku free". Jawab Riyan dengan senyum manis duduk di samping tempat tidur.


"Aish kebiasaan kamu mah,, ini pasti kosongin jadwal gara gara aku kan". Tunjuk Misha penuh selidik.


"Nggak, emang aku gak ada pekerjaan apapun". Elak Riyan.


"....". Misha hanya memicingkan matanya, dia gak tahu benar apa nggak tentang apa yang Riyan ucapkan karena dia selalu berbuat cara apapun agar bisa bersama dirinya lebih lama.


"Jangan banyak berpikir, sekarang kita sarapan aku udah buatin kamu sandwich". Lanjut Riyan.


Misha sedikit mendekat ke arah Riyan. Lalu mereka berdua sarapan bersama di satu piring dan gelas yang sama. Bukan Misha yang mau tapi Riyan sendiri yang selalu ingin seperti itu.


Setelah sarapan habis, Riyan tersenyum mengelus kepala Misha dengan lembut. Ia sangat menyayangi kekasihnya itu dari pertama ketemu. Tapi jika dibahas ia suka mau sendiri karena dulu Riyan selalu membuat masalah dengan Misha agar wanita itu memiliki waktu yang lebih untuk nya walaupun hanya bertengkar.


"Kamu pengen apa nanti aku beliin??". Tawar Riyan.


"Nggak aku gak ingin apa apa, aku hanya ingin nonton".


"Gimana kalau kita nonton di bioskop, sekalian jalan jalan di mall". Ujar Riyan dengan semangat.


"Males".


"Sayang, ,, ". Rengek Riyan.


"Yan aku malas ngapa ngapain hari ini, mending kamu cari kesibukan sendiri deh". Seru Misha apa adanya membuat Riyan cemberut.


Kalau seperti ini Riyan akan terlihat seperti anak kecil yang ingin bermain tapi tidak dituruti olah ibunya. Kadang misha pusing sendiri meladeni Riyan tapi ini adalah momen langka menurut dirinya karena kapan lagi melihat Riyan yang dikenal sebagai pemuda paling dingin, irit bicara, dan tegas bisa bersikap seperti itu.


"Baby-".


Drrrttt


Drrrttt


Drrrttt


Bunyi panggilan masuk dari Tina teman Misha yang kemarin habis bertemu setelah sekian lama tidak bertemu.


"Husstt, , kamu diam kalau bicara aku bakal marah sama kamu". Ancam Misha dengan garang.


Riyan yang melihat itu hanya manggut-manggut menuruti apa yang Misha katakan.


"Hello tin, tumben telpon ada apa??". Tanya Misha setalah menggeser tombol hijau.


["Gue males nih di kosan, main yuk??". Ajak Tina dari sebarang telpon. ]


"Main kemana??".


["Kemana aja gitu, atau ke mall kebetulan kan tanggal gajian nih". Ujar Tina dengan suara ceria. ]


"Asik baru gajian, masih anget nih, teraktiran Nafa diem diem bae".


["Makanya yuk jalan, tenang aja nanti gue traktir ice cappucino spesial buat lo". ]


"Tau aja minuman kesukaan gue". Seru misha dibarengi dengan tawa ngakak. Dia sedikit melirik Riyan yang hanya diam mematung dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Perlahan tangan misha diangkat mengelus kepala riyan seperti anak kecil. Tentu saja langsung di respon dengan senyum manis yang sangat lebar.


"Tapi sayangnya gue lagi males keluar nih hari ini, gimana kalau lo ke tempat gue aja, sekalian nginep". Ajak Misha dengan ceria tapi orang yang dihadapannya terus menggoyangkan tubuh misha sambil menggelengkan kepala.


["Em gimana ya??". Ragu Tina. ]


"Ayo lah, besok kan minggu, Lo gak kerja. Ya ya ya mau plis". Bujuk Misha.


["Tapi gak seru kalau cuma gue doang, masa iya cuma berdua". ]


"Ya udah ajak yang lain sekalian malam mingguan nanti ke mall".


["Oke deh tapi kalau mereka mau tapi kemungkinan para cowok gak boleh nginep ya". ]


"Iya terserah mereka gue sih fine fine aja".


["Oke gue hubungin yang lain". ]


"Gue juga mau siapin cemilan".


["Siap yang banyak".]


Pip, , !!!!!


"Baby kenapa kamu malah undang mereka kesini?? Aku hanya ingin berduaan sama kamu". Keluh Riyan.


"Banyak orang lebih seru. Lagian aku malas keluar makanya aku ajak aja mereka kesini".


"Tapi-".


"Kamu tenang aja mereka teman aku saat SMK dulu". Potong Misha.


"Berapa orang??".


"5 orang kayanya".


Riyan menganggukkan kepalanya lalu berjalan masuk ke kamar mandi tanpa mengucapkan apapun lagi.


"Iya".


Mendapat jawaban dari Riyan yang ada dikamar mandi membuat Misha bangun mengambil uang di dalam tas beberapa lebar yang merah.


Misha akan turun ke supermarket untuk membeli beberapa cemilan untuk temannya yang akan datang ke apartemen.


Tapi sebelum turun misha sudah mengirimkan lokasi di grup agar teman temannya tidak nyasar.


Berjalan disekitar supermarket hanya memaki piyama tidur karakter membuat misha menjadi pusat perhatian. Ntah kenapa pengunjung hari ini sangatlah banyak atau mungkin karena hari ini hari Sabtu, beberapa orang sedang tidak bekerja.


Misha yang hanya menggunakan piyama tidak membuat dirinya terlihat jelek, malah membuat semua orang takjub dengan tampilan sederhana. Piyama tidur karakter, rambut digulung asal, sendal rumahan dan wajah tanpa riasan.


Wajah Misha memang tidak terlihat seperti artis Korea tapi warna kulit putih dan bibir peach pink mengundang daya tarik orang yang melihat.


Apalagi setelah berpacaran dengan Riyan seluruh tubuhnya selalu terawat. Sebulan sekali mami Vita selalu mengajaknya perawatan dan ditambah lagi dengan krim yang Misha pakai sehari hari.


"Aish gue lupa gak bawa handphone, bodo lah kalau gak mau gue aja yang makan". Gumam Misha karena iya berniat untuk menghubungi para temannya untuk menanyakan ingin makanan apa tapi dia lupa akan membawa ponsel. "Toh bisa pesan juga nanti".


Setelah membayar semua belanjaan, misha kembali ke kamar dengan kedua tangan memegang paper bag berisi cemilan.


Klik, ,


"By ponsel kamu dari tadi nyala terus tuh, , gak ada berhenti nya". Pekik Riyan duduk di sopa dengan memangku laptop.


"Kenapa gak angkat??".


"Males palingan temanmu itu". Seru Riyan acuh.


"Ck kamu itu ya,, kalau gak mau diganggu sana di apartemen kamu aja". Omel misha meletakan 2 papar bag besar di atas meja lalu pergi kekamar.


Di dalam kamar Misha asik membalas chat yang masuk dari teman temannya yang ada dijalan. Dia gak tahu temannya itu berangkat bersama atau pisah. Misha hanya bilang kalau sudah ada dilobi mereka harus menelponnya karena gak bisa sembarangan orang masuk.

__ADS_1


"Baby, , ". Teriak Riyan dari luar membuat Misha tersentak kaget.


"Apa". Jawab misha dengan sedikit berteriak berjalan ke arah kekasihnya itu.


Setelah mendengar teman Misha akan datang, membuat Riyan berubah seperti ini. Dia gak tahu perubahan riyan karena apa yang dia tahu Riyan saat ini sangat menyebalkan.


"Gak ada makanan??".


Pertanyaan Riyan membuat Misha mengerutkan kening. Didepan matanya ada paper bag berisi cemilan, tapi dia bilang gak ada makanan?? Emang minta di jitak ni orang.


Seketika mereka saling pandang dengan Misha menatapnya dengan tatapan tajam sedangkan Riyan menatapnya dengan tatapan polos.


"Ya Allah, cowok yang satu ini pengen aku bejek bejek deh rasanya". Ujar Misha dengan tangan mencubit kedua pipi Riyan dengan gemas. Ia juga menahan kesal dihadapan Riyan.


"Itu makanan sayang masa iya gak lihat, banyak loh itu". Lanjut misha dengan tersenyum manis tapi tatapannya menusuk.


Dengan polos Riyan mengambil satu bungkus kentang balado, dibukanya lalu makan dengan tenang sambil matanya fokus ke laptop.


"OMG,, biasa stres gue hari ini, kenapa Riyan jadi seperti ini?? Padahal kepalanya gak ke jedot tembok dari tadi". Keluh Misha garam menutup wajahnya bahkan tangannya memukul mukul bantal sopa.


"Baby, minta tolong ambilin minum dong haus aku". Pinta Riyan.


"Aku males, ambil sendiri".


Saat ini misha sedang merebahkan tubuhnya di sopa dengan wajah ditutup bantal, dia sedang menunggu telpon dari temannya untuk dijemput di lobi.


"Baby ayolah". Paksa Riyan menggoyang goyang tubuh Misha.


"Hiks, ,hiks, ,hiks Riyan aku males". Rengek misha dengan wajah cemberut, tubuhnya juga digoyangkan membuat Riyan gemas. Bahkan kakinya ditendang tendang di udara.


Dengan cepat Riyan menciumi wajah Misha tanpa celah kecuali bibir. Lalu lari ke dapur untuk mengambil air minum sambil tertawa.


Di dapur Riyan yang tersenyum tiba tiba menghitung sampai 3, seperti tahu akan ada bencana apa setelah itu. " Satu, , dua , , , , tiiiiga".


"RIIIYYYAAANNNN".


Teriakan keras menggema di seluruh ruangan. Bahkan Riyan yang ada di dapur pun langsung tertawa ngakak sambil menutup telinga. Untung saja ruangan itu kedap suara. Jika tidak mungkin mereka akan langsung diusir dari sana akibat mengganggu tetangga yang lain.


"Ha-ha-ha-ha-ha-ha". Tawa ngakak memenuhi ruangan setelah teriakan yang menggelegar.


Drrrttt


Drrrttt


Drrrttt


Misha yang sedang menggerutu akibat ulah Riyan, sang kekasih langsung mengambil ponselnya yang berdering.


📞Tina is calling, , ,


["Hello sha lo yakin tempatnya ini??". Tanya Tina langsung saat panggilan itu sudah dijawab. ]


"Iya lo dimana?? Apa semuanya udah sampai??".


["Gue disini sama Adit dan aji kebetulan datangnya bareng, , mungkin Kevin datang telat soalnya tadi bilangnya mau ke bengkel". ]


"Ya udah tunggu gue turun".


Pip, , !!!


Panggilan itu Misha matikan. Suasana hatinya bertambah bad mood setelah apa yang riyan lakukan.


Misha bangun lalu ingin berjalan keluar apartemen untuk menjemput temannya dibawah, tapi naas, pandangan Misha yang menatap Riyan tajam yang ada di dapur membuat Misha tidak melihat jalan. Sampai.,. ,


Bug, ,


"Aaaakkkhhhhh, , ".


...----------------...

__ADS_1


...TBC...


...Happy Reading,,, Babay!!!!!...


__ADS_2