Destiny In My Life

Destiny In My Life
Orang tidak dikenal


__ADS_3

Satu Minggu kemudian


Hari demi hari Misha melakukan pekerjaan dengan baik. Walaupun Riyan selalu saja mengganggunya dengan banyak alasan.


Seperti saat ini,


"Yan biasa tidak kamu gak ganggu kerjaan aku sehari saja". Keluh Misha melihat Riyan yang baru masuk membawa beberapa dokumen.


"Hah!! Aku baru masuk loh udah kena aja".


"Aku tahu kamu datang kesini buat merusuh. Kamu punya ruangan sendiri yang lebih luas, lebih enak daripada disini".


"Aku lebih enak disini kok. Walaupun kecil tapi kalau ada kamu aku nyaman". Ucap Riyan sambil duduk di sopa yang ada diruangan Misha.


Jarak tempat duduk mereka sedikit jauh tapi saat ini pandangannya saling menatap dengan tatapan berbeda.


"Kamu yakin bakal kerja??". Tanya Misha menyipitkan mata mencari jawaban apa yang akan keluar dari mulut Riyan.


"Kerja". Ucap Riyan memangku laptop dan memegang salah satu dokumen.


"Terserah".


Gumam Misha menatap kembali ke layar komputer.


Hari ini banyak pekerjaan yang sedang ia kerjakan. Ntah kenapa saat ada riyan dia gak akan pernah berkosentrasi dalam berkerja. Semuanya akan memoerhambat dirinya sendiri.


Tok


Tok


Tok


"Masuk".


Cklek


"Maaf nona ada seseorang yang ingin bertemu, pihak resepsionis sudah mencoba menelpon nona tapi telponnya tidak terhubung". Seru salah satu staf yang masuk.


Mendengar itu membuat Misha melirik ke arah telpon yang ada di atas meja. Melihat dari sisi ke sisi ternyata kabel di belakangnya terputus membuat dia paham kenapa beberapa hari ini tidak pernah ada telpon apapun yang masuk.


("Ini pasti ulah Riyan". Batinnya sedikit melirik ke arah Riyan yang terlihat acuh tak acuh. )


"Baik nanti saya kebawah". Jawab Misha menatap ke arah staf itu.


"Kalau begitu saya permisi dulu". Ucap staf itu membuat misha mengangguk.


Misha menekan beberapa tombol di keyboard, lalu berdiri setelah memakai sepatu yang senagaj dia lepas.


Baru beberapa langkah berjalan misha berhenti saat mendengar ucapan Riyan. "Mau kemana??".


"Mau kebawah". Ucap Misha mengerutkan kening. Iya bingung kenapa Riyan bertanya seperti itu padahal saat staf bilang dirinya ada di dalam ruangan.


Tidak bertanya atau menjawab, Riyan malah ikut berdiri melegakan dokumen dan laptop di atas meja membuat Misha bingung.


"Kamu mau kemana??".


"Kebawah". Jawab Riyan yang ingin membuka pintu duluan.


"Ngapain?? Yang kau kebawah itu aku". Ucap Misha berjalan menghampiri Riyan.


"Gak papa aku juga mau kebawah".


Tidak ada jawaban lagi, Misha pergi terlebih dahulu diikuti Riyan di belakang.


Karyawan yang ada dilantai itu mencuri pandang ke arah atasan nya yang selalu menempel pada kekasihnya setiap saat. Mereka gak nyangka dan gak percaya kenapa atasannya yang terkenal arogan dan sangat dingin itu bisa bersikap berbeda di depan Misha. Yang notabene na hanyalah wanita bisa.


^^^*Mungkin biasa di mata mereka tapi wanita spesial di kehidupan Riyan*^^^


Sesampainya di lobi bawah. Misha melihat tiga wanita di kursi tunggu yang tidak ia kenali.


Melihat orang yang mereka cari ketiga orang itu langsung berdiri dengan tatapan yang berbeda.


"Oh jadi ini yang namanya Misha Laurensia". Ucap salah satu orang dengan sinis menatap Misha.


"Iya, ada apa ya??". Ucap misha bingung.


"Ck, jangan so munafik dih lo. Gara gara lo Kevin jauhin gue dan gak mau lagi deket sama gue". Ucap orang itu dengan suara keras membuat semua orang yang ada disana menatap ke arah mereka.


"Ra tenang, malu diliatin banyak orang". Ucap salah satu dari ketiga wanita itu.


"Kenapa?? Biarin semua orang tahu bahwa semurahan apa wanita yang bernama MISHA LAURENSIA ". Ucap orang yang bernama Ira dengan memakan nama misha.

__ADS_1


Banyak orang yang ada di lobi menatap mereka dengan penasaran. Walaupun ada Presdir nya disana tapi tingkat penasaran mereka yang tinggi membuatnya enggan pergi.


Posisi Riyan memang selangkah ada di belakang Misha, tapi saat kekasihnya sedang dijelekkan membuatnya naik pitam.


Riyan marah ingin berjalan ke arah ketiga wanita itu tapi langsung dicegah oleh Misha dengan gelengan kepala meyakinkan.


"Ini pasti ada salah paham, jika nona nona ingin bertanya lebih lanjut silahkan duduk terlebih dahulu". Ucap Misha dengan halus. Dia masih sedikit mencerna ucapan yang wanita bernama Ira katakan.


"Jangan sok baik deh lo, gara gara lo semuanya Kevin jadi benci sama gue, dasar pelakor".


"Bentar ya mba, saya gak ngerti apa yang kalian bicarakan. Kevin siapa yang kalian maksud?? Kenapa saya di bilang pelakor". Ucap Misha heran.


Salah satu dari mereka menunjukan photo Misha yang sedang dibonceng Kevin menuju salah satu hotel.


Misha bisa menebak bahwa saat itu saat Kevin mengantarkan dia pulang setalah berkumpul dengan teman lamanya.


Riyan yang melihat itu langsung menatap Misha dengan tatapan menuntut pertanyaan. Dia memang belum tahu kejadian itu dan Misha tidak cerita apapun masalah itu.


"Kalian jangan salah paham dulu. Saya gak jalan berdua sama dia. Waktu itu Kevin cuma antar saya pulang ke hotel karena sudah malam-".


"Alah alasan.. kenapa ke hotel?? Apa kalian tidur berdua?? Cih dasar murahan". Potong Ira dengan penuh emosi.


Lama kelamaan emosi Misha juga terpancing dengan dia yang selalu memotong ucapannya yang belum selesai. Ira datang ke kantor untuk meminta penjelasan tapi saat Misha berbicara malah gak dibiarkan tuntas.


"Kalian dapat dari mana Poto itu". Ucap Misha menahan amarah dengan sesekali menutup mata.


"Gue yang ambil sendiri sama teman teman gue".


"Terus berarti kalian bertiga lihat Kevin gak masuk ke hotel. Hanya gue yang masuk hah". Ucap Misha dengan suara meninggi. "Pake otak kalian sebelum hina orang. . Gue udah sabar ya dari tadi".


"G-".


"Mau bilang apa lagi hah. Gue sama Kevin temenan saat sekolah dulu sedangkan lo baru juga kenal kemarin dah so soan bicara begitu. . Kalau kau deket sama dia ya sana gue gak peduli. Palingan kevinnya juga gak sudi di deketin sama lo". Potong misha nada marah membuat semua orang diam.


"....".


Misha sempat melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kanan sudah menunjukan jam makan siang. Area lobi sudah banyak karyawan yang mulai wara wiri.


Tidak ada niatan dari Misha dan Riyan untuk mengajak mereka ngobrol di tempat private karena emosi Misha sudah terpancing.


Misha ingin makanya tidak tercoreng di perusahaan Riyan apalagi dia sudah diketahui mempunyai hubungan lebih dengan anak tunggal dari keluarga Mahendra di seluruh kantor.


Untung saja handphonenya dia bawa. Misha langsung mencari nomer orang yang bersangkutan yaitu Kevin.


["Hello sha ada apa?? Tumben telpon?? Pake acara VC segala". Ucap Kevin di sebrang telpon. ]


"Pacar lo ngamuk ke gue, dibilang pelakor lah, murahan lah".


["Hah!! Gue gak punya cewek, lo tahu kan gue dari dulu gak pernah dekat sama siapapun kecuali sama temen-temen lo". Misha bisa melihat bahwa Kevin kaget dengan ucapan Misha, apalagi wajah Misha saat ini memang sudah merah karena emosi. ]


"Lo kenal dia??" Tanya Misha membalikan karena belakang. Ia sengaja tidak membalikan ponselnya karena ingin melihat reaksi wajah Kevin.


["Gue gak kenal". ]


Mendengar ucapan Kevin menyebut Misha mengerutkan kening. Lalu menatap ke arah Ira yang terlihat sudah gusar.


"Jangan bohong lo, gue tahu kalau lo lagi bohong gak bisa lihat ke arah gue". Cerca Misha. Memang benar Misha memang sudah tahu seluk beluk teman temannya waktu di sekolah menengah atas. Karena mereka selalu berkumpul bersama.


["Iya iya. Lo emang selalu tahu gue, , gue hanya tahu dia tapi gak terlalu kenal dan dekat. Dia akhir akhir ini deketin gue tapi gue nya gak mau". Ucap Kevin apa adanya membuat Misha tersenyum kemenangan. ]


"Nah kan,, mau apa lo?? Gue udah gak ada urusan lagi sama lo terserah mau bilang gue apa. Gue gak butuh lagi ucapan dari Lo itu". Ucap Misha lalu bangkit dari duduknya.


"Dan jangan salahin gue kalau mulai saat ini dia tambah ilfil sama lo". Sambung Misha langsung meninggalkan mereka menuju kantin.


Perutnya memang sudah lapar sedari tadi. Malah sekarang ditambah dengan urusan yang gak penting.


Riyan yang sedari tadi diam bangun untuk ingin menyusul kekasihnya yang sudah pergi terlebih dahulu.


"Lo urusin semuanya sampai tuntas". Ucap Riyan kepada Angga yang baru turun. Lalu pergi.


Banyak bisikan dari semua karyawan disana membicarakan ketiga pemuda yang tidak tahu malu itu.


.....


Di kantin Misha sudah memesan beberapa menu makanan untuk dibawa ke ruangannya. Saat ini ia malas makan dikantin karena banyak pasang mata yang menatap dirinya dengan berbeda beda.


Riyan datang langsung duduk berhadapan dengan Misha yang sedang bermain ponsel.


Banyak chat masuk dari Kevin menanyakan itu semua dan menanyakan kabar Misha tapi sedikitpun Misha tidak membalasnya.


Kekesalannya masih belum hilang. Sebenernya ia tahu kedatangan Riyan. Tapi Misha sama sekali gak ada niatan untuk berbicara.

__ADS_1


"Nona ini makanannya". Ucap pegawai kantin memberikan beberapa kantong plastik.


"Makasih,, HM bisa via transfer gak mba". Ucap misha yang memang tidak membawa uang sama sekali. Dia baru ingat setelah memesan makanan itu dan malas untuk mengambil ke atas.


Pegawai itu belum menjawab tapi Riyan sudah menyodorkan dua lebar uang merah kepada pegawai itu.


"Makasih tuan".


Riyan hanya mengangguk lalu mengambil semua makanan untuk dibawa ke ruangan misha.


Misha yang melihat itu berjalan berdampingan dengan kekasihnya tanpa ada suara apapun yang keluar.


Di dalam lift setelah menekan lantai dimana ruangannya berada. Misha langsung main ponsel menskrol Instagram.


Tanpa dia ketahui ternyata Riyan mengganti tombol lift menjadi lantai dimana ruangannya berada. Hal itu diketahui Misha saat pintu lift terbuka.


Tidak ada komentar apapun, Misha langsung masuk ke dalam. Saat ini moodnya sungguh tidak baik. Ia malas untuk berbicara dengan siapapun bahkan semangat kerjanya hilang begitu saja. Padahal tadi pagi dia berangkat dengan sangat gembira tapi sekarang, pupus dan hilang sudah dengan sekejap mata.


Misha makan dengan tenang. Disampingnya Riyan pun sama, dia sama sekali gak mengganggu Misha sama sekali. Mungkin dia takut malah dirinya yang akan menjadi bahan pelampiasan.


Tok, , tok , , tok.


"Masuk".


Angga yang masuk ke ruangan langsung menutup mulut saat melihat wajah misha yang tidak bersahabat. Siapapun yang dekat dengan Misha belum bisa mengubah moodnya seperti semula ketika sedang seperti ini.


Bahkan Riyan sendiri belum tahu. Sedari dulu memang misha sangat sudah ditenangkan jika sedang marah atau mood nya buruk.


Setelah jam istirahat selesai misha pergi ke ruang kerjanya tanpa ada niatan dicegah oleh Riyan dan Angga. Kedua pemuda itu sedari tadi ada di satu ruangan tapi tidak ada yang berani angkat bicara.


"Lo gak ikut ke ruangannya??". Bisik Angga kepada Riyan.


"Gue awasin dari dini aja. Bisa bisa gue yang bakal jadi pelampiasan Misha.. nanti gue samperin pas pulang kerja. Gue yakin Misha gak bakal lembur". Jawab Riyan bangkit menuju kursi singgasana nya di Rendra company.


...


..


.


3 jam kemudian, , ,.


Bertepatan dengan jam pulang kerja. Riyan dengan cepat membereskan semua barang diatas meja. Lalu bersiap untuk pergi ke ruangan kekasihnya di lantai 10.


Dilihat dari cctv. Misha sudah siap untuk pulang. Kayanya sedari tadi Misha terus saja melihat ke arah jam yang ada di ruangan itu.


Saat Riyan keluar dari ruangannya pas bertepatan dengan Angga yang juga keluar.


"Lo juga mau pulang??". Tanya Riyan.


"Nggak gue ada kerjaan sedikit lagi. Gue tadinya mau ambil dokumen di ruangan lo yang tadi gue serahin". Ucap Angga berjalan mendekati Riyan.


"Ambil di ruangan gue. Gue udah cek semuanya yang ada di atas meja".


"Hm!! Kalau singa betina ngamuk gue hanya bisa doain lo baik baik saja". Ledek Angga masuk ke dalam ruangan Riyan dengan memukul pundak Riyan terlebih dahulu.


"Sialan lo".


Sepeninggalan Angga. Riyan pergi dari sana masuk ke dalam lift.


Pas diruangan Misha. Riyan melihat misha sedang menyandarkan tubuhnya di kursi dengan mata tertutup.


Wajah Misha tersirat sangat kelelahan. Setelah seminggu sibuk bekerja ditambah masalah tadi yang mengganggu moodnya membuat kepalanya sedikit pusing.


"Baby, are you okay??".


Riyan langsung mendekati Misha dan mengelus kepalanya dengan lembut.


"Hm,!! Aku hanya ingin cepet pulang dan istirahat". Jawab Misha membuka mata lalu menatap ke arah Riyan.


"Are you sure??".


"I'm sure".


Perlahan bangun dan tangannya langsung digenggam oleh Riyan dengan erat dan mengambil tas yang ada di atas meja.


Tangan kanan menggenggam tangan misha sedangkan tangan kiri memegang tas dan jas yang tidak dipakai dari tadi.


...----------------...


...TBC...

__ADS_1


...Happy Reading,,, Babay!!!!...


__ADS_2