
Mobil memasuki pekarangan rumah kediaman Mahendra yang sangat luas. Misha yang masih tertidur membuat Riyan tidak tega untuk membangunkannya. Alhasil Riyan menggendong Misha dengan perlahan menuju kamar pribadinya.
Angga yang melihat Misha dibawa ke kamar pribadi milik bos + saudara + sahabatnya hanya bisa mengerutkan keningnya karena bingung.
"Apa dirumah ini gak ada kamar lagi aja". Gumam Angga menatap sekeliling rumah. Lalu duduk di sopa rumah keluarga.
Seperti biasa rumah ini masih sepi tidak ada orang di rumah karena saat ini baru jam pulang kerja dan kemungkinan orang tua Riyan masih diperjalanan pulang.
Gak lama kemudian pintu utama terbuka lebar padahal baru beberapa detik yang lalu pemikiran Angga tentang jam pulang kerja tapi orang tua Riyan sudah ada disana.
"Sayang kamu disini??". Tanya mami Vita memeluk Angga.
"Iya mi baru sampai,, ayah ada disini juga??". Tanya Angga saat melihat sang ayah berdiri di belakang..
"Ayah liat mobil kamu masih disini makanya masuk dulu untuk memastikan".
"Riyan mana sayang??". Tanya mami Vita menatap sekeliling rumah.
"Mami udah pulang". Ucap Riyan yang menuruni anak tangga menyela ucapan Angga. "Kenapa Lo masih disini??".
"Riyan,,,!!!". Pekik sang mami memandang anak tunggalnya yang selalu bersikap seperti itu kepada Angga.
"Gak apa mi,, Angga udah bisa dan Angga punya kejutan buat mami". Seru Angga membuat mami Vita bingung.
"Maksud kamu apa??".
"Angga cepat lakuin apa yang gue minta". Pekik Riyan menatap Angga dengan tajam.
"Yu yah kita pulang". Ajak Angga pada ayahnya yang hanya diam mematung menatap mereka bingung. Sebelum pergi Angga memeluk mami Vita yang masih bingung akan ucapan yang Angga ucapan tetapi tidak bisa berbuat apa apa karena Angga sudah meninggalkan kediaman Mahendra.
"Yan kamu mau kemana??". Teriak mami Vita melihat anaknya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Iyan akan kebawah pada jam makan malam". Jawab Riyan dengan teriakan.
.
Didalam kamar pribadi Riyan, seorang gadis masih asik dengan mimpi indahnya yang tidak ada niatan untuk bangun.
Tetapi tidak lama kemudian mata cantik itu perlahan dibuka dan memperlihatkan ruangan asing yang tidak pernah ia tempati.
"Gue dimana??". Gumam Misha langsung bangun dan menatap sekeliling ruangan dengan nuansa gelap. Ruangan itu hanya didekorasi warna hitam dan abu abu yang tidak memiliki banyak aksesoris didalamnya.
Saat kebingungan itu muncul tiba tiba pintu terbuka dan keluarlah seorang laki kali yang hanya memakai handuk kimono putih di badannya dengan rambut basah.
"Aaaakhhhhh,,,,".
Cklek....
"Riyan ada apa??". Tanya mami Vita saat mendengar teriakan seseorang saat melewati kamar anaknya.
Seketika mata mami Vita membulat melihat Misha berada di atas tempat tidur Riyan dan Riyan yang hanya memakai handuk kimono.
Sama halnya dengan Misha yang berada diatas tempat tidur hanya diam mematung dan jantung nya berdenyut kencang.
__ADS_1
(" Ada apa ini,, kenapa aku ada diruangan ini bersama Riyan". Batin misha berpikir yang aneh aneh.)
"Riyan,,,!!". Ucap mami Vita pelan.
(" Sial gue lupa nyalain kedap suara". batin Riyan kaget melihat keberadaan maminya.)
"Mami Iyan bisa jelasin". Riyan mendekati sang mami dan memegang tangannya. Sedangkan mami Vita berjalan menuju tempat tidur mendekati Misha.
"Sayang kamu udah pulang dari rumah sakit apa kamu baik baik aja". Ucap mami Vita dengan lembut memegang tangan Misha, lalu mengelus rambut nya dengan lembut.
Sedangkan Misha hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala, sekarang lidahnya sangat kaku untuk dibedakan dan serasa suaranya tiba tiba hilang.
"Mami ada apa??".
Sang papi masuk ke dalam kamar Riyan yang langsung mengerutkan kening saat melihat ada seorang wanita didalamnya dan menatap sang anak dengan banyak pertanyaan bergantian dengan sang istri yang memberi isyarat mata.
"Kamu istirahat aja yang banyak biar cepat sembuh dan riyan cepat pakai baju kamu,, temuin mami papi di ruang kerja sekarang juga". Ucap mami Vita meninggalkan kamar anaknya setelah melihat Misha membaringkan tubuh untuk istirahat.
Misha masih bingung dan perasaannya sangat tidak enak. Banyak pikiran negatif menghantui dirinya walaupun ia percaya bahwa Riyan tidak melakukan apapun terhadap dirinya. Tapi kami ditemukan di ruangan yang sama berdua antara wanita dan pria.
Melihat Riyan yang buru buru berjalan keluar kamar dengan pakaian yang sudah berganti dengan pakaian santai dan rambut yang masih basah membuat Misha tambah gugup. Bahkan Riyan tidak sedikitpun menatap ke arah dirinya yang ada diatas tempat tidur.
........
Tok,,, tok,,,, tok.
"Masuk".
Jawaban dari dalam membuat Riyan masuk ke dalam ruang kerja bokapnya dengan wajah datar.
"Jadi begini mi Pi,, mami tau kan bahwa Misha hari ini keluar dari rumah sakit (sang mami menganggukkan kepala) dan Riyan sama angga mengantar dia pulang ke kontrakan, tetapi saat disana satpam yang menjaga daerah itu memberikan paket atas nama Misha dan yang membuat Riyan kaget bahwa Misha ketakutan seluruh tubuhnya gemetar padahal kotak itu belum dibuka sama sekali". Kata Riyan membuat mami Vita mengerutkan kening.
"Apa reaksinya kaya yang tadi dirumah sakit??".
"Iya sama,, hal itu membuat Riyan penasaran dengan apa yang telah Misha alami sebelumnya, Riyan ingin menanyakan pada teman kontrakannya Misha tapi Riyan gak mau ninggalin dia di sana sendiri,, jadi Riyan bawa ke caffe tempat nya bekerja. Riyan mencari informasi pada semua temannya dan kata temannya malam sebelum Misha sakit ia sempat mendapatkan kotak misterius yang mengakibatkan tubuhnya gemetar dan ketakutan". Lanjut Riyan membuat mami Vita tambah kaget.
"Apa isinya??". Kali ini sang papi yang tanya.
"Beberapa ulat yang dimasukan kedalam toples kaca".
"Mungkin dia takut pada ulat makanya dia kaya gitu". Tebak sang papi.
"Iyan gak tau karena semua temannya juga tidak mengetahui apa-apa". Balas Riyan menggelengkan kepala.
" Terus kenapa Misha ada di kamar kamu?? Padahal kamar dirumah ini banyak yang kosong". Ucap mami Vita penuh selidik.
Mendengar pertanyaan maminya yang mengintimidasi membuat Riyan tersenyum lebar tanpa dosa sambil menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal.
"Riyan,,,,!!". Pekik sang papi.
"Riyan pun tidak tau". Gumam Riyan pelan tapi masih bisa di dengar oleh orang tuanya. "Riyan bersumpah tidak melakukan apapun sama Misha". Lanjut Riyan sambil mengangkat tangannya berbentuk 'v'.
"Kamu yang pindah apa Misha yang pindah kamar". Seru mami Vita memberikan pilihan.
__ADS_1
"Riyan". Tunjuk nya pada diri sendiri.
Setelah perbincangan panjang lebar, Riyan kembali ke kamarnya untuk menemui Misha dan memintanya membawa Misha untuk makan malam bersama.
Ceklek.....
Suara pintu yang terbuka membuat Misha bangun dan menatap Riyan dengan wajah penasaran.
"Mami nyuruh kita turun kebawah buat makan malam". Seru Riyan duduk di tempat tidur yang masih jauh dari Misha.
"Iya tapi aku mau mandi dulu".
Tidak menjawab, Riyan bangkit dan mengambil handuk dan baju ganti miliknya untuk Misha.
"Nih handuk dan baju ganti buat kamu". Riyan memberikan nya kepada Misha tetapi iya langsung menatapnya kembali.
"Bawahannya mana masa ia aku hanya pakai kaos doang".
"Tapi-".
"Apa aja cepetan".
Riyan kembali membuka lemari pakaian nya untuk mencari celana buat Misha tetapi tidak ketemu karena bagian pinggangnya kepastian akan kebesaran.
"Tunggu sebentar aku pinjam punya mami aja". Ucap Riyan meninggalkan kamar.
Lalu kembali dengan membawa celana training berwarna putih untuk dipakai Misha. Dengan cepat Misha mengambilnya dan pergi ke kamar mandi.
15 kemudian Misha keluar dengan wajah yang segar dan rambut digulung asal membuat kecantikan natural nya terpancar keluar. Baju kebesaran yang bagian depannya dimasukan dan bagian belakang nya keluar cocok dengan style tubuhnya. Misha yang memang cocok memakai pakaian apapun dan selalu membuat Riyan tergila gila.
Bahkan sekarang Riyan terus menatap Misha tanpa berkedip sama sekali dan enggan untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sampai dia dikagetkan dengan keberadaan Misha yang sudah ada dihadapannya mengambil ponsel yang tergeletak diatas nakas sebelah tempat tidur bersama paper bag berisi obat dari rumah sakit.
"Yuk sekarang kita turun kebawah". Ajak Riyan bangkit dari duduknya.
"Tapi,,". Ucap Misha ragu.
"Gak papa aku udah jelasin semuanya pada mami papi kok". Jawab Riyan meyakinkan Misha.
Riyan tiba tiba memegang tangan Misha untuk berjalan bersama sama menuju meja makan karena Misha ragu untuk turun.
"Jangan gugup kamu tenang aja".
("Gimana gak gugup gue baru pertama kali datang ke rumah cowok walaupun gak ada hubungan apapun tapi ini pertama kali gue". Batin misha sambil mengerucutkan bibir.)
...-----------------...
Hai reader. . .
Maaf kalau banyak typo dalam setiap tulisan author hanya memakai handphone untuk mengaturnya . . .
Dukung terus author. .
Ingat ini hanya cerita fiksi tidak ada kaitan dengan siapapun. . .
__ADS_1
Dilarang copas dan menjiplak hak cipta orang. . .
Happy reading semua. . . . .