Destiny In My Life

Destiny In My Life
Introspeksi diri


__ADS_3

...**Happy Reading...


...❤️**...


.


Mobil yang misha tumpangi masuk melewati gerbang tinggi memasuki pekarangan rumah kediaman Mahendra.


Saat keluar dari mobil. Misha melihat mobil yang sering Riyan pakai terpalkir di depan rumah. Dia bisa menebak bahwa pemuda itu pulang ke rumahnya setelah 3 hari menghilang.


Tanpa pikir panjang misha melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan membawa paper bag berisi belanjaan miliknya. Untuk Tomi kemungkinan dia akan langsung masuk ke paviliun belakang.


Ceklek


Pintu terbuka dengan perlahan. Pertama yang misha lihat adalah Riyan yang sedang duduk menatap dirinya dengan pakaian yang sangat berantakan.


Saat ini Misha sudah tidak mengenakan topi serta maskernya. Riyan bisa melihat outfit yang gadisnya kenakan.


"Darimana saja kamu??". Tanya Riyan dengan suara tegas dan tatapan tajam.


"Habis jalan keluar". Balas Misha dengan setenang mungkin.


"Dari mana jawab jujur". Riyan berteriak menggema di seluruh ruangan sampai misha terperanjat kaget. "Jawab". Ucapnya lagi tanpa berteriak tapi penuh penekanan.


"Aku abis jalan jalan keluar". Jawabnya lagi tanpa menceritakan semuanya.


Prok,, prok,, prok


"Bagus, berani berbohong kamu. Habis ketemuan dengan pemuda sialan itu ditambah berduaan sama supir baru. Senang bangat ya habis jalan jalan. Bahkan belanjain orang dengan kartu yang gue kasih". Ucap Riyan dengan menohok membuat hati misha sangat sakit.


Senyum miring tercetak di bibir misha bisa dilihat langsung oleh riyan sendiri sambil menatap ke arah lain. Dia gak habis pikir bicara seperti itu dengan apa yang telah misha lihat di ruangannya tadi siang.


"Nanti aku ganti uang yang sudah aku pakai belanja buat kak Tomi, kamu tenang aja gak usah khawatir.. aku capek aku mau istirahat dulu". Ucap Misha masih tenang.


"Kak?? Tch, , ". Gumam Riyan tapi masih terdengar oleh Misha.


Saat beberapa langkah tangan Misha Riyan genggam, dengan cepat Misha melepaskannya dengan kasar.


"Aku genggam tangan kamu nolak secepat itu tapi kalau pemuda sialan itu yang pegang gak ada reaksi sama sekali". Sindir Riyan membuat Misha berbaik ke belakang.


Hatinya sungguh sakit. Kejadian siang berputar di otak Misha sampai dia bertambah kesal dengan sindiran yang tertuju pada dia.


Saat misha berbaik pun tatapannya tertuju pada photo yang Riyan tunjukan saat tangannya dipegang oleh Arthur saat di caffe yang ada di mall tadi siang.


Misha tersenyum lalu memutar bola mata malas dengan apa yang riyan lakukan saat ini. Apalagi kepala misha sudah terasa pusing dan ingin segera istirahat.


Untung orang tua Riyan sedang tidak ada di rumah yang mungkin akan membuat mereka juga ikut campur kalau mereka tahu kejadian yang sedang mereka alami.


"Sebaiknya kamu introspeksi diri sebelum berbicara seperti itu". Ucap misha melangkahkan kakinya lagi tapi bukan menuju ke kamar Riyan melainkan menuju pintu utama. Misha berniat untuk pulang ke apartemen daripada tinggal di kediaman Mahendra.


"Mau kemana kamu, kamu tidak akan bisa keluar dari rumah ini". Teriak Riyan menghentikan langkah kaki Misha kembali.


Hari ini adalah hari dimana Riyan banyak berbicara dengan nada tinggi kepadanya. Kemarin dia tidak akan melakukan itu, kalau sedang marah mungkin Riyan akan mendiamkan misha beberapa saat tanpa meninggalkannya sendiri.

__ADS_1


Emosi misha sudah tidak bisa ditahan lagi. Lalu berbalik menghadap ke arah Riyan dengan mata yang sudah berair menangis.


"Anj*Ng, , ". Teriak Misha melepaskan emosinya sambil melempar paper bag di tangannya ke lantai di hadapan Riyan. Setalah itu Misha berjalan meninggalkan Riyan masuk ke dalam kamar dengan penuh kekecewaan.


Mendengar ucapan kasar yang keluar dari mulut Misha membuat Riyan terdiam ditempat. Dulu Misha juga sering memakai dirinya saat bertengkar tapi ini pertama kali dia mendengar kata itu keluar dari mulutnya langsung.


.


.


.


Semalaman Misha berada di dalam kamar sampai menjalang siang dia tidak berniat untuk keluar. Pintu selalu dia kunci tidak seperti biasanya saat dia ada disana.


Drrrttt, , drrrttt, , drrrttt


Ponsel Misha berdering dan beberapa pesan masuk karena dia gak berniat merespon satu pun yang masuk.


Misha hanya diam di balkon kamar melihat pemandangan kompleks perumahan yang terdapat bangunan bangunan rumah yang sangat megah.


Karena pusing mendengar ponselnya yang tidak mau diam. Misha berjalan masuk ke dalam kamar untuk melihat siapa yang melakukan itu semua.


Saat melihat ada 2 ponsel di atas nakas membuatnya sadar bahwa dia belum mengembalikan ponsel milik Tomi.


"Ini ponsel kak Tomi, kenapa aku lupa buat balikin ini". Gumam misha mengambil ponsel itu berniat untuk mengembalikannya hari itu juga.


Tapi saat ponsel Tomi ditangan Misha tiba tiba banyak pesan yang masuk dan ternyata itu dari beberapa grup yang masuk. Mungkin grup kampus, pikir Misha.


Dia berjalan mencari maid untuk bertanya dan kebetulan saat masuk ke dapur ada salah satu maid yang sedang membuat makanan.


"Bi permisi saya mau tanya??".


"Iya nona, ada yang bisa saya bantu??".


"Saya mau tanya, apa Tomi ada disini??". Tanya misha membuat maid itu kebingungan.


"Maaf nona saya tidak tahu. Nona bisa tanya kepada kepala maid mungkin dia tahu".


"Oh, kalau begitu dimana kepala maid berada??". Tanya Misha lebih lanjut.


"Dia ada di depan nona sedang mengecek sesuatu". Ucap maid itu membuat Misha pergi mencari kepala maid sendiri.


Saat melihat keberadaan kepala maid ia berjalan mendekat dan membuat dia sedikit membungkuk memberi hormat.


"Apa ada yang nona inginkan??". Tanya kepala maid yang melihat Misha mendekat.


"Saya cuma mau nanya, apa Tomi ada di paviliun?? Kalau ada tolong panggil dia buat ketemu saya bi sekarang". Ucap misha dengan sopan.


"Maaf nona, Tomi sedang ada kuliah hari ini. Apa nona ingin pergi ke suatu tempat?? Nanti saya siapkan supir yang lain".


"Ah gak usah Bu, kalau boleh tahu Tomi kuliah di universitas mana??".


"Di universitas xxxx nona".

__ADS_1


"Baiklah terima kasih bi kalau begitu saya permisi dulu".


Misha kembali masuk ke dalam rumah menuju kamar. Saat dia baru masuk terdengar suara ponselnya berdering kembali.


📞+62xxx is calling. . .


Nomer baru tertera di layar ponsel membuat misha ragu akan mengangkat panggilan itu. Tapi saat melihat chat yang masuk mengatakan nomer itu milik Arthur, tanpa pikir panjang dia langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Hello, ada apa?? To the point??". Ucap misha masih jutek terhadap pemuda tersebut. Moodnya memang sudah berantakan dari kemarin.


"Oke, aku hanya mau sampaikan bahwa siang nanti kita akan melakukan konferensi pers untuk mengklarifikasi tentang berita itu. Jadi kamu harus datang". Ucap Arthur panjang kali lebar di sebarang telpon.


"Apa saya harus datang??".


"Harus, jika tidak mungkin mereka tidak akan percaya. Kamu hanya duduk diam biar saya dan pengacara yang akan menjelaskan semuanya".


"Oke nanti saya datang, kirim lokasi nya sekarang". Pinta misha.


"Aku kirim segera, jangan lupa setelah makan siang".


"Hm, saya ingat hanya beberapa jam lagi. Dan saya mau minta tolong boleh??". Tanya misha sedikit ragu.


"Boleh dengan senang hati".


"Kamu tahu rumah kediaman Mahendra??". Tanya Misha yang mungkin membuat Arthur di sebarang telpon kebingungan.


"Tahu".


"Yakin??". Tanyanya lagi karena ragu dengan ucapan Arthur.


"Iya tuh, kediaman Mahendra jarang diketahui orang luar. Aku tahu karena pernah sekali datang ke rumah itu, tuan Rendra sendiri yang mengundang saya". Balas Arthur dengan penuh keyakinan.


Misha ingat bahwa Arthur adalah salah satu kolega bisnis bokapnya Riyan yang pasti ucapannya bisa terjamin benar.


"Ya udah tolong kamu pesankan taksi ke rumah kediaman Mahendra atas nama saya tapi kamu bilangnya Angga yang nyuruh".


"Angga?? Sekertaris Riyan??".


"Iya".


"Why??".


"Udah jangan banyak tanya saya minta tolong itu saja dia ingat taksi oke , TAKSI". Ucap Misha dengan penuh penekanan di kata TAKSI di akhir ucapannya.


"Iya iya taksi".


Pip


Tanpa menggunakan Arthur bicara berkelanjutan, misha mematikan panggilan itu secara sepihak.


Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan bersiap siap untuk pergi ke tempat konferensi pers yang Arthur adakan.


To be continued, , ,

__ADS_1


__ADS_2