Destiny In My Life

Destiny In My Life
Selamat tinggal


__ADS_3

Akibat demam yang tidak kian turun. Penerbangan mereka diundur sampai sore hari. Riyan tidak ingin Misha naik pesawat saat keadaan seperti ini.


Misha juga sudah diperiksa oleh dokter yang Riyan panggil ke apartemen. Kata dokter, Misha hanya harus istirahat dengan baik dan tidak keluar apartemen dulu karena diluar udaranya sangat dingin.


Gadis itu hanya bisa berbaring di atas tempat tidur dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuh, hanya wajah yang terlihat.


"Sayang makan dulu". Ujar Riyan membawa mangkuk yang berisi bubur.


"Gak mau, pahit". Tolak Misha menutup wajahnya dengan selimut.


Sedari pagi misha hanya makan bubur dan lidahnya terasa pahit. Dia gak mau makan karena itu gak enak. Jika dipaksakan malah membuat perutnya mual.


"Sedikit aja, kamu harus minum obat". Bujuk Riyan berusaha membuka selimut yang dipegang Misha.


"Gak mau". Teriak Misha tertahan.


"Biar cepat sembuh, dikit aja".


"Nggak mau makan, gak enak".


"Terus maunya apa?? Sup ya, aku buatin". Ucap Riyan membuat misha mengangguk di dalam selimut. Hanya terlihat dari mata ke atas. Ya udah tunggu sebentar".


Dengan cepat Riyan pergi lagi ke dapur untuk membuatkan sup yang kekasihnya inginkan. Misha memang sangat menyukai masakan Riyan yang terbilang sangat enak seperti di restoran bintang lima. Bahkan masakan Misha yang notabennya perempuan sangat kalah jauh.


Itu mungkin karena saat kuliah dulu, Riyan yang tinggal di London memiliki kepribadian yang sangat mandiri. Jadi dia bisa merawat diri sendiri tanpa merepotkan orang lain.


Sedangkan Misha baru masak benar benar saat tinggal di apartemen. Awalnya Misha sangat tergantung dengan makanan luar atau lebih tepatnya jika lapar dia akan beli di luar, tanpa memasak.


Gak membutuhkan waktu lama Riyan kembali membawa mangkuk yang terlihat sangat panas. Dia bisa mencium wangi masakan yang Riyan bawa.


"Yuk makan, aku siapin".


Sebelum menyodorkan sendok ke dekat mulut Misha, Riyan dengan sangat teliti mengecek sup yang panas agar tidak menyakiti lidah sang kekasih.


Satu demi satu suapan sampai sup yang ada di dalam mangkuk habis tanpa sisa. Riyan tersenyum menatap ke arah Misha. "Tinggal minum obat dan langsung istirahat". Ujar Riyan.


"Kapan kita pulang??". Tanya Misha yang perlahan membaringkan tubuhnya setelah meminum obat.


"Nanti. Kamu cepat istirahat biar cepat sembuh".


Tanpa ada penolakan lagi, Misha menutup matanya untuk istirahat. Kepalanya sedikit pusing tapi dia tidak memberitahu Riyan takutnya akan lebih khawatir.


Melihat kekasihnya sudah tertidur akibat obat yang sudah diminum, Riyan memutuskan untuk mengambil laptop. Sebenarnya banyak pekerjaan yang Angga kirimkan pagi tadi ke email-nya untuk di cek.


Bisa saja dia menyerahkan semuanya kepada Angga tapi Riyan juga ada sisi baiknya. Dia tidak mungkin melakukan itu karena dokumen yang dikerjakan harus selesai beberapa hari lain. Angga juga sudah banyak menghandle pekerjaannya, jadi saat dia bisa kenapa tidak.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Ponsel Riyan berbunyi.


"Hm, ada apa??".


"Kenapa penerbangannya ditunda?? Apa ada masalah?? Jika seperti ini lo gak akan bisa datang tepat waktu di Jakarta". Ujar Angga mengomeli di sebarang telpon.


"Misha sakit makanya gue tunda. Kalau sudah membaik nanti sore/malam kita baru take off".

__ADS_1


"Sakit?? Misha sakit apa??".


"Dia demam".


"Kenapa bisa?? Apa jangan jangan main salju". Tebak Angga yang tahu tentang salju pertama di Osaka.


"Hm, gue mau packing. Bye".


Pip*


Panggilan Riyan matikan. Menutup laptop, lalu pergi untuk membereskan semua barang milik mereka ke koper. Karena Misha demam dia belum sempat packing dan sekarang dikerjakan oleh Riyan.





Beberapa hari terjebak di Osaka, japan karena demam tinggi akhirnya sepasang kekasih itu kembali ke Indonesia.


Tidak terlalu banyak oleh oleh yang dibeli akibat Misha sakit.


Misha sedih tapi apa boleh buat.


Saat ingin melangkah keluar dari pesawat, tiba tiba seseorang bodyguard mendekat.


"Katakan?". Belum memulai bicara, Riyan bertanya lebih dulu.


"Maaf tuan, saya hanya mau menginformasikan jika di bandara sudah terdapat banyak fans nona Misha. Ada seseorang membocorkan kepulangan nona sama tuan". Jelas bodyguard itu.


Namun Misha menghentikannya membuat Riyan menoleh ke belakang dengan alis terangkat.


"Sepertinya hari ini bukan hari yang tepat by". Ucap Misha hati hati agar kekasihnya tidak merasa tersinggung.


"....". Riyan diam tanpa merespon.


"By, ayolah bukan masalah apa gak jujur aku masih ragu". Lanjut Misha.


Go publik tentang hubungan mereka memang baru rencana. Riyan memang sudah yakin, tapi Misha belum.


Terdengar helaan nafas pasrah dari mulut Riyan lalu lengannya terulur mengelus lengan Misha dengan sayang. "Ya sudah, kamu duduk dulu". Pinta Riyan lalu berbincang dengan kepala bodyguard yang bertugas hari ini.


15 menit Misha menunggu sambil bermain ponsel terlihat Riyan yang sudah kembali.


Keputusan akhir adalah dengan mereka masuk ke dalam mobil dari landasan pesawat langsung.


Setelah bodyguard memasukan semua barang ke bagasi, mobil melaju meninggalkan bandara tanpa ada pengawalan.


Saat bersama sang kekasih Riyan selalu memilih untuk mengemudi sendiri tanpa mau ada sopir karena ingin menghabiskan waktu berdua.


Bucin parah.


Gak akan mobil berhenti di depan gedung apartemen tempat Misha tinggal. Tidak ada perdebatan lagi masalah Misha tinggal dimana. Karena gadis itu sudah membuat keputusan jika Riyan melanggar maka pemuda itu harus siapa dengan konsekuensi yang diberikan.


"Langung istirahat, kamu belum cukup istirahat karena ngerawat aku". Ucap Misha tegas.

__ADS_1


"Ck, bukannya ditanya mampir gak? Mau minum gak? Malah ngusir". Gerutu Riyan merajuk.


"Kalau mampir kamu kebablasan, cepat pulang terus istirahat". Misha mendorong tubuh Riyan masuk ke dalam mobil.


Dengan terpaksa Riyan mengikuti apa kemauan gadis kesayangannya duduk di kursi kemudi.


Tidak ada suara yang keluar dari mulut Riyan yang menandakan pemuda itu sedang marah. Namun, saat ingin pergi pemuda itu tak lupa melambaikan tangan untuk pamit.


Melihat itu membuat Misha tersenyum dan membalas lambaian tangan tersebut.


Setelah mobil Riyan menghilang dari pandangan, Misha menyeret dua koper dan tiga paper bag memasuki gedung apartemen.


Paper bag itu berisi makanan dan cemilan untuk Misha yang dibeli saat diperjalanan pulang tadi.


Sesampai di apartemen, Misha langsung bersih bersih dan merapihkan semua barang dari koper ke tempat masing masing.


Lalu malam harinya karena malas memasak Misha memutuskan untuk makan di restoran bawah tanpa takut ada paparazi yang mengikuti karena kawasan itu sangat private.


Sedang asik makan tiba tiba perasaan Misha tidak enak, ia merasa ada yang memperhatikan tapi gadis itu gak tahu karena saat melihat ke sekeliling restoran tidak terlihat ada yang curiga.


"Mungkin cuma perasaan". Gumam Misha melanjutkan makan.


...•••••...


Keesokan harinya Misha bangun lebih awal. Hari ini gadis itu sudah memulai kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.


Untuk jadwal hari ini hanya ada pemotretan yang lokasinya cukup jauh. Ia akan pergi ke puncak cuma ditemani oleh Tomi, supir Misha.


Maya, asisten pribadi nya tidak ikut berangkat bersama karena ada hal penting yang harus diurus dan akan menyusul di siang hari.


Selama perjalanan terlihat seperti biasa tidak ada keganjalan apapun, sampai mobil melewati kawasan perkebunan tiba tiba Misha dikagetkan dengan kemunculan mobil hitam yang melaju dengan ugal ugalan.


"Mas ada apa?". Tanya Misha berusaha agar tidak panik.


"Gak tahu non, tapi mobil itu gak ada niat untuk pergi duluan". Jawab Tomi di bangku kemudi.


Misha sesekali menatap ke arah mobil itu.


Dan tiba tiba.


Brak


Brak


Mobil bagian belakang di tabrak sangat keras. Perasaan Misha bertambah tidak enak apalagi didepan sana terlihat ada turunan.


"Hati hati mas".


Brak


Baru juga berbicara. Mobil kembali ditabrak dari samping membuat si supir susah mengendalikan mobilnya sampai.


Duarrrr!!


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2