
Tidak membutuhkan waktu lama. Mobil Ferrari terpalkir sembarang di depan apartemen yang anaknya tinggali.
"Pak tolong pindahkan mobilnya, saya lagi buru buru". Seru mami Vita kepada sekuriti yang bertugas.
"Baik nyonya".
Berjalan memasuki lift yang ada disana dengan celah menekan tombol untuk menuju lantai 10.
Ting, ,
Pintu lift terbuka. Setelah berada di depan pintu kamar Riyan, mami Vita langsung menekan password yang ia ketahui tapi beberapa kali ternyata salah dan Riyan sudah menggantinya.
Menghiraukan kemarahan sang pemilik kamar, mami Vita terus menekan bel sampai orang yang ada didalam membuka pintu. Ia ingin mengetuk pintu tapi takut mengganggu ketenangan sekitar sana.
Cklek. . .
Gak lama kemudian akhirnya pintu terbuka dengan keras tanpa orang itu mengeluh atau apapun. Riyan yang membuka pintu hanya memasang wajah datar dengan penampilan acak acakan.
Saat tau ulah sang mami, Riyan berjalan kembali ke kamar menghiraukan maminya yang menatap dirinya.
Melihat keadaan anak satu satunya membuat mami Vita yang awalnya emosi menjadi kebingungan menatap semua ruangan yang berantakan bahkan tubuh anaknya pun berantakan.
Berjalan menghampiri Riyan yang kembali berbaring di tempat tidur membuatnya ada sedikit iba tapi ini juga salah anaknya sendiri.
"Kenapa kamu gak kekantor??". Tanya mami Vita duduk di ujung tempat tidur.
"Ada Angga". Kata Angga pelan.
Mau apapun yang Riyan alami, ia akan selalu menjawab pertanyaan yang nyokapnya tanyakan pada dia.
"Terus kamu sedang apa disini??". Tanya mami Vita lagi.
"Mami pasti udah tau semuanya dari Angga".
Pltak..
Pukulan keras mendarat di kepala Riyan tapi tetap dihiraukan oleh orangnya yang masih menyembunyikan wajahnya di atas bantal.
"Bajingan,,!! Mami tidak pernah ajarin kamu untuk jadi pemuda yang pengecut Riyan,, kenapa kamu gak tanyakan langsung malah memikirkan hal yang aneh sendiri". Pekik mami Vita marah.
Riyan mengambil ponselnya yang ada di atas tempat tidur. Lalu menekan panggilan kepada misha dan mengarahkan nya pada sang mami dengan menekan pengeras suara.
Panggilan itu nyambung tetapi tidak pernah Misha angkat sampai beberapa kali malah ditolak. Bahkan ia banyak mengubungi Misha dengan nomer baru tapi tetap gagal.
"Kalau gitu samperin ke kontrakan nya". Seru mami Vita.
"Udah pindah".
"Ya kamu datangin tempat kerjanya Riyan". Ucap mami Vita mulai emosi kembali.
Riyan tidak kembali menjawab hanya ada isak tangis yang terdengar.
"Terserah kamu,, mau sampai mati pun kamu disini Misha gak akan kembali lagi sama kamu,, jangan minta bantuan mami sedikitpun". Pekik mami Vita meninggalkan kamar Riyan.
Brak, , ,
Pintu yang tidak bersalah pun menjadi korban kekesalan mami Vita.
__ADS_1
*****
" Sha kamu baik baik aja??". Tanya Raffa yang datang ke dapur.
"Ah~ aku baik baik aja bang". Balas Misha dengan kaget.
Seminggu ini Misha yang ceria pun hilang menjadi Misha yang pendiam. Semua teman temannya menyerah, berbagai cara mereka kerahkan tapi tetap gagal.
"Tapi dari wajah kamu sedang ada masalah".
"Aku baik baik aja bang suer..". Ucap Misha meyakinkan sambil mengangkat tangan nya dengan berbentuk dua jari ke hadapan Raffa.
Raffa yang tidak bisa banyak memberikan pertanyaan pada Misha memutuskan untuk meninggalkan nya sendiri karena pesanan di caffe sangat banyak apalagi saat caffe membuka pesanan online.
Pukul 16.00 saat Misha menuruni tangga. Tasya tiba tiba mendekati nya dengan cepat membuat Misha kebingungan.
"Sha ada yang nyariin lo". Seru Tasya berbisik di telinga.
"Siapa??". Tanya Misha heran.
"Gak tau". Tasya menggelengkan kepalanya dengan wajah cengo.
Mau tidak mau membuat Misha memencet hidungnya dengan gemes tanpa ekspresi apapun yang ditunjukan. Sedangkan Tasya hanya bisa mengerucutkan bibirnya sebal dan tidak lupa dengan mulut komat kamit.
Misha berjalan ke arah meja yang diduduki wanita paruh baya yang sangat cantik tersenyum manis padanya. Dia tidak harus menanyakan kembali pada Tasya karena saat menatap seluruh caffe ia sudah melihat Tante Vita yang duduk sendiei.
"Sore tante". Sapa Misha sopan mencium tangan nyokapnya Riyan.
"Sore sayang.. ". Balas mami Vita mengelus kepala Misha dengan lembut.
"Tante belum pesan apapun??".Tanya misha melihat meja yang kosong.
"Mami udah pesan,, tapi kok kamu manggil mami Tante". Seru mami Vita dengan wajah dibuat sedih.
"Eh maaf Misha lupa". Seru Misha merasa bersalah memegang tangan mami Vita dengan erat. " Maafkan Misha mi".
"Tak apa,, mami paham". Lanjut mami Vita tersenyum manis. " Oh ya mami bawa hadiah buat kamu". Mami Vita memberikan beberapa paper bag yang ia bawa.
Hal itu membuat Misha berusaha menolaknya karena tidak enak. Bukan hanya 1 melainkan 4 paper bag yang diserahkan.
"No jangan nolak". Kata mami Vita saat menerima penolakan dari Misha.
"Mami jangan gitu,, Misha gak bisa menerima semua itu". Keluh Misha dengan wajah melas.
Saat melihat paper bag yang dipegang nyokap nya Riyan sudah bisa ditebak oleh Misha. 3 diantaranya adalah barang merk terkenal. Walaupun Misha tidak mempunyai nya tapi ia tahu. Tidak mungkin seorang mami Vita memakai paper bag mahal itu yang isinya berbeda.
"Misha nolak ini,, mami sedih loh". Kata mami Vita membuat wajah sedih kembali bahkan menundukkan kepala.
Melihat kesedihan di wajah nya membuat Misha mau tidak mau menerima hadiah itu. " Baiklah misha terima tapi gak bisa semua, satu aja". Seru Misha lembut.
"Harus semua sayang.. nanti papi marah loh sama kamu".
"Papi,,!!". Ucap Misha bingung.
"Iya sayang,, ini hadiah buat kamu dari papi bukan dari mami semua, papi siapin buat kamu karena dia sangat menyukai kamu.. ya walaupun papi Rendra tidak banyak bicara sama kamu tapi dia sangat menyayangi kamu". Kata mami Vita tersenyum.
"Bahkan Riyan anaknya sendiri tidak dibelikan oleh oleh saat pulang". Lanjutnya.
__ADS_1
Mami Vita menyerahkan semuanya kehadapan misha dengan senang. Ia terus membujuk agar diterima semua hadiah yang telah mereka beli.
"Terima kasih mi". Misha memeluk mami Vita dengan erat.
"Apa mungkin ini buat Riyan". Seru Misha melepaskan pelukan itu.
"Ish,, kamu jangan ngaco deh masa Riyan memakai barang barang wanita". Seru mami Vita mencubit pipi gemes misha. "kamu cek sendiri kalau tidak percaya.
Saat mengecek semua barang yang ada didalam peper bag, tanpa sepengetahuan Misha ternyata mami Vita mengambil Photonya secara diam diam dan mengirimkannya kepada seseorang.
Sampai gak lama kemudian saat mereka berdua sedang asik berbincang bincang. Tiba tiba seseorang masuk dengan menampilkan yang membuat Misha diam tanpa kata.
"Mami kenapa ada disini??". Kata Riyan yang baru memasuki caffe dengan pakaian yang sama saat ditemui di apartemen tadi.
"Astaghfirullah Riyan". Kaget mami Vita menatap sang anak.
Dia mengirim photo itu padanya agar datang tapi gak datang seperti ini juga. Saat ini mami Vita hanya bisa menepuk jidatnya pasrah. Tidak hanya itu, semua pelanggan yang ada di sana menatap ke arah meja mereka.
"Mami kenapa disini??". Tanya Riyan lagi.
"Ya terserah mami lah,, ini urusan mami bukan urusan kamu". Ucap mami Vita sinis.
"Tap-".
"Sha kita pergi aja dari sini yuk". Ajak mami Vita membuat ucapan Riyan terpotong.
"Aku lagi kerja mi". Ucap Misha cepat.
Tanpa menjawab ucapan Misha, mami Vita malah berjalan ke arah Raffa yang ada di mesin kasir.
Dari kejauhan Misha mendengar bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu yang membuat Misha penasaran. Bukan hanya itu Raffa terlihat tersenyum dan menganggukkan kepala dengan ramah.
"Ayok,, pemilik caffe sudah mengizinkan dan besok juga kamu libur kerja". Seru mami Vita yang sudah ada dihadapan Misha.
Tidak ada alasan lain, Misha berjalan ke arah ruangan istirahat untuk mengambil tas dan menyimpan celemek yang ia pakai.
Riyan terus berbicara kepada sang mami tapi terus diacuhkan sampai Misha kembali dengan siap untuk pergi kemanapun mami Vita bawa.
Melihat misha yang sudah siap, mami Vita memegang tangan Misha dan mengambil paper bag yang ada diatas meja keluar dari caffe.
Supir yang menunggu diluar langsung membuat pintu mobil untuk majikannya. Mami Vita terus menghiraukan Riyan yang terus mengikutinya di belakang, sedangkan Misha hanya bisa nurut dengan wajah kebingungan.
Tuk, , tuk, , tuk.
"Mami,, buka pintunya,, mami mau bawa Misha kemana?? Mami,.,.".
Riyan terus mengetuk pintu mobil membuat sang supir bingung harus gimana.
"Pak jalan". Perintah mami Vita.
"Tapi tuan muda-".
"Biarin,, cepat jalan".
...---------...
...Happy Reading.,...
__ADS_1