
Pukul 8 mereka baru sampai di Monas yang sangat padat oleh pengunjung. Bahkan jalanan pun sangat macet parah.
Di dalam grup Misha meminta semua orang untuk ketemu di pintu masuk barat untuk mempermudah semua orang. Yang sampai terakhir Misha sama Yuda yang memang saat di jalan mereka berhenti untuk membeli cemilan terlebih dahulu.
"Lo kemana aja sih lama banget". Keluh Azis berdiri diantara Misha dan Yuda.
Hanya menunjukan barang bawaannya itu sudah mewakili jawaban mereka semua yang langsung diangguki bersamaan.
Melihat suasana disana yang sangat padat membuat Misha tambah bad mood, saat dijalan pun ia terus membujuk Yuda untuk putar balik tapi dengan alasan teman temannya yang lain sudah sampai akhirnya Misha hanya bisa ikut.
Berjalan memasuki area Monas dengan sedikit berdesakan membuat Zee memegang tangan Laura dengan erat yang memimpin jalan.
"Kalau gini gue nyesel ikut kesini". Gumam Misha di sebelah telinga Laura.
Laura yang bingung hanya menatap kebelakang tanpa bicara apapun menaikan alisnya ke atas.
Akhirnya kami berenam memutuskan untuk duduk di rumput sambil makan cemilan yang dia beli tadi seperti orang orang.
Tidak ada hiburan panggung hanya ada tempat photo yang penuh dengan pengunjung. Bahkan untuk berphoto pun pasti tidak akan bisa.
Pltak,,,,,,
Pukulan tiba tiba mendarat di kepala Tasya yang membuat orangnya meringis kesakitan.
"Sekarang lo mau apa,, sana photo sendiri". Kata Azis dengan keras menyalahkan Tasya yang ingin pergi ke sini.
Tasya yang merasa bersalah hanya diam mengerucutkan bibirnya melihat temannya satu persatu. "Sorry". Ucap Tasya pelan.
Menatap sekeliling dengan wajah datar sambil memakan cemilan. Saling bercanda tidak ada gunanya saat sedang bad mood dan susah untuk diajak kompromi.
Misha yang duduk di paling ujung hanya memainkan ponsel tanpa mau merespon candaan apapun. Sampai seseorang menghampiri nya secara tiba tiba.
"Hai,,,". Sapa seseorang.
Tanpa membalas sapaan hanya menatap orang itu dengan senyuman canggung.
"Kenapa kaya lagi ada masalah??".
"Ah,,!! Nggak". Misha menjawab dengan seadanya sebab teman rombongan cowok itu menatapnya dengan senyum senyum.
"Oh ya kenalin gue Riki". Orang yang bernama Riki menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Misha". Balas Misha menjabat tangan cowok itu.
"Nama yang bagus". Kata cowok itu yang hanya dibalas senyuman oleh Misha.
Agar tidak canggung ia memperkenalkan Riki juga kepada temannya yang lain membuat mereka kebingungan dan melihat Misha dengan penuh pertanyaan.
"Dia siapa??". Bisik Laura di samping telinga Misha yang membuatnya langsung menatap ke arah suara dan menjawab dengan gelengan kepala.
Uhuk,,,uhuk,,,uhuk.
Nana yang melihat interaksi Misha dan Laura tiba tiba tersedak cemilan yang sedang ia makan membuat semua orang tertawa.
"Sialan,,!!bukannya nolongin malah ketawain". Keluh Nana setelah selesai minum, lalu memegang dadanya untuk menetralkan nafas.
Misha mengacungkan jempol dihadapannya dengan wajah meledek membuatnya tambah kesal dan ingin memukulnya tetapi langsung dicegah oleh Yuda.
"Jangan jadi pahlawan lo". Tunjuk nana pada Yuda yang tidak dibalas apapun.
__ADS_1
Riki yang bergabung disana hanya bisa melihat mereka dan berasa diacuhkan, alhasil ia berpamitan untuk kembali ke rombongan semula yang tidak jauh.
"Jangan terlalu cuek baby nanti susah dapet cowok". Kata tasya dengan mencolek dagu Misha.
"Sya,,!!!". Ucap Misha dengan nada ditekan.
Melihat tatapan Misha yang tidak bersahabat membuatnya mengangkat kedua tangannya ke atas sambil tersenyum manis.
Memalingkan wajahnya kekanan dan langsung bertepatan dengan wajah nana yang sedang memakan cemilan sambil menatapnya dengan intens.
"Sialan,,,!! Jangan tatap gue seperti itu nanti lo suka sama gue". Seru Misha bergidik ngeri mengucapkan kata kata itu.
"Sayang aku udah tergila gila sama kamu". Nana mendekat ingin memeluk Misha dengan wajah yang dibuat buat.
Misha menghindar kebelakang sampai ingin jatuh tapi Nana tetap menggoda nya tanpa henti mendekatinya ingin memeluk dengan kata kata yang jijik menurut Misha.
"Ah,, sialan nana,, ihh jijik gue,,Nana". Misha mengeluh dengan menutupi seharusnya wajahnya dengan tangan.
"Nana,,,!!!". (Pltak). Seru Yuda memukul kepala Nana dengan cemilan agar menjauh dari Misha.
Duduk seperti awal dan mengangkat sudut bibirnya dengan menatap ke arah pelaku yang memasang wajah datar. " Iya iya gue cuman main main". Gerutu nana memakan kenali cemilan.
"Emang bangxxx lo gue jadi merinding d-".
"Misha". Seru semua orang bersamaan.
Mendengar itu, misha menatap semua teman temannya dengan nyengir tanpa dosa melihat tatapan semua orang terutama Yuda.
Misha satu satunya orang yang selalu dimarahin jika berkata kasar, disengaja atau tidak. Mereka hanya mau dia berbicara baik seperti pertama ketemu yang pemalu tapi sekarang ternyata malu maluin.
..
Walaupun kian bertambah malam tidak membuat orang orang yang ada disana berkurang seperti awal. Para pengunjung masih memenuhi area Monas hanya untuk berphoto saja.
Jalan dengan bergandengan tangan kebelakang untuk menuju palkiran melewati padatnya orang disana.
Memegang tangan Tasya yang berjalan dibelakangnya dengan erat dan tiba tiba ia tidak sengaja menginjak botol minuman yang mengenai celana.
"Oi,,,!!! Basah semua kan". Gumam Misha menatap ke bawah mengibaskan celana yang ia pakai.
Pegangan tangan itu ternyata tidak sengaja ia lepas yang membuat misha hanya menatap ke depan dengan bingung.
Suasana yang gelap tidak memungkinkannya melihat temannya didepan dan tubuhnya yang kecil tidak bisa melihatnya yang terhalang tubuh orang orang yang tinggi darinya.
Menatap ke sekeliling mencari tetapi sia sia. "Gue ketinggalan". Gumamnya menunjuk diri sendiri.
"Aish,,,,!!". Keluh Misha menginjakan kakinya yang sebal.
Duduk di tepi agar tidak menghalangi orang orang, lalu mengambil ponsel untuk mengubungi Laura.
Beberapa panggilan tidak dijawab sama siapapun yang membuatnya menghela nafas berat.
Dia lupa tempat tempat palkir mereka saat masuk. Walaupun bukan pertama kali kesana tetapi gerbang masuknya yang berbeda membuatnya bingung. Hanya bisa diam menunggu temannya memberi jawaban.
Misha Laurensia
Baru saja
Benar benar harus yang sial.
__ADS_1
83 Suka 17 komentar
[Nana] : hahahahahahaha
[Tasya] : Lo dimana?? Kenapa lepasin tangan gue??.
[Misha Laurensia] : teman durhaka lo pada, @Yuda cepat jemput gue.
Bukannya menjawab panggilan atau chat yang dikirimnya, mereka malah meledek di status yang ia update di Facebook.
RRRRRRRRRRRRRR.
Panggilan masuk dari Yuda yang langsung tertera dilayar ponsel yang dipegang.
["Sha, lo dimana sekarang??"].
"Gue gak tau". Balasnya menatap ke sekeliling.
["Beri petunjuk nanti gue kesana".]
"Gue lagi duduk di bangku dekat pohon yang diatasnya ada bendera".
[.....].
"Hello da lo denger gue kan,, da kok diem aja sih".
"Sha,,,!!!". Gumam seseorang disampingnya yang membuatnya kaget dan nafas orang itu berderu cepat.
"Akhirnya lo datang juga". Seru Misha memeluk tangan Yuda. "Ah lo lari lari kesini". Lanjut Misha melihat Yuda dari cahaya ponsel.
Jika mereka berada dibawah cahaya mungkin wajah Yuda akan terlihat oleh Misha yang akan membuatnya sedikit malu.
"Ayo,, yang lain nunggu dipalkiran". Yuda menggandeng tangan Misha dengan erat agar tidak ketinggalan lagi.
Sesampainya di tempat teman temannya nunggu bukannya khawatir mereka malah mentertawakan Misha yang seperti anak kecil tertinggal dari ibunya saat jalan jalan.
"Hahahaha sha Lo ada ada aja sih pake segala ketinggalan". Seru Laura dengan tawanya.
"Tadinya gue mau umumin anak hilang ke penjaga sini". Sambung nana dengan wajah meledek.
"Aish,,, da yuk pulang". Ajak Misha menarik tangan Yuda menuju motor meninggalkan semua temannya yang terus meledek.
("Benar benar hari yang sial". Batin misha menggerutu tanpa henti).
...------------------...
Hai reader. . .
Maaf kalau banyak typo dalam setiap tulisan author hanya memakai handphone untuk mengaturnya . . .
Dukung terus author. .
Ingat ini hanya cerita fiksi tidak ada kaitan dengan siapapun. . .
Dilarang copas dan menjiplak hak cipta orang. . .
__ADS_1
Happy reading semua. . . . .