Destiny In My Life

Destiny In My Life
Mode manja


__ADS_3

Perjalanan dari kantor menuju apartemen hanya menempuh beberapa menit saja.


Saat Misha ingin turun dari mobil tiba tiba kepalanya tambah pusing dan hampir jatuh. Untung saja saat itu ada Riyan yang langsung menangkap tubuhnya dengan cepat.


Riyan ingin menggendong Misha masuk tapi ditolak dengan alasan tidak enak dilihat banyak orang. Akhirnya Riyan hanya menggandeng Misha memasuki apartemen dengan hati hati.


Sampai di kamar, Misha langsung direbahkan di tempat tidur yang berukuran queen size.


"Kamu istirahat sebentar aku buatin bubur sebelum kamu minum obat". Ucap Riyan setelah membaringkan misha.


"Aku gak pengen bubur". Ucap Misha pelan.


"Tapi kamu harus makan sesuatu sebelum minum obat".


"Roti aja. Ada di lemari penyimpanan disamping kulkas". Ucap Misha dengan mata tertutup.


Riyan langsung pergi mengambil roti dan obat untuk misha. Awalnya Riyan ingin memanggil dokter pribadinya tapi dicegah oleh Misha karena hanya pusing biasa dan setelah istirahat pun dia akan baikan lagi.


Setelah meminum obat misha langsung istirahat tanpa mandi terlebih dahulu. Hanya mengganti pakaian nya dengan piyama tidur. Itupun sambil rebahan karena kepalanya sangat sakit.


Riyan yang ditinggal tidur oleh Misha yang sedang sakit langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan.


Tentu saja dia akan menginap disana. Dia gak tega jika harus meninggalkan Misha sendirian di apartemen.


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka dengan Riyan yang sudah memakai kaos dan celana selutut.


Dia gak akan pusing dengan pakaian atau barang barangnya karena semuanya sudah ada disana tanpa ada yang kurang sedikitpun.


Riyan pergi ke dapur untuk membuat makanan. Ia akan membuat sup ayam dan makan malam untuk dirinya sendiri. Sedangkan untuk sup ayam untuk misha nanti saat sudah bangun.


Hari ini Riyan makan malam sendiri tanpa Misha. Ia melakukan itu tidak membuatnya kesusahan karena sudah biasa mandiri saat di London dulu waktu kuliah.


Riyan dan Angga yang tinggal satu apartemen selalu melakukan apapun sendiri. Kadang saling bergantian juga.


Drrrttt


Drrrttt


Drrrttt


Ponsel Riyan berbingi berkali kali saat dirinya kembali masuk ke dalam kamar.


Dengan cepat Riyan mengambil itu. Lalu melihat nama sang mami dilayar handphone. Mungkin obat yang Misha minum mengandung obat tidur yang membuat tidurnya sama sekali tidak terganggu.


"Hello mi ada apa??". Ucap Riyan pelan.


["Kamu dari mana aja?? Mami telpon kamu dan Misha berkali kali gak ada yang jawab". ]


"....". Riyan hanya diam menjauh dari Misha yang sedang istirahat di tempat tidur.


["Terus kenapa kamu bicaranya bisik bisik kaya gitu?? Kamu lagi dimana??". Lanjut mami Vita. ]


"Iyan lagi di apartemen Misha. Handphone Iyan dikamar makanya gak diangkat". Seru Riyan berjalan ke balkon kamar.


Kalau Riyan terus bicara disana kemungkinan tidur Misha akan terganggu.


"Ada apa mami telpon Riyan berkali kali??".


["Mami mau ajak kamu dan Misha untuk jalan jalan ke Korea kebetulan mami ada kerjaan disana. Kemungkinan dari sini mami papi akan langsung ke Korea.. gimana mau ya ya ya plis". Ucap mami Vita dengan nada memohon. ]


"Riyan gak tahu emangnya Misha mau lagian dia sangat menolak apapun karena memikirkan pekerjaan di kantor".


["Itu jadi urusan kamu pokonya Misha harus mau liburan ke sana. Lagian Misha kan sangat suka negara sakura itu, masa iya kamu gak mau wujudkan impian dia sih,, pacar macam apa kamu". Ucap mami Vita dengan meledek anaknya. ]


"Iya iya nanti Iyan usahain tapi gak janji.. udah Iyan tutup telponnya mau istirahat".


["Iya sayang good night". ]


"Night to".


Pip, , ,


Panggilan dimatikan oleh sang mami. Riyan tidak langsung masuk, ia melihat pemandangan malam kota Jakarta dari ketinggian. Bangunan yang menyala dan langit dihiasi dengan beberapa bintang.


Setelah puas Riyan ingin masuk ke dalam tapi dia dikagetkan dengan keberadaan Misha yang tiba tiba sudah bangun berjalan keluar menuju balkon.


"Sayang sudah bangun??". Ucap Riyan lalu berlari ke dalam kamar mengambil selimut tebal. Ia memakaikannya ke tubuh Misha agar tidak terkana angin malam.

__ADS_1


"Hm, kepala aku udah gak pusing lagi kok kamu jangan khawatir". Ucap Misha duduk di sopa dengan merebahkan tubuhnya di sandaran sopa.


"Kamu mau makan?? Aku udah buatin sup ayam buat kamu."


"Boleh". Riyan langsung pergi mengambil makanan untuk Misha. Tapi sebelumnya Riyan menghangatkannya terlebih dahulu sebelum diberikan kepada Misha.


Gak lama kemudian Riyan datang dengan membawa nampan yang berisi makanan untuk Misha gak lupa juga obat agar kekasihnya cepat sembuh.


"Aku suapin". Ujar Riyan yang diangguki oleh Misha.


Dengan telaten Riyan terus menyuapi misha sampai makanan itu habis. Sedari tadi Misha hanya mengapa ke arah langit tanpa menatap ke arah orang yang sedang menyuapi nya makanan.


Lama kelamaan Riyan menjadi kesal karena merasa teracuhkan. "Sayang apa kamu lebih memilih melihat bintang itu daripada aku". Ucap Riyan cemburu tidak jelas.


Mendengar itu Misha menatap Riyan dengan kaget. Masa dia cemburu dengan langit, pikir Misha.


Saat ini bahkan wajah Riyan seperti anak kecil yang senang ngambek. Hal itu membuat Misha tersenyum dan mencubit kedua pipi Riyan dengan gemes.


Melihat Misha yang tersenyum. Riyan pun ikut tersenyum. Saat ini dia sangat bahagia bisa dekat sama kenal dengan Misha yang selalu membawa dia kebahagiaan dan keceriaan.


Sebelum bertemu Misha Riyan hanya disibukan dengan bekerja, bekerja dan bekerja tanpa lupa hidup normal seperti yang lain. Bahkan Riyan bisa dihitung dengan jari saat dia tersenyum.


Tapi sekarang. Riyan bisa tersenyum setiap hari dan bisa ketawa dengan lepas bersama Misha. Lelahnya akan langsung hilang saat dia bertemu dengan Misha. Seperti Misha adalah tempatnya untuk pulang.


Tanpa angin tanpa hujan, Riyan langsung memeluk Misha dengan erat tanpa bicara apapun. Misha yang mendapatkan pelukan yang tiba tiba hanya bisa membalasnya tanpa berbicara sepatah katapun.


Sampai lama kelamaan Riyan ikut merebahkan tubuhnya di samping misha yang berbaring di sopa panjang tanpa melepaskan pelukan itu.


Misha mengelus punggung Riyan dengan perlahan sampai terdengar suara halus. Riyan sudah tertidur di pelukan misha.


Misha yang habis minum obat pun mulai bereaksi. Matanya mulai berat dan memutuskan untuk tidur dengan posisi seperti itu.


Saat Riyan sedang manja seperti itu, Misha akan membiarkannya. Dia paham apa yang Riyan alami setiap hari dan Misha senang jika dirinya yang membuat Riyan nyaman untuk menjadi sandarannya saat lelah. Itu berarti riyan sangat percaya kepada dirinya lebih dari siapapun.


"Ntah apa yang aku rasakan. Yang penting aku gak mau kehilangan kamu.. good night sweet dreams sayang". Ucap Misha pelan. Lalu mencium kepala Riyan karena wajahnya disembunyikan di leher Misha.


Mata misha perlahan tertutup dan masuk ke alam mimpi menyusul sang kekasih yang sudah tidur duluan.


.......


.......


.......


.......


.......


Wajah Misha yang terasa dingin mulai mengganggu tidurnya yang lelap. Pertama kali matanya dibuka Misha melihat langit yang masih gelap. Misha yang lupa bahwa mereka tertidur di balkon sedikit tersentak tapi lama kelamaan Misha sadar.


"Dari semalam berarti aku sama Riyan tidur di sini". Gumam Misha menatap Riyan yang masih tidur dengan posisi yang sama.


Kedua kaki Riyan yang ada di atas kaki kanan Misha membuat kakinya tidak biasa digerakkan. Mau tidak mau Misha harus membangunkan Riyan untuk pindah ke kamar. Apalagi wajah Misha sudah sangat dingin.


"Yan bangun,, Riyan". Ucap Misha terus membangunkan Riyan.


Akan tetapi Riyan tidak kunjung bangun sampai Misha sedikit kesal.


"Yan ih bangun, kaki aku sakit,, Riyan, , ". Misha terus menggoyangkan tubuh Riyan sampai orangnya bangun.


"Apa sayang??". Ucap Riyan dengan suara serak.


"Pindah ke kamar. Disini dingin".


Perlahan Riyan bangun dan duduk dengan mata masih tertutup. Dia tidak langsung berdiri karena harus mengumpulkan nyawa terlebih dahulu daripada berjalan kepastian akan nabrak kemana mana.


"Ayo". Ucap Riyan bangun lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Misha.


"Gendong.. kaki aku gak bisa digerakkan gara gara kaki kamu". Ucap Misha merentangkan kedua tangannya minta digendong.


Riyan yang paham langsung menggendong Misha ala bridal style masuk ke dalam kamar. Lalu Misha dibaringkan di tempat tidur.


"Mau kemana??". Tanya Misha melihat Riyan yang berjalan ke arah sopa.


"Lanjut tidur".


"Sini". Ucap Misha merentang kan tangan agar Riyan masuk ke dalam pelukannya.


Tanpa basa basi Riyan naik ke atas tempat tidur masuk ke dalam pelukan Misha seperti tadi. Tapi kali ini kaki misha yang dinaikan ke atas kaki Riyan agar tidak kesakitan lagi.

__ADS_1


Baru beberapa detik Misha langsung mendengar suara nafas teratur dari Riyan. Kepastian Riyan yang kelelahan sudah kembali masuk ke alam mimpi.


Misha hanya tersenyum dengan kelakuan Riyan saat ini. Dia melihat jam menunjukan pukul 3 dini hari. Perlahan Misha tertidur kembali masuk ke alam mimpi.


Kring, , , kring, , , kring.


Alarm di ponsel Misha berbunyi. Misha langsung bangun tapi kasur disampingnya kosong tidak menemukan keberadaan Riyan.


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan wajah Riyan yang hanya memakai handuk yang melingkar di pinggang.


Misha yang melihat itu langsung menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya karena wajahnya kepastian sudah memerah.


"Riyan pakai baju". Teriak Misha dari dalam selimut.


"Maaf sayang kirain kamu belum bangun".


Mendengar suara pintu ditutup kembali membuat Misha menurunkan selimut itu untuk mengecek keberadaan Riyan dan seperti dugaannya bahwa Riyan sudah kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Misha bangun lalu berjalan ke arah balkon yang terbuka lebar. Mungkin semalam saat mereka masuk, riyan lupa untuk menutup pintu kembali dan Misha melihat di meja yang ada di balkon masih ada beberapa barang yang mereka pakai semalam. Seperti bekas makan dan ponsel Riyan pun ada diatas meja itu.


Hari ini hari Sabtu, Misha tidak ada niatan lembur. Ia memilih untuk tetap berada di apartemen tanpa ada niatan pergi keluar. Hari ini Misha cukup malas untuk jalan jalan, jari ia memutuskan akan menonton sendiri tanpa ada yang mengganggu.


"Sayang". Teriak Riyan dari dalam kamar. Sementara Misha sudah keluar dan sedang mencuci piring kotor di wastafel.


Mungkin itu berkas Riyan masak semalam dan tak langsung di bersihkan. Jadi pagi ini cucian piring lumayan banyak.


"Di dapur". Teriak Misha tanpa ada niatan untuk menghampiri Riyan.


"Kamu lihat dasi aku yang warna biru gak?".


"Coba cari di laci tengah atas".


"Gak ada aku udah cari dari tadi gak ketemu".


"Ck,, kebiasaan". Gumam Misha mencuci tangan. Lalu pergi menemui Riyan yang ada dikamar.


Tapi saat Misha sampai, dia langsung diam mematung saat melihat dasi yang Riyan cari sudah ada ditangannya sendiri.


"Pasangin". Seru Riyan nyengir tanpa dosa memberikan dasinya kepada Misha.


"Tangan aku basah, kamu pakai sendiri". Ucap Misha kesal. Dia ingin pergi meninggalkan kamar tapi dengan cepat dihentikan oleh Riyan.


"Plis". Ucap Riyan dengan puppy eyes.


"Tangan aku basah nanti dasinya ikut basah. Jangan manja deh". Ucap Misha membuat Riyan tambah mengerucutkan bibirnya bahkan matanya sampai berkaca kaca.


Hufhh,,,, Misha hanya bisa mengambil nafas pasrah dengan Riyan ketika mode manja. Dengan cepat Misha mengambil tisu yang ada diatas meja rias lalu mengelap tangannya yang sedikit basah sampai kering. Lalu dengan telaten memakaikan dari di leher Riyan dengan Riyan yang sedikit menundukkan kepala.


"Aku belum bikin sarapan, aku kira kamu gak bakal masuk kantor". Ucap Misha menatap ke arah Riyan.


"Gak papa aku sarapan dikantor aja, kamu istirahat jangan pergi kemana mana".


"Iya, tapi janji sarapan awas kalau nggak". Ucap Misha dengan tatapan tajam.


"Oke sayang,, much". Ucap Riyan sambil memberikan kecupan udara.


Tapi setelah itu Riyan mengecup kepala Misha dengan sayang sebelum berangkat.


Kalau gak ada meeting penting, bisa di tebak bahwa Riyan tidak akan meninggalkan Misha sendirian di apartemen.


.


.


.


Sepeninggalan Riyan berangkat ke kantor. Misha kembali ke dapur menyelesaikan cuci piring yang belum beres. Lalu akan dilanjut dengan memberikan seluruh apartemen mumpung tidak kerja dan tidak pergi kemana mana.


Untuk makanan Misha memesan dari restoran bawah. Setelah beres-beres iya sangat malas untuk memasak. Bahkan setelah semuanya selesai Misha makan cemilan untuk mengganjal perut sebelum makanan yang dipesan datang.


Ting,,!!!


Suara pesan masuk ke ponsel Misha. Dengan cepat dia buka dan ternyata dari Riyan. Dia hanya menanyakan sedang apa serta pamit untuk meeting.


Ntah kenapa Riyan yang seperti ini membuatnya bingung karena saat dia mau melakukan apapun, Riyan selalu chat kepada Misha hanya untuk memberitahukan aktivitas dia sehari hari.


...----------------...

__ADS_1


...TBC...


...Happy Reading,,,,, Babay!!!!!...


__ADS_2