
Mobil Ferrari memasuki pekarangan rumah yang sudah pernah Misha datangi sebelumnya. Mobil itu berhenti di depan pintu masuk, lalu 2 wanita cantik berbeda usia keluar bersamaan dari dalam mobil dengan dibukakan pintu oleh bodyguard yang berjaga disana.
Misha turun dari mobil sudah dibuat heran karena ada beberapa bodyguard yang menjaga. dia tau dari cerita Riyan bahwa rumah itu tidak pernah ada orang selain atas suruhan keluarga Mahendra langsung. Mereka semua akan datang jika diperlukan atau atas perintah bos mereka.
Gak lama kemudian mobil yang Misha kenali datang. Si pengemudi dengan cepat berjalan ke arah sang mami untuk berbicara.
"Mami -".
"Gak ada,, mami gak mau dengar apapun". Potong mami Vita berjalan menjauhinya tapi tetap saja Riyan terus membujuk.
Misha yang melihat itu hanya bisa diam tanpa ingin ikut campur walaupun ia sangat penasaran. Dalam posisi seperti ini misha sangat bingung. Ia tidak tahu permasalahan nya apa.
"Jangan biarkan dia masuk apapun alasannya". Perintah mami Vita kepada para bodyguard.
"Mami aku ingin bicara sama Misha..". Teriak Riyan dari belakang.
Misha dibawa masuk tanpa diizinkan untuk berbicara dengan anaknya padahal banyak pertanyaan yang ingin Misha ajukan saat ini. Beberapa kali ia menatap ke belakang melihat Riyan yang ditahan oleh para bodyguard agar tidak masuk.
"Udah jangan dipikirin". Seru mami Vita mengelus tangan Misha untuk menenangkan.
"Tapi -".
"Dia gak bakal kenapa napa percaya sama mami.. ini hanya hukuman kecil buat dia". Potong mami Vita dengan tersenyum.
Memasuki ruang keluarga terdapat pria paruh baya yang sedang fokus pada layar laptop.
"Papi udah pulang". Seru mami Vita berjalan mendekati suaminya.
"Sudah dari tadi". Jawab papi Rendra lalu menatap ke arah Misha yang masih berdiri tidak jauh.
"Sore sha,, gimana kabar kamu??". Tanya papi Rendra dengan ramah.
"Baik Pi,, papi sendiri??". Ucap Misha mengatupkan tangan memberi salam.
"Papi baik,, oh ya apa kamu suka oleh oleh yang papi bawa??".
"Misha suka,, makasih banyak Pi tapi Misha harap papi jangan repot repot buat beliin ini semua". Seru Misha tidak enak.
"Misha jangan bilang gitu.. mami papi sudah anggap kamu sebagai anak sendiri. Apalagi kami tidak punya anak perempuan". Kata mami Vita mengelus tangan Misha.
"Riyan kenapa teriak teriak??". Tanya papi Rendra mendengar suara anaknya.
"Biarin aja itu hukuman buat dia". Papi Rendra mengerut kan kening kebingungan karena ia sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi.
"Mi,, Misha mau temuin Riyan sebentar". Pinta misha.
"Udah gak usah mending kamu bersih bersih dan nanti turun ke bawah untuk makan malam bersama". Ucap mami Vita lembut.
"Gak usah bingung kamu masih tahu kan kamar Riyan dimana??". Lanjut mami Vita saat melihat keraguan dimata misha.
Dengan seketika Misha baru sadar bahwa saat dikediaman Mahendra. Riyan tidak mengizinkan Misha untuk tidur di kamar lain. Bahkan semua kebutuhan nya sudah tercampur dengan milik Riyan dikamar nya.
Misha hanya bisa menuruti semua kemauan Riyan asal ia tidak tidur di kamar yang sama. Saat misha dirumah Riyan akan tidur di kamar lain. Walaupun mereka ada di kamar yang sama, Riyan tidak pernah berbuat macam macam.
__ADS_1
"Kalau begitu Misha keatas dulu untuk bersih bersih". Pamit Misha yang langsung disetujui oleh keduanya.
Berjalan menaiki anak tangga tanpa tahu membawa paper bag pemberian mami Vita tadi. Misha tahu dimana letak kamar Riyan. Lalu masuk dengan segera. Saat ini ia sangat gerah dan hanya ingin segera mandi.
Saat didalam kamar, misha langsung mencium parfum yang selalu dikenakan Riyan. Menghirup perlahan sambil memejamkan mata, aroma ini menyejukan hati Misha dan ia sangat menyukainya.
Tidak mau berlama lama Misha berjalan memasuki kamar mandi karena sudah masuk waktu shalat magrib.
Karena gerah membuat misha mencuci rambutnya yang hitam lebat dengan sampo yang Riyan sediakan untuk nya dulu.
Disisi lain Misha sangat heran kenapa Riyan melakukan ini padahal mereka tidak ada hubungan apapun bahkan berteman juga tidak tapi sekarang keluarga Riyan sangat baik padanya.
Misha yang memang tidak pernah bisa percaya sama semua orang yang mendekatinya selalu berpikiran negatif tapi Misha bisa bersikap baik pada semua orang yang baik padanya. Jika orang itu jahat Misha hanya bisa perlahan menjauhi tanpa harus membalas.
Sedari dulu Misha banyak teman yang tidak tahu akan ketulusannya. Ia selalu bersikap Hambal tak heran bila Zee banyak disukai sama banyak orang apalagi laki laki.
Misha tidak bisa sembarangan membuka hatinya untuk lelaki disekitarnya. Maka dari itu banyak teman cowok yang selalu mengajak Misha pacaran tapi tidak pernah mau Misha anggap serius. Misha tidak mau sembarang mencoba takut nanti keterusan.
Tok tok tok.
Saat mengaji sehabis shalat magrib Misha dihentikan dengan ketukan pintu. Ia perlahan berjalan membuka pintu untuk mencari tahu siapa yang datang.
Cklek.
Pintu terbuka perlahan dengan wanita paruh baya yang masih cantik berdiri dengan senyum mengembang. Saat ini Misha masih menggunakan mukena.
"Mami cuma mau ajak kamu makan malam bersama,, kalau sudah selesai bisa turun kebawah". Kata mami Vita dengan lembut.
'ia mi nanti Misha kebawah'. Jawab Misha.
Semua rumah dibackup olehnya kecuali bersih bersih.
Saat di meja makan hanya ada mami papinya Riyan, Ia tidak melihat Riyan disana.
"Yuk sayang duduk".
Misha ragu dan ingin bertanya tapi aku takut. Melihat wajah Misha yang gelisah membuat mami Vita heran.
"Kamu kenapa sha??". Tanya mami Vita.
Misha yang kaget membuatnya menatap mami Vita dengan cepat. Melihat wajah lucu misha membuatnya tidak bisa menahan tawa.
"Ada yang ingin kamu tanyakan??". Tanya papi Rendra yang tahu apa isi pikirannya.
"Hm,,". Misha menatap mereka bergantian. Keraguan menyelimutinya membuat suaranya susah untuk keluar.
"Sha". Suara mami Vita dengan temanan membuat Misha mau tidak mau memberanikan diri.
"Kenapa Riyan tidak ikut makan??ada dia sudah pergi??". Tanya Misha yang keluar dari mulutnya.
Mami Vita tersenyum memandang Misha dengan pertanyaan yang keluar.
iPad yang ada di atas meja makan diserahkan kehadapan misha dengan berisi rekaman cctv yang ada didepan rumah.
__ADS_1
Misha melihat Riyan masih terduduk di lantai depan rumah masih dengan pakaian tadi sore. Melihat itu masih menatap mami Vita kembali.
("Kenapa dia masih disana?? Dan kenapa mami tidak membiarkan dia masuk". Batin misha.)
"Apa boleh Misha menemui Riyan sebentar??". Pinta Misha dengan takut.
Mami Vita menganggukkan kepala dengan pertanda iya. Lalu Misha berjalan keluar untuk menemui Riyan setelah meletakan iPad di atas meja.
Setelah membuat pintu misha langsung melihat Riyan yang duduk membelakangi pintu dan 2 bodyguard di kanan kiri pintu masuk.
Mendengar pintu dibuka membuat Riyan menatap ke belakang. Melihat ada Misha yang berdiri disana membuatnya bangkit untuk membawa Misha pergi.
Tangan Misha dipegang Riyan dengan erat membuat orangnya tersentak kaget. Para bodyguard juga ingin segera memisahkan mereka tapi terhenti dengan teriakan seseorang dari dalam.
"Berhenti,,".
Suara itu membuat Misha dan Riyan menatap ke arah belakang. Disana mami Vita datang dengan wajah tegas bukan seperti saat bicara dengan Misha di meja makan.
"Mau dibawa kemana??". Tanya mami Vita yang sudah ada diantara mereka.
"Riyan mau bawa Misha pulang". Seru Riyan.
"Misha tinggal disini".
"Riyan ingin bicara sama Misha mami jangan halangi Misha". Kata Riyan yang mulai kelihatan frustasi.
"Tinggal bicara".
"Face to face".
Riyan tidak bisa bicara saat ada maminya karena pasti akan ikut campur dan kata katanya akan terus terpotong tanpa bisa menjelaskan sampai tuntas.
Misha yang ada disana hanya bisa diam. Ia bingung harus berbuat apa karena memang dia tidak mengerti dan hanya tahu bahwa dirinya terlibat.
"Mami biarkan Misha bicara sama Riyan dulu". Sahut Misha yang sedari tadi diam.
"Boleh tapi setelah makan malam.. yuk masuk mami sudah izinkan kamu ketemu Riyan kan". Seru mami Vita mengajak Misha masuk melepaskan pegangan tangan Riyan.
"Riyan??". Tanya Misha heran.
"Biarkan dia disini dan jangan biarkan dia masuk kedalam". Seru mami Vita kepada para bodyguard.
"Baik nyonya".
"Ya udah Misha gak mau makan misha ingin bicara sekarang aja mami bisa makan duluan aja". Tolak Misha.
"Misha percaya sama mami.. ayok masuk". Bujuk mami Vita.
"Ya udah kamu masuk aja.. nanti kita bicara setelah makan malam aku bisa nunggu disini". Sambung Riyan.
Misha mengerutkan kening mendengar ucapan Riyan dan terus membujuk mami Vita untuk membiarkan Riyan masuk.
("Bukannya dia anaknya kenapa gak diizinkan masuk". Batin misha.)
__ADS_1
...---------...
...Happy Reading., ...