
"nih buat kamu dari mami". Ucap Angga.
"mami,,,,,!!!". Pekik Riyan kaget mendengar kata mami dari ucapan Angga. Setau dia Angga menyebut mami hanya pada mami Vita yaitu mami Riyan sendiri.
"Iya mami, kenapa Lo kaget kaya gitu". Angga putra pura haran dengan ekspresi yang ditunjukan Riyan. Padahal ini adalah rencana dia agar Riyan bisa cepat mengungkapkan perasaan nya kepada misha sebelum terlambat.
"Mami Vita??". Seru Riyan memastikan.
"Terus siapa lagi kalau bukan mami Vita bego".
Misha yang mendengar perdebatan itu hanya diam tanpa menyela. "Ga tolong sampaikan ucapan terima kasih aku kepada mami kamu ya". Seru Misha dengan lembut.
"Mami dia". Tunjuk Riyan pada wajah Angga." Itu mami gue".
"Hah!!".
Walaupun orang tua dia menganggap Angga sebagai anak mereka tetapi saat Angga mengklaim maminya sebagai mami dia, Riyan akan menyangkalnya dengan cepat seperti saat ini.
Wajah bingung misha membuat kedua laki laki itu menatapnya dengan senyuman. Dengan cepat Misha pun menetralkan dirinya dan memasang wajah biasa.
Angga tersenyum kepada Misha sebelum menjawab. "Iya diam mami anak rese ini". Kata Angga menunjuk wajah Riyan.
Riyan yang kesal ingin memukul kepala Angga tetapi malah menyenggol minuman mereka yang ada di atas meja. Hal itu membuat Angga kaget dan langsung berdiri menghindari tumpahan minuman ke baju yang dia kenakan.
Tetapi hal buruk menimpa mereka, saat Angga berdiri dia tidak sengaja menyenggol laptop yang ada dihadapannya sampai jatuh ke lantai.
Prak,,,,,,
Suara benda jatuh bergema di seluruh caffe yang membuat mata semua orang tertuju pada meja mereka.
"Ah sial,,,!!!". Angga mengambil laptop yang jatuh, lalu mengecek keadaan laptop itu berharap tidak ada yang rusak sama sekali.
Sedangkan Riyan membereskan semua dokumen yang ada diatas meja agar tidak basah dengan dibantu oleh Misha dsn meletakkannya di atas meja sebelah.
Angga terus mencoba menekan tombol tetapi laptop itu ternyata mati tidak bisa lagi dinyalakan. "semua dokumen yang baru saja gue Kerja kan belum gue simpan". Keluh Angga terus mencoba.
"Tinggal Lo buat lagi susah amat gue bawa iPad di dalam tas". Seru Riyan.
"Lo yang ngerjain semuanya dan jam makan siang harus sudah selesai,,, karena hari ini gue ada pertemuan dengan klien". Seru Angga melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Gue juga banyak kerjaan". Tolak Riyan.
" Lo harus tanggung jawab Lo yang buat semuanya kacau... Gue gak mandang Lo bos tapi ini menyangkut dengan tanggung jawab". Kata Angga yang membuat dia diam.
Setelah berbicara Angga menatap ke arah Misha yang sedang membereskan meja tadi bersama tasya.
"Sha,,!!!'. Panggil Angga yang membuat orang nya mendekat. "bisa minta tolong??".
"Mau minta tolong apa?? Kalau saya bisa bantu, Misha bantuiin". Jawab Misha membuat Angga tersenyum.
Itulah Misha jika mereka sedang menjadi pelanggan nada bicara yang dilakukan Misha akan sopan tapi jika tidak dia akan berubah 180°°. Untuk Angga seorang, Sedangkan untuk Riyan akan sama.
"Kamu bisa bantuin saya buat ketik dokumen ini semua ke dalam berkas memakai iPad ini". Pinta Angga menunjuk pada iPad yang baru dia ambil di dalam tas Riyan.
__ADS_1
"Plis ya sha soalnya ini harus selesai pada jam makan siang nanti". Lanjut Angga saat melihat wajah Misha yang bingung.
"Hanya ketik???".
"Hanya ketik,,". Angga mengulangi ucapan Misha untuk meyakinkan dia.
"Misha bisa tapi menggunakan iPad Misha tidak yakin dengan dokumen yang banyak ini bisa selesai dengan waktu yang cepat". Balas Misha ragu saat melihat jam tangan nya yang hanya diberi waktu 2 jam untuk dokumen yang tertumpuk di atas meja. Apalagi dengan Misha yang tidak pernah mengetik laporan menggunakannya iPad/tab.
"Kenapa??".
"Saat sekolah Misha hanya memakai komputer untuk mengerjakan laporan dan kepastian Misha akan lambat dengan mengetik pakai ipad". Jawab Misha apa adanya.
"Lo pakai laptop gue dan kalau Lo bisa selesaikan semuanya tempat waktu gue bayar".
Misha melihat wajah Riyan yang seperti meremehkan dirinya yang membuatnya mengerutkan kening saat melihat Riyan menyodorkan laptop dihadapan Misha.
Tanpa basa basi duduk berhadapan dengan Riyan setelah melihat sekeliling caffe yang sedikit pelanggan. Bahkan saat melihat ke arah Tasya, dia mengamggukan kepala mendukungnya.
"Baiklah karena ada Misha gue pergi dulu dan maaf atas kekacauan tadi". Ucap Angga melihat Tasya dan Misha bergantian.
Mengambil kunci yang ada dihadapan Riyan tanpa mengucapkan apapun, lalu pergi meninggalkan caffe dengan lambaian tangan dan tatapan kepada Riyan yang memberi simbol sesuatu.
Saat melihat ke layar laptop Misha melihat laporan yang sepertinya sedang dikerjakan oleh Riyan. "Ngerjainnya disini??". Tanya Misha menatap Riyan.
"Gue gak yakin Lo biasa setelah mendengar ucapan itu".
Tanpa menjawab ucapan riyan, Misha membalikan laptopnya ke hadapan dia." Kalau gue salah,, gue juga yang dimarahin sama lo". Seru Misha kesal.
Mendengar ucapan itu Riyan langsung mengklik sesuatu dan kembali menggeser kan laptop nya ke arah Misha.
Melihat misha yang fokus akan dokumen dan laptop dihadapannya membuat Riyan menatap dengan heran apalagi melihat jari jarinya yang cepat menekan keyboard laptop sebagai orang yang jarang bekerja di bidang itu.
Walaupun di caffe misha juga memegang komputer terapi itu tidak membuat Misha akan mengetik dengan kecepatan itu. Apalagi saat melihat wajah Misha yang sedang serius membuat Riyan seperti terhipnotis.
Beberapa saat kemudian Misha yang sedang mengerjakan dokumen memakai tabel tapi ia ingat untuk mempercepat kerjanya ia biasa memakai rumus. Tetapi dia lupa akan rumus itu. Saat menatap ke arah Riyan yang ada didepannya Misha sungkan untuk bertanya.
(" Gimana ya.. kalau manual akan lama tapi gue lupa rumusnya apa".)
Didalam pikiran Misha begitu berbelit memikirkan rumus itu dan gak lama kemudian ia ingat bahwa dia memiliki beberapa file dipinsel nya.
(" Gue harap file itu masih ada".)
Misha terus mencari file yang ia butuhkan dengan mengobrak Abrik isi berkas didalam ponsel miliknya. Sampai sampai Riyan yang melihat itu hanya menatap bingung tanpa bertanya.
"Ini dia,,!!". Seru misha tiba tiba.
"Ada apa??".
Mendengar ucapan Riyan membuat misha menatapnya cengo tanpa sadar memasang wajah gemas untuk orang yang melihatnya.
("Ah sial kenapa dia arus memasang wajah seperti itu". Batin Riyan.)
"Ah gak papa". Seru Misha kembali melanjutkan kegiatan nya mengacuhkan ucapan Riyan yang akan berujung dengan perdebatan.
__ADS_1
Mood Misha kali ini tidak ingin rusak, jika itu terjadi konsentrasi nya akan buyar dan kerjaan itu tidak akan beres.
.
"Akhirnya.....". Ucap Misha merentangkan tangannya yang sangat kaku.
"Selesai??". Ucap seseorang yang membuat Misha kaget. Dan ternyata itu adalah Angga yang sudah kembali.
"Astaghfirullah,, Angga kapan kamu datang??". Kata misha kaget.
"Beberapa menit yang lalu", ucap Angga sambil tertawa. "Saking fokusnya Lo sampai gak sadar aku datang.. kalau Lo tiba tiba dibius dari belakang udah pasti dapet".
"Gue-".
Ucapan Misha terpotong saat menatap ke arah lain dan malah menangkap tatapan mata Riyan yang sedang menatapnya dengan tatapan lembut.
Seperti terhipnotis misha terus menatap riyan tanpa memperdulikan Angga disampingnya sama halnya dengan Riyan yang terus menatap mata Misha tanpa mau mengalihkan nya sedetikpun.
"Ekhm .... Berada obat nyamuk nih". Seru Angga meminum minuman Riyan begitu saja membuat Misha dan Riyan gelagapan.
"Hm... Coba lo cek takut ada yang salah". Ucap Misha gugup menyerahkan laptop kehadapan Angga.
Dengan cepat Angga mengecek semua pekerjaan Misha dengan teliti.
"Wah.. kerjaan kamu beres juga dan memakai rumus". Puji Angga menatap Misha sambil tersenyum membuat Riyan menatapnya kembali.
"Iya masih menyimpan beberapa file di ponsel makanya aku pakai rumus itu".
"Buat apa kamu menyimpan file file itu". Heran Angga.
"Saat sekolah aku pusing mengingat semua rumus yang guru kasih makanya aku rangkum di ponsel aku untuk belajar... Ya walaupun sebenarnya aku malas sih mengingatnya". Kata misha membuat mereka berdua tambah penasaran.
"Kamu lulusan apa kalau boleh tau??". Tanya Riyan.
"Lulusan SMK jurusan multimedia". Balas Misha.
"Pantesan cara kamu mengetik bisa dibilang cukup cepat bagi pemula". Lanjut Riyan membuat Angga kaget.
"Benarkah". Riyan menganggukkan kepala pertanda iya.
"Ya udah kalau gitu gue ke belakang dulu". Pamit Misha saat melihat Azis yang membawa makan siang untuk mereka.
Sebenernya saat itu Misha sangat lapar dan tidak bisa ditahan lagi karena saking fokusnya dengan pekerjaan yang Angga kasih.
...-----------------...
Hai reader. . .
Maaf kalau banyak typo dalam setiap tulisan author hanya memakai handphone untuk mengaturnya . . .
Dukung terus author. .
Ingat ini hanya cerita fiksi tidak ada kaitan dengan siapapun. . .
__ADS_1
Dilarang copas dan menjiplak hak cipta orang. . .
Happy reading semua. . . . .