Destiny In My Life

Destiny In My Life
Sakit


__ADS_3

Tengah malam tiba, jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari.


Misha terbangun dengan kepalanya yang sangat berat. Perutnya sangat lapar tapi dia tidak bisa bangun sama sekali.


"Kepala gue pusing banget". Rintih Misha memegang kepalanya bersandar di sandaran tempat tidur.


Jika dia tidak lapar, dia akan memilih untuk melanjutkan tidurnya tapi gimana lagi dia sungguh kelaparan saat ini.


Dengan bertumpu tembok, Misha berjalan perlahan menuju dapur. Dia membuka lemari es mencari makanan yang bisa langsung dimakan. Tentu saja dia tidak mungkin untuk membuat makanan disaat kepalanya pusing seperti ini.


Di dalam lemari es hanya ada kue dan salad buah. Misha mengambil kue itu lalu duduk di kursi yang ada di dapur. Dia hanya ingin mengganjal perutnya sampai pagi.


Dengan mata tertutup dan kepala pusing, Misha memakan kue itu dengan cepat. Tak lupa juga dia meminum obat lagi agar pusingnya cepat reda.


Setelah selesai, misha kembali ke kamar untuk beristirahat. Dan tiba tiba. . .


Bug, ,


"Aw, , , ". Misha menabrak tembok dengan keras. "Akh sial,, kepala gue pusing pake acara nabrak segara". Keluh misha kesakitan.


Ingin sekali misha berteriak sekeras kerasnya tapi tenaganya sudah sangat terkuras dengan berjalan dari dapur ke kamar juga.


Tanpa menyikat gigi atau apapun itu, Misha berjalan ke tempat tidur langsung tidur kembali.


******


RRRRRRRRRRRRRR


. . . .


RRRRRRRRRRRRRR


Tidak tahu berapa panggilan yang masuk sedari tadi tapi tidak membangunkan Misha sama sekali.


Kepala Misha sangat berat, saat membuka mata ruangan itu seperti berputar dan ditambah lagi dengan suhu tubuhnya yang naik.


Semalam dia hanya merasakan sakit kepala tapi sekarang malah ditambah dengan demam.


Dengan sekuat tenaga Misha membuka mata berniat untuk menghubungi Elma. Dia ingin memberitahu Elma bahwa hari ini dia tidak masuk berkerja.


Mencari nama Elma tanpa ingin tahu siapa yang tadi menelpon berulang kali. Dia hanya ingin tujuannya selesai dan kembali tertidur.


"Hello mba??". Sapa misha dengan suara lirih.


["Hello nona,, nona tidak masuk hari ini??". Tanya Elma langsung. Karena saat ini jam sudah menunjukan pukul 9 pagi.


"Iya mba, saya telpon hanya ingin memberitahu bahwa saya tidak masuk".


["Iya nona". ]


Pip, , !!!


Setelah panggilan dimatikan misha kembali membaringkan tubuhnya dengan menyelimuti seluruh tubuh nya sampai ke leher.


Ting tong ting tong


Baru juga ingin tidur, suara Bel berbunyi tapi Misha tidak ada niatan untuk membukanya. Dia sungguh gak kuat untuk bangun apalagi berjalan menuju pintu.


Bisa bisa baru sampai pintu kamar dia sudah jatuh begitu saja.


Tapi.


Bel itu terus saja dibunyikan. Sampai akhirnya Misha bangun dan berusaha berjalan untuk membuka pintu.


Walaupun dengan kesusahan dan bertumpu pada setiap barang yang dia lewati akhirnya sampai juga di pintu masuk.


Cklek, ,

__ADS_1


Pintu terbuka dengan perlahan. Misha hanya membuka pintu nya sedikit untuk melihat siapa yang datang.


"Angga". Gumam Misha lirih.


"Sha, Lo kenapa?? Muka Lo pucat". Angga langsung panik melihat wajah Misha yang sangat pucat. "Lo demam". Seru Angga setelah memegang kening misha.


Dengan cepat Angga menggandeng misha masuk ke dalam kamar dan merebahkannya perlahan.


"Ck, pantesan Lo gak bisa dihubungi dari pagi, Lo juga gak ada di kantor". Celoteh Angga membenarkan selimut yang menutupi misha.


"Lo panas bangat, udah minum obat??". Tanya Angga langsung diberi gelengan kepala.


Dia memang belum minum obat pagi ini.


Angga mengambil kunci akses kamar misha. Lalu berjalan dengan cepat menuju restoran bawah untuk membeli bubur dan pergi ke apotek.


Gak lama Angga kenali ke apartemen dengan barang yang dibeli. Dengan telaten Angga menyuapi Misha bubur dan meminumkan obatnya.


"Lo istirahat biar cepat sembuh".


********


Sedangkan di rumah kediaman Mahendra, mami Vita kebingungan dengan anaknya yang tidak kunjung turun. Padahal ini sudah menunjukan pukul 9 pagi.


Saat ini mami Vita memang berangkat siang ke kantornya karena ada janji diluar.


Tok


Tok


Tok


Cklek , , " eh gak dikunci". Gumam mami Vita saat membuka pintu kamar anaknya.


Pertama yang dilihat adalah pecahan kaca dilantai. Lalu melihat ke arah tempat tidur. Terlihat Riyan masih tertidur dengan pakaian semalam.


Mami Vita terus membangunkan Riyan tapi orangnya malah meletakan bantalnya di kepala nya untuk menutupi telinganya akibat teriakan sang mami.


"Riyan, , , ".


"Mami, Riyan males Riyan ingin tidur".


"Ck anak malas kamu,, cepat bangun, seenggaknya mandi sana kamu bau". Mami Vita terus mengganggu tidurnya Riyan sampai orangnya kesal.


"Iya,, mami keluar dulu". Ucap Riyan sudah duduk di atas tempat tidur.


"Hari ini mami mau ajak misha pergi. Jadi kamu jangan ganggu". Tunjuk mami Vita.


"Terserah mami".


Riyan pergi ke kamar mandi membuat sang mami kebingungan. Dari raut wajahnya Riyan seperti tidak baik baik saja apalagi setelah mendengar nama misha.


"Apa dia marah karena ngajak Misha pergi". Gumam mami Vita. Dia menghubungi calon mantu kesayangannya dengan cepat sambil mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.


["Hello mami ada apa??". Setelah sekian lama panggilan berdering akhirnya panggilan itu diangkat tapi yang membuat mami Vita kaget kenapa Angga yang mengangkat panggilan itu padahal ini nomer Misha. ]


"Angga?? Kamu ada di ruangan misha saat ini??". Tanya mami Vita heran.


["Nggak mi, Angga di apartemen misha". ]


"Apartemen misha". Ucap mami Vita kaget dengan menatap Riyan yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan kimono.


"Ngapain kamu ada di apartemen misha ga, bukannya kalian harusnya di kantor ya??".


Ucapan mami Vita membuat Riyan bingung.


("Angga di apartemen misha?? Ngapain dia disana??". Batin Riyan. )

__ADS_1


["Iya mi, tadi Angga cari misha di kantor tapi gak ada jadi Angga datang ke apartemen. Tapi pas datang ternyata misha sedang sakit". ]


"Apa?? Misha sakit".


Riyan yang mendengar kekasihnya sakit langsung berlari mengambil kunci mobil di atas meja. Untungnya dia sudah memakai pakaian saat mendengar itu.


"Ga kamu jaga Misha kalau nggak bawa dia ke rumah sakit. Mami ingin kesana tapi mami ada acara diluar yang gak bisa di tinggalkan".


["Gak papa mi Angga bakal jaga misha kok". ]


"Baiklah mami tutup".


Pip, , , !!!!!


*******


Riyan yang ada di perjalanan menuju apartemen misha sangat kacau. Bahkan tlaksinnya sedari tadi dia bunyikan agar pengendara yang lain bisa sedikit menjauh. Untungnya jalanan sedikit longgar yang memudahkannya sampai ke tujuan dengan cepat.


Mobil Lamborghini Aventador dipalkiran sembarangan di depan gedung apartemen. Riyan memberikan kunci mobil kepada penjaga lalu berlari memasuki lift.


Sampai di lantai kamar misha. Dia langsung masuk karena dia tahu password apartemen kekasihnya. Password itu hanya diketahui dia dan misha saja.


Melihat kedatangan Riyan membuat Angga kebingungan. Padahal sedari pagi dia juga tidak bisa menghubungi bos atau sahabatnya itu.


Riyan duduk di samping tempat lalu mengecek keadaan misha. Tubuhnya sangat panas. Di keningnya juga terdapat koolfever yang mungkin dipasangkan oleh Angga.


"Lo kekantor aja, Misha biar gue urus". Ucap Riyan tanpa mengalihkan pandangannya dari sang kekasih.


Angga yang paham langsung pergi meninggalkan apartemen misha untuk kembali ke kantor.


Kembali ke Riyan. Dia beranjak menuju dapur untuk mengambil mangkuk yang diisi air untuk membilas tubuh kekasihnya. Tak lupa juga mengambil handuk kecil di lemari penyimpanan.


Tubuh misha saat ini sangat dipenuhi oleh teringat. Saat membuka selimutnya misha hanya menggunakan piyama dress tapi untung aja didalamnya Misha memakai tank top hitam.


Riyan membuka pakaian Misha dengan telaten sedangkan selimutnya masih menutupi bagian pinggang kebawah. Dia tahu pasti saat ini misha masih menggunakan celana pendek tapi ia tidak mungkin membuka semua selimut dari tubuhnya.


Tangannya terus menyapu tubuh Misha dengan handuk kecil. Tak lupa juga Riyan mengambil piyama lain di dalam lemari. Dia memakaikan nya dengan cepat. Sedangkan untuk celananya dia memakai kan tanpa membuka selimut itu.


Tidak mungkin kan Riyan mengambil kesempatan dalam kesempitan disaat kekasihnya ini sedang sakit.


Setelah beres semuanya. Riyan menyimpan mangkuk itu ke dapur. Lalu dia berniat untuk membuat bubur buat Misha nanti saat bangun.


Saat kembali ke kamar, Riyan melihat Misha sedang duduk bersandar di tempat tidur.


"Riyan". Gumam Misha saat melihat siapa yang masuk. Dia hanya tahu bahwa sebelum tidur tadi hanya ada Angga bukan Riyan.


"Kenapa bangun??". Tanya Riyan dengan berhadapan sama Misha.


"Aku hanya habis minum". Ucap Misha pelan.


"Sekarang kamu tidur ya. Apa kepalanya pusing??". Riyan mengelus kepala Misha dengan lembut. Lalu misha mengangguk. "Ya udah tidur dan nanti bangun untuk minum obat lagi".


"Temenin".


Riyan merebahkan tubuh misha lalu naik ke tempat tidur ikut berbaring di tempat tidur.


Dengan cepat Misha masuk ke dekapan kekasihnya lalu mendusel duselkan wajahnya di dada bidang Riyan.


Nafas hangat Misha terasa padahal dia memakai kaos. Mungkin karena pengaruh suhu tubuhnya yang sangat panas itu.


Riyan mengelus kepala misha sampai anaknya tertidur di pelukan sang kekasih. Dia juga ikut memejamkan matanya masuk ke alam mimpi bersama .


...----------...


...TBC....


...HAPPY READING.,...

__ADS_1


__ADS_2