
Beberapa jam tertidur lelap Misha akhirnya terbangun. Kepalanya sudah mulai mendingan tapi tubuhnya sangat susah digerakkan.
Pertama membuka mata Misha langsung mendapati seseorang yang memeluk pinggangnya. Bahkan dia juga berada di dada orang itu susah bergerak.
Misha langsung menengadahkan kepalanya melihat siapa yang dia peluk.
"Riyan". Gumam Misha kaget dengan suara pelan.
"Egh, , ".
Mata Riyan terbuka langsung menatap misha yang sedang menatap dirinya juga. Riyan langsung tersenyum lalu mengecek keadaan kekasih nya.
"Demam kamu sudah turun, apa kepalanya masih pusing?". Tanya Riyan dengan lembut.
"Masih sedikit pusing". Lirih misha.
"Sekarang sudah jam makan siang, kamu makan lalu minum obat". Ucap Riyan melepaskan pelukan itu. "Aku ambil makanan dulu".
Misha hanya diam di tempat tidur. Sedangkan Riyan keluar dari kamar untuk mengambil makanan untuk kekasihnya yang sedang sakit.
Ceklek
Pintu terbuka menampilkan Riyan yang membawa nampan berisi bubur dan segelas air mineral.
"Makan dulu aku suapin".
Misha hanya pasrah membuka mulutnya menerima suapan dari Riyan sampai bubur itu habis. Lalu Riyan menyerahkan obat yang langsung diminum.
"Sekarang kamu istirahat lagi biar cepat sembuh".
Misha menggeleng dengan cepat. "Aku udah banyak tidur, badan aku pegel pegel". Katanya menatap Riyan.
"Ya udah kamu maunya gimana??".
"Aku ingin duduk di balkon aja".
"Gak baik duduk disana anginnya sangat besar nanti kamu tambah sakit". Tolak Riyan.
"Tapi -".
"Kita duduk di sopa ruang tamu aja sekalian nonton film gimana??". Usul Riyan.
"Boleh deh lagian aku juga bosen dikamar".
Riyan membawa Misha berjalan menuju sopa yang ada di ruang keluarga. Dia mencarikan film yang Misha sebutkan.
Lama fokus ke layar televisi ternyata kekasihnya sudah tertidur di sampingnya dengan bersandar di pundaknya dengan pulas. Mungkin karena efek obat yang dia minum tadi membuat Misha tertidur kembali.
********
Pukul 6 PM Misha terbangun. Saat ini dia berada dikamar sendirian. Untuk Riyan dia tidak tahu sedang kemana.
Misha memutuskan untuk mandi karena tubuhnya sangat lengket oleh keringat. Dari kemarin juga dia belum mandi.
Cklek
Misha keluar dari kamar mandi sudah mengenakan handuk kimono menandakan selesai mandi yang membuat Riyan kaget.
"Sayang kamu mandi??". Tanya Riyan panik mendekat ke arah Misha. Lalu mengecek kondisi Misha.
"Ck, Riyan kamu ngapain pegang pegang aku". Pekik Misha kesal.
"Eh maaf sayang aku gak tahu. Aku cuma cek kondisi kamu aja".
"Udah ah sana keluar". Usir Misha kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai rapih berpakaian misha keluar dari kamar untuk melihat Riyan. Dia tidak tahu Riyan masih ada apa pergi ke apartemen dia.
Tapi saat melihat ke arah dapur, ia melihat Riyan sedang memasak disana. Ntah makanan apa yang dia masak.
"Kamu masak apa??". Tanya misha berdiri di samping Riyan.
"Aku mau bikin sup ayam buat kamu".
"Aku bantu".
"Gak usah kamu tunggu di sopa aja". Tolak Riyan yang masih asik mencuci sayuran.
"Biar cepat aku bantu". Kekeh Misha.
"Ya udah kamu potong potong sayurannya ya". Riyan memberikan sayuran yang sudah dicuci tadi.
Misha langsung memotong sayuran itu dengan hati hati. Sedangkan Riyan melakukan hal lain.
Setalah sup ayam matang Riyan menyajikannya di mangkuk. Lalu membawanya ke hadapan Misha yang duduk di kursi yang ada di dapur. Mereka makan malam berdua disana dengan tenang tanpa ada yang berbicara atau bertanya.
Selesai makan mereka mencuci piring bersama karena Misha kekeh ingin membantu. Tapi bukannya cepat selesai malah membuat kegiatan itu semakin lama.
Riyan terus saja menjahili Misha dengan air yang terus di cipratkan ke wajahnya dan terus bertingkah yang membuat Misha kesal.
Ting
__ADS_1
Tong
Ting
Tong
"Yan buka pintu sana??". Pinta Misha dengan terus mendorong tubuh Riyan yang sedari tadi menempel.
"Gak mau biarin aja". Tolak Riyan.
"Ck Riyan cepatan". Teriak Misha.
Mau tidak mau Riyan pergi melihat siapa yang datang tapi saat membuka pintu mukanya langsung malas.
"Gimana keadaan Misha, gue disuruh mami buat bawain makanan buat calon mantu kesayangannya". Ucap Angga mengangkat beberapa paper bag di tangan.
"Ya makasih".
Riyan mengambil papar bag itu lalu langsung menutup pintu dengan keras.
Brak
"Anjeng-. Sialan lo gue belom masuk juga udah ditutup". Keluh Angga memegang dadanya yang kaget akibat pintu yang ditutup dengan keras.
"Lapar banget gue, apalagi tadi gue belum makan apa-apa.. emang sial gue hari ini".
Angga langsung meninggalkan apartemen itu untuk pulang ke rumahnya karena sang ayah sedang menunggu dirumah.
Kembali ke dalam apartemen.
Kedua pasangan itu masih tetap bertengkar kecil karena ulah Riyan yang kembali menjahilinya terus menggelitik tubuh Misha. Sampai sampai Misha sangat kesal. Padahal saat ini dia sedang sakit tapi Riyan kekeh seperti itu.
"Riyan bisa diem gak sih kenapa kamu nyebelin banget sih sekarang". Keluh Misha memegang kedua tangannya dengan erat.
"Oke oke tapi lepasin ya". Cengir Riyan.
"Janji jangan seperti itu lagi. Aku geli" . Ucap Misha dengan tatapan tajam.
"Janji". Seru Riyan mengangkat jari kelingking.
Misha langsung mengaitkan kelingkingnya lalu melepaskan pegangan itu.
Jam sudah menunjukan pukul 11 menuju tengah malam. Saat ini Misha masih tertidur di pangkuan Riyan di sopa ruang tamu.
Misha kekeh ingin menemani kekasihnya yang sedang bekerja daripada tidur duluan di kamar.
"Tuh kan kamu sih ngeyel. Demam kamu tinggi lagi kan". Gumam Riyan memegang kening Misha dalam keadaan panas.
Cup
"Cepat sembuh ya jangan buat aku khawatir". Ucap Riyan lalu masuk ke kamar mandi untuk siap siap tidur.
Ini pertama kalinya Riyan tidur bersama kekasihnya di kamar yang sama. Dia gak akan mungkin memikirkan hal diluar nalar karena dia gak mau membuat kekasihnya kecewa dan mengira bahwa dia pacaran dengan alasan nafsu semata.
Riyan berbaring di tempat tidur mengambil tubuh kekasihnya untuk dipeluk dengan erat.
Setelah tadi pagi tidur memeluk kekasihnya sekarang dia ingin tertidur dengan memeluk Misha lagi agar tidurnya menjadi tambah nyaman.
******
Kring, , , kring, , ,kring, ,
Alarm pagi berbunyi dengan nyaring dari ponsel Misha di atas nakas. Alarm itu memang senagaja misha pasang agar tidak bangun kesiangan.
Tapi bukan misha yang bangun melainkan Riyan. Gadis cantik itu masih asik dengan mimpinya di dekapan kekasihnya yang hangat.
Perlahan Riyan melepaskan pelukan itu dan melihat jam sudah menunjukan pukul 5 AM.
Riyan membiarkan Misha melanjutkan tidurnya dan memilih untuk membuat sarapan setelah sembahyang.
Di dapur Riyan berkutat membuat sarapan untuk dirinya dan kekasihnya. Riyan akan membuat bubur yang gampang Misha cerna. Apalagi saat ini Misha sangat pemilih dalam makanan karena mulutnya yang terasa pahit.
"Yan bikin apa??".
Misha datang dengan wajah bantal menuju dapur. Wajah Misha sangat imut apalagi matanya yang hanya bisa dibuka sedikit.
"Aku bikin bubur buat kamu sarapan.. kamu tunggu di meja makan dulu".
"Aku pengen mandi dulu, mau siap siap ke kantor". Seru Misha.
"Jangan mandi kamu cuci muka saja". Kata Riyan dengan cepat.
"Tapi aku pengen kerja. Masa gak mandi". Elak Misha.
"Kamu ingin pergi ke kantor apa nggak sama sekali". Ucap Riyan penuh penekanan.
"Ok aku gak mandi".
Misha meninggalkan dapur menuju kamar dengan wajah ngambek. Dia harus menuruti apa ucapan Riyan daripada bolos lagi.
Setalah kemarin tidak masuk, hari ini dia berusaha masuk karena gak enak dengan karyawan yang lain.
__ADS_1
15 menit Misha keluar dari kamar dengan pakaian kerja.
Di ruang tamu Riyan sudah rapih menggunakan pakaian kantor dengan jas di atas sopa. Bisa ditebak saat misha di kamar, Riyan pergi ke kamarnya untuk bersiap siap juga.
"Ayo sekarang kita sarapan". Ajak Riyan menuju meja makan.
Mereka berdua sarapan bersama dengan menu yang berbeda. Misha sarapan bubur sedangkan Riyan sarapan dengan roti panggang yang dia buat sendiri tadi.
Pukul 7 barulah mereka berangkat bersama ke perusahaan Rendra company untuk bekerja.
Seperti biasa, banyak pasang mata yang menatap mereka dengan mencari pandang. Walaupun tidak mendengar apapun tapi Misha bisa menebak bahwa setelah sepeninggalan mereka, pada karyawan pasti akan bergosip tentang dirinya.
("Hufh, aku sudah terbiasa dengan ini. Dimana aku mendapatkan teman yang bisa dipercaya". Batin misha. )
Misha selalu bisa menyembunyikan kesedihannya dihadapan Riyan. Dia ingin sekali memiliki teman yang percaya 100% kepada dirinya. Walaupun dia memiliki Riyan dan Angga tapi dia bisa sepenuhnya tergantung pada mereka. Misha ingin memiliki teman wanita yang sama seperti dirinya dan bisa berbagi cerita yang sama.
Drrrttt
Drrrttt
Drrrttt
📞Mami Vita calling, ,
"Siapa sayang??". Tanya Riyan mendengar ponsel kekasihnya berdering.
"Mami". Misha menunjukan ponselnya ke arah Riyan. Membuat orang itu mengangguk.
"Hello mi". Sapa Misha setelah mengangkat panggilan itu.
["Hello sayang, gimana keadaan kamu?? Apa kamu baik baik saja??". ]
"Misha baik mi, mami jangan khawatir".
["Mami sangat mengkhawatirkan kamu sayang, mami sangat sedih karena hari ini mami sedang ada di luar kota, apa Riyan menjaga kamu dengan baik??". ]
"Iya mi, Riyan jaga Misha 24 jam". Misha tersenyum menatap ke arah Riyan yang sedang duduk di sopa.
Mereka berdua sudah ada di ruang kerja Misha. Riyan enggan pergi dari sana dan memutuskan untuk berkerja disana menemani sang kekasih.
["Syukurlah kalau begitu. Mami akan pulang lusa, apa kamu ingin sesuatu??". ]
"Nggak mi makasih, Misha hanya ingin ketemu sama mami, Misha merindukan mami Vita".
["Ah sayang mami juga merindukanmu. Baiklah mami gugup dulu ada meeting yang harus mami hadiri. Bye sayang". ]
"Bye mi".
Pip ..!!!
Ponsel diletakan di atas meja. Lalu berjalan mendekati Riyan yang ada di sopa.
"Yan kamu ingin kopi?? Biar aku buatkan". Tanya Misha.
"Sayang apa di ruangan ini kamu tidak mempunyai sandal. Kebiasaan kamu selalu melepas sepatu begitu saja". Omel Riyan melihat kaki Misha berjalan tanpa alas kaki.
Memang sudah menjadi kebiasaan Misha saat berada di dalam ruangan. Ia selalu melepas sepatu yang iya kenakan dengan alasan belum terbiasa. Padahal sepatu yang digunakan Misha hanya tinggi 5 cm saja tapi itu sudah membuat kaki Misha selalu pegal.
Riyan bangun dan berjalan ke arah meja. Dia menemukan sandal jepit yang bisa Misha gunakan. Lalu melegakannya di hadapan Misha yang sedang duduk di sopa.
"Terimakasih, apa kamu ingin kopi??". Tanyanya lagi.
"Tidak. Kamu istirahat aja 15 menit lagi aku ada meeting diluar kamu jangan terlalu fokus kerja. Jaga kesehatan kamu belum pulih sepenuhnya". Seru Riyan mengelus kepala Misha.
Saat ingin menjawab tiba tiba pintu ruangan diketuk dengan keras membuat orang yang ada didalam mengalihkan perhatian ke arah pintu.
"Masuk".
"Maaf mengganggu, saya hanya ingin menyampaikan bahwa tuan dion perwakilan dari perusahaan makmur sejahtera sudah ada di ruang meeting tuan". Kata sekertaris Riyan yang baru masuk.
"Saya akan kesana segera".
"Baik tuan".
Siska, sekertaris Riyan pergi meninggalkan ruangan menunggu di depan sampai Presdir nya keluar. Tentu saja dia tidak akan meninggalkan Presdir untuk naik terlebih dahulu.
"Aku meeting dulu, ingat kata kata aku kalau kamu masih ingin kerja". Ucap Riyan menatap wajah kekasihnya.
"Iya aku ingat".
Riyan mendekat ke arah Misha. Lalu mengecup keningnya dengan lembut sebelum keluar ruangan.
Misha yang sudah terbiasa hanya bisa diam. Walaupun jantungnya sudah berdebar kencang dengan perlakuan Riyan setiap saat.
Lalu dia kembali duduk di kursi untuk mengerjakan semua pekerjaan yang menumpuk karena 1 hari tidak masuk kerja.
...----------------...
...TBC...
...Happy Reading,.,. Babay,!!!...
__ADS_1