
Pukul 4 sore, Riyan datang ke ruangan Misha mengajaknya pulang bersama. Dia tidak mengizinkan Misha untuk lembur dengan alasan apapun.
"Sayang ayok". Ajak Riyan berdiri di samping Misha.
Saat itu misha sedang sibuk menatap layar komputer mengerjakan beberapa dokumen yang Elma tinggalkan. Seperti biasa kakinya terangkat ke atas dengan selimut yang menutupi bagian bawah.
"Sebentar lagi tanggung". Seru misha tanpa mengalihkan pandangan dari komputer.
Tidak ada balasan apapun. Riyan menekan keyboard lalu mematikan komputer itu membuat si empunya terdiam mematung.
"Riyan apa yang kamu lakukan??".
"Sekarang waktunya pulang gak usah banyak alasan, ayok".
Riyan menarik tangan Misha dengan lembut mengajaknya pulang. Sampai Misha sendiri kewalahan dengan apa yang Riyan lakukan.
"Tunggu dulu, ih kamu mah ah". Rengek Misha.
Riyan langsung melepaskan pegangan tangan itu dan membiarkan kekasihnya membereskan barang yang ada di atas meja ke dalam tas.
Setelah beres Misha memakai sepatunya lalu mengajak Riyan pulang dengan membawa beberapa paper bag yang nyokapnya Riyan kasih.
Diperjalanan pulang Misha bingung karena apartemen tempatnya tinggal sudah dilewati oleh Riyan. "Kita mau kemana??".
"Pulang".
"Tapi-".
"Ke rumah aku". Potong Riyan.
Misha menganggukkan kepala lalu menatap jalanan. Kalau Riyan sudah bilang seperti itu kepastian tidak akan bisa dibantah lagi.
Mobil Lamborghini memasuki pekarangan rumah melewati gerbang yang menjulang tinggi.
Riyan turun terlebih dahulu, lalu membukakan pintu mobil untuk sang kekasih.
Kediaman Mahendra sangatlah sepi bisa dibilang memang jarang ada orang yang berjaga. Beberapa anak buahnya akan menjaga rumah itu jika diperintah oleh bos mereka.
"Sepi banget, mami belum pulang??". Tanya Misha mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah.
"Aku gak tahu".
Dua orang berbeda kelamin masuk dengan berdampingan ke rumah kediaman Mahendra yang sangat sepi.
Misha langsung izin ke kamar untuk bersih bersih karena badannya sudah sangat lengket. Tapi Riyan juga masuk ke kamarnya untuk mengambil pakaian ganti. Dia akan mandi di kamar sebelah agar kekasihnya itu bisa leluasa di kamar mandi.
Riyan tahu bahwa Misha selaku berendam setelah pulang kerja. Hal itu dilakukan agar badannya kembali fit dan besoknya bisa bekerja kembali.
Tok
Tok
Tok
"Sayang belum selesai juga". Teriak Riyan dari balik pintu kamar mandi.
Misha tidak pernah mengunci pintu kamar karena Riyan akan keluar masuk untuk mengambil barang miliknya yang ada disana. Maka dari itu Misha gak mau repot-repot membuka tutup pintu apalagi saat keadaannya lagi mager.
"Sebentar lagi, emangnya ada apa??". Jawab Misha dengan teriak juga.
"Jangan lama lama kamu baru sembuh".
"Iya ini juga sudah selesai".
Ceklek
Beberapa menit kemudian misha keluar dengan menggunakan handuk kimono panjang. Di kamar itu masih ada Riyan yang sudah berganti pakaian. Kemungkinan Riyan mandi di kamar mandi yang ada di kamar keduanya di samping.
"Ngapain disini?? Udah sana keluar". Usir Misha yang sedang mengambil pakaian di dalam lemari.
Tanpa basa basi, bukannya keluar dari kamar. Riyan malah pergi menuju balkon kamar dengan membawa iPad yang ada di atas nakas.
__ADS_1
"Ck semuanya sendiri". Gerutu misha kembali masuk ke kamar mandi membawa pakaian ganti.
Setelah beres mereka turun untuk membuat makanan. Mami Vita juga telpon bahwa Misha tidak diizinkan masak karena sudah meminta manajer hotel untuk mengirimkan makan malam ke rumah.
Jadi Misha hanya membuat cemilan saja di dapur untuk mengganjal perut. Bukan Misha sih yang masak lebih tepatnya Riyan, dia membuatkan spaghetti bolognese untuk kekasihnya saat melihat lemari es kosong melompong.
Riyan sibuk dengan bahan bahan membuat spaghetti sedangkan Misha hanya duduk diam melihat tangan Riyan yang mahir memasak.
Awalnya Misha ingin membantu tapi riyan kekeh menolak dengan banyak alasan. Karena pusing dengan ocehan Riyan akhirnya Misha nurut.
"Spaghetti bolognese ala Riyan sudah jadi". Pekik Riyan melegakan piring di hadapan Misha.
Misha tersenyum melihat makanan dihadapan dia. Sedari tadi perutnya memang sudah keroncongan minta diisi.
Dengan cepat Misha memakan spaghetti itu dengan lahap, membuat Riyan yang ada dihadapannya terus menatap Misha yang makan seperti orang belum malam seminggu.
"Sayang makannya pelan pelan gak bakal ada yang ambil". Seru Riyan heran dengan kelakuan Misha saat melihat makanan.
Serasa tuli, Misha hanya acuh terus memakan spaghetti itu sampai habis tanpa ada sisa.
"Habis". Cengir Misha menatap Riyan menggeser kan piring kosong dijauhkan.
"Mau apa lagi, HM??". Tanya Riyan. Tentu saja Riyan tahu situasi Misha saat ini.
Kekasihnya yang doyan makan tentu saja tidak membuatnya kenyang apalagi porsi spaghetti yang Riyan buat sedikit.
"Udah".
Mulut sama tangan Misha tidak sinkron. Mulut bilang nggak tapi tangan Misha mengambil cemilan di lemari penyimpanan yang ada di samping kulkas.
Riyan yang melihat itu hanya geleng geleng kepala terus memperhatikan kekasihnya yang berjalan menuju sofa ruang tamu dengan tangan membawa banyak cemilan.
Setelah cuci piring, Riyan berjalan mendekat ke arah Misha yang asik makan sambil menonton film di telivisi.
Tanpa aba aba Riyan langsung merebahkan tubuhnya dengan paha Misha sebagai bantalannya menghadap layar televisi.
Misha yang sedang nyemil makanan ringan menyuapi Riyan juga dengan mata yang terus fokus ke layar.
Apartemen yang ditempati misha, lantai yang sama. Seorang pemuda menekan bel kamar Misha dengan lama.
Pemuda itu berniat ingin memberikan sesuatu, melihat tangan kirinya memegang beberapa paper bag.
Sekian lama menekan bel, tidak ada jawaban sama sekali. Padahal pemuda itu beberapa hari belum bertemu dengan wanita yang iya cari setelah pulang dari puncak.
"Tuan mungkin nona Misha belum pulang". Seru asisten pribadinya yang datang mendekat.
"Apa wanita itu sering keluar??". Tanya pemuda itu penasaran.
"Maaf tuan Albert ada yang bisa saya bantu??".
Pembicaraan bos dan asisten terpotong saat manajer gedung itu datang menghampiri. Kebetulan manajer itu ingin melewati tempat Albert berdiri dihadapan kamar Misha.
Ya. Pemuda yang sedari tadi memencet bel itu tuan Albert. Salah satu kolega papi Rendra dan pemuda yang beberapa kali ketemu dengan Misha tanpa disengaja.
"Kami hanya ingin bertamu sama nona Misha tapi kayanya nona Misha sedang tidak ada". Bukan Albert yang menjawab melainkan asistennya yang sudah siap siaga.
"Oh mungkin nona misha belum pulang kerja tuan makanya tidak ada di apartemen".
"Kalau boleh tahu nona Misha kerja dimana ya??". Tanya sang asisten.
"Nona Misha kerja di Rendra company tuan, kalau gak ada yang ingin ditanyakan lagi saya permisi tuan". Seru Manajer itu.
"Iya tuan terimakasih".
Mendengar ucapan manajer itu membuat Albert meninggalkan tempat itu masuk ke apartemen miliknya yang pas bertepatan disamping apartemen Misha.
Kalau untuk apartemen Riyan itu berhadapan dengan apartemen Misha.
*****
Misha dan keluarga Mahendra makan malam bersama dengan khidmat. Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga hanya sekedar berbicara santai.
__ADS_1
"Sayang, berhubung paspor sama visa kamu sudah jadi, gimana kalau kita liburan ke Korea?? Kamu suka negara itu kan??". Ucap mami Vita dengan tersenyum lebar.
"Suka, tapi-". Ucapnya ragu.
"Tapi kenapa sayang?? Kita bisa cari cowok yang tampan disana".
"Mami". Pekik Riyan kesal. Sang maminya itu selalu berbicara seperti itu kepada Misha yang notabenenya pencinta artis Korea.
Walaupun Riyan tampan tapi dia tidak pernah percaya diri jika dibanding kan dengan aktor Korea.
"Bukan itu mi, tapi Misha gak bisa bahasa Inggris atau apapun itu". Ujar Misha pelan.
"Kalau itu tenang aja sayang, kan ada mami".
"Tetap aja Misha tidak tahu. Pekerjaan Misha dikantor banyak". Misha terus saja banyak alasan. Didalam hatinya ia ingin pergi tapi disisi lain ada rasa takut yang menggebu.
"Kalau gitu aku pecat aja". Celetuk Riyan membuat Misha menatap ke arahnya dengan tatapan berbeda.
"Aku salah apa harus dipecat??".
"Gak ada yang salah. Hanya saja biar ada waktu buat liburan bersama". Jawab Riyan enteng.
"Enak banget ngomongnya. Kalau gitu Misha besok cari pekerjaan lain aja". Seru misha kesal. "Mi Pi Misha kekamar dulu mau istirahat". Pamit Misha kepada semua orang kecuali Riyan.
Dia sangat kesal dengan ucapan yang dikeluarkan Riyan tentang pekerjaannya. Misha tahu dia hanya lulusan SMK tapi didalam pekerjaan ini ia sudah melakukannya sebisa mungkin agar pekerjaannya baik.
Tapi Riyan bilang seperti itu dengan enteng. Dia gak mikirin perjuangan aku selama ini. Perjuangan melawan pusingnya mengerjakan dokumen dokumen perusahaan yang sangat banyak.
Setelah mendapat persetujuan orang tua Riyan. Misha pergi menaiki anak tangga menuju kamar tanpa mendengar panggilan dari Riyan.
Sampai di kamar. Tidak lupa Misha mengunci pintu agar riyan gak bisa masuk dan mengganggu ketenangan Misha malam ini.
Tapi bukannya tidur, Misha berjalan ke balkon untuk melihat pemandangan malam dengan langit penuh bintang.
Misha lebih suka keheningan. Hal itu juga alasan Misha tidak memiliki banyak teman. Ia susah percaya sama seseorang tapi ketika dia percaya, Misha akan mementingkan orang itu daripada dirinya sendiri.
Misha_Laurensia
2631 suka
Misha_Laurensia pemandangan langit dan udara dingin hanya bisa menemaniku malam ini. . Inilah alasan kenapa aku suka tempat ini 🥀
Lihat semua komentar :
*Kak Misha sedang sedih 😢 jangan sedih Majah ada kami disini. *
{Banyak komentar yang mengirimkan emoticon sedih atau nangis }
*Mark : kamu suka tempat itu. Tapi aku suka kamu. *
*Ow, @mark selalu datang*
*@mark siapa dia?? Kenapa dia selalu terang terangan di sini*
*Semua postingan kak Misha selalu dikomentari oleh nama akun @mark. Apa dia kekasih kak Misha??".
*Mark : bukan tapi sebentar lagi iya.
...------------------------------...
Melihat komentar Mark membuat Misha menghela nafas berat. Dia gak tahu tujuan Mark bicara seperti itu. Yang pasti Riyan yang memang tidak pernah berkomentar di setiap postingan Misha, bukan alasan jika tidak tahu itu semua.
Tidak mau pusing. Misha mematikan data seluler dan kembali menatap pemandangan malam dari balkon kamar Riyan.
...-----------...
...TBC...
...Happy Reading... Babay!!!!!...
__ADS_1