
Riyan membawa Misha kembali ke ruangannya dengan wajah kesal. Misha sebenarnya ingin berada di ruangan depertemen untuk melihat pekerjaan yang akan dia lakukan besok hari.
"Kalau ada masalah apapun langsung bilang sama aku jangan ada yang ditutup tutupin". Pesan Riyan.
"Iya".
",,,,,"
..."Dokumen apa aja yang harus aku siapkan??". Tanya Misha. Sedangkan Riyan duduk di kursi kerja mengerjakan dokumen yang tertumpuk di atas meja....
"Nanti pihak HRD yang akan konfirmasi, kamu tinggal masuk kerja besok pagi".
Misha menganggukkan kepala. Lalu tertunduk melihat ponsel yang ada tangan. Dia mencari tahu apa yang harus dia lakukan dengan pekerjaannya besok di bagian administrasi.
Keheningan menyelimuti ruangan dengan hal yang dilakukan masing masing. Sampai Angga masuk memberitahukan bahwa beberapa menit lagi dia harus menghadiri meeting yang sangat penting.
"Sayang kalau kamu butuh sesuatu bilang sama Siska, aku ingin meeting sebentar".
"Iya".
Di ruangan itu hanya ada Misha yang duduk memainkan ponsel. Awalnya itu akan baik baik saja sampai gak lama dia merasa bosan karena Riyan tidak kunjung datang.
"Nona apa ada yang dibutuhkan??". Tanya Siska saat melihat Misha keluar dari ruangan.
Tak heran jika Siska menyebutkan kata nona, kepastian Riyan sudah memberitahukan status Misha dengan dia.
"Saya ingin jalan-jalan keluar, didalam ruangan terus bosan tidak ada siapa siapa". Jawab Misha dengan ramah.
"Apa nona ingin ditemani??'.
"Tidak usah, mba Siska kerja saja saya bisa sendiri".
"Baik nona jika ada apa apa bisa telpon saya lewat resepsionis atau apa bilang saja sekertaris Presdir".
"Iya mba".
Misha meninggalkan Siska menuju lift dengan tersenyum ramah. Lalu menekan tombol menuju lantai dasar.
Disana pergi ke kantin setelah menanyakan kepada karyawan yang Misha temui. Dia pergi untuk mencari makan sambil duduk melihat situasi perusahaan.
Misha memesan kue dan ice cappucino menemaninya bermain ponsel. Kantin itu cukup nyaman untuknya dan tidak berniat untuk pergi ke mana mana dengan mengambil bangku paling pojok.
Lama kelamaan kantin mulai penuh dengan karyawan saat melihat jam menunjukan waktu istirahat.
Sampai ada beberapa orang yang mendekat ke arah meja yang ditempati misha.
"Maaf apa kami boleh gabung??". Tanya seseorang membawa makanan untuk duduk bergabung.
"Ah boleh, silahkan". Misha sedikit ragu melihat 3 pemuda yang berdiri didepan dia.
Misha meletakan ponsel kerena 3 orang itu mengajaknya mengobrol disela makan siang.
"Sebelumnya kenalkan saya Anton".
"Saya Riza".
"Dan saya Kevin
Misha tersenyum sedikit menanggapi mereka saat melihat mereka memperkenalkan diri.
"Saya misha".
Misha memilih mengangkat tangan sebagai tanda hormat daripada menjabat tangan mereka. Bukan tidak ingin tapi Misha sedikit ragu.
"Oh ya apa kamu karyawan baru??". Tanya seseorang dari mereka.
"Iya aku baru masuk-".
"Kamu disini,, kita makan siang di ruangan apa diluar??". Tanya Riyan yang tiba tiba datang dengan wajah menatap 3 pemuda yang duduk dengan Misha.
Melihat Presdir mendatangi meja mereka membuat 3 pemuda itu bangkit dengan menundukkan kepala.
Misha heran dengan reaksi mereka. Lalu menatap semuanya dan sekeliling yang menjadi hening. Semua karyawan yang ada disana sedikit berbisik bisik melihat kejadian itu.
__ADS_1
"Terserah kamu aku ikut aja".
Misha mengambil tas dan ponselnya meminta riyan meninggalkan kantin. Melihat karyawan bereaksi seperti itu membuatnya tidak enak.
Bukan hanya Riyan yang datang. Angga juga datang mengikuti di belakang dengan wajah yang sama. Mereka berdua selalu memasang wajah yang menyeramkan buat semua karyawan.
Misha memilih berjalan berdampingan dengan Angga daripada Riyan. Hal itu membuat Riyan kesal dan sedikit menarik tangannya untuk berjalan berdampingan.
Saat melihat wajah Riyan yang bad mood, mulut Misha tertutup kembali tanpa ingin mengeluarkan suara sedikitpun. Dia tidak ingin Riyan bertambah marah kepadanya.
Mereka memasuki mobil yang berbeda dengan Angga. Mereka pergi dengan tujuan ntah kemana Angga akan pergi. Misha tidak menanyakan apapun dan hanya mengikuti kemana Riyan membawa dia.
Mobil yang dikendarai Riyan berhenti di salah satu restoran mewah. Walaupun Riyan sedang kesal. Dia Misha membukakan pintu saat Misha ingin keluar.
Mereka berdua masuk dengan ke dalam restoran disambut dengan meriah. Karyawan menunjukan ruangan khusus buat mereka berdua tanpa Riyan mengeluarkan suara.
Misha dan Riyan masuk berjalan dengan serasih berdampingan dengan wajah yang sama sama datar.
Saat didalam ruangan hanya ada Misha dan Riyan tapi hanya ada keheningan diantara mereka sampai makanan datang.
Makanan itu tidak ada yang mulai disentuh. Diantara mereka hanya saling diam dengan pemikiran masing masing sampai Misha mulai kesal.
"Sebenernya kamu kenapa?? Kenapa diam dari tadi". Tanya Misha yang mulai bosan.
"Tidak apa. Kamu makan saja".
Tidak mendapat jawaban yang memuaskan membuat Misha mengambil tas berencana untuk pergi. Dia sudah muak melihat wajah Riyan yang hanya diam.
"Kamu mau kemana??". Tanya Riyan memegang tangan Misha mencegah untuk pergi.
"Aku mau pulang, buat apa aku disini hanya ditemani sama patung".
Misha ditarik sedikit sampai jatuh dipangkuan Riyan. Tapi wajah Misha hanya bisa menunduk karena dia sedang kesal.
"Oke aku minta maaf,, aku hanya kesal saat kamu bicara dengan pria lain". Keluh Riyan memeluk Misha dengan erat.
"Aku hanya ngobrol dengan mereka lagian meja disana juga penuh, makanya aku biarkan mereka duduk disana".
"Tapi aku gak suka apalagi mereka melihat kamu seperti itu".
Selesai makan siang Riyan mengantar Misha pulang ke apartemen sedangkan dia akan kembali ke perusahaan.
Di apartemen Misha menyiapkan semua kebutuhan yang diperlukan untuk besok mulai bekerja. Misha juga melihat pakaian yang cocok untuk berkerja nanti dan memisahkan dengan pakaian lain.
******
Keesokan harinya misha sudah siap pergi ke bekerja dengan dijemput Angga.
Riyan kekeh ingin pergi bersama tapi Misha terus menolak dengan banyak alasan.
Ting tong Ting tong
Misha membuka pintu mempersilahkan Angga untuk masuk.
"Kenapa pagi banget datang kesini. Ini masih jalan 6 loh". Ucap Misha heran.
"Tch, kaya gak tahu Riyan aja. Dia udah nungguin di perusahaan". Seru Riyan membuat Misha kaget.
"Ngapain ini masih pagi".
Angga acuh duduk di sopa dengan lesu. Jika seperti ini dia akan tinggal di apartemen daripada di kediaman Mahendra.
Misha memberikan sandwich untuk Angga sarapan dan pergi ke kamar untuk bersiap siap berangkat.
Dia berangkat lebih pagi karena Riyan yang meminta. Tapi Misha tidak akan sering bertemu dengannya saat dikantor nanti.
Sampai di perusahaan Misha mendapatkan tatapan yang berbeda dengan sebelumnya setelah kejadian kemarin.
("Kalau seperti ini aku gak akan bisa nyaman kerja disini". Batin misha menatap sekeliling. )
Misha naik ke lantai 10 dimana tempat dia berkerja ditemani dengan Siska.
"Nona Misha akan kerja disini semoga nona nyaman dan kalau ada apa apa hubungi saya,, semua nomer sudah tercatat di buku catatan yang ada diatas meja". Kata Siska dengan ramah.
__ADS_1
Siska menunjukan satu ruangan sedang yang sangat lengkap. Misha tidak menyangka bahwa dia akan memiliki ruangan sendiri daripada yang lain.
Ruangan itu memiliki meja kerja, sopa dan beberapa lemari untuk menyimpan dokumen.
"Mba kenapa saya tidak kerja bersama mereka di ruangan itu??". Tanya Misha kepada Siska.
"Ini semua atas perintah tuan Riyan nona. Saya harus menyiapkan ruangan khusus buat nona Misha di perusahaan ini".
"Jangan bilang semua orang sudah tahu aku siapa". Selidik Misha.
"Iya nona tuan Riyan sendiri yang mengumumkan semuanya kepada karyawan setelah jam istirahat". Kata Siska apa adanya.
Misha menghela nafas berat dengan apa yang akan terjadi.
"Baiklah aku ingin ketemu riyan sebentar". Pinta Misha.
"Silahkan nona".
Langkah Misha berhenti menatap siska kembali dengan wajah yang sudah bad mood.
"Panggil saya Misha saja jangan pakai nona".
"Saya tidak berani nona".
"Jika tidak aku yang akan bilang ke Riyan agar kamu kena hukuman". Ancam Misha meninggalkan ruangan dengan wajah Siska yang pucat.
Misha pergi ke ruangan Riyan dengan cepat. Didalam ruangan Riyan sedang bersantai memainkan ponsel tanpa ada beban.
"Yan kenapa aku kerja di ruangan yang berbeda dengan yang lain". Seru Misha masuk tanpa izin.
"Pagi sayang, gimana ruangannya apa kamu suka??".
Mendengar pertanyaan Riyan membuat Misha memicingkan matanya dengan tatapan tajam. Lalu duduk berhadapan dengan Riyan.
"Mau kerja diruangan aku apa ruangan itu."
"Ok kerja diruangan itu tapi satu syarat". Ucap misha.
"Apa??".
"Jangan sering datang ke ruangan aku".
"Baiklah aku setuju, lagian kamu juga gak larang aku datang ke sana". Seru Riyan.
Misha meninggalkan ruangan Riyan menuju ruangannya yang ada di lantai 10.
Elma yang menjabat sebagai manajer administrasi menjelaskan semua bagian Misha yang harus dikerjakan.
Setelah Misha mengerti mereka memberikan beberapa dokumen untuk dikerjakan.
Seharian fokus ke pekerjaan membuat Misha lupa jam makan siang.
Tok tok tok.
"Masuk".
Ceklek. . Elma kembali ke dalam ruangan dengan membawa beberapa dokumen.
"Nona ini ada beberapa dokumen yang harus dikerjakan". Ucap Elma meletakan dokumen diatas meja.
"Terimakasih mba, oh ya jika dokumen ini sudah selesai saya serahkan kepada siapa??". Tanya Misha.
Elma menjelaskan semua dokumen yang harus diserahkan kepada siapa membuat Misha mengerti.
"Nona tidak makan siang ini sudah waktunya makan??". Tanya Elma.
"Iya sebentar lagi tanggung kalau ditinggal".
Setelah meninggalkan ruangan Misha kembali bekerja tanpa ada niatan pergi ke kantin.
Jam menunjukan pukul 3 sore. Tidak ada niatan untuk makan apapun hanya minum ice cappucino yang ia buat sendiri.
Sedari pagi Riyan juga tidak menghubungi nya sama sekali sampai sekarang.
__ADS_1
...-----------...
...Happy Reading.,...