
Pagi hari Misha terbangun dengan Riyan yang terbaring di sopa rumah sakit. malam tadi Misha tidak tidur karena semuanya temannya menolak untuk pulang.
Sampai akhirnya mereka pulang dan Misha bisa istirahat dengan baik. Kecuali Riyan yang keras kepala ingin menemani Misha di rumah sakit.
Ceklek ...
Pintu kamar terbuka dengan perlahan dan masuklah Angga membawa paper bag ditangannya.
"Pagi sha,,". Sapa angga tersenyum, lalu berjalan mendekat ke arah Riyan yang baru bangun tidur. "Pagi bos". Lanjut Angga menyapa Riyan.
Beberapa saat kemudian dokter memeriksa Misha dan keadaannya mulai membaik memutuskan akan pulang siang ini.
Riyan yang sudah berganti pakaian membawa mangkuk berisi air hangat kehadapan misha. Air itu untuk mengelap tubuh Misha yang selalu Riyan lakukan pagi dan sore yang akan dilakukan Misha sendiri.
"Kamu gak pergi bekerja??". Tanya Misha saat Riyan meletakan sarapan dihadapannya.
"Nggak,, hari ini aku akan jagain kamu dan antar kamu pulang". Jawab Riyan duduk di sisi tempat tidur melihat misha yang senang sarapan.
Hal itu membuat Misha sedikit gugup karena Riyan menatapnya dengan lembut yang membuat hatinya berdebar kencang.
("Kenapa dia menatap aku kaya gitu".)
("Oh tuhan,,, kenapa jadi begini".)
Sampai akhirnya Misha hanya bisa berdiam diri memainkan ponselnya untuk mengalihkan perhatian dari Riyan yang sibuk dengan pekerjaan di sampingnya.
Misha Laurensia
2 menit yang lalu
Jangan berharap lebih karena pada akhirnya akan jatuh.
166 suka 16 komentar
---------------------------------------
Banyak temannya yang memberi komentar tetapi dia hanya acuh menskrol semua media sosial walaupun sebenernya Misha sangat bosan.
Sampai akhirnya Misha dikagetkan dengan keberadaan Riyan yang menatapnya tanpa berkedip duduk di kursi samping tempat tidur.
"Astaghfirullah,, Riyan bikin kaget aja, kenapa kamu tiba tiba ada disini??". Tanya Misha memegang dadanya yang kaget.
"Kenapa kamu gak pakai kalung itu??".
Bukannya menjawab, Riyan malah mengajukan pertanyaan kembali kepada Misha yang membuat orangnya hanya diam memandang wajah Riyan tanpa berkedip.
"Kamu gak suka kalung itu??". Tanya lagi.
"Hm,,, ". Misha bingung harus menjawab apa, yang membuatnya hanya bisa menatap ke seluruh ruangan tanpa menjawab semua pertanyaan Riyan.
"Sha,,,!!!". Panggil Riyan dengan lembut membuat Misha menatapnya kembali.
__ADS_1
"Aku mau tanya boleh??".
"Dari tadi juga kamu banyak tanya". Seru Misha pelan yang membuat Riyan tersenyum.
"Iya tapi kamu gak jawab satupun pertanyaan aku". Jawab Riyan yang membuat Misha tambah gugup.
"Boleh aku tanya??". Riyan terus meminta persetujuan Misha yang mau tidak mau wanita itu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Tetapi saat ingin mengajukan pertanyaan kembali tiba tiba pintu ruangan terbuka lebar dan memperlihatkan wanita paruh baya yang masih terlihat sangat muda membuat 2 orang yang saling menatap mengalihkan pandangannya ke pintu masuk.
"Mami,,,,!!". Kata Riyan kaget melihat kedatangan sang mami ke rumah sakit tempat Misha dirawat. Tetapi saat melihat Angga dibelakangnya dia tidak heran lagi, pasti semua ini ulah Angga.
Mami Vita berjalan mendekati Misha di ikuti Angga yang membawa keranjang buah, sedangkan Riyan langsung bangkit agar sang mami bisa duduk.
"Sayang kamu kenapa?? Kok bisa masuk rumah sakit". Tanya mami Vita khawatir mengusap pipi Misha dengan lembut.
"Misha hanya syok dan kecapean Tante membuat Misha demam tinggi". Jawab Misha yang membuat semua orang kaget.
"Syok,,!!!". Seru semua orang yang ada disana bersamaan.
Mendengar itu misha hanya bisa menatap mereka semua bergantian dengan heran. Sebelumnya Misha memang tidak menceritakan kepada semua orang tentang apa yang dia alami. Bahkan Laura dan yang lain pun hanya gak penyebab Misha sakit adalah karena kecapean.
(" Apa aku salah ngomong ya". Batin misha saat menatap semua orang.)
"Kenapa kamu bisa syok sayang??". Tanya mami Vita memegang tangan Misha yang kembali gemetar.
Seketika Misha kembali teringat dengan isi kotak itu yang membuat semua badannya kembali bergetar. Bukannya Misha takut pada ulat tapi dia sangat geli melihat ulat yang akan membuatnya seluruh tubuhnya merinding. Akan tetapi hanya beberapa jenis ulat saja tidak semuanya.
Semua orang khawatir saat melihat tubuh Misha yang gemeteran dan terus diusap oleh dirinya. Bahkan matanya terus di pejamkan tanpa ingin dibuka.
Dengan cepat mami Vita memeluk tubuh Misha dengan erat agar tenang, sedangkan Riyan berlari keluar ruangan untuk mencari dokter.
"Kenapa nona Misha jadi seperti ini??". Tanya dokter setelah memberikan obat pada infus yang dipakai Misha.
"Saya juga gak tau dok,, saya hanya bertanya penyebab dia sakit dan setalah menjawab semua badannya gemetaran". Kata mami Vita menjelaskan kepada dokter.
"Baiklah tidak apa,, lama kelamaan nona Misha akan melupakan itu semua, saya permisi dulu biarkan nona Misha istirahat". Seru dokter.
"Baik dok,, terima kasih".
.
Perlahan Misha terbangun dan hanya melihat Riyan memegang tangannya sambil tertidur bertumpu dengan tempat tidur.
Merasakan gerakan dari misha, Riyan terbangun dan langsung menatap ke arah Misha. Seketika pandangan itu terkunci satu sama lain tanpa ada yang memutuskan pandangan itu sampai mereka berdua gelagapan salah tingkah.
"Kamu gak papa??". Tanya Riyan yang langsung dijawab dengan gelengan kepala dan melepaskan tangan yang digenggam Riyan.
"Aku pengen pulang". Pinta Misha pelan.
"Kamu belum sehat dokter nyaranin kamu buat 1 hari lagi disini".
__ADS_1
"Gak mau aku udah sehat aku pengen pulang". Kekeh Misha dengan wajah memohon.
"Tapi-".
"Yan aku pengen pulang". Potong Misha membuat Riyan menatapnya dengan lembut karena sebentar lagi air matanya akan keluar.
"Baiklah nanti aku tanyain dokter dulu". Kata Riyan mengelus tangan Misha.
"Sekarang".
Mendengar ucapan misha, Riyan tersenyum dan menganggukkan kepala meyakinkan Misha. Lalu berdiri untuk memanggil dokter.
Gak lama kemudian Riyan kembali ke ruangan misha bersama dokter yang dia panggil.
"Gimana keadaan nona Misha siang ini??". Tanya dokter.
"Baik dok,, saya ingin pulang".
"Tapi nona Misha belum pulih banget sebaiknya besok pagi saja pulangnya".
"Saya mau sekarang dok,, saya baik baik aja udah sehat". Kekeh misha yang membuat Riyan mendekat.
"Baiklah nona bisa pulang sore ini setelah infisannya habis ya". Usul dokter membuat mainan menatap ke arah Riyan yang ada disampingnya.
Melihat tatapan itu Riyan mengangguk sambil tersenyum.
"Baik dok terimakasih".
Sepeninggalnya dokter, Misha memutuskan untuk istirahat daripada Riyan memberikannya pertanyaan yang membuatnya tidak bisa menjawab.
Saat Misha tidur tadi mami Vita pergi karena ada urusan yang mendadak dan hanya meminta Riyan untuk selalu menjaganya dengan baik.
Ada sedikit heran dengan perhatiannya nyokapnya Riyan kepada Misha, sebab mereka baru sekali ketemu dan itu terlalu berlebihan menurut Misha.
Misha selalu menjaga jarak terhadap Angga dan Riyan tetapi saat ia mulai menjauh Riyan malah kian tambah mendekat seperti sekarang.
Jika dipikirkan akan membuat dirinya pusing dan tidak tau harus berbuat apa lagi.
Ntahlah, misha berharap ini tidak membuatnya rumit,,,,!!!!!
...-------------------...
Hai reader. . .
Maaf kalau banyak typo dalam setiap tulisan author hanya memakai handphone untuk mengaturnya . . .
Dukung terus author. .
Ingat ini hanya cerita fiksi tidak ada kaitan dengan siapapun. . .
Dilarang copas dan menjiplak hak cipta orang. . .
__ADS_1
Happy reading semua. . . . .