Destiny In My Life

Destiny In My Life
Puncak


__ADS_3

"Sayang kamu kenapa??". Tanya mami Vita yang melihat Misha hanya diam saja dari keluar ruangan tadi.


"Sha baik baik saja mi". Balas Misha sedikit tersentak kaget mendengar ucapan mami Vita.


"Kamu yakin???".


Misha hanya menganggukkan kepala. Lalu suasana menjadi hening kembali sampai mereka tiba di depan restoran tempat mereka makan siang.


Masuk ke dalam ruangan privat hanya berdua tanpa siapapun. Mami Vita tidak membiarkan Riyan ikut karena dia tahu akan apa yang dilakukan jika bersama Misha. Bisa bisa mami Vita kesal sendiri nantinya.


Mereka makan dengan sedikit berbincang bincang. Tapi ketika ada papi Rendra mereka tidak akan berani makan sambil bicara karena pasti akan mendapat teguran yang menakutkan.


Selesai makan siang, mami Vita mengantarkan Misha pulang ke apartemen tanpa mampir. Karena Misha harus packing pakaian yang akan dibawa sore nanti.


"Mami nanti telpon kalau mau berangkat".


"Iya,, mami hati hati dijalan". Misha akan pergi setelah mobil menghilang.


Tapi lagi dan lagi Misha ketemu dengan cowok yang selalu membuat Misha berubah mood. Padahal mood saat ini dia cukup senang karena ingin pergi refreshing disela pekerjaan.


"Hai sha,, itu pacar kamu??". Tanya max penasaran kayanya dia ada disana dari saat Misha keluar dari mobil.


"Bukan". Jawab Misha singkat.


"Terus siapa??". Tanya max lagi.


("Kenapa cowok ini kepo banget sih". Batin misha menatap mix dengan menaikan alisnya heran. )


"Mami aku".


"Mami kamu?? Kenapa tidak masuk??".


Lama kelamaan Misha kesal dengan apa yang pertanyaan yang mix berikan. Dia merasa max banyak tanya padahal mereka tidak dekat sama sekali. Hanya max yang berusaha ingin dekat tapi Misha tidak.


"Ada urusan,, aku pergi dulu ya ada pekerjaan yang harus diselesaikan". Ucap Misha pamit meninggalkan max tanpa ingin tahu ucapan apa lagi yang dia keluarkan.


Berjalan masuk ke dalam lift dengan max yang berjalan mengikuti. Tapi untungnya lift itu cepat tertutup sebelum max masuk.


Perasaan Misha lega tidak satu lift dengan max. Jika itu kesampaian pasti Misha pusing dengan pertanyaan pertanyaan yang dia berikan seperti sedang mengintrogasi.


Ting, , ,


Pintu lift terbuka. Lalu melihat beberapa orang berjas dengan pakaian rapi sedang ada di lantai yang sama dengan apartemen Misha.


Hanya manajer dan sekertaris nya yang Misha tahu karena Riyan memperkenalkannya sama mereka.


"Siang nona". Sapa sang manajer saat melihat Misha.


Tentu saja mereka sopan dengan misha. Mereka tahu hubungan misha dengan anak pemilik Rendra company saat pertama kali datang ke apartemen itu.


"Siang pak". Balas Misha dengan senyum ramah.


Misha sedikit melirik ke arah pemuda yang memperlihatkan dia dengan tatapan sulit diartikan.


"Kalau begitu saya permisi dulu pak, permisi". Misha pamit dengan cepat karena risih dengan tatapan pemuda itu. Dia berjalan masuk ke dalam apartemen setelah menempelkan kartu akses untuk membuka pintu.


Misha mengira bahwa pemuda itu akan membeli apartemen yang ada disamping apartemen Riyan yang memang kosong. Tapi itu bukan milik keluarga Riyan yang sebelumnya sudah dibeli orang lain.


Tidak ingin memikirkan hal yang tidak penting. Misha segera packing barang barang miliknya untuk sehari. Tapi Misha membawa pakaian yang lebih takutnya cuaca di sana dingin.


Belum atau jam berlangsung mami Vita telpon dan memberitahukan bahwa dia sudah menunggu di lobi. Mami Vita tidak akan masuk karena mereka harus segera pergi ke puncak.


[". Maaf sayang kalau buru buru, soalnya ada beberapa dokumen papi yang tertinggal". Ucap mami Vita merasa bersalah. ]


Karena awalnya mereka akan berangkat sore hari tapi untungnya Misha sudah selesai packing beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


"Tidak apa mi, sebentar lagi Misha turun mau ganti pakaian dulu".


["Iya sayang jangan buru buru mami akan menunggu kamu". ]


"Iya mi".


Panggilan dimatikan membuat Misha dengan cepat berganti pakaian. Dia tidak mau mami Vita menunggu lama di mobil.


Setelah rapih, Misha menyeret koper sedang keluar apartemen tapi bersamaan dengan orang orang tadi yang misha temui.


"Nona Misha sepertinya sedang buru buru??". Tanya sang Manajer.


"Ah iya pak, mami sudah menunggu dibawah". Jawab Misha sedikit kaget.


Manajer itu paham dengan mami yang dikatakan Misha tapi ntah dengan yang lain. Misha tidak peduli.


Mereka masuk ke lift bersama dengan keheningan dipecahkan oleh seorang pemuda yang berdiri di belakang Misha.


"Saya akan tinggal secepatnya di apartemen itu". Ucap seseorang membuat semua orang kaget.


"Apa tuan yakin??". Tanya orang satunya.


"Hm,,,".


Ting, ,


Pintu lift terbuka di lobi apartemen. Misha yang berdiri paling depan pasti pergi duluan meninggalkan mereka.


Berjalan ke arah mobil yang menunggu di depan yang sudah di kenali Misha. Tanpa misha sadari ternyata sedari tadi ada seseorang yang mengawasi dia.


"Mami maaf lama". Ucap Misha setelah pintu mobil terbuka.


"Tidak apa sayang".


Saat Misha menutup pintu, tidak sengaja pandangan dia bertemu dengan pandangan pemuda yang tadi bertemu di lantai apartemen yang sama bersama manajer disana.


Dengan cepat Misha memutuskan pandangan itu dengan heran. Lalu kembali berbincang dengan sang mami.


Walaupun mami Vita bukan mami kandung Misha tapi Misha sudah sangat dekat dan menganggap mami kedua dia.


Didalam perjalanan hanya diliputi keheningan karena mami Vita sedang bekerja. Sedangkan Misha hanya diam memainkan ponsel melihat sosial media.


Baru baru ini pengikut Misha kian bertambah apalagi setelah Riyan dan Angga menandai dirinya dia setiap postingan. Tapi kebanyakan yang follow Ig Misha cowok.


Riyan tidak menyebutkan Misha kekasihnya dengan permintaan Misha, bahkan mereka tidak memposting photo berdua di Ig masing masing.


Misha tidak mau mendapatkan komentar pedas dari fans Riyan yang sangat banyak. Maka dari itu Riyan pun setuju.


Jika misha memposting photo Riyan akan ada orang lain di photo yang sama.


Misha selalu memposting kehidupannya di sosial media apalagi saat dia pergi kemana pun. Tapi Riyan tidak, dia jarang memposting jika itu bukan Misha yang main sosial medianya saat meminjam ponsel Riyan.


......


Beberapa jam perjalanan Misha melihat pemandangan yang indah. Kebun teh membentang di kanan dan kiri jalan membuat dia membuka jendela mobil.


Senyum Misha merekah lebar melihat pemandangan yang baru dia lihat. Sampai mobil memasuki area villa yang sangat besar.


Mereka keluar dari mobil. Pertama yang misha lakukan berjalan ke arah bangku taman yang menghadap ke kebun teh yang sangat luas.


Sedangkan mami Vita sudah pamit masuk ke dalam villa terlebih dahulu. Untuk koper mereka sudah dimasukan ke dalam oleh supir.


Misha duduk memandang ke depan tanpa ingin beranjak sedikitpun.


"Sha,, mami ingin pergi ke restoran, apa kamu ingin ikut?? Sekalian cari makan". Teriak mami Vita dari kejauhan.

__ADS_1


Misha menoleh lalu berjalan mendekat. Perut Misha sedikit lapar dan memutuskan untuk ikut ke restoran.


"Papi gak ikut??". Tanya Misha duduk di samping.


"Papi sedang meeting di restoran, mami harus antar berkas kesana". Misha hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Sampai di restoran yang terbuka menyuguhkan pemandangan kebun teh yang sangat indah. Misha duduk di meja yang paling ujung.


"Mami ke sana dulu kasih dokumen sama papi". Kata mami Vita menunjuk ke arah meja yang ada beberapa orang di meja sana.


"Iya,, Misha tunggu disini".


"Kalau mau makan kamu pesan duluan aja".


"Mami ingin makan apa??".


"Mami nanti saja".


Setelah ditinggalkan mami Vita dia menatap menu untuk memesan makanan tapi tidak enak juga kalau pesan duluan jadi dia menutup kembali dan menatap ke arah meja orang tua Riyan.


Saat tahu Misha menatap ke arah mereka. Misha melihat papi Rendra melambaikan tangan yang langsung Misha belas dengan lambaian tangan dan senyuman manis.


Tapi saat Misha melirik ke arah pemuda yang familiar membuat dia mengerutkan kening.


("Bukankah itu pemuda yang sama di lantai apartemen tadi,, kenapa dia sudah ada disini". Batin misha. )


RRRRRRRRRRRRRR


Misha yang sedikit melamun dikagetkan dengan suara dering telepon video yang masuk. Dia melihat nama 'My love❤️' di layar ponsel. Hal itu membuat misha mengerutkan kening heran.


"Kapan aku mengganti nama dan photo Riyan". Gumam Misha menggeser tombol hijau.


["Sayang lagi apa?? Aku kangen". Ucap Riyan di sebrang telpon dengan wajah merajuk. ]


"Tadi kan sudah ketemu di kantor".


["Tapi kamu pergi ninggalin aku sama mami lagi". ]


"Itu mami kamu Riyan,, lagian kamu juga bakal kesini kan besok pagi".


["Ck dia juga gak nganggep aku anaknya". Keluh Riyan membuat Misha menggelengkan kepala. ]


Misha selalu heran dengan kelakuan Riyan yang selalu bertengkar dengan bokap dan nyokapnya tapi pertengkaran itu yang menurut Misha sangat lucu. Misha melihat ini adalah bentuk kasih sayang mereka dalam keluarga.


["Riyan meeting segera dimulai". Suara Angga mengagetkan Misha karena suara itu sangat keras. ]


["Sialan bisa diam tidak, gue lagi bicara sama Misha,, pundurkan meeting 1 jam lagi". ]


Misha bisa melihat wajah Riyan kesal dari layar ponsel. "Riyan kamu ada meeting??".


["Iya tapi bisa ditunda beberapa jam lagi kok". ]


"Baiklah". Misha bangkit dari duduknya menuju tempat orang tua Riyan. "mami Riyan gak mau meeting dan mementingkan berbicara dengan Misha". Adu Misha kepada mami Vita.


Ponsel Misha di ambil sang mami langsung menatap dengan tatapan tajam.


Misha tahu bahwa Riyan akan patuh pada maminya jika bersangkutan dengan pekerjaan. Apalagi sang papi yang sangat ketat tapi selalu menyerahkan semuanya kepada mami Vita yang akan beres seketika. Walaupun banyak cara yang telah dilakukan.


"Apa yang kamu katakan tadi??". Tanya mami Vita dengan suara tegas yang mengerikan.


["Riyan gak mengatakan apapun". Riyan bisa melihat sedikit bahu kekasihnya yang duduk di samping maminya. ]


"Riyan??". Panggilan penuh penekanan yang membuat semua orang menatap ke arah mami Vita.


...------------...

__ADS_1


...Happy Reading.,...


__ADS_2