Destiny In My Life

Destiny In My Life
Spend time with friends


__ADS_3

Kring , , kring, , kring,


Alarm berbunyi di kamar dengan dua gadis yang masih terlelap. Mereka berdua semalam tidur lebih awal karena tidak mau bangun kesiangan.


"Emm, , ". Lenguh suara terdengar dari salah satu dari mereka.


Misha terbangun terlebih dahulu lalu berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap siap shalat subuh.


Kembali menggunakan piyama tidur yang tadi Misha keluar tapi rambutnya masih tergulung handuk.


"Tin Tina bangun, shalat subuh dulu udah siang". Seru misha membangunkan tina setelah dia selesai sholat.


"Emm, jam berapa??".


"Jam lima lewat".


Perlahan Tina bangun dengan linglung masih mengumpulkan nyawa setengah.


"Lo mau sarapan apa??". Teriak Misha melipat mukena.


"Apa aja".


Setelah mendapatkan jawaban, Misha pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Dia membuat sandwich yang simpel tapi Misha juga gak yakin Tina akan sarapan dengan itu.


"Ya udah ah nanti kalau nggak suruh sarapan dibawah aja". Gumam Misha.


Cklek


Tina keluar dari kamar dengan pakaian tadi. Dia terlihat belum mandi.


"Lo bikin apa??". Tanya tina mengerutkan kening melihat menu sarapan di atas meja.


"Sandwich, Lo mau makan apa?? Gak ada nasi soalnya gue males".


"Nggak lah gue belum lapar". Ucap Tina tapi membuka lemari es mencari sesuatu.


"Gak lapar tapi cari makanan". Ledek Misha.


"Daripada makan yang gak pernah gue coba sebelumnya mending makan ini". Tina membuka tutup salad untuk ia makan. Salad itu dibeli Misha kemarin di supermarket bawah karena ia lagi malas buat.


Misha acuh dengan apa yang diucapkan Tina. Dia asik sarapan beberapa potong sandwich yang dia buat sendiri.


"Roti, sayur dan susu. Sehat juga lo ya udah seperti anak konglomerat".


"Kolong melarat iya". Celetuk Misha dengan mulut penuh makanan membuat tina tertawa ngakak.


"Lagian lo, gue baru tahu misha suka sayur ya sekarang".


"Mungkin mulai kebiasaan mulai saat ini, nyokapnya Riyan selalu ajak gue cek up bulanan. Awalnya gue nolak tapi lama kelamaan gue dipaksa ya gue nurut aja lah." Jelas Misha.


"Lo udah deket sama keluarga tu kulkas 7 pintu". Kaget Tina membulatkan mata.


"Ck, dia punya nama". Sebel Misha karena kekasihnya selalu Tina panggil kulkas 7 pintu.


"Iya gue tahu tapi lo gak lihat wajahnya dingin banget, jarang ngomong lagi kalau gak sama lo".


"Terserah ah."


Misha meminum habis susu coklat hangat lalu mencuci piring bekas sarapan dia.


Mereka akan langsung kumpul di mall jam 9 nanti. Misha sengaja gak kumpul pagi pagi karena dia tahu mereka pasti akan ngaret jika memberitahu kumpul pagi buta.


Setelah sarapan mereka bersiap siap. Misha yang sudah mandi terlebih dahulu sekarang sekarang sedang duduk di depan meja rias melakukan aktivitas rutin di pagi hari.


"Lo yakin mau pakai baju 2 gak panas??". Tanya misha meyakinkan.


"Ck Lo juga bahannya tebal kampret".


Misha yang mendengar itu hanya nyengir tanpa dosa. Dia gak lihat apa yang akan dia pakai malah mengomentari pakaian Tina.


Misha melakukan itu juga agar Tina nyaman nantinya. Karena gak tahu cuaca hari ini akan seperti apa.


"Mau gue tata rambut lo??". Tawar Misha.


"Boleh, gue gak bisa pakainya". Cengir tina.


Karena misha selesai duluan akhirnya dia menata rambut Tina dengan rapih. Hanya sedikit mencatok ujung rambut agar sedikit bergelombang.


Tanpa menghabiskan waktu lama akhirnya mereka selesai dengan bertepatan dengan ketukan pintu.


Tok,, tok,, tok,


Cklek


Pintu kamar misha buka menampilkan penampilan Riyan yang serba hitam.


"Belum selesai?". Tanya Riyan mengelus kepala misha.


"Udah tinggal memakai sepatu, kamu tunggu di sopa dulu".


Mendengar apa yang Misha ucapkan Riyan berjalan meninggalkan kamar menuju sopa. Sedangkan Tina masih sibuk bercermin dan misha memakai sepatu.


"Buruan ih pakai sepatu, nanti mereka ngamuk loh ini udah mau jam 9".


"Iya bentar".


Tina berlari ke luar kamar membawa tas miliknya. Dia menghiraukan keberadaan Riyan yang memang Riyan juga acuh memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Iya iya gue dijalan nih, gue tahu lo juga masih dikosan". Omel misha keluar dari kamar dengan ponsel di telinga.


Adit yang ada di sebrang telpon terus mengomel karena sudah mau jam 9 mereka belum pergi. Padahal dirinya juga sama.


Jarak ke mall memang sama sama jauh yang kemungkinan akan telat sampai sana. Apalagi hari ini hari weekend yang pasti jalanan macet parah.


Melihat Misha keluar kamar, Riyan bangkit dan berjalan berdampingan dengan Misha memaki sepatu yang tadi Riyan gunakan.


Dari rumah memang Riyan sudah siap dengan memakai Hoodie hitam dan celana jins hitam. Semua serba hitam kecuali sepatu.


Riyan selalu menitip kan dompetnya di tas Misha saat jalan jalan tanpa membawa tas karena jika diletakkan di saku takutnya ada yang akan ngambil.


Jadi semua milik Riyan akan ada di tas Misha termasuk handphone.


Jika mereka jalan berdua, Ponsel masing masing akan ada di dalam tas tapi kalau nggak ponsel Riyan akan ada di saku Hoodie/jins bagian depan.


Di depan mobil perjalanan menuju mall, benar saja mereka terjebak macet parah. Bahkan Tina sedari tadi terus mengeluh karena menjadi obat nyamuk diantara Riyan dan Misha.


Apalagi tangan Riyan terus memegang tangan Misha dengan erat padahal misha meminta dilepaskan tapi telinga Riyan terasa tuli.


45 menit akhirnya mereka sampai di palkiran mall. Pandangan mereka berkeliling mencari keberadaan yang lain. Tapi karena mall yang ramai tentu saja akan mempersulit mereka semua.


...Grup SMK (8)...


Adit


|Kita kumpul di caffe xxx di lantai 2


|Cepetan gue udah sampai


|Yang terakhir pokonya traktir gak mau tahu gue


Aji


@Misha


Adit


2in


Tina


3in


^^^Misha ^^^


^^^Bacot,!!|^^^


Setelah tahu keberadaan yang lain akhirnya mereka bertiga pergi ke tempat Adit menunggu.


Sesampainya disana ternyata mereka orang terakhir yang datang tentu saja dengan mulut ceweknya Adit iya terus meminta misha untuk traktir mereka semua.


"Asik".


Dengan gak ada akhlaknya ternyata benar memesan banyak makanan membuat Misha kesal sendiri.


Tapi bukan misha yang akhirnya membayar tagihan itu melainkan sang kekasih, Riyan. Mana ada Misha membayar semua makanan saat ada dirinya disana.


Riyan tidak pernah mau misha mengeluarkan uang hasil kerjanya dengan cuma cuma. Dia sebisa mungkin membelikan apa kemauan Misha agar uangnya tetap utuh.


Selesai makan, mereka semua memutuskan untuk nonton salah satu film yang sedang diputar di bioskop.


Di perjalanan menuju bioskop rombongan mereka menjadi pusat perhatian karena ramai sendiri.


Gimana gak ramai kalau mulut para cowok seperti mulut wanita yang gak bisa diam kecuali Riyan dan Kevin.


Misha sudah mengenalkan Riyan sama Kevin yang membuat Misha sedikit tenang tapi setiap jalan Misha sadar bahwa Kevin sering curi pandang ke arah dia.


Tapi sebisa mungkin Misha bersikap biasa aja.


Bug


"Bisa gak sih kalau gak usah bermesraan didepan gue". Keluh Tina memukul punggung Adit yang terus bersikap manja kepada putri.


"Iri bilang teman".


"Dih siapa juga yang iri sama lo, gue juga punya dua malahan". Jawab Tina memeluk tangan aji dan kevin yang membuat dirinya berjalan diantara kedua pemuda itu.


"Yang ada nanti homo kalau sama lo". Celetuk aji tanpa dipikir.


"Gue cewek anjim".


"Adududuh, , sakit bego jangan dicubit". Pekik aji kesakitan berusaha melepaskan cubitan di tangan.


Tina memanglah cewek tomboy diantara kami. Bahkan saat sekolah dulu dia sangat petakilan memanjat pohon yang ada di belakang kelas padahal dia menggunakan rok saat itu.


Semua temannya hanya bisa geleng geleng kepala melihat itu tanpa ada yang mencegahnya. Sama halnya dengan Misha. Dia juga biasa tomboy tapi bisa diatur. Misha bisa menjadi tomboy/peminim diwaktu yang pas.


2 jam lebih mereka berada di dalam bioskop. Setelah lamanya didalam membuat perut mereka kembali lapar. Untuk saat ini mereka akan bayar masing masing tapi bukan di caffe/restoran melainkan hanya beli cemilan dan minuman yang akan dimakan di meja yang ada di luar setiap toko.


Meja dan kursi itu diletakan agar para pengunjung bisa beristirahat setelah capek keliling mall.


"Kamu tunggu disana aja biar aku yang nganteri". Seru Riyan.


"Gak papa aku ikut aja "


Riyan mengangguk lalu berjalan menggandeng tangan Misha ke tempat penjual makanan yang akan misha pesan.

__ADS_1


Sementara beberapa teman yang lain berpisah untuk membeli makanan masing masing yang akan mereka makan. Lalu berkumpul di meja kosong yang ada di mall lantai 4.


Misha dan Riyan datang terakhir karena kebetulan antrian disana sangat panjang.


Mereka makan sambil canda tawa yang Adit keluarkan. Dia memang orangnya yang paling bobrok dari semuanya, apapun bisa keluar dari mulutnya tanpa yang lain pikirkan.


Berbeda terbalik dengan ceweknya yang pendiam membuat mereka semua menyebut mereka dengan pasangan terbalik.


"Eh emang mulut lo gak bisa diem apa dari tadi nyerocos Mulu kaya bajaj". Keluh Misha yang mulai kesal dengan Adit yang berisik.


"Kamu nanya??".


"Anj*ing".


"Sayang". Seru Riyan memegang mulut Misha yang mengeluarkan kata kata kasar.


Dengan perlakuan Riyan yang seperti itu membuat Misha mengerucutkan bibirnya, sedangkan yang lain tertawa ngakak karena Misha secara tidak langsung diomeli sang kekasih.


Bug


Dengan kesal misha melempar Adit dengan cemilan yang ada dihadapannya, tak lupa juga tatapan tajam menatap ke arah Adit.


Tapi bukannya takut, Adit malah terus mentertawakan misha yang terlihat imut dimata mereka.


"Riyan,". Sapa seorang wanita yang berjalan mendekati meja mereka.


"Buset". Celetuk Adit membulatkan matanya saat melihat tiga wanita mendekat dengan pakaian minim.


Semua orang yang ada dimeja itu tentu saja menatap ke arah mereka.


Misha menaikan salah satu alisnya saat melihat keberadaan stela bersama teman temannya. (Mungkin)


Sedangkan Riyan setelah tahu siapa yang memanggil, ia langsung menatap mengalihkan pandangan nya kembali ke layar handphone.


Melihat tidak ada reaksi dari orang yang dipanggil membuat semua orang yang ada disana menatap mereka bergantian. Kecuali Misha.


"Riyan,,". Panggil stela lagi.


"Ppppttt,,".


Suara tawa yang ditahan terdengar di telinga stela yang membuat wajahnya memerah akibat malu. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi dia mengajak kedua temannya pergi.


"Buset nemu dari mana tu baju, sekulit sedaging". Seru Adit.


"Bilang aja lo suka kan". Sahut Tina dengan mata menyipit menunjuk Adit.


"Ck, ogah gue sama cewek modelan kaya gitu".


"Sha cowok lo kenal sama dia??". Tanya aji kepada misha.


Walaupun disana ada Riyan tapi teman temannya Misha gak berani bicara sama dia. Saat melihat wajahnya saja mereka akan ketakutan dan tidak ada suara yang bisa mereka keluarkan.


"Lo gak tanya orangnya langsung". Jawab Misha menunjuk Riyan yang fokus pada layar handphone.


"Dih pake ditanya segala, kalau bisa pun gue dari tadi banyak tanya sama dia". Bukan aji yang jawab melainkan Adit yang langsung nyerocos tanpa henti.


Misha hanya nyengir mendengar ucapan mereka. Memang bener apa yang mereka katakan karena Misha bisa menebaknya sendiri.


"Mungkin dia -".


"Gue gak kenal sama dia". Riyan langsung memotong ucapan Misha dengan suara tegas tanpa mengalihkan pandangan itu.


Mendengar suara Riyan yang sangat dingin membuat semua orang terdiam memandang satu titik kecuali misha yang hanya bisa tertawa melihat teman temannya yang diam.


Jam sudah menunjukan pukul 3 sore, mereka memutuskan untuk pulang tapi mereka akan berpisah di parkiran ke tempat masing masing.


Tina yang datang dengan Misha tentu saja harus kembali ke apartemen nya untuk mengambil barang miliknya yang dia tinggal disana.


Karena tidak ingin menjadi obat nyamuk seperti sebelumnya membuat Tina mau tidak mau menyeret Kevin agar mau mengantarnya ke sana.


Setalah sekalian lama memohon akhirnya Kevin mau.


"Lo tahu kan alamatnya?". Tanya Misha saat mereka ada di palkiran.


"Iya tahu. Masih ada di grup chat kemarin".


"Lo tunggu gue aja disana ya".


"Iya".


Setalah Kevin datang, dia naik ke atas motor lalu pergi duluan.


Hanya memerlukan waktu 15 menit akhirnya misha sampai di apartemen. Kebetulan jalanan tidak macet, tidak seperti saat mereka berangkat tadi.


"Yuk". Ajak Misha kepada Tina yang sudah sampai duluan.


Mereka berempat masuk ke dalam apartemen. Tadinya Kevin tidak ingin masuk tapi bisikan Tina akhirnya dia mau. Ntah apa yang dia bisikin juga yang membuat wajah Kevin terlihat aneh.


Hanya mengumpulkan beberapa barangnya, Tina langsung pamit pulang dengan alasan ingin cepat istirahat karena besok dia harus berkerja lagi.


Sementara Kevin hanya diam tanpa bersuara sering mencuri pandang kepada misha. Banyak yang ingin dia tahu tapi dia juga berpikir dirinya bukan siapa siapa buat Misha. Dia hanya teman biasa tanpa lebih.


Jadi Kevin gak ada hak apapun. Walaupun dirinya menyukai Misha dari dulu.


...----------------...


...TBC...

__ADS_1


...Happy Reading,,, Babay!!!!...


__ADS_2