Destiny In My Life

Destiny In My Life
Perkara kacamata


__ADS_3

....


"Ah aku lupa?? Aku mau minta tolong boleh??". Ucap Misha menatap ke arah Riyan yang sedang mengemudi.


"Apa?? Bilang aja??".


"Teman aku ada yang mau nonton konser, aku mau minta tolong kamu belikan tiketnya. Mereka titip aku".


"Konser apa??". Tanya Riyan lebih lanjut. Karena memang saat Misha nonton selalu Riyan yang mengurus.


"EXO, masih beberapa bulan lagi tapi tiketnya dijual bulan ini". Ucap misha sambil asik makan cemilan.


"Nanti aku cari info dulu".


Misha mengangguk dengan gemas membuat Riyan mengelus kepalanya dengan sayang. Dia sangat bersyukur gadisnya selalu ada setiap saat dan selalu membuatnya tambah bersemangat menjalani hidup. Seperti ada tujuan dia bekerja, selama ini dia bekerja hanya untuk membantu orang tuanya saja tapi sekarang. Dia bekerja untuk kebahagiaan wanita kedua dalam hidupnya setelah sang mami.


"Tapi dia belum bicara apapun lagi, katanya bicara nya lagi nanti kalau sudah kumpul biar gampang". Ucap Misha dengan mulut penuh makanan.


"Kalau mau bicara telan dulu". Ujar Riyan memukul pelan mulut Misha.


Gadis itu kebiasaan kalau sedang makan selalu berbicara. Jika tidak seperti itu Misha tidak akan kapok.


"Maaf".


Ucapnya setelah makanan ia telan.


*******


5 jam lewat Riyan mengemudi sendiri akhirnya mereka sudah memasuki daerah yang banyak pepohonan. Dimana tempat itu perbatasan dengan desanya dari bagian timur.


Cuaca saat ini tidak terlalu panas, sedikit mendung. Tapi tidak sampai turun hujan.


Riyan membuka bagian atas mobil yang membuat mereka bisa merasakan udara yang sangat segar.


"Aish kok gak bilang bilang kalau mau dibuka". Keluh Misha yang sedari tadi diam memainkan ponsel.


Saat itu masih memakai pakaian sedikit tipis yang membuat dirinya kedinginan. Seketika wajah dan tangannya menjadi dingin seperti sedang bermain salju.


"Maaf, dibelakang ada selimut". Ucap Riyan menunjuk ke arah bagian belakang bangku yang mereka duduki.


Misha langsung menatap ke arah belakang yang terdapat selimut, jaket dan bantal kecil. Kepastian Riyan menyiapkan itu untuk Misha.


Dengan cepat Misha mengambil selimut itu dan langsung dipakai.


Banyak pengendara motor yang melintas menatap ke arah mobil mereka. Jalanan itu sangat ramai dengan orang yang sedang jalan jalan.


Misha melirik ke arah Riyan yang sedang mengemudi saat melihat seorang wanita di depan mobilnya terus menatap ke arah belakang.


Dan saat melihat Riyan yang sudah memakai kacamata hitam dengan sangat cool membuat Misha paham siapa yang mereka tatap.


"Pantesan, ada yang tebar pesona". Gumam Misha pelan tanpa Riyan dengar.


Misha yang menang tidak memakai sepatu perlahan membuka sitbel untuk berdiri mengirup udara segar. Ditambah lagi pemandangan yang sangat indah.


Akan tetapi, gadis itu lupa bahwa diatas kepalanya terdapat kacamata yang tadi dia pakai.


Saat Misha berdiri dan membenarkan rambutnya yang berantakan, kacamatanya terbang begitu saja.

__ADS_1


"Yah,, kacamata aku". Keluh Misha menatap ke belakang.


Hal itu membuat Riyan kaget dan menepikan mobil.


"Ada apa??". Tanya Riyan menatap ke arah Misha yang terus menatap ke arah belakang.


"Kacamata aku jatuh".


Misha sedikit ragu menatap ke arah belakang karena kacamatanya jatuh pas di depan warung yang terdapat banyak orang sedang nongkrong dengan kebanyakan cowok.


"Aku ambil dulu kamu tunggu disini". Ujar Misha memberanikan diri.


"Aku-".


"Aku aja". Potong misha memakai sepatunya dengan cepat.


Dia berjalan mengambil kacamatanya yang jatuh. Sebelumnya Misha meletakan selimut yang tadi dia pakai.


Tanpa Misha sadari semua cowok yang ada disana menatap ke arah dirinya dan beberapa dari mereka ada yang berteriak menggoda.


Melihat misha yang berjongkok lama membuat Riyan keluar dan menghampiri. Dia tidak mau kekasihnya menjadi pusat perhatian banyak orang. Ditambah lagi itu cowok.


Misha yang sedang mencari sesuatu sedikit tersentak saat ada seseorang yang memakaikan jaket. Ia mendongak dan melihat wajah tampan Riyan.


"Yan kacamata aku patah". Rengek Misha menunjukan kacamata yang patah. Gagang sebelah kanannya hilang.


"Nanti aku beliin lagi, ayo".


"Tapi ini bisa diperbaiki lagi". Ucap Misha terus mencari.


Sampai salah satu ibu yang sedang menggendong anak kecil kira kita berumur 2 tahun datang mendekat.


"Kenapa neng??". Tanya ibu itu melihat Misha yang sedang mencari sesuatu.


"Kacamata saya jatuh Bu". Ucap misha menunjukan kacamata yang dia pegang.


Ibu itu ikut mencari dan gak lama akhirnya ketemu di dekat ban motor yang terpalkir disana.


"Ini bukan neng". Ucap ibu itu.


"Ah iya Bu makasih ya".


"Hiks, , hiks, , aakkhh". Suara tangisan anak itu membuat Misha dan ibu itu kaget.


"Aduh adiknya kenapa kok nangis??". Tanya Misha dengan lembut mengusap pipi anak itu yang terus menyembunyikan wajahnya.


Anak itu terus ditenangkan oleh sang ibu tapi sesekali melihat ke arah Riyan dan menangis lagi.


"Aish, dia takut lihat wajah kamu, By. Senyum Napa". Ujar Misha memukul tangan Riyan yang sedang berdiri dengan tatapan datar.


"Tak apa neng, neng sama masnya orang mana??". Tanya ibu itu setelah anak itu tenang.


"Saya dari Jakarta mau pulang Bu".


"Asli orang jakarta??".


"Kalau dia iya, saya orang sini. Mau pulang kampung". Ucap menunjuk ke arah Riyan.

__ADS_1


"Mampir dulu atuh minum atau makan gitu, kalau boleh tahu namanya siapa??". Tawar ibu itu.


"Saya Misha, dia Riyan.". Memperkenalkan diri. "Gak udah bu kami mau lanjut aja takut kemalaman, terimakasih udah bantu saya. Kalau ibu dan adik nya namanya siapa??". Lanjutnya dengan ramah.


"Iya neng sama sama. Saya ibu Nina kalau ini namanya Tiara, kapan kapan mampir ya kesini, disini pemandangannya gak kalah bagus di kota".


"Iya Bu kalau kami sempet nanti mampir disini. sekarang kami mau pamit dulu. Permisi Bu,, bye bye Tiara".


"Iya neng".


Misha melambaikan tangan kepada anak kecil itu disusul dengan Riyan yang berpamitan dengan sopan walaupun tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Mereka melajukan mobilnya kembali dengan situasi yang berbeda. Misha bisa merasakan bahwa Riyan sedang tidak baik baik saja saat ini.


Gadis itu paham, Riyan sedang kesal saat dirinya digodain oleh para cowok tadi.


Tapi Misha hanya diam dan menunggu emosi Riyan reda baru berbicara. Untung saja Riyan tidak memberi mereka pelajaran yang pasti akan membuat suasana menjadi kacau.


......


Sesampainya di depan rumah Misha. Banyak orang yang menyambut mereka berdua.


Misha memang sudah mengabari orang tuanya bahwa dia akan pulang bersama Riyan sebelum pergi ke Japan. Tapi gadis itu belum berbicara tentang keluarga Riyan yang akan datang besok.


Setelah makan malam Misha memberitahukan niatnya kembali ke kampung untuk apa tanpa ada yang ditutup tutupi. Termasuk tentang rencana lamaran yang akan Riyan lakukan besok.


Orang tua Riyan juga menyerahkan semuanya kepada pihak Misha untuk melakukan acara lamaran seperti apa yang mereka lakukan hanya datang menyampaikan niat baik itu. Mereka juga tidak tahu adat apa yang terjadi di desa Misha.


"Oh ya Bu kira kira ada rumah kosong buat disewa beberapa hari gak". Tanya Misha kepada ibunya.


"Buat apa??".


"Buat tinggal orang tua Riyan, gak mungkin mereka tinggal disini kan". Ucap Misha yang diangguki oleh sang ibu.


"Mereka datang hanya berdua atau berapa orang??".


"Gimana by, berapa orang yang akan datang dari Jakarta??". Tanya Misha kepada Riyan yang sedari tadi hanya diam menyimak.


"Aku juga gak tahu, mami belum ngabarin apa apa??".


Anak dan ibu itu membicarakan tentang tempat tinggal serta acara untuk besok. Sedangkan Riyan dia suruh Istirahat di dalam kamar karena sudah mengemudi selama berjam jam.


Sampai akhirnya malam itu juga Misha pergi berdua bersama ibunya menuju ke pemilik rumah untuk ia sewa. Dia hanya akan menyewa selama 3 hari saja.


Untung saja orang yang punya rumah itu kenal dengan sang ibu membuat mereka menurunkan harga sewa agar lebih murah.


Mereka juga mematikan keadaan rumah takutnya ada hal yang tidak diinginkan dan membersihkan rumah itu setelah ditinggalkan oleh penyewa sebelumnya.


Setelah merasa beres Misha dan ibunya pulang ke rumah untuk menyiapkan hal yang lain.


Misha juga memberi semua uang yang dia punya kepada ibunya untuk mengurus semua makanan untuk besok. Untung saja di dalam dompet terdapat uang cash 1 juta.


Malam ini Misha tidur di depan tv sendirian karena di kamar ada Riyan yang sudah tertidur sangat pulas. Tidak mungkin kalau mereka tidur bersama. Bisa bisa besok pagi bukan acara pertunangan yang diurusi melainkan acara pernikahan.


Walaupun tidak melakukan apapun tapi tidak mungkin pria dan wanita tidur bersama sebelum melakukan ijab Kabul.


To be continued, , ,

__ADS_1


__ADS_2