Destiny In My Life

Destiny In My Life
Lamaran


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama mereka berdua sudah siap menggunakan pakaian kasual.


Pertama mereka pergi ke tempat percetakan dan memilih undangan yang simpel tapi elegan. Dia tidak mencetak banyak hanya 30 saja lagian ini juga acara kecil kecilan.


Misha hanya ingin teman temannya bisa kumpul di rumahnya saja sambil temu kangen. Dari tahun sebelumnya hanya misha yang tidak ikut di acara reunian yang di adakan teman sekolahnya karena dia jarang pulang.


"Mang bisa dikerjakan sekarang kan??". Tanya Misha.


"Bisa paling satu jam juga sudah selesai".


"Ya udah nanti saya ambil jam 09.30". Ucap misha.


"Iya neng".


"Ini uangnya, kembaliannya buat mas aja. Saya gak enak bikinnya secara mendadak".


"Gak apa neng, makasih ya".


Mereka keluar dari toko percetakan menuju ke rumah tempat rias. Untung saja sebelum nya sudah dikolong jadi orang nya ada dirumah.


Tok tok tok


Ceklek, pintu terbuka menampilkan orang yang misha kenal.


"Silahkan masuk".


Mereka masuk dan duduk di sopa ruang tamu.


"Maaf mba mengganggu, seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya di telpon gimana, apa mba Fitri bisa??". Tanya Misha meyakinkan.


"Emangnya acaranya jam berapa??".


"Jam 15.30 habis ashar".


"Kebetulan jadwal bulan ini sedikit renggang jadi saya bisa". Ucap Fitri membuat Misha bernafas lega. "Untuk pakaian nya gimana??".


"Pakaian sudah Misha siapkan dirumah".


Mba Fitri menganggukkan kepala dan membicarakan tentang nomer berapa yang mereka ambil. Misha mengambil yang paling mewah dan langsung membayar nya dimuka via transfer.


Awalnya Misha ingin memakai uang pribadinya tapi Riyan menolak dan memakai uang dia. Begitulah Riyan jika berhubungan dengan uang.


.


.


.


13.15


Misha dan riyan sudah selesai muter muter melakukan persiapan untuk acara lamarannya. Setelah mengambil undangan itu mereka langsung membagikannya kepada temannya yang ada di rumah.


Misha berharap mereka datang tanpa memikirkan membawa apapun. Karena acara yang misha lakukan sangatlah mendadak.


Rombongan keluarga Riyan juga sudah sampai di rumah yang Misha sewa. Mereka sedang beristirahat terlihat dahulu.


Ada 5 mobil yang datang.


Orang tua Riyan, Angga, ayah Angga, keluarga mba Maya dan beberapa teman kerjanya di perusahaan nyokapnya Riyan sebagai model. (Diana, Seli, bintang dan Aris).


Awalnya Misha tercengang saat mami Vita memintanya pergi ke penginapan yang dia sewa. Saat pulang tadi adiknya ibu Misha memang diminta untuk menunggu di sana untuk memastikan semuanya.


Misha tidak percaya mereka akan datang kesana padahal jaraknya sangat jauh.

__ADS_1


Untuk masalah tempat Misha juga bingung karena rumah nya sangat sempit dan hanya bisa berdoa agar acara bisa berjalan dengan lancar.


Dirumah Misha membersihkan rumah dan melihat dekorasi sudah siap. Acara akan berlangsung 3 jam lagi dan untuk makanan sedang dibuat oleh ibunya serta saudaranya.


.


.


.


15.00


Misha sudah dalam kondisi setengah dirias.


Teman temannya juga sebagian sudah pada datang ke rumahnya.


Kepastian di ruangan didalam tidak akan cukup membuat jendela yang ada didepan dicopot agar orang yang duduk di luar bisa melihat semuanya dengan nyaman.


"Shasha, , ". Pekik Sinta heboh masuk ke dalam kamar.


Saat mendengar dirinya akan bertunangan membuat gadis itu heboh dan datang lebih awal.


"Jangan bicara soal tiket". Ucap Misha memperingati. Misha tahu temannya itu sangat menggilai boyband kesukaannya itu sama halnya dengan dirinya tapi mereka berbeda grup.


"Baru juga gw mau tanya masalah tiket". Gerutu Sinta dengan pelan tapi masih Misha dengar.


Sebenarnya Riyan sudah memberitahu bahwa dia dapat tiket itu dengan apa yang temannya mau. Tapi bukan Misha namanya jika tidak perhitungan. Walaupun pada teman sendiri


"Uang dulu baru tiket". Celetuk Misha dengan candaan.


Sebenarnya Misha juga membuatkan temannya itu bayar setengahnya dulu dan melunasi dengan cara bertahap. Misha paham akan harga tiket itu yang tidak murah. Jadi Misha bisa paham.


"Iya iya, nanti gw transfer tenang aja".


"Gak tahu, lihat nanti aja".


"Bilang aja nanti sama gw, siapa tahu gw lagi ada di Jakarta".


Terlihat Sinta menganggukkan kepala dan mengingat sesuatu. "Lo jadi ke Japan??".


"Jadi, hari Kamis gw berangkat". Misha yang rambutnya sedang di hias hanya bisa mengikuti apa yang mba Fitri lakukan.


Di dalam kamar hanya ada 3 orang dan Sinta tidak pernah mau keluar malah mengajak ngegosip.


Dari taman baik di SMK nya hanya Sintia dan Elma yang ada. Untuk yang lain mereka hanya mengganggu di dalam grup dan menuntut mentraktir mereka saat di Jakarta nanti.


"Berapa hari??". Tanya Sinta lagi.


"Seminggu, udah ah sono lo jangan ganggu gw". Usir Misha yang malah membuat Sinta nyengir tanpa dosa.


Gak lama kemudian acara dimulai setelah rombongan keluarga Riyan datang. Misha juga sudah meminta seseorang untuk mengurusi tempat palkir karena lokasinya sangat padat rumah.


Mereka mengira bahwa yang akan datang hanyalah 2 atau 3 mobil. Tapi nyatanya 6 mobil membuat mereka kebingungan buat memalkirkan mobil.


Alhasil mobil harus dipalkirkan jaraknya lumayan jauh dari rumah Misha.


Acara berlangsung dengan meriah. Apalagi dihebohkan dengan teman temannya yang datang dari jakarta. Setelah Misha menjadi model hanya Diana, Seli, bintang dan Aris yang menjadi teman mainnya dikala tidak ada pekerjaan.


Gak jarang juga Misha mengajak teman SMK nya tapi karena mereka selalu sibuk bekerja jadi mulai jarang berkumpul.


Agar leluasa berphoto bersama, Misha menyewa dengan kapasitas yang besar membuat mereka berphoto sesuka hati sebagai kenang kenangan.


Acara berlangsung sampai menjelang malam.

__ADS_1


Teman temannya pulang dengan membawa bingkisan yang Misha siapkan sebelumnya.


Mereka juga ada yang membawa kado buat Misha walaupun sebelumnya sudah di peringati jangan membawa apapun. Bisa datang juga misha sudah senang.


Diruang tamu terdapat beberapa bagian orang yang sedang berbincang bincang. Ada juga yang bergantian shalat magrib di kamar misha.


"Gw punya hadiah buat lo". Ucap Angga membuat semua orang menatap ke arah suara.


Sedangkan yang ditatap malah tersenyum sangat lebar bahkan sesekali mengedipkan mata menggoda.


Terlihat dari paper bag yang disodorkan membuat Misha dan yang lain sudah bisa menebak apa isinya.


"Berlian sha, cepat buka??". Bisik Diana yang duduk di sampingnya.


Saat misha membuka kado dari Angga semua orang tidak lepas dari pandangan nya menatap ke arah misha.


Dan benar saja terdapat kalung berlian berinisial M untuk Misha dari Angga.


"Tidak ada penolakan". Ucap Angga dengan cepat saat melihat gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya ingin berkomentar.


Hanya lenguhan napas pasrah yang bisa Misha keluarkan.


"Makasih Abang Angga". Ucap Misha dengan suara yang dibuat imut tapi diakhiri dengan tatapan tajam.


Semua orang yang ada disana tertawa ngakak dengan kelakuan mereka berdua. Memang Angga dan Riyan sama sama menyayangi Misha tapi kasih sayang mereka sangat berbeda sebutan. Jika Riyan menyayangi Misha sebagai wanita pendamping hidup nya sedangkan Angga menyayangi Misha sebagai adiknya.


Begitulah mereka berdua.


"Makasih ya udah datang jauh jauh kesini, btw kalian tahu dari mana gw tunangan??".


"Dari mba Maya, awalnya Seli gak sengaja denger percakapan mba Maya sama nyonya bos makanya tahu dan membujuk nyonya bos biar bisa ikut". Ucap Diana apa adanya sedangkan Seli hanya nyengir merasa bersalah.


Sebenarnya tidak sopan berbuat seperti itu tapi Maya yang ada disana hanya bisa memaklumi karena mereka sangat dekat dengan Misha saat di perusahaan.


"Mami kakak misa cantik banget ya". Gumam Vallen membuat Misha tersenyum.


Maya yang mendengar ucapan anaknya tersenyum sambil mengelus kepala nya dengan sayang.


"Sini sama kakak, mau photo bareng gak sama kakak". Misha menjulurkan kedua tangannya agar anak itu mendekat.


"Nggak mau, kakak misa duduknya susah takut Valen nambah nyusahin kakak".


Ucapan Vallen membuat semua orang kaget. Memang benar Misha yang memakai kebaya saat ini sangat susah untuk duduk dan bergerak karena sangat pas dengan tubuhnya.


Sedari tadi Vallen juga memainkan kain yang menempel di pundaknya yang berbahan nerawang.


"Vallen pintar banget sih, kalau gitu sama kakak Diana aja sini". Ucap diana.


"Gak mau, ada kakak jelek".


Semua orang tertawa mendengar ucapan Vallen. Mereka sudah bisa menebak siapa kakak jelek yang anak itu ucapakan.


"Perasaan gw model dan pasti memakai wajah gw. Kenapa nih anak selalu bilang gw jelek ya". Kata Aris ngaca pada ponsel yang dia pegang.


Memang benar beberapa kali mereka bertemu, anak Maya memang tidak pernah mau dekat dengan aris dan selalu bilang jelek.


"Yang sabar ya, terima nasib".


"Sialan lo".


"Mulutnya dijaga, ada anak kecil". Seru Misha memperingati karena disekitar mereka bukan hanya ada Vallen melainkan kedua ponakannya yang sibuk membongkar mainan.


Aris yang diperingati seperti itu hanya bisa nyengir sambil mengacungkan dua jari keatas dengan bentuk vist ✌️.

__ADS_1


To be continued, , , , ,


__ADS_2