Destiny In My Life

Destiny In My Life
Keluar dari pekerjaan


__ADS_3

Sampai di rumah kediaman Mahendra sepasang kekasih yang baru resmi dikagetkan dengan beberapa orang yang ada di ruang keluarga.


Saat berangkat tadi rumah masih sangat sepi dan yang mereka tahu orang gua Riyan sedang ada dinas di luar negri.


"Ekmm~ teraktiran nya mana nih". Ledek Angga.


Mami Vita tersenyum manis melihat Misha yang sedang malu memeluk bunga pemberian Riyan. Dengan cepat mami Vita memeluk Misha dengan erat.


"Mami kangen sama kamu sayang". Ucap mami Vita.


Karena tidak ingin menjadi bahan ledekan membuat Misha pamit masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


...🍂🍂🍂🍂...


Pagi pagi misha yang sedang datang bulan langsung pergi ke bawah untuk membantu mami Vita membuat sarapan.


Sarapan pagi di kediaman Mahendra tidak begitu lama karena mereka hanya sarapan ringan tanpa nasi atau makanan berat lainnya.


Hari ini mami Vita membuat omlet dan sosis panggang. Tanpa lupa ditemani dengan susu. Setelah Misha tinggal dikediaman Mahendra, mami Vita menyiapkan susu coklat khusus untuknya.


"Sayang hari ini kamu ada rencana apa??". Tanya mami Vita.


"Misha ingin bekerja mi,, gak enak kalau Misha terus libur". Ucap Misha.


"Tapi kan Riyan kirim orang buat gantiin kamu".


"Iya tapi Misha tetap gak enak mi". Kekeh Misha.


"Yah tadinya mami mau ajak kamu liburan ke Bali,, tapi gak papa mami bisa nunggu sampai pasport dan visa kamu jadi baru kita liburan bersama". Kata mami Vita membuat Misha bingung.


"Misha gak bikin pasport sama visa mi". Heran Misha.


"Mami yang suruh Angga. Dia mengambil persyaratan nya dari Raffa bos caffe tempat kamu bekerja".


Misha hanya bisa menghela nafas dengan apa yang nyokap nya Riyan lakukan. Untuk mereka ini hanya pekerjaan penting tanpa ada hambatan.


"Sayang gimana kalau kamu kerja sama mami aja kalau nggak kerja di perusahaan Riyan". Usul mami Vita.


"Setuju".


Riyan yang baru datang langsung nimbrung dengan pembicaraan kedua wanita yang ada di dapur.


"Lebih tepatnya di kantor Riyan". Lanjut Riyan.


"Terserah Misha mau dimana pun,, mami dengar Misha juga pernah bantuin kamu". Ucap mami Vita kepada Riyan.


"Iya tapi sampai sekarang gak ada upahnya mi". Celetuk Misha.


Misha masih ingat apa yang dijanjikan Riyan waktu itu tapi Riyan belum menepati karena kejadian tempo hari.


"Ah~ ok ok sekarang kamu mau apa biar aku penuhi semuanya". Tanya Riyan memandang wajah Misha tanpa berkedip.


Misha memikirkan apa yang ia mau tapi gak ada yang terlintas membuat nya memutuskan untuk meminta saat ada yang ingin ia mau.

__ADS_1


Setalah sarapan Misha bersiap siap untuk pergi ke caffe. Dia akan berangkat diantar oleh Riyan sendiri dan akan dijemput lagi saat pulang kerja.


Sampai di caffe suasana sangat ramai. Misha melihat wanita yang menggantikannya begitu dekat dengan Azis dan ternyata mereka sudah jadian beberapa hari yang lalu.


Saat Misha berada di caffe, ia merasakan perbedaan disana. Suasana pertemanan mereka sangat lah jauh berbeda seperti sebelumnya.


Misha menatap ke arah Raffa yang ada di meja kasir melayani para pelanggan. Sampai akhirnya raffa berjalan mendekat ke meja tempatnya duduk.


"Gimana sha keadaan kamu??". Tanya Raffa.


"Baik bang". Ucap Misha lesu.


"Ada yang ingin ditanyakan kita bisa bicara di ruangan Abang". Raffa tahu akan apa yang Misha pikirkan. Lalu dengan persetujuan Misha mereka naik ke lantai dua menuju ruangan Raffa.


"Kamu boleh cerita apapun sama Abang". Ucap Raffa.


Misha tahu bahwa ruangan raffa didesain dengan kedap suara karena selalu digunakan meeting.


"Misha merasa meeka berbeda setelah Misha jarang masuk bang,, mereka cuek sama mana bahkan grup chat juga sepi, bisa jadi mereka membuat yang baru tanpa misha". Seru misha sedih.


Melihat kesedihan di wajah Misha membuat Raffa ikut sedih. Dia sudah menganggap semua karyawannya sebagai saudara sendiri.


"Abang juga gak tahu apa yang mereka pikirkan.. tapi apapun keputusan Misha Abang terima".


"Mungkin Misha bakal berhenti kerja disini bang.. misha gak mau dengan kehadiran Misha membuat mereka gak nyaman". Seru Misha.


"Terus kamu mau kerja dimana??".


"Belum tahu bang".


Misha datang ke dapur untuk bicara kepada semua orang dan pamitan juga. Tapi semua orang bersikap berbeda yang membuat misha sedih. Apalagi saat Laura meminta Misha untuk meletakan kuncinya di bawah pot bunga yang ada di depan rumah.


Setelah berbicara dan berpamitan. Misha kembali ke Raffa yang ada di meja kasir sambil menunggu Riyan yang menjemput.


Awalnya Misha ingin pergi sendiri tapi Riyan menghubungi untuk mengajak makan siang.


Didalam mobil misha menjelaskan semuanya dengan jujur. Riyan hanya bisa menenangkan Misha yang sedang sedih.


Misha membereskan semua barang miliknya tanpa tertinggal di kontrakan dengan dibantu oleh Riyan.


Sebelum pulang kerumah Riyan mereka makan siang terlebih dahulu. Misha juga meminta Riyan untuk mencari kontrakan atau kosan untuk dirinya tinggal di Jakarta.


Misha tidak mau terus tinggal di rumah kediaman Mahendra seterusnya.


"Kamu tinggal di apartemen aku aja yang ada di dekat perusahaan dan kamu bisa kerja disana sama aku". Kata Riyan.


"Sebagai apa??".


"Asisten pribadi aku".


Plak,,,


"Itu mah mau kamu". Ujar Misha setelah memukul tangan Riyan pelan.

__ADS_1


"Sakit sayang". Keluh Riyan yang melebihi lebihkan.


Misha hanya diam saat mobil melaju sampai depan apartemen. Tak jauh dari sana terlihat bangunan tinggi menjulang dengan tulisan Rendra company. Tulisan itu berada di bangunan paling atas yang terpampang jelas.


Apartemen itu ternyata milik keluarga Mahendra yang membuat semua pelayan menyambut mereka. Ada rasa risih dengan perlakuan itu. Saat ini misha memakai topi yang tidak terlihat jelas mukanya oleh semua karyawan apalagi Misha yang selalu menunduk.


Semua barang misha dibawa menuju lantai 15. Lantai paling atas dan lantai yang memiliki kamar yang sangat mewah. Lantai itu hanya berisi 30 kamar yang dimiliki oleh orang orang penting.


Tapi 10 kamar masih atas nama keluarga Riyan yang belum dijual kepada siapapun.


Misha membereskan semua barang dengan rapih. Ia memutuskan untuk tinggal disana daripada terus tinggal di kediaman Mahendra. Awalnya mami Vita tidak setuju tapi lama kelamaan akhirnya setuju juga.


Riyan yang ada meeting penting meninggalkan Misha sendirian di apartemen. Jika ada apa apa misha bisa menghubungi dirinya atau Angga.


Dikamar misha langsung istirahat karena kepalanya sangat pusing. Ia juga memikirkan apa yang salah pada dirinya membuat Laura cs menjauh begitu saja. Ingin rasanya Misha mengacuhkan mereka tapi tidak untuk pikirannya yang masih bekerja.


Malam hari misha terbangun sudah pukul 7 malam, selesai mandi ia pergi ke dapur untuk mengecek kebutuhannya saat tinggal disana. Tidak ada apapun di dapur karena mereka baru datang tidak siang.


Hal itu memutuskan Misha untuk turun kebawah menuju perbelanjaan yang ada di lantai dasar.


Apartemen ini didesain sangat lengkap untuk bagian bawah ada supermarket dan restoran yang sangat lengkap. Apartemen ini sering disewa untuk penginapan para idol luar negri yang ada event di Jakarta. Karena tempat yang sangat dekat dengan stadion yang sering mengadakan event.


Hanya memakai pakaian santai dengan sandal jepit membuat Misha menjadi pusat perhatian semua orang. Tidak heran jika disana tidak terlalu banyak orang tapi sekitar sana banyak orang dari kalangan atas.


Saat asik berbelanja mencari kebutuhan bulanan, Misha dikagetkan dengan seseorang yang datang menyapa.


"Hai,,". Sapa seseorang.


"Ah~ hai". Balas Misha gugup.


"Sendirian?? Baru tinggal disini ya??". Tanya orang itu.


"Iya, tadi siang".


"Oh pantesan,, saya baru lihat kamu, boleh kenalan nama saya max". Pemuda itu menyodorkan tangan untuk berkenalan.


"Misha". Balas Misha menjabat tangan pemuda yang bernama max.


Pemuda itu bisa dibilang bukan orang Indonesia karena bicara dengan pengucapan yang berbeda tapi sudah bisa bahasa Indonesia.


"Nama yang cantik seperti orangnya". Kata max membuat Misha kaget, tapi masih berusaha menutupinya.


Lama kelamaan Misha pamit untuk pergi ke kasir membayar belanjaan nya dan bersamaan dengan ponselnya berdering.


Nama Riyan tertera dilayar ponsel membuat Misha berjalan sambil berbicara ditelpon.


Saat ini Riyan tidak bisa makan malam bersama karena dia harus lembur di kantor banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


Sampai di dalam apartemen Misha memutuskan untuk makan mie instan saja. Ia lupa untuk membeli makanan di restoran bawah karena ingin cepat kembali ke kamar.


Misha melihat max yang terus mendekatinya padahal Misha sedang berbicara di telpon dengan Riyan.


Max tidak bersuara tapi keberadaannya membuat Misha risih.

__ADS_1


...--------------...


...Happy Reading.,...


__ADS_2