Destiny In My Life

Destiny In My Life
Pulang ke Jakarta


__ADS_3

Pukul 4 PM semua sudah berkumpul di lantai bawah dengan koper masing masing. Saat ini semuanya akan kembali ke Jakarta setelah 2 hari bekerja sambil berlibur.


Misha yang awalnya ikut karena ajakan mami Vita malah pergi jalan jalannya bersama Riyan. Nyokap Riyan malah memilih ikut bekerja dengan suaminya mengecek semua lokasi yang ada disana.


Alhasil misha selalu menempel pada Riyan berdua tanpa siapapun mengelilingi kebun teh.


Di perjalanan pulang ke Jakarta, Misha satu mobil dengan Riyan. Angga pulang mengendarai mobil papi Rendra yang dibawa sebelumnya sedangkan pulangnya naik mobil mami Vita dengan supir.


Tentu saja itu membuat Riyan senang karena bisa berduaan dengan Misha. Tapi sebelum masuk ke mobil tadi mami Vita sudah memberikan ultimatum yang sangat tegas tanpa bisa dibantah.


'jangan mampir kemanapun dan jika sampai rumah tidak tepat waktu mereka akan mendapatkan hukuman'.


Tentu saja Riyan akan mengikuti arahan sang mami yang sangat galak ketika marah.


Tadinya Riyan ingin mengajak Misha untuk mampir jalan jalan ke tempat lain. Kebetulan mereka juga sedang pergi berdua juga dan kapan lagi bisa pergi setelah nanti masuk kerja kembali.


"Yan aku lapar. Ada makanan gak??". Ucap Misha memegang perut.


"Kita mampir di minimarket yang ada di pom bensin sebentar". Ajak Riyan membuat Misha menganggukkan kepala.


....


Mobil masuk ke antrian untuk mengisi bensin di pom yang sedikit lagi masuk ke tol.


"Aku beli cemilan sendiri aja biar cepat ya". Ucap Misha membuka sabuk pengaman.


Riyan mengambil dompet dari tas. Lalu menyerahkan kartu debit kepada Misha.


"Gak usah aku ada uang". Tolak Misha.


"Ambil atau kita belanja bersama".


Misha mengambil kartu itu. Lalu keluar dari mobil menuju minimarket.


Dia berbelanja cemilan yang ingin dimakannya saja saat dijalan. Tak lupa juga beberapa minuman kesukaannya. Buavita rasa jambu 😁.


Ntah kenapa banyak sekali orang yang mengantri di kasir untuk membayar. Hal itu membuat Misha kesal dan bosan. Dia malas untuk mengantri apalagi kebanyakan cowok.


Melihat ke arah luar minimarket tidak terlihat mobil Riyan kemungkinan dia masih mengantri mengisi bensin.


("Lama banget sih". Batin misha terus mengeluh.)


Beberapa orang didepannya memiliki banyak belanjaan yang kemungkinan akan lama.


Saat ini Misha hanya membawa ponselnya dan kartu debit yang diberikan oleh Riyan. Dia meletakan kembali tasnya ke dalam Riyan saat pergi tadi.


Waktunya membayar Misha memberikan kartu itu tapi saat menekan pin nya selalu salah. Mood Misha tambah berantakan. Dia juga malu apalagi banyak orang disana yang memperhatikan dia.


"Bentar ya mba,, maafkan saya". Ucap Misha kepada semua orang.


Banyak pandangan aneh yang menatapnya apalagi Riyan lama sekali mengangkat telpon.


["Hello sayang ada apa??". ]


"Yan pin nya apa??". Tanya Misha langsung.


["Pin yang sama". Jawab Riyan. ]


"Gak bisa,, aku udah coba berkali kali, cepetan kamu kesini aku tunggu jangan lama". Ucap Misha dengan nada yang kurang bersahabat.


Tut, , !!!


"Maaf ya mas mba bikin kalian nunggu".


"Gak masalah, apa ingin pakai uang saya dulu??". Tawar salah satu pemuda dibelakang misha.

__ADS_1


"Gak usah mas makasih".


Dari pintu masuk terlihat Riyan masuk dengan wajah datar dan cool. Tapi bukan membuat Misha terkesima, hal itu membuat kekesalannya kian bertambah.


"Kenapa??". Tanya Riyan saat sudah didepan Misha.


"Gak tau, urusin sendiri". Ucap Misha cuek, minggir satu langkah membuatkan Riyan berdiri di depan kasir.


"Maaf mas, pin yang dilakukan mbaknya salah". Ucap mba kasir kepada Riyan dengan curi pandang.


Pandangan mba kasir itu terlihat oleh Misha yang langsung mengerutkan kening. Ia menatap seluruh minimarket dan benar saja wanita yang ada disana terus menatap ke arah Riyan dengan tatapan memuja. Beberapa orang juga mengambil video dan photo.


Misha langsung menatap ke arah Riyan dengan menyipitkan matanya. Riyan menukar kartunya untuk membayar semua belanjaan misha. Karena jika kartunya dipaksa menekan beberapa pin lagi dan tidak bisa, takutnya akan terblokir.


Riyan yang melihat tatapan masih langsung mencubit pipi nya dengan lembut. Beberapa orang ada yang berteriak membuat Misha kaget.


Mengacuhkan pandangan semua orang, Riyan memeluk pinggang Misha begitu posesif dengan tangan yang lain membawa kantong plastik.


("Aish~ malu gue". Batin misha berpura pura main ponsel. )


Sampai mobil Misha langsung masuk ke dalam mobil dengan Riyan yang membukakannya. Mood Misha hari ini sungguh sungguh berantakan.


"Nih makan katanya lapar". Ucap Riyan memberikan kantong plastik yang berisi banyak cemilan.


"Gak lapar".


"Tadi katanya kamu lapar". Riyan keheranan melihat misha yang terdiam main ponsel.


"Itu tadi bukan sekarang".


"Sayang". Panggil Riyan dengan nada rendah.


"Eehhh, , hiks , , hiks, , ". Bukannya menjawab Misha malah menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Sayang kenapa nangis". Panik Riyan meletakan cemilan itu sembarangan. Lalu dia memeluk Misha dengan erat.


"Udah jangan nangis biarin aja toh mereka gak kenal kamu".


"Tapi aku malu".


Riyan terus menenangkan misha sampai suara tangisan itu mengulang. Dia menghapus air matanya dengan lembut lalu tersenyum.


"Kenapa pin nya bisa salah hm,,". Tanya Riyan dengan lembut.


"Pin nya 12xxxx kan??".


"21 sayang". Riyan tersenyum dengan pin yang disebutkan Misha. Saat memberikan itu Riyan tidak menyebutkan pin nya karena dia mengira bahwa Misha masih ingat.


Mendengar itu misha memanyunkan bibirnya ingin kembali menangis tapi Riyan langsung memeluknya kembali untuk menenangkan sampai misha gak jadi menangis.


"Udah sekarang kamu makan, kita pulang sekarang nanti mami marah kalau kita telat". Ucap Riyan.


"Kamu ini yang akan dihukum mami". Jawab Misha enteng mengambil cemilan yang ada di bangku belakang.


"Tega banget lihat aku dihukum". Gumam Riyan pura pura marah.


Misha membuka cemilan lalu menyuapi Riyan yang pertama, dia tahu Riyan hanya pura pura marah kepadanya.


Diperjalanan pulang, Misha dihabiskan dengan ngemil. Cemilan yang dia beli menemani perjalanan mereka sampai ke Jakarta.


"Sayang pengen buang air". Misha tersenyum lebar tanpa dosa menatap ke arah Riyan.


Riyan menggelengkan kepala heran dengan tingkah Misha hari ini. Dia seperti melihat Misha pertama kali. Mood yang berubah membuatnya harus berhati hati daripada dia mendapatkan amukan yang besar nantinya.


Mobil Riyan masuk ke rest area terdekat. Lalu memalkirkan mobilnya di tempat palkir yang dipenuhi beberapa kendaraan roda empat.

__ADS_1


"Anterin".


Riyan berjalan berdampingan mencari toilet umum. Dia juga ingin ke kamar mandi sekalian.


Mereka berdua berpisah di depan toilet. Toilet wanita dan pria berdampingan tapi bisa dibilang aman.


Setelah buang air, Misha menyadari ternyata tamunya datang di saat yang tidak tepat. Jika dibenarkan saja akan tembus ke pakaian luarnya.


"Hello, kamu dimana??". Tanya Misha saat panggilan sudah diangkat oleh riyan. Untung saja mereka membawa ponsel nya masing masing.


["Aku didepan toilet nunggu kamu, kamu belum selesai??". ]


"Emm, aku mau ngomong boleh".


["Kamu kenapa?? Kamu baik baik aja kan". Ucap Riyan panik. ]


"Kamu jangan panik, aku baik baik aja, tapi-".


["Tapi apa??". Potong Riyan. ]


"Aku mau minta tolong kamu beliin aku pembalut". Ucap Misha pelan.


["Lagi??". ]


"Lagi apa tamu aku aja baru datang". Ucap misha cepat. Tapi sedetik kemudian dia teringat akan permintaannya saat di apartemen saat dia meminta Riyan untuk membelikan pembalut untuknya karena stok di kamar habis.


"Iya iya aku baru ingat,, minta tolong ya dan beliin nya yang merk xxxx".


["Iya aku tahu,, kamu tunggu sebentar nanti aku chat". ]


15 menit misha menunggu di dalam kamar mandi. Akhirnya Riyan memberi pesan kepada misha.


✉️ Riyan


Aku udah beli, kamu di toilet nomer berapa??


^^^Misha ✉️^^^


^^^Nomer 2 ^^^


^^^Read^^^


Tok tok tok


Suara pintu kamar mandi yang diisi Misha diketuk dari luar.


Ceklek


"Mba pemuda didepan menitipkan ini buat mba". Ucap seorang wanita remaja kepada misha.


"Makasih mba". Misha mengambil plastik itu lalu kembali menutup pintu.


Gak lama kemudian dia keluar dengan cepat menemui Riyan yang masih menunggu di depan toilet.


"Gimana perut kamu gak papa kan??". Tanya Riyan mengelus perut misha.


Apa yang dilakukan Riyan menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disana. Hal itu membuat Misha malu, lalu menarik tangan Riyan menuju parkiran.


Wajah Misha sangat merah membuat riyan mengelus kepala nya dengan lembut. Iya tidak berbicara apapun yang akan menambah kekasihnya malu.


"Apa kamu ingin sesuatu sebelum kita lanjut pulang??". Tanya Riyan.


"Gak". Jawab misha cuek


...-----------...

__ADS_1


...HAPPY READING.,...


__ADS_2