
Seharian berkeliling di desa kelahiran misha. Mereka pulang ke penginapan langsung di hadang oleh Riyan.
Sedari tadi sebenarnya kekasihnya itu sudah menelpon berulang ulang kali tapi Misha tidak berniat mengangkat.
"Habis dari mana??". Suara Riyan terdengar tegas dan menakutkan. Bahkan seluruh tubuhnya sedikit gemetaran.
"Gw ke kamar duluan". Bisik Seli yang diangguki oleh Diana ketakutan.
Perlahan Misha berjalan ke arah Riyan yang sedang duduk di sopa, bisa dilihat dia sedang bekerja karena di atas meja ada laptop dan iPad dengan membuka file.
Memasang wajah andalan Misha saat membujuk Riyan membuat satu satunya jalan agar tidak di omeli oleh Riyan.
"Yang, kamu marah sama aku??". Ucap misha dengan suara menggemaskan.
Bisa dilihat misha bahwa saat ini Riyan sama sekali tidak menatap dirinya. Dia berusaha fokus pada layar laptop dengan tangan yang terus mengetik.
"Sampai kapan kamu diamkan aku seperti ini". Batin misha dengan senyum misterius.
"Sayang, , Lagian tadi aku udah ajak loh buat jalan jalan. Tapi kamu malah memilih tidur, ya udah aku tinggal".
"Ini jam berapa?? Tadi juga ujan, abis dari mana kamu??".
"Jalan jalan sekitar sini, cari makan". Balas Misha.
"Mana makanannya??".
"Ya abis, kan langsung dimakan gak di bawa pulang".
".....". Riyan kembali diam.
"Ya udah deh kalau kamu marah. Aku mau pulang aja". Misha sudah menyerah. Jika besok Riyan masih marah ia akan satu mobil sama Angga. Dia gak mau terus diam saat di dalam mobil yang pasti akan membuat Misha bosan.
Kepergian Misha tidak dicegah sama sekali. Awalnya misha hanya ingin pura pura tapi karena tidak ada respon membuat gadis itu pulang beneran.
Saat diluar rumah ingin menjalankan motornya, misha sudah merasakan hujan yang turun. Jika tidak cepat kepastian akan kehujanan saat dijalan nanti.
"Bodo lah, males gw disini".
Misha menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Jaraknya tidak terlalu jauh dan untung saja jalanan sangat sepi.
Benar saja, secepat apapun misha tetap saja dia kehujanan karena saat dia keluar gerbang. Hujan baru turun lumayan deras.
Sampai dirumah, Misha langsung mandi dan masuk ke dalam selimut karena sangat kedinginan.
.
.
.
05.00
Pagi pagi buta alarm Misha berdering.
Hari ini dia dan yang lain akan kembali ke Jakarta. Lusa juga dia harus berangkat ke Japan untuk seminggu.
Ingin lebih lama tapi tidak mungkin karena jadwalnya sangat padat.
Melihat jam masih terlalu pagi membuat Misha menyempatkan untuk membuka semua kado yang masih menumpuk di lantai kamar. Dia memang belum sempat membukanya sedari kemarin.
"Sha, , ".
Ada seseorang yang memanggil misha dari luar membuat gadis itu dengan cepat berlari ke depan rumah takut ada apa apa.
Terlihat ada kakak perempuan dan anaknya disana membuat Misha kebingungan.
"Ada apa kak!?".
__ADS_1
"Kamu jadi berangkat hari ini??". Tanya kakak Misha.
"Iya kak, paling agak siang".
"Takutnya nanti kakak lagi antar ponakan kamu sekolah. Ini ada cemilan buat kamu bawa". Kakak Misha menyerahkan dua paper bag yang langsung Misha ambil.
"Makasih kak, pake repot-repot segala".
"Gak papa, hanya itu yang bisa kakak kasih. Kalau gitu kakak pulang dulu".
Misha mengangguk. "Iya kak".
Setelah kakaknya pergi, Misha masuk sambil melihat isi paper bag itu yang ternyata brownis. Bisa ia tebak pasti kakaknya bikin sendiri untuk nya karena kakaknya memang selalu buat apapun daripada beli.
.....
Beberapa jam kemudian, setelah semua kado terbuka semua. Misha memilih beberapa barang untuk dibawa dan di simpan.
Dikamar Misha memang dikelilingi lemari kaca castom tempat menyimpan barang barangnya yang jarang dipakai seperti tas, sepatu dan barang lain.
Bisa dibilang seminggu beberapa kali Misha selalu mengirim paket ke rumah mengirimkan barang barangnya. Ada juga yang dia masih kepada keluarga nya jika itu masih bisa dipakai.
Misha juga sangat suka mengkoleksi barang KPop yang dia beli ataupun aksesoris yang dia beli dari luar negeri untuk kenang kenangan.
Dia memilih menyimpannya di rumah orang tuanya daripada di apartemen.
...My boyfriend ❤️...
| Morning sayang
^^^Udah siang |^^^
^^^Baru bangun? |^^^
| Belum lewat jam 9 berarti masih pagi
^^^Udah minum susu |^^^
^^^Mau kesini jam berapa?? |^^^
^^^Apa semua orang sudah siap?? |^^^
| Masih pada siap siap tapi aku kesana sekarang
| Mau ketemu sama camer
^^^Ya udah aku tunggu |^^^
^^^Mau sarapan apa?? Biar aku bikinin |^^^
| Apa aja
Read
Mendapat jawaban dari Riyan, gadis itu langsung membereskan sampah yang berserakan di kamar lalu membuat sarapan buat Riyan.
Melihat bahan bahan yang ada di kulkas seadanya membuat Misha membuat sarapan yang spesial. Sosis panggang, roti panggang dan telor mata sapi, tak lupa juga dia menyeduh sereal yang biasa Misha makan buat sarapan.
Tidak ada perubahan apapun buat Misha. Dia masih Misha yang dulu soal makanan tapi setelah menjadi model, dia rajin berolahraga dipagi hari untuk menjaga kesehatan. Dimana Misha selalu kurang tidur saat malam hari.
Apalagi jika dia harus live sehari di 3 aplikasi untuk jualan atau apapun itu.
"Pagi bu".
Terdengar suara Riyan di depan.
Misha tidak harus pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang karena di depan ada ibunya yang sedang menjahit.
__ADS_1
Keseharian ibunya memang sebagai penjahit dirumah.
Setelah Misha memiliki uang tambahan. Dia memberi modal ke orang tuanya dan bersyukur usahanya memberi lebih berkembang. Akan tetapi ibunya hanya bekerja sendiri tanpa merekrut karyawan. Tapi jika pekerjaannya sangat banyak dia akan meminta bantuan pada sesama jahit perumahan agar lebih ringan.
"Misha ada di dapur kayanya, masuk aja".
Mendengar suara langkah kaki mendekat tidak mengganggu dirinya yang sedang membuat sarapan.
"Lagi apa sayang!?". Tanya Riyan di samping telinganya sambil memeluk dari belakang.
Posisi seperti itu membuat Misha terperanjat kaget, ia takut dilihat oleh ibunya dan berpikiran yang tidak-tidak.
"Riyan jangan seperti ini". Ucapnya langsung menjauh.
Misha meletakan piring di meja makan buat Riyan. "Sarapan dulu, aku mau siap siap".
Tidak menunggu jawaban dari Riyan, gadis itu pergi masuk ke dalam kamar untuk mengecek barang bawaannya lagi.
Gadis itu takut barang yang ingin dia bawa malah tertinggal di rumah.
Setelah memastikan tidak ada lagi barang yang tertinggal, Misha keluar kamar membawa koper besar yang sebelumnya dia bawa dari Jakarta.
"Mau berangkat sekarang??". Tanya sang ibu.
"Iya mu Misha pamit". Misha mencium tangan ibunya dan memeluknya dengan erat.
"Hati hati ya, sesibuk apapun jangan pernah tinggalkan solat apalagi saat ada di luar negeri, tidak alasan lupa waktu karena jam nya berbeda". Kata sang ibu menesehati anaknya.
Misha hanya mengangguk sambil menghapus air matanya yang tidak bisa berhenti. Lalu beralih pada Riyan.
"Ibu titip Misha, jagain dia jangan sampai lupa arah. Kalian baik baik jangan banyak bertengkar, ibu tahu watak anak ibu seperti apa. Pasti nyusahin nak Riyan".
"Riyan bakal jagain misha dimanapun dia berada".
Setelah berpamitan dan memasukan semua barang ke dalam mobil. Misha berpamitan pada tetangga rumah bersama Riyan.
Tidak ingin lama lama, akhirnya mereka berangkat menuju rumah penginapan terlebih dahulu. Disana sudah ada pemilik rumah yang menunggu sedari tadi.
Teman temannya juga sudah pada siap tinggal berangkat saja.
Tanpa memasukan mobil, mereka masuk ke dalam rumah dan berterima kasih kepada pemilik rumah sudah mau menyewakan rumahnya pada mereka.
Saat Misha dan Riyan datang ke kebetulan Angga yang sudah menghandle nya sudah ada di depan rumah ingin berangkat.
"Terimakasih pak, kami permisi dulu". Pamit Misha bersalaman diikuti dengan mereka.
Semua orang masuk ke dalam mobil masing masing.
Saat berangkat mereka memang membawa mobil masing masing dan satu mobil berisi 2 orang, hanya Angga yang sendiri.
Sedari datang ke kampung halaman Misha memang mobil mereka sudah menjadi pusat perhatian semua orang yang lewat.
Mereka tahu mobil jenis apa yang yang terpalkir di samping jalan raya. Apalagi sekarang, mereka pulang ke Jakarta seperti sedang touring mobil sport.
Di bagian depan mobil sport Mercedes putih yang di kendarai oleh Riyan dan misha.
Bagian kedua mobil sport Mercedes hitam hanya ada Angga seorang.
Ketiga mobil sport BMW seri putih dikendarai oleh bintang dan Diana.
Keempat mobil sport BMW seri merah dikendarai oleh aris dan Seli.
Jika mereka ada di kota mungkin hal yang bisa. Tapi ini di pedesaan yang jarang sekali ada yang punya mobil pribadi apalagi sekelas sport.
Ada juga beberapa orang yang merekam itu saat 4 mobil itu lewat. Bisa dikatakan bahwa ini momen langka yang tidak akan bisa terulang lagi.
To be continued, , ,
__ADS_1