
Jam pulang sudah tiba. Seperti biasa Misha akan pulang bersama Yuda yang paling akhir karena Raffa jarang ada di caffe dan memberikan tanggung jawab caffe kepada Yuda.
Masih pukul 10 malam lewat tapi suasana kota Jakarta tidak akan pernah sepi. Orang orang masih berkeliaran dimana mana bahkan banyak toko yang tutup hingga malam.
"Da cari jajanan dulu yuk??". Ajak Misha sedikit berteriak karena mereka menggunakan helm. Ia juga mencondongkan tubuhnya menempel pada punggung Yuda yang terhalang tas agar ada jarak.
"Mau apa??". Tanya Yuda sedikit melihat ke samping.
"Apa aja". Balasnya langsung diangguki oleh Yuda.
Ntah mau dibawa kemana yang penting ia mencari makanan sebab ia sangat lapar. Memegang pinggang Yuda dengan erat karena menambah kecepatan motornya membuat Misha takut jatuh dari motor yang sangat tinggi.
Awal naik motor sport membuatnya sering mengeluh karena sakit tapi sekarang tidak lagi kerena sudah terbiasa. Ingin bergantian dengan Tasya saat berbonceng tapi dia nolak dengan alasan pacarnya tidak mengijinkan dia berboncengan dengan cowok lain walaupun itu Yuda/Azis. Mau tidak mau Misha harus mengalah daripada hubungan temannya kacau gara gara dia.
......
Di depan rumah yang megah baru keluar dari mobil Riyan langsung menendang tubuh Angga sampai terhuyung jauh. Jika tidak bertumpu pada pilar rumah mungkin ia sudah terhempas ke tanah.
"Bajingan,,!! Kenapa kotak itu ada sama Lo". Teriak Riyan dengan wajah merah. Ntah marah atau malu karena Angga bisa menebak perasaannya hanya dengan melihat kalung itu.
"Gue temuin di dalam mobil Lo". Balas Angga dengan tersenyum meledek.
Saat ingin menendang kembali, Riyan diberhentikan dengan suara yang tegas dari arah lain.
"Riyan berhenti,,,!!!". Teriak wanita paruh baya berdiri diambang pintu.
"Mami,,!!". Gumam Riyan menghela nafas menetralkan amarah.
"Kenapa kamu pukul Angga seperti itu?". Tanya sang mami membatu Angga yang kesakitan menatap sang anak dengan marah.
"Angga baik baik aja mi.". Ucap Angga dengan tersenyum agar wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu bisa lega. "Mami tenang aja dia cuma sedang cemburu". Bisik Angga membuat mami Vita menatap Angga penuh pertanyaan.
Sedangkan Riyan yang melihat Angga membisikkan sesuatu pergi meninggalkan mereka menuju kamar dengan perasaan aneh di dirinya yang membuat bingung.
Brak,,,,,,,.
Pintu kamar tertutup dengan kasar. Menggemaskan tubuhnya ke tempat tidur dengan pemikiran melayang kemana mana.
Sedangkan di ruangan tamu ada Angga dan mami Vita yang sedang mengobrol serius.
"Apa kamu yakin sayang". Seru mami Vita dengan bahagia.
"100% Angga yakin mi tapi dianya aja yang bodoh gak ngerasain itu". Seru Angga sedikit kesal dengan kelakuan Riyan.
"Kalau gitu kenalin sama mami". Kata mami Vita memegang tangan Angga dengan erat.
__ADS_1
"Sepertinya gak bisa mi soalnya dia sibuk kerja jarang libur". Ucap Angga membuat mami Vita sedih.
"Kalau mami pengen tau orangnya datang aja ke caffe Crescent moon dia kerja disana". Lanjut Angga yang langsung membuat mami Vita tersenyum kembali.
"Kalau gitu kamu sharelok alamatnya ke mami nanti kalau ada waktu luang mami pergi ke sana". Ucap mami Vita yang langsung diangguki oleh Angga.
..
Kembali ke malam yang sangat dingin. Misha dan Yuda duduk di taman sambil memakan cemilan ditangannya mengisi perut yang lapar.
Setelah membeli banyak cemilan di pinggir jalan mereka berhenti di taman untuk memakan itu semua.
"Padahal udah malam tapi masih ramai aja ya". Gumam Misha menatap orang orang yang ada di taman.
"Namanya juga kota". Balas Yuda.
Percakapan berakhir begitu saja saat Misha tidak lagi menanggapi ucapan Yuda. Sampai makanan itu habis mereka langsung pergi menuju kontrakan agar cepat istirahat.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mereka sampai di kontrakan dan menuju kamar masing masing.
"Lo baru pulang??". Tanya Laura dengan suara serak bangun tidur.
"Hm,, gue beli makan dulu dijalan". Jawab Misha mengganti pakaian dengan piyama tidur. "Lo udah makan??". Tanya Misha tanpa menatap Laura.
Menatap ke arah bingkisan di atas meja membuat nya melangkah mendekat untuk melihat isinya.
Ternyata isinya beberapa potong chicken kesukaannya. Dari mulai datang ia sering makan chicken setiap kali makan karena itu hal yang simpel dan ia mulai menyukai nya. Misha memang sangat pemilih dalam memakan sesuatu walaupun tidak ada pantangan apapun yang dia makan. Misha tidak akan membeli makanan jika ia tidak pengen karena itu akan terbuang sia sia.
Maka dari itu setiap temannya ingin beli makanan apapun selalu menghubungi Misha dan menanyakannya lewat telpon agar ia bisa makan juga. Tetapi jika itu membuat mereka sulit Misha hanya dibelikan ayam goreng pun sudah cukup. Ia tidak akan menolak sedikitpun.
Tanpa menyentuh makan itu ia pergi ke tempat tidur untuk istirahat. Jajanan yang ia beli tadi sudah cukup kenyang tanpa mau diisi lagi perutnya yang akan membuatnya susah tidur.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Bug,,, bug,,,bug....
Suara gedoran pintu terus menerus berbunyi dari yang awalnya pelan menjadi kencang karena seseorang didalam tidak ada niatan membuat pintu sama sekali. Padahal pagi ini mereka harus pergi ke luar kota untuk meninjau lokasi.
"Riyan,,,~". Teriak seseorang dari luar kamar.
Sedangkan yang didalam sedikit menggeliat karena tidur nya terganggu dengan suara pintu dan panggilan masuk yang bersamaan.
"Ahh,,, Angga sialan". Teriak Riyan saat melihat nama Angga tertera di layar ponsel.
"Riyan bangun,,,,!!!". Angga masih berteriak diluar kamar sampai Riyan tidak tahan lagi. Ia bangun dengan berjalan tertatih menuju pintu.
__ADS_1
Cklek,,,,
Pintu kamar terbuka dan langsung dicerca dengan berbagai omongan yang membuat kupingnya pengang.
"Stop,,,!!". Teriak Riyan. "Daripada Lo berisik mendingan keluar dan tunggu gue dibawah". Ucap Riyan menatap Angga dengan tatapan tajam.
"Gue juga yang salah.. nanti kalau telat pun gue juga yang salah". Gerutu Angga meninggalkan kamar Riyan.
Brak,,,,,,,
Pintu kamar mandi tertutup dengan keras membuat Angga terjengkang kaget memegang dada.
"Sialan,, kalau bukan Riyan Mahendra udah gue cekik sampai mati tu orang". Gumam Angga menuruni anak tangga.
Rumah kediaman Mahendra udah sangat sepi. Orang tua Riyan sudah pergi bekerja sedari pagi ke kantor masing masing.
Mami Vita bukanlah ibu rumah tangga seperti biasa yang hanya bisa diam mengurus pekerjaan rumah. Tetapi dia adalah ibu rumah tangga plus wanita karier yang memiliki perusahaan yang menjual perhiasan yang sudah dikenal di berbagai negara tertentu.
Perhiasan perhiasan itu dirancang olehnya sendiri dengan design sangat cantik yang diminati kalangan remaja.
Walaupun begitu ia tidak terlalu memprioritaskan semuanya kepada pekerjaan karena keluarga adalah yang utama. Tetapi ia juga tidak mempercayakan sepenuhnya kepada orang orang kantor setelah penghianatan orang kepercayaan nya beberapa tahun yang lalu.
Sedangkan sang papi mengelola perusahaan keluarga di bidang properti yang kian melejit ke berbagai negara. Hotel, apartemen, villa, resort dan akan ditambah anaknya membangun restoran yang sedang mereka rancang sedari 0.
Berbeda dengan sang mami. Papinya dan Riyan menempatkan orang kepercayaannya di setiap negara untuk memegang setiap properti dengan pengawasan yang begitu ketat. Maka dari itu banyak orang yang ingin menjatuhkan MR Company dengan berbagai macam cara.
Menunggu lama akhirnya orang yang ditunggu tunggu turun dengan pakaian rapi membawa koper kecil.
Rumah itu tidak terlalu dipenuhi dengan bodyguard hanya beberapa penjaga yang ada disana. Karena rumah itu dilengkapi dengan keamanan canggih yang papinya pasang atas permintaan istrinya yang tidak terlalu suka banyak orang di tempat pribadi.
Rumah hanya tempat mereka berkumpul dengan orang orang yang mereka sayang akan dibuat lebih nyaman dari apapun. Bahkan sang mami sendiri yang mendesign rumah itu saat dibangun.
...------------------------...
Hai reader. . .
Maaf kalau banyak typo dalam setiap tulisan author hanya memakai handphone untuk mengaturnya . . .
Dukung terus author. .
Ingat ini hanya cerita fiksi tidak ada kaitan dengan siapapun. . .
Dilarang copas dan menjiplak hak cipta orang. . .
Happy reading semua. . . . .
__ADS_1