
Azis yang sudah sangat kesal menunggu di palkiran akhirnya pergi menyusul Laura yang membangunkan Yuda.
"Lama banget sih Lo". Seru Azis langsung menerobos masuk ke dalam kamar.
Di tempat tidur yang cukup berantakan terdapat seseorang yang masih tertidur pulas menggunakan earphone di telinganya.
Plak. . Plak. .
"Bangun woy". Teriak azis memukuli Yuda yang masih tertidur.
Yuda yang dibangunkan dengan cara itu pun bangkit menjadi duduk. "Bang*** ko. . Apa?". Balas Yuda dengan teriakan.
Laura yang menunggu di luar pun mengintip ke arah pintu yang ingin mengetahui keadaan 2 pemuda di dalam kamar.
"Woy cepetan udah siang". Laura yang melihat mereka berantem langsung naik pitam. Ia sangat marah yang kepastian mereka akan sedikit terlambat sampai di caffe nanti.
Dua pemuda di dalam kamar hanya terbengong menata ke arah luar melihat Laura yang sangat marah. Tanpa bicara lagi Laura pergi meninggalkan mereka menuju palkiran.
Di palkiran hanya terdapat misha saja yang sedang duduk di motor yang terpalkir disana.
"Nana sama Tasya mana??". Tanya Laura senang cetus.
"Dia berangkat duluan ingin pergi ke pasar dulu beli cemilan. . Lo kenapa??". Misha sangat heran melihat Laura yang turun dengan wajah merah menahan amarah.
Laura tidak menjawab hanya menggelengkan kepala dan duduk di motor orang sambil memainkan ponselnya.
Misha yang melihat Laura kaya gitu membuatnya diam tidak bicara lagi.
Gak lama kemudian 2 cowok yang mereka tunggu akhirnya datang dengan penampilan rapi.
Yuda yang pertama kali lihat Misha hanya diam mematung tanpa berkedip sambil mulut menganga.
Plak. . .
"Tutup mulutnya nanti lalat masuk". Seru Laura yang membujuk keras mulut Yuda.
"Anj*** Lo kalau jadi cewek lembut sedikit napa jangan barbar kaya gitu". Teriak Yuda memegang mulutnya yang sakit sambil cemberut.
Misha yang melihat itu hanya tertawa kecil. Dan tiba tiba Yuda menariknya menuju ke motor sport miliknya.
"Hai gue Yuda. . Kamu Misha kan". Ucap Yuda dengan lembut sambil tersenyum.
Laura yang melihat itu hanya diam menggelengkan kepalanya. Yuda sebenarnya lebih parah dari Azis tapi jika di awal ketemu cewek dia akan lembut seperti sekarang.
Berbeda dengan azis yang langsung pepet dengan cepat.
Tidak mau menjawab sama sekali miha hanya menganggukkan kepalanya yang sangat bingung saat itu dengan kelakuan Yuda.
"Udah ayo berangkat". Teriak Laura yang sudah duduk di kursi belakang motor Azis.
Mereka sama sama memakai motor sport yang hanya berbeda warna saja. Yuda memakai motor sport berwarna hitam sedangkan azis berwarna merah.
Melesat dengan cepat tanpa memikirkan orang dibelakangnya yang sudah keluar dari gerbang membuat Laura yang ada di belakang langsung memegang pinggang Azis dengan erat.
Tidak hanya Azis, Yuda pun sama mengemudikan motor sport nya dengan kecepatan tinggi. Misha yang baru pertama kali mengendarai motor dengan kecepatan tinggi membuatnya ketakutan dan memeluk Yuda dengan kencang. Ia juga menyembunyikan wajahnya di punggung Yuda sambil menutup kedua matanya.
__ADS_1
Yuda yang merasakan pelukan misha yang sangat erat memberhentikan motornya di pinggir jalan.
Saat motor berhenti Misha masih memeluk Yuda sangat erat dengan sedikit bergetar ketakutan.
"Sha. . Misha". Ucap Yuda dengan lembut sambil mengelus tangan yang melingkar.
Menghadap ke arah Misha yang ada di belakang dan membuka helm yang Misha pakai.
Dengan jelas Yuda melihat Misha yang menutup mata dan melihat di ujung matanya ada air mata.
"Lo kenapa??". Tanya Yuda khawatir menghapus air mata yang ada di pipi Misha.
Yuda memeluk Misha perlahan untuk menenangkannya agar tidak ketakutan.
"Maaf ya kalau gue bawa motornya kenceng". Seru Yuda merasa bersalah dengan Misha sambil mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
Perlahan Misha mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Yuda. Dengan cepat ia menetralkan pikirannya dan menghapus air mata.
Misha menyisir rambutnya yang menutupi muka memakai tangan dan melihat Yuda tidak enak hati.
"Maaf ini pertama kali aku naik motor dengan kecepatan tinggi". Ucap Misha pelan.
"Gue yang harusnya minta maaf sama lo bikin Lo ketakutan". Pinta Yuda menatap ke arah Misha dengan wajah khawatir. "Lo gak baik baik aja kan??".
"Gue baik baik aja". Jawab Misha pelan.
"Sekarang gue gak akan ngebut lagi kok Lo pakai helm nya". Ucap Yuda memakaikan helm ke kepala Misha.
Yuda menjalankan motornya dengan kecepatan sedang agar Misha tidak ketakutan lagi.
Turun dengan perlahan dan membuka helm bersamaan dengan Rafa yang baru datang.
"Misha kamu kenapa??". Tanya Rafa khawatir melihat wajah Misha yang ditekuk.
Hanya gelengan kepala yang Misha lakukan membuat Rafa menatap ke arah Yuda yang ada disampingnya.
"Dia ketakutan bang karena .....". Ucap Yuda pelan.
"Jangan jangan kamu bawa motor ngebut ya". Tebak Rafa sambil menunjuk selidik ke arah Yuda.
Tebakan Rafa yang tepat membuat Yuda tersenyum memamerkan gigi sambil menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal.
Plak. .
Bug. .
Pukulan mendarat di tubuh Yuda dari Rafa yang membuat di empunya meringis kesakitan dan berusaha menghindar.
"Aw. . bang Rafa sakit". Rengek Yuda.
"Udah bang aku gak papa kok". Seru Misha yang sedari tadi diam tidak tega melihat Yuda yang dipukul Rafa.
"Bener kamu gak papa??". Tanya Rafa yang khawatir.
"Aku gak papa bang". Misha meyakinkan Rafa dengan pasti.
__ADS_1
Rafa memang menyayangi semua karyawannya seperti keluarga sendiri karena dia anak yatim piatu tidak punya keluarga dan saudara lagi.
"Ya udah ayok masuk". Ajak Rafa. "Awas kamu ya". Lanjut Rafa melihat ke arah Yuda dengan sinis.
Mereka masuk ke dalam caffe dengan cepat untuk beres beres karena sebentar lagi caffe buka.
Ini hari pertama Misha kerja dan ia harus bersemangat tanpa memikirkan apapun.
Misha membantu Laura di belakang menyiapkan pesanan makanan. Sedangkan Tasya dan Azis bertugas menjadi pelayan yang baru datang mencatat pesanan dan mengantarkan pesanan.
Hari ini kebetulan sangat ramai membuat semua orang sibuk. Tidak adanya Rafa yang sedang ada urusan membuat sedikit kewalahan.
Karena Nana yang biasanya membantu harus berdiri di mesin kasir.
Misha bertugas membuat minuman setelah diajarkan oleh Yuda sebelumnya. Ia yang mudah mengingat apa yang di ajarkan Yuda membuat Misha tidak kesulitan membuat minumannya.
Hal itu juga diberi pujian dari semua orang karena dihari pertama kerjanya Misha sangat tanggap.
Saat pengunjung yang mulai sedikit membuat semua orang bisa bersantai sebentar meregangkan semua badannya yang sedikit kaku.
"Ugh. . Badan gue kaku semua". Keluh Azis meregangkan tangan.
"Gue bersyukur lo ada disini bantuin gue gak seperti mereka yang susah diajarin". Ucap Yuda menohok.
Semua orang menatap ke arah Yuda dengan sinis mendengar ucapan darinya yang menohok tadi.
Tasya dan Laura pergi meninggalkan mereka di dapur menuju ke arah nana yang ada di depan mesin kasir.
Misha yang ditinggalkan teman wanitanya jadi terdiam disana yang hanya ada cowok saja.
Mulailah Azis dengan mulut manisnya menggoda Misha.
Melihat Misha yang tidak terpengaruh oleh gombalan Azis mambuat Yuda tertawa ngakak. Hal itu pun membuat Azis mengerucutkan bibirnya akibat ditertawakan oleh Yuda.
"Lo tenang aja dia memang kaya gitu orangnya. . Kalau ada apa apa Lo bilang aja sama gue, ok baby". Ucap Yuda yang membuat Misha kaget dengan kata terakhir yang ia ucapkan.
Tidak hanya Misha, Azis pun sama kagetnya dengannya saat mendengar panggilan yang diucapkan oleh Yuda.
"Kalau suka bilang bos". Ledek Laura yang baru datang membawa kertas pesanan.
"Baby sayang ada pesanan". Lanjut laura berbicara kepada Misha dengan ledekan.
"Baby pala Lo botak". Celetuk Misha membuat pesanan yang tertulis di kertas yang di kasih Laura tadi.
...--------------...
Hai reader. . .
Maaf kalau banyak typo dalam setiap tulisan author hanya memakai handphone untuk mengaturnya . . .
Dukung terus author. .
Ingat ini hanya cerita fiksi tidak ada kaitan dengan siapapun. . .
Dilarang copas dan menjiplak hak cipta orang. . .
__ADS_1
Happy reading semua. . . . .