Destiny In My Life

Destiny In My Life
Satu lagi


__ADS_3

Dari restoran Riyan menjalankan mobilnya pulang ke apartemen.


Sedari keluar dari restoran sampai apartemen Riyan hanya diam tanpa berbicara sepatah kata. Tentu saja membuat Misha bingung harus berbuat apa. Dia gak tahu kenapa Riyan semarah itu dengannya padahal Misha dan Mark tidak dekat sama sekali.


Bahkan Misha juga selalu menjauh dari Mark. Tapi Mark nya saja yang gencar deketin misha saat bertemu ataupun di sosial media.


"Riyan". Panggil misha saat melihat Riyan masuk ke apartemen miliknya.


Tidak biasanya Riyan akan masuk ke sana karena sedari awal dia akan memilih menghabiskan waktu di apartemen yang Misha tinggali.


Pintu apartemen Riyan tertutup tanpa ada jawaban dari orangnya yang membuat misha menghela nafas berat.


Klik


ceklek.


Pintu terbuka, lalu Misha masuk langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan.


Kebetulan jam sudah menunjukan 9 malam. Tubuh Misha yang sudah kelelahan membuatnya memilih untuk langsung istirahat.


Piyama putih terpasang ditubuh lalu berjalan ke tempat tidur dengan menyelimuti sampai setengah tubuh.


*******


Kring, , , kring, , , kring.


Alarm berbunyi, Misha bangun lalu berjalan ke kemar mandi untuk langsung siap siap ke kantor.


Hanya menggunakan handuk kimono, Misha berjalan ke dapur untuk membuat sarapan. Roti panggang, sosis goreng dan nugget, menu sarapan pagi untuk mengawali aktivitas pagi hari ini.


Misha selalu membuat 2 porsi untuk dirinya dan Riyan setiap pagi.


Selesai membuat sarapan, ia pergi ke kemar untuk siap siap memakai pakaian kantor.


Tapi


Saat keluar dari kamar. Ruangan itu masih kosong, tidak ada kehadiran Riyan sama sekali.


"Gak biasanya Riyan belum datang jam segini, biasannya cepet banget". Gumam Misha melihat jam tangan yang sudah menunjukan pukul 7 kurang.


Misha pergi ke apartemen Riyan untuk mematikan. Beberapa kali Misha menekan bel tapi gak ada jawaban sama sekali.


Walaupun ia membawa kartu akses duplikat kamar Riyan tapi dia selalu menekan bel terlebih dahulu. Ia tidak berani untuk langsung masuk.


Klik, , ,


Kunci terbuka, Misha masuk dengan santai menelusuri setiap ruangan apartemen Riyan. Tapi nihil. Misha tidak menemukan Riyan dimanapun. Artinya dia udah gak ada di apartemen atau sudah pergi sedari pagi.


Tanpa basa basi, Misha kembali ke kamar mengambil ponsel untuk menghubungi Riyan.


"Ck, kekanakan kanakan benget sih". Gerutu misha kesal dengan tingkah Riyan.


Beberapa panggilan tidak diangkat oleh riyan padahal ponselnya aktif.


Misha langsung mencari nomer Angga untuk mematikan. Siapa tahu Angga sudah ada di kantor pagi ini.


["Hello sha, ada apa tumben pagi pagi telpon??". Tanya Angga to the point setelah panggilan diangkat. ]


"Cuma mau tanya?? Apa gue udah ada di kantor??".


["Gue baru sampai. Masih dilobi". ]


"Tolong cek Riyan sudah datang apa belum".


["Sepertinya udah, gue lihat mobilnya di parkiran". Jawab Angga yang langsung dijawab dengan helaan nafas berat. ]


["Lo kenapa?? Ada masalah??". ]


"Gak ada, ya udah gue tutup dulu, makasih ya".


["Sans aja". ]

__ADS_1


Pip, , !!!


Panggilan dimatikan setelah tidak ada lagi yang harus diucapkan.


Misha memasukan sarapan itu ke dalam tempat bekal untuk dibawa ke kantor. Sadapan Misha juga belum disentuh sama sekali dan memutuskan untuk sarapan di kantor juga.


Setelah siap, Misha turun kebawah untuk berangkat ke kantor dengan memesan ojek online.


Sampai di lobi, sudah banyak karyawan yang datang. Mungkin karena beberapa menit lagi jam kerja akan masuk.


Tujuan pertama Misha adalah ruangan Riyan. Ia ingin mengantarkan sarapan yang sudah dibuatnya pagi ini.


Cklek


Pintu ruangan Riyan dibuka perlahan tanpa izin terlebih dahulu karena Misha sudah terbiasa.


"Ck, kalau mau masuk ketuk dulu napa, gak sopan banget masuk ke ruangan atasan". Bentak Riyan tanpa tahu siapa yang datang.


Misha yang dibentak langsung tersentak kaget. Ia gak menyangka Riyan akan melakukan itu. Disisi lain Misha juga paham dia bawahan Riyan tapi ini kali pertama Riyan membentak Misha saat di kantor.


Tok


Tok


Tok


"Permisi pak kalau saya lancang, saya hanya ingin memberikan bapak sarapan. Tapi jika bapak tidak berkenan bisa dibuang tidak masalah". Ujar Misha yang sudah ada di hadapan Riyan yang memandangnya tanpa ekspresi.


Misha meletakan rantang berisi sarapan di atas meja. Lalu pamit keluar ruangan tanpa menunggu respon Riyan.


Masuk ke dalam ruang kerjanya. Misha melegakan papar bag itu di atas meja. Dia gak ada niatan untuk sarapan.


Pagi ini mood Misha sangatlah kacau dan tidak ingin melajukan apapun. Jika tidak banyak pekerjaan mungkin dia akan pergi mencari ketenangan.


Dari pagi sampai siang misha dihabiskan dengan pekerjaan. Lalu pas jam istirahat ia memutuskan untuk makan siang sendiri di luar tanpa memberitahu siapapun.


Ojek online yang dipesan Misha sudah sampai di lobi. Tanpa menunggu lama, ia turun dari lantai untuk berangkat ke caffe.


Baru saja mendudukkan dirinya di sopa yang ada di pojok caffe, Misha dikagetkan dengan kedatangan seseorang.


"Nona Misha datang sendiri". Sapa seseorang yang menghampiri meja Misha.


"Tuan Arthur". Misha sedikit kaget. Ia tidak menyangka orang itu mengenalinya padahal tidak ada interaksi sedikitpun saat mereka bertemu.


"Iya saya datang sendiri". Lanjut Misha.


"Apa boleh gabung, kebetulan meja disini sudah penuh". Ujar Arthur.


Misha menatap sekeliling caffe dan ternyata benar. Tidak ada tempat duduk yang kosong. Padahal saat misha masuk ada beberapa yang kosong. Tapi sekarang tempat itu sudah penuh.


"Silahkan".


Arthur yang mendapat persetujuan itu pun duduk saling berhadapan. Meja mereka memiliki 4 kursi jadi hanya sekedar makan siang saja tidak apa.


"Kamu belum pesan??".


"Belum, saya juga baru sampai". Jawab misha apa adanya.


Riyan mengangkat tangan mengambil pelayan untuk memesan makanan. Gak lama pelayan itu datang lalu mencatat apa yang pelanggannya pesan.


15 menunggu akhirnya pesanan itu datang ke meja mereka. Misha makan dengan khidmat tanpa ingin berbicara apapun.


Ia tidak merasa dekat dengan Arthur, jadi tidak ada pembicaraan yang akan diucapkan apalagi misha orangnya gak gampang dekat dengan orang asing.


"Saya permisi dulu". Pamit misha.


"Mau kemana??".


"Mau ke toilet". Tanpa menunggu jawaban Arthur, misha pergi menuju toilet yang ada di caffe itu.


Misha melihat ponselnya tidak ada chat atau telpon dari Riyan. Dia menghela nafas berat memasukan ponselnya kembali ke dalam tas.

__ADS_1


Setelah selesai misha berniat kembali ke mejanya tapi beberapa langkah lagi tubuhnya menegang dan terdiam ke satu titik.


Deg


Pandangan mereka berdua terkunci. Tapi saat melihat tatapan Riyan yang begitu dingin membuat misha merasa akan menjadi buruk daripada sebelumnya.


"Riyan,,!!". Seru misha pelan langsung memutuskan pandangan mereka berdua.


Riyan hanya diam menggeser duduknya karena saat ini dia duduk di tempat misha sebelumnya.


Perut Misha yang tadi lapar kini sudah hilang. Nafsu makannya hilang begitu saja digantikan dengan kegugupan melanda dirinya.


Misha merasa Riyan akan salah paham berkelanjutan dengan nya. Kemarin Mark sekarang Arthur.


Dia gak tahu apa yang ada di pikiran Riyan saat ini. Misha tidak bisa menebak sedikitpun.


Masih ada 30 menit jam istirahat. Jadi misha gak tahu harus apa.


Suasana di meja itu sangatlah hening tidak ada yang memulai pembicaraan.


..........


Sampai beberapa menit lagi menuju jam kerja. Misha memanggil pelayan untuk membayar makanan.


Makanan yang tadi misha pesan tidak lagi dimakan setelah adanya Riyan disana. Persetan dengan makanan. Saat ini pikirannya yang sudah kacau tambah kacau.


"Saya minta bil nya mba". Seru Misha.


"Ini nona".


"Biar saya saja". Sahut Arthur mengambil bil yang ingin di ambil oleh Misha.


Ingin rasanya menolak tapi Arthur sudah keburu memberikan uang cash ke pelayan itu.


"Kalau gitu saya permisi". Pamit Misha kepada arthur lalu menggandeng Riyan keluar.


Tidak ada bantahan sedikitpun yang Riyan keluarkan. Mereka menuju mobil Riyan yang dipalkiran disana.


Pintu mobil yang akan Misha masuki tidak dibukakan sama sekali. Riyan langsung berjalan masuk ke bagian kemudi.


Misha yang melihat itu menatap sendu Riyan lalu masuk. Hatinya merasa sakit, ini kali pertama Misha dicueki oleh Riyan.


Sampai di perusahaan, Riyan memencet tombol dimana ruangannya berada. Misha sama sekali tidak memencet lantai 10. Ia berencana akan ke ruangan Riyan untuk membicarakan sesuatu.


Ting!!


Pintu terbuka, Riyan berjalan meninggalkan misha masuk ke dalam ruangan..


Saat masuk ke selama ruangan, Misha terus melihat pergerakan Riyan sampai matanya tertuju pada kotak sarapan yang tadi pagi Misha bawa.


Kotak itu masih berada di tempat yang sama. Bahkan tidak bergeser sedikitpun dari tempat yang misha letakan.


Mata Misha mulai mengembun, pandangannya mulai kabur akibat air mata yang ingin menetes.


Tenggorokan nya tercekat membuat mulutnya kelu tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.


"Emm,, kalau gitu aku ke ruangan dulu banyak kerjaan yang harus dikerjakan.. ". Ujar menahan Isak tangis yang ingin keluar.


Misha mengambil kotak itu. Lalu dibawa keluar tanpa menunggu jawaban Riyan. Riyan sama sekali tidak menoleh ataupun mencegah misha keluar.


Tujuan pertama bukanlah ruangannya. Misha berjalan masuk ke toilet untuk melepaskan sesak di hatinya. Ia sudah tidak tahan lagi.


Misha tidak mungkin menangis di ruang kerjanya karena ada cctv yang pasti Riyan akan tahu itu.


Setelah mulai tenang. Misha masuk ke dalam ruangannya langsung fokus pada layar komputer untuk menyelesaikan semua pekerjaannya agar cepat selesai.


...---------...


...TBC...


...Happy Reading,,,, Babay!!!!...

__ADS_1


__ADS_2