Destiny In My Life

Destiny In My Life
Liburan


__ADS_3

Pagi hari matahari memasuki celah gorden, sehabis shalat subuh Misha kembali tidur karena semalam mereka begadang nonton film.


Walaupun hanya Misha yang nonton tapi Riyan juga ikut begadang dengan mengerjakan pekerjaan kantor di samping Misha.


Misha sama sekali tidak mengeluh akan apa yang Riyan lakukan karena itu pekerjaannya dan banyak tanggung jawab yang harus dia lakukan.


Hari ini dengan rencana Riyan kemarin mereka akan pergi jalan jalan. Misha diminta mengemasi barang yang hanya diperlukan karena mereka akan pergi beberapa hari.


Koper sedang sudah siap di luar kamar. Saat ini Misha sedang membuat sarapan untuk mereka makan nanti di perjalanan. Misha tidak tahu mereka akan pergi kemana dan saat ini Riyan masih ada di dalam kamar apartemen yang ada di sebelah apartemen Misha.


Misha pergi untuk melihat Riyan yang sudah siap apa belum tapi saat memasuki kamar, Misha melihat bahwa Riyan masih tidur lelap di atas tempat tidur.


"Yan bangun katanya kita mau pergi.. ini udah siang bangun".


Misha terus membangunkan Riyan sampai orangnya menggeliat karena tidur nya terganggu.


"Ehmmm,, iya aku bangun". Seru Riyan dengan suara serak tapi matanya masih terpejam.


"Ya udah kita batalin aja". Kata misha ingin pergi meninggalkan kamar tapi Riyan dengan cepat bangun dan pergi ke kamar mandi.


Dia tidak mau rencananya akan gagal begitu saja. Riyan ingin pergi liburan berdua bersama Misha sebelum kekasihnya itu mulai kembali berkerja.


Riyan tahu kalau Misha sudah kerja, dia akan bekerja dengan sungguh sungguh tanpa mau ada yang menganggu. Walaupun Riyan gak tau Misha akan kerja dimana tapi dia masih berharap untuk kerja di satu perusahaan yang sama.


Tidak butuh waktu lama, Riyan keluar dengan pakaian rapih yang memancarkan aura tampan dan cool mendekati Misha yang duduk di sopa sedang menunggu.


Melihat Riyan keluar Misha bangun. Lalu pergi ke apartemen untuk mengambil barang barang miliknya diikuti Riyan di belakang.


Saat ini Riyan tidak membawa apa apa. Ia membawakan koper Misha kebawah. Misha tidak bertanya apapun karena ia bisa menebak bahwa Angga yang akan mengurus semuanya untuk Riyan.


Misha hanya membawa paper bag kecil yang berisi sandwich yang ia buat tadi dan tas selempang di tubuhnya. Dia tidak membawa susu coklat untuk sarapan kerena ia sudah meminumnya di apartemen tadi pagi.


Di dalam mobil Misha memberikan sandwich pada Riyan dan Angga untuk sarapan. Sedangkan Misha asik memainkan ponsel, ia tidak ikut makan karena sudah sarapan duluan.


Saat mobil berhenti dan Riyan bicara bahwa kita harus turun. Tapi waktu Misha menatap keluar mobil ia sungguh kaget dengan keberadaannya saat ini.


Misha kaget karena mereka sedang ada di palkiran bandara Soekarno-Hatta. "Kita mau kemana??". Tanya Misha heran.


"Jalan jalan.. ayo turun".


Misha turun dari mobil dengan wajah cengo. Saat ini dia sangat bingung akan dibawa kemana oleh Riyan. Sebelumnya Riyan meminta dia sendiri yang memilih tempat liburan.


Melihat kekasihnya yang hanya diam. Riyan segera menggandeng tangannya dibawa memasuki bandara.


Misha hanya mengikuti Riyan akan membawanya kemana dengan satu koper membawa 2 koper milik mereka. Angga tidak ikut karena Riyan meminta dia untuk mengurus perusahaan disaat Riyan tidak ada.

__ADS_1


Mereka berdua diarahkan oleh seseorang ntah menuju kemana. Cuaca saat ini sangat panas membuat riyan memasangkan kacamata hitam untuk Misha.


Misha melihat didepannya tak jauh ada pesawat dengan beberapa orang yang menjaga. Saat masuk bandara tadi mereka sambut beberapa bodyguard yang mengambil alih koper yang dipegang Riyan.


Seseorang juga memberikan payung untuk menghindari cahaya matahari. Lalu perlahan Riyan mengajak Misha berjalan mendekati pesawat.


Pikiran Misha saat ini sungguh bermacam macam ingin rasanya ia menanyakan kepada Riyan tapi suaranya serasa tercekat di tenggorokan.


Tangan satu memegang tangan Misha dan tangan lain memegang payung. Sampai mereka ingin masuk ke dalam pesawat.


Misha duduk berdampingan dengan riyan yang masih diam membisu. Pesawat itu akan lepas landas, dengan pertama kalinya Misha naik pesawat iya sungguh takut bahkan tangannya gemeteran dan berkeringat. Riyan yang ada disamping hanya bisa menenangkan.


1 jam lebih pesawat mengudara sampailah mereka di bandar udara internasional Ngurah Rai. Riyan sudah menjelaskan semuanya di pesawat tadi karena Misha terus mendesak.


Mereka di jemput oleh anak buah Riyan yang ada di sana. Pergi menuju penginapan yang akan mereka tinggali beberapa hari.


Four seasons Jimbaran yang berada di Kuta Selatan menjadi tempat penginapan mereka saat di Bali. Villa itu cukup privat untuk kalangan mereka yang tidak ingin di ketahui semua orang. Hanya ingin ketenangan saat berliburan di Bali.


Memasuki villa dan melihat beberapa makanan sudah tersaji di meja makan. Mereka hanya tinggal berdua tapi Riyan menyewa villa yang sangat luas. Ada beberapa kamar didalamnya dan villa itu cocok untuk sekeluarga saat berlibur di Bali.


Pemandangan sangat langsung ke hamparan pantai yang luas membuat Misha ingin segera jalan jalan ditepi pantai.


Villa itu juga memiliki kolam renang yang privat. Jarak villa satu ke villa lain sangat jauh membuat mereka tidak khawatir dengan orang luar.


Misha mengikuti apa yang Riyan katakan. Lalu masuk untuk makan. Banyak makanan yang tersaji membuat Misha senang.


Setelah makan Misha membawa koper kedalam kamar yang akan ia tempati. Seperti biasa Misha dan Riyan akan berbeda kamar karena mereka bukanlah pasangan suami istri.


Hanya meletakan koper di lantai tanpa membereskan. Misha langsung mengambil ponsel dan kacamata untuk pergi ke pantai. Ia juga mengoles sun block agar kulitnya tidak hitam terpapar sinar matahari.


Berjalan dengan santai menuju pantai tanpa tahu ada yang ngikutin dari belakang. Riyan yang melihat Misha keluar dari villa langsung mengikuti dari belakang setelah berganti pakaian.


Di pinggir pantai Misha berjalan di tepi pantai dan merasakan air menimpa kakinya membuat hatinya senang.


Dor. .


Riyan mengagetkan Misha dari belakang membuat Misha terperanjat kaget dan hampir jatuh.


"Riyan,,,". Teriak Misha ingin memukul tapi Riyan dengan segera berlari.


Alhasil mereka kejar kejaran dengan gembira. Riyan tidak berhenti menjahili Misha dan terus menggodanya. Sedangkan Misha terus berusaha memberi pelajaran kepada Riyan.


Krek, , ,


Suara yang berbunyi membuat mereka mengalihkan pandangan ke bawah kaki Riyan. Riyan merasa menginjak sesuatu.

__ADS_1


Saat melihat ponsel pecah di bawah. Misha mencari ponselnya yang diletakan di kantung celana belakang. Tapi....


"Aaaaa~ handphone aku". Rengek Misha menatap ponselnya yang sudah hancur ke injak Riyan.


Riyan mengambil ponsel itu melihat casing milik kekasihnya. Ia tahu casing itu bermotif KPop pavorit Misha.


Misha merangsek memegang ponselnya. Lalu mengambil dari tangan Riyan. Bahkan saat ini Misha sudah ingin menangis.


"Jangan nangis.. nanti aku beliin yang baru". Kata Riyan memeluk Misha dengan erat.


Misha hanya diam dan Riyan terus membujuknya sampai akhirnya mereka memutuskan untuk langsung membeli ponsel yang baru.


Sedikit tenang, Misha mundur beberapa langkah dan melompat ke gedongan Riyan. Hal itu membuat Riyan dengan sigap memegang Misha agar tidak terjatuh. Riyan yang memiliki perawakan yang kekar tidak membuatnya jatuh saat menerima serangan yang mendadak. Apalagi dengan Misha yang memiliki tubuh kecil.


Misha tertawa di gendongan Riyan karena ulahnya barusan. Melihat kekasihnya tertawa membuat Riyan senang. Itu berarti dia tidak marah dengan ponselnya yang hancur.


Saat berjalan ingin memasuki villa, misha menatap sekeliling dan melihat sekumpulan orang yang tidak asing di penglihatan.


"Yan mereka siapa kok kaya gak asing??". Tanya Misha kepada Riyan.


Riyan menatap ke arah pandangan Misha. Dia juga melihat perkumpulan itu tapi dia tidak mengetahui siapa. Karena tempat itu sangat privat.


Tidak mau membuang waktu Riyan membawa Misha masuk ke dalam villa untuk segera pergi membeli ponsel. Mereka juga tidak mengganti pakaian hanya pergi ke kamar untuk mengambil tas dan dompet.


Mobil sport keluar dari villa meluncur menuju mall yang ada disana. Misha hanya ikut kemana Riyan pergi tanpa menolak.


Tapi saat Riyan masuk ke dalam toko i-box membuatnya menahan tangan Riyan dengan cepat. "Ngapain ke sini??".


"Beli handphone buat kamu". Jawab Riyan menatap wajah Misha.


"Yang bisa aja.. aku-".


"Jangan nolak". Potong Riyan membawa Misha masuk.


Riyan memilih ponsel untuk kekasihnya tanpa mendengarkan tolakan Misha. Tidak tanggung tanggung Riyan membelikan iPhone keluaran terbaru membuat Misha terus menolak.


Tapi dengan paksaan Riyan akhirnya Misha menerimanya. Dan Misha meminta untuk diajari oleh Riyan karena ia belum pernah memakai ponsel dengan merek itu.


Sebelum pulang misha meminta Riyan untuk mencari makanan. Alhasil mereka akhirnya berburu banyak makanan sambil mengabadikan banyak momen berdua.


Sore hari saat pulang ke villa, mereka juga membeli makanan untuk nanti malam. Sekalian saat mereka keluar villa. Mereka bisa memesan makanan tapi itu pasti akan lama.


...----------...


...Happy Reading.,...

__ADS_1


__ADS_2