Destiny In My Life

Destiny In My Life
Geng cewek


__ADS_3

Acara lamaran berlangsung dengan lancar walaupun diadakan secara mendadak.


Rombongan keluarga Riyan akan pulang besok pagi karena pekerjaan mereka yang tidak bisa ditinggalkan apalagi bokapnya Riyan.


Tapi rencana hanyalah rencana. Malamnya setelah pulang dari rumah Misha. Sekretarisnya memberitahukan bahwa besok pagi ada kolega yang akan datang ke perusahaan secara mendadak.


Bukan untuk membicarakan tentang kerja sama melainkan hanya berkunjung yang kebetulan sedang berlibur di Jakarta.


Jadi orang tua Riyan dan ayah Angga akan pulang lebih cepat.


Di rumah Misha


Setelah kepulangan keluarga Riyan, semua orang yang ada di rumah sibuk beres beres. Tidak ada yang diam semua orang sibuk kesana kemari dan dekorasi pertunangan nya juga sudah dibongkar langsung.


Saat ini Misha sudah berganti pakaian tapi sanggul rambutnya belum iya rapihkan.


Kamar Misha juga sangat penuh dengan hantaran pertunangan dan kado dari teman temannya.


Malam ini Misha sangat kelelahan karena kurang istirahat ditambah pulang kampung langsung mempersiapkan acara lamaran dalam satu hari.


Semua barang Misha letakan di bawah lalu Misha berencana untuk istirahat lebih awal. Dia juga harus bangun pagi untuk bertemu mami Vita sebelum pulang ke Jakarta.


.


.


.


Kring kring kring


Alarm berbunyi dengan keras membuat tidur lelap misha terganggu. Misha yang sedang datang bulan sengaja menyegel alarm pukul 6 pagi agar tidak kepagian.


Semalam juga Misha sudah berbicara pada ibunya bahwa orang tua Riyan akan pulang sekarang. Jadi ibunya menyiapkan beberapa bawaan untuk calon besan.


"Ibu gak ikut??". Tanya Misha yang sibuk menata rambut.


"Ibu ada urusan, bilangin sama Bu Vita ya".


"Ya udah nanti Misha bilangin". Misha menyemprotkan parfum ke beberapa bagian lagi bersiap untuk pergi.


Saat mengecek ponsel, Misha tidak mendapati balasan dari riyan yang pasti orang itu masih tidur lelap.


Dengan membawa banyak paper bag di bagian depan. Misha yang baru membawa motor lagi mengemudi dengan kecepatan sedang. Dia sudah sangat kaku. Ditambah saat berada di Jakarta dia juga tidak pernah menggunakan motor lagi setelah tinggal di apartemen.


Sampai di rumah yang Riyan sewa, Misha masuk tanpa mengetuk pintu. Terlihat mobil mereka dipalkir di samping jalan karena garasinya hanya cukup 2 mobil.


Ceklek


Pintu terbuka dengan lebar, tapi misha tidak melihat siapapun di rumah itu dan langsung merasa aneh.


Tidak mungkin orang tua Riyan sudah pergi, mobilnya saja masih terpalkir di depan rumah.


Saat masuk lebih dalam terdapat bokapnya Angga sedang duduk fokus pada laptop dan di dapur ada orang tua Riyan yang sedang sarapan. Padahal pintu tadi terbuka cukup keras tapi tidak ada respon sama sekali dari mereka.


"Pagi sayang". Sapa mami Vita dengan antusias.


"Pagi mi, ibu Misha gak bisa datang jadi titip banyak makanan buat dijalan nanti".


"Loh kenapa pake repot repot segala sayang. Mami jadi gak enak". Ucap mami Vita melihat banyak paper bag di atas meja.


"Gak papa, mami pulang jam berapa??".

__ADS_1


"Sebentar lagi".


"Yang lain belum bangun??". Tanya Misha menatap sekeliling rumah.


"Belum semalam keliatannya mereka habis begadang dih. Jadi masih ngebo dikamar".


"Pantesan gak mau ikut pulang sekarang, Misha bangunin dulu mi". Misha pergi menuju kamar yang ditempati Riyan tapi langsung dicegah oleh mami Vita.


"Gak usah sayang biarkan mereka tidur".


"Gak papa nih lagian semalam ngajak Misha buat jalan jalan tapi sekarang malah masih pada tidur". Ucap Misha yang diangguki oleh mami Vita.


Gadis itu pergi ke kamar Riyan yang ternyata orangnya masih terbungkus selimut semuanya. Bisa dilihat Riyan tidur berdua sama Angga.


"Riyan bangun, , Angga, , woy bangun". Teriak Misha sekencang mungkin. Tapi mereka malah menutup telinganya menggunakan bantal tidak ada niatan untuk bangun.


"Woy bangun katanya mau jalan jalan".


Untuk membangunkan mereka berdua sebenarnya harus menggunakan kekuatan ekstra apalagi mereka baru tidur beberapa jam yang lalu.


Bugh


Bugh


Bugh


Misha terus memukul mereka menggunakan bantal yang membuat mereka bangun dengan wajah kantuk.


"Sayang ada apa?? Aku baru tidur". Ucap Riyan dengan suara serak.


"Bodo amat aku gak pikirin, katanya mau jalan jalan".


"Mereka yang bilang bukan aku". Riyan kembali membaringkan tubuhnya sedangkan Angga sudah tidur lagi dengan posisi bersandar di tempat tidur.


"Emangnya pada mau kemana??". Tanya Misha pura pura lupa.


Sedetik kemudian wajah mereka membeku menatap ke arah Misha yang sedang berjalan mendekat.


"Ah iya iya gw ingat, tapi kayanya bakal ngaret parah".


"Kenapa??". Tanya Seli heran.


"Para cowok belum pada bangun".


"Apa??". Pekik Seli dengan keras membuat mereka harus menutup telinganya rapat rapat. "Ck dari semalam gw udah ceramain mereka tapi gak mempan juga". Gerutu Seli kesal meletakan catokan yang sedang dia gunakan.


Wanita itu pergi untuk membangunkan mereka dan Misha balik lagi ke kamar Riyan.


Terdengar suara ribut di kamar bintang ulah Seli.


"Riyan bangun,, mereka udah siap tinggal kalian yang belum". Misha sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.


Cklek


Pintu dibuka kembali menampilkan wajah mami Vita yang sudah siap pergi.


"Mereka belum bangun sha??". Tanya mami Vita.


"Belum mi susah bangat, mami mau berangkat sekarang??".


"Iya, mami berangkat sekarang. Papi nunggu didepan".

__ADS_1


"Ya udah mami duluan Misha mau bangunin Riyan sebentar". Misha menatap kembali ke arah Riyan dan membisikan sesuatu.


Sedetik kemudian mata Riyan membulat dan dia bangun dengan cepat. Kantuknya seketika hilang mendengar bisikan sang kekasih.


Dan satu lagi yang belum bangun dia tidak mungkin melakukan hal yang sama. Misha memakai cara yang pernah dia pakai kepada Riyan yaitu menutup hidung nya biar tidak bisa bernafas.


Melihat Angga yang bangun membuat misha tersenyum manis. Lalu mereka bertiga keluar untuk menemui orang tuanya yang akan kembali ke Jakarta.


Setelah mobil menghilang mereka langsung masuk lagi ke dalam rumah dan bersiap untuk pergi.


Awalnya mereka akan pergi ke tempat wisata akan tetapi dibatalkan karena banyak pertimbangan yang masuk.


Misha juga ragu dengan mereka yang akan melewati jalan yang sangat terjal. Jadi Misha mengajak kedua gadis itu untuk pencari kulineran di desa dia.


Mereka membiarkan para cowok kembali tidur


Dari 3 gadis itu hanya Seli yang bisa mengemudi dan Misha sebagai petunjuk arah.


"Beli apa nih??". Tanya Seli sangat antusias karena dia sama dengan misha, sama sama doyan makan tapi takut gemuk.


"Apa aja".


"Tapi kita makannya disana ya, mereka gak usah dibagi". Usul Seli.


"Lihat nanti aja".


Mereka masuk ke dalam mobil milik bintang.


Misha heran dengan mereka kenapa datang dengan mobil masing masing dimana mereka bisa nebeng satu sama lain. Padahal mereka harus mengemudi yang sangat panjang, dan pasti itu sangat melelahkan.


Para cewek sibuk muter muter kesana kemari mencari kedai yang mereka tuju. Tidak ada yang mereka lewatkan sama sekali tapi Misha hanya bisa menjelaskan dan mereka berdua yang memutuskan.


Di desa Misha memang hanya ada beberapa caffe karena kebanyakan dari mereka hanya membuka kedai atau warung kecil. Jadi mereka membeli dengan membungkus makanan dan memakannya di dalam mobil.


Setelah membeli banyak jajanan pinggir jalan mobil diberhentikan di samping jembatan yang memiliki pemandangan yang cukup indah.


Atas mobil seli buka, tanpa sadar ternyata mereka menjadi pusat perhatian orang yang lalu lalang. Tapi mereka hanya acuh tanpa menghiraukan mereka.


"Gw beli minum dulu".


"Em, sekalian. Gw apa aja yang penting dingin". Ucap Seli dengan mulut yang penuh makanan.


Misha pergi menuju warung yang paling dekat.


Tapi, saat baru masuk dia dikagetkan dengan seseorang yang menyapa.


"Misha, , Misha kan??". Ucap orang itu, namun Misha sedari sama sekali tidak mengenali orang itu sedikitpun.


"Ya".


"Nah kan bener, dari saat jalan kesini sudah nebak itu kamu". Ucap orang itu lagi. Tapi Misha tetap tidak bisa mengingat orang itu.


".....". Misha hanya diam tanpa menjawab. Lalu mengambil beberapa minuman untuk dirinya dan temannya yang ada di mobil.


"Gimana kabarnya baik?? Sekarang sama orang mana?? Udah nikah?.".


"Baik, belum doain saja". Balas Misha tanpa tahu orang itu, jujur dia lupa.


"34 ribu".


Dia menyerahkan uang berwarna biru lalu mengambil ketiga minuman itu dan menolak untuk mengenakan plastik.

__ADS_1


Tak ingin lama lama ada disana, dengan cepat dia pamit setalah kembalian di berikan kepada misha. Untung orang itu tidak menahan kepergian dia.


To be continued, , , , ,


__ADS_2